Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan

Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan
Pertolongan Sadewa


__ADS_3

🌹🌹🌹


“Tuan sudah lama?” tanya Kayana sekali lagi. Sekali lagi tertangkap oleh Sadewa sedang menutup wajah dengan segala kegundahan di hati.


Sadewa hanya diam, memandangi Kayana, sedang berusaha berpikir mungkin. Berpikir tentang kali kedua dirinya mendapati Kayana kembali tidak menyadari kedatangannya. Padahal dia tidak menggendap-endap, langkah kakinya sangat jelas, bahkan suaranya saat memasuki rumah yang dibiarkan terbuka juga cukup keras. Tetapi, kenapa wanita yang kadang sangat suka membuat dirinya naik darah itu tidak menyadari?


Kenapa dia diam ya? Ah, dia pasti kesal lagi-lagi aku tidak menyambutnya. Diakan tuan besar. Batin Kayana bingung.


“Masih belum ketemu solusi masalahmu?” bukan menjawab pertanyaan Kayana, Sadewa malah balik bertanya. “Ada apa? Ceritakanlah padaku!”


“Hah?” Kayana kaget. “Itu..itu…”


“Mau cerita sama aku, dan aku janji pasti bisa membantu?” Sadewa tenang. Sementara Kayana malah jadi gelisah.


“Bu..bukan apa-apa tuan.” Tidak berani menatap mata Sadewa. Sibuk menautkan semua jemarinya diatas pahanya.


“Baiklah, kalau bukan apa-apa ceritakanlah!” tetap tenang, menatap Kayana yang gelisah.


“Hanya sebuah hal kecil tuan.” Menolak jujur.


“Sungguh? Tadi juga kau bilang masalah kecil padaku tetapi, kau tetap tidak memiliki solusinyakan?” tidak percaya.


Kayana hanya menganggukkan kepalanya pelan.


“Apaku bilang!” Merasa tebakannya benar.


“Saya…saya…” tidak tahu harus bicara apa.


“Ooo..iya, tuan mau minum apa? Saya buatkan ya! Itu, Quinsha sedang tidur.” berdiri cepat. Berusaha mengalihkan perhatian.


“Duduk!” model suara keras Sadewa keluar. Hingga sukses membuat Kayana mendudukkan dirinya lagi ditempat semula.


“Kau tidak percaya aku bisa menyelesaikan masalahmu? Atau kau tidak percaya aku bisa menjadi pendengar untuk masalahmu? Atau, kau memang tidak berencana percaya padaku?” Sadewa menatap Kayana yang nampak mulai cemas. Sepertinya suara kerasnya tadi semakin membuat Kayana gelisah.


“Sa..saya…sayaa.” masih tidak tahu harus bilang apa. Mulai takut.

__ADS_1


Ke, kenapa coba mendadak jadi pengen tahu masalah aku. Buat aku jadi bingung saja, ini aku harus cerita apa enggak ya? Mana suaranya keras banget lagi, aku jadi ciut.


Tapi, apa kira-kira si tuan pemarah ini bisa bantu? Masa iya bisa bantu gituh? Membatin sendiri.


“Saya apa?” menuntut Kayana bicara.


“Huffffttttt….” Kayana menghembuskan nafasnya.


Sudahlah, membatin pasrah.


“Saya memang ada masalah tuan. Dan benar tebakan tuan tadi pagi, ini masalah tentang adik saya, Rayana.” Akhirnya memilih jujur.


“Adik saya sedang magang saat ini, magang sebagai salah satu persyaratan untuk kelulusannya. Baru satu minggu dan mendadak dua hari yang lalu dia mendapat pemberitahuaan dari pihak administerasi perusahan kalau besok dia tidak perlu magang di kantor itu lagi. Mereka memberhentikannya secara sepihak.” Berbicara tanpa mau menatap mata biru Sadewa.


“Rayana cemas dengan nasib magangnya tuan. Pemberhentian tanpa alasan ini jelas membuat dia tidak mendapat rekomendasi untuk kelulusannya nanti.”


“Diperusahaan mana adikmu magang?” Sadewa mengeluarkan handphone mahalnya.


“Di perusahaan Victim and Handson, tuan. Di Kota Y.” Jelas Kayana.


“Hah?” Kayana sontak menatap mata biru Sadewa. Mata biru yang seindah langit biru itu terlihat sedang sibuk mencari sesuatu dilayar handphonenya.


“Hallo.” Sadewa sedang berbicara dengan seseorang melalui handphonenya. “Tuan Peter.” Suara Sadewa ramah.


“Maaf, saya menganggu hari libur anda.” Sadewa kembali berbicara setelah terdiam beberapa saat. Sepertinya pihak yang ditelepon sedang mengucapkan sesuatu di sana.


“Hahahahaha…” Kayana melihat Sadewa tertawa lepas.


Tampan…eh, aku mikir apa sih. Menggeleng cepat dan kembali fokus mendengarkan percakapan Sadewa.


“Bukan, bukan tuan…” Sadewa sepertinya menjawab pertanyaan orang yang Kayana tahu bernama Peter.


Peter Williamkah? Penasaran.


“Ooooo…saya sehat, bunda juga.” Lagi, Sadewa berbicara setelah terdiam sesaat.

__ADS_1


“Baiklah, selama saya tidak menganggu tuan.” Sadewa berbicara lagi.


“Ada masalahkah dengan anak magang diperusahaan tuan?” Pertanyaan Sadewa seketika membuat otak Kayana berpikir cepat.


Iya, itu Peter. Lelaki yang menjadi pemilik perusahaan tempat Rayana magang. Yakin hati Kayana.


“Rayana, dia baru satu minggu magang diperusahaan tuan.” Sepertinya Sadewa sedang menjelaskan sesuatu. Dan Kayana, mendadak dirinya semakin takut.


Tahulah Kayana kalau Sadewa sedang menelepon Peter Williamtomi, tidak salah lagi.


Jadi..dia kenal pemilik perusahaan itu? Bagaimana bisa? Kayana terus menyimak pembicaraan Sadewa.


“Siapakah orang itu?” ada kerutan di kening Sadewa.


“Dia adik dari orang yang penting buat saya.” Ucap Sadewa kemudian. Menatap Kayana, tepat disaat mata cokelat Kayana juga sedang menatap padanya.


“Baiklah..baiklah…kita anggap masalah ini selesai bukan?” Sadewa berbicara sambil menganggukan kepalanya. Mengalihkan wajah dari mata cokelat Kayana.


“Kalau begitu selamat menikmati hari liburnya tuan Peter.” Sadewa tersenyum dan panggilan telepon diakhiri Sadewa.


**********


“Tuan kenal dengan pemilik perusahaan tempat adik saya magang?” masih butuh kepastian setelah terkaget-kaget dengan semua hal yang didengarnya barusan.


“Iya, aku tahu sama Peter Williamtomi. Dia salah satu sahabat ayahku.” Mengangguk.


“Jadi, kau berasal dari Kota Y?” Tanya Sadewa.


“Iya tuan.”


“Kenapa kau sampai jauh-jauh datang kesini?” Sadewa menatap wanita yang tertunduk penuh diam dalam kegelisahaan. “Jangan bilang demi bekerja di Rumah Sakitku? Karena aku tahu betul kalau Hadi tidak mengiklankan tentang lowongan dokter spesialis anak pada siappun.”


Kayana makin gelisah


“Apakah keluarga kamu menyingung seseorang?” Sadewa masih penasaran.

__ADS_1


“Kau tahu, penyebab adikmu diberhentikan secara sepihak dari magangnya itu atas permintaan seseorang?”


__ADS_2