Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan

Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan
Kejujuran {1}


__ADS_3

🌹🌹🌹


“Bapak, Ibu, saya izin membawa Kayana menebus obat dulu.” Mengeluarkan secarik kertas kecil yang diberikan oleh dokter tadi dari saku celanan kirinya.


“Oooo…iya, iya. Pergilah sama Kayana, nak.” Ucap Ayah, dan Ibu pun mengangguk setuju, memberi izin.


“Ayo.” Ajak Sadewa kemudian.


“Dia laki-laki baik ya Yah.” Ucap Ibu sepeninggalan Sadewa dan Kayana dari kamar rawatan Ayah.


“Iya, Ayah bisa lihat ketulusan hatinya pada anak kita. Bahkan, pada kita sebagai orang tuanya bu.”


“Ayah, akan memberi restukah?” Ibu penasaran.


“Bagaimana dengan Ibu?” Ayah malah balik bertanya.


“Ayah mau Ibu jujur.” Sambung Ayah kemudian.


“Seorang Ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Kalau ayah mau Ibu jujur, kita belum kenal secara menyeluruh siapa Sadewa ini. Sebagai lelaki yang mencintai anak kita, Ibu lihat dia baik tetapi, bagaimana dengan orang tuanya Yah? Atau saudara-saudaranya?”


Ayah terdiam.


“Dan Ayah, bagaimana pendapat Ayah?” Ayah masih diam.


*****


Sementara itu.


“Dimana letak apotiknya?” Sadewa dan Kayana sudah beberapa meter keluar dari kamar rawatan Ayah. Berjalan lurus keujung lorong.


Langkah Sadewa terhenti.


Menoleh kebelakang dan mendadak menyadari kalau Kayana tidak mengikutinya lagi.


“Ada apa?” menghampiri Kayana.


“Kau kenapa?”


Kayana diam, menunduk dengan jemari saling bertautan. Mengigit bibir bawah.


“Kenapa?” Sadewa heran tidak mendapat jawaban dari Kayana. Apa lagi dengan sikap Kayana yang hanya tertunduk diam.


“Hey?” Berjalan mendekati Kayana.


“Hey?” berdiri didepan Kayana, menatap heran dengan kediaman Kayana. Jemari ditautkan, wajah menuduk dalam.


“Kenapa?” mengangkat dagu Kayana dengan jari telunjuk.


“Loh kenapa?” Sadewa bingung dengan ekspresi Kayana. Mata berkaca-kaca sambil mengigit bibir bagian bawah.


Kayana hanya menggeleng pelan, tetapi tetap tanpa suara.


“Apa aku melakukan kesalahan?” bingung. “Atau, ada yang tidak enak? Kamu tidak terlukakan karena kejadian tadi?”


Kembali, Kayana menggeleng.


“Ayo..ikut aku!” menarik tangan Kayana.


Sadewa membawa Kayana menuju ujung lorong. Ada sebuah taman di tepi lorong tersebut dengan dua  buah gazebo. Gazebo pertama sudah ada yang tiga lelaki yang bersantai di sana, sedangkan gazebo kedua masih kosong. Sadewa membawa Kayana ke gazebo kosong tersebut.


“Duduk!” Sadewa pun duduk persis disebelah Kayana.

__ADS_1


“Mau bilang ada apa?” masih bingung sendiri.


Dalam diamnya, Sadewa memperhatikan bahu Kayana terguncang. Cepat Kayana menutup wajahnya dengan kedua tangan.


“Hey…?” terkejut dengan sikap Kayana.


“Ada apa denganmu?” menarik tubuh bergetar Kayana dalam pelukannya.


Satu detik berlalu, masuk hitungan satu menit dan Kayana masih menutup rapat wajahnya di dalam pelukan Kayana.


Kayana menangis, entah karena apa. Tetapi, tidak ada suara tangis yang keluar. Sadewa sadar kalau Kayana sedang tidak baik. Ada kesedihan mendalam.


“Sudah..sudah..” Bujuk Sadewa sambil membelai punggung Kayana.


Beberapa waktu berlalu, Sadewa tidak merasakan lagi ada gunjangan di tubuh Kayana. Kayanan pun terdengar sudah mulai mengatur nafasnya. Tebakan Sadewa, Kayana sudah mulai stabil, sudah berhenti menangis.


Dengan pelan, Sadewa melepas pelukannya pada Kayana. Kemudian, dengan kedua tangannya, Sadewa menurunkan tangan yang dipakai Kayana menutupi wajahnya.


“Sudah tenang?” Tanya Sadewa sambil memperhatikan wajah Kayana. Ada tetesan air mata tertinggal dibawah keloka matanya. Riasan ala kadar di wajahnya mulai terhapus.


Kayana mengangguk. “Maaf.” Ucap Kayana pelan. “Saya memalukan sekali.”


“Menangis bukanlah hal yang memalukan. Itu adalah wujud ekspresi terdalam hati kita. Aku bisa terima.”  Ucap Sadewa sambil menghapus tetesan air mata yang masih tertinggal di bawah kelopak mata Kayana.


“Te..terima kasih tuan.” Kayana kaget dengan sikap lembut Sadewa. Tidak percaya sosok arogan ini begitu lembut memperlakukannya. Memeluknya bahkan, menghapus air mata di pipinya.


Maafkan aku Tuhan, ternyata dia tidaklah terlalu arogan. Dia juga punya sisi lembut. Gumam Kayana dalam hati.


“Lantas, kamu kenapa?”


“Saya, saya…hufttttt…” Kayana menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan. Sepertinya tangisnya tadi telah membuat hidungnya tersumbat.


“Peristiwa yang Ayah alami tadi.”


“Iya,” aku Kayana.


“Astaga.” Ada senyum terbentuk di wajah Sadewa.


“Serius?”


Kayana menganggukan kepalanya.


“Buaaahahahahaha….” Tawa Sadewa pecah. “Bagimana bisa? Ini, ini mungkin sudah lebih tiga jam dari kejadian tadi?” merasa lucu sekaligus tidak  percaya.


“Hahahaha…” tawa Sadewa belum habis.


Ihhhhhhh, salah besar aku tadi memujimu memiliki sisi lembut. Ternyata kau memang arogan, tidak punya perasaan. Bagaimana bisa kau tertawa sebahagia itu hah? Kau pikir aku lucu apa? Rutuk Kayana dalam hati. Memasang wajah cemberut melihat Sadewa yang terawa bahagia.


“Segitu bahagianya?” Sewot.


“Ya..ya…hahaha.” menjawab di sela tawa. “Bagaimana bisa kau ini lucu sekali. Panik shock mu sangat terlambat. Aku baru sekali ini bertemu orang selucu kamu.”


“Sekarang bilang lucu, besok jatuh cinta sama aku baru tahu rasa.” Mengumam pelan dengan bibir monyong kedepan.


Imutnya, suara hati Sadewa keluar begitu saja. Tanpa mendengar apa yang digumamkan Kayana.


Astaga, kenapa aku memuji dia imut?


Wanita yang selalu suka membantah dan menyusahkan aku ini, bagaimana bisa menjadi imut?


Kenapa dengan kepalaku, apa tadi terbentur waktu melindungi dia?

__ADS_1


Sadewa bingung dengan diri sendiri.


“Tuan.”


Suara Kayana membuyarkan rasa bingung Sadewa.


“Hemmm.”


“Terima kasih.” Ucap Kayana sepenuh jiwa.


“Apa?”


“Sudah melindungi keluarga saya, sudah menjaga Ayah tadi, dan sudah memberikan rawatan terbaik untuk Ayah. Terima kasih.” Menatap Sadewa.


Tuhkan..imut banget.


Sudara hati Sadewa melihat tatapan tulus Kayana.


Astagaaa, aku ini kenapa sih?


Heran sendiri.


“Aku sudah janji padamu, tentu akan kutepati.” Sadewa menjawab cepat. Secepat usahanya menghilangkan suara-suara dikepalanya tentang Kayana.


“Saya tidak pernah tahu kalau tuan menempatkan orang-orang tuan di sekitar keluarga saya.”


“Aku tidak bisa selalu ada disekitar keluargamu tetapi, aku mampu membuat orang-orangku selalu menjaga mereka.”


“Ya, saya sudah lihat. Sekali lagi terima kasih.”


“Lantas, apa tidak ada yang ingin kau sampaikan padaku?” sempat terdiam sesaat, Sadewa dan Kayana saling melihat kearah taman. Tetapi, melihat dengan sudut pandang mereka masing-masing.


“Hah?” agak kaget, Kayana melihat pada Sadewa.


“Aku masih ingat benar betapa marahnya kau padaku saat aku mengemukakan tentang pernikahan kontrak kita. Kau bahkan mengusir aku. Tetapi, malam tadi kau malah yang berinisiatif menghubungi aku. Ada apa?”


Hufffttttt…satu nafas dalam ditarik Kayana, dan perlahan dia menghembuskanya saat paru-parunya telah penuh oleh udara baru.


“Tuan,” ucap Kayana sambil memandang lurus kedepan.


“Semalam nyonya Ratna menelepon saya. Dia bicara yang saya tidak mengerti. Intinya dia mengatakan kalau Tio, anaknya kembali mencari saya. Dia curiga saya kembali berhubungan dengan Tio. Dia mengancam saya atas semua itu.”


“Saya benar-benar sudah muak dengan dia dan anaknya. Saya bosan dengan kecurigaan dirinya. Saya tidak pernah menghubungi apa lagi berhubungan dengan Tio. Saya sudah putus dengannya, jadi kenapa dia selalu menyalahkan saya? Mengancam keluarga saya?”


“Saya tidak terima tuan, saya melawannya semalam. Dan dia marah besar! Dia berjanji akan merealisasikan ancamannya dan membuat saya menyesal selamanya.”


“Kau merasa kejadian pagi tadi adalah ulah dia?” Sadewa bertanya.


“Apakah tuan memiliki bukti?” Bukan menjawab, Kayana malah balik bertanya.


“Pelaku sudah dibawa ke kantor Polisi. Dan pengakuan pelaku semua terjadi karena keteledorannya dalam berkendaraan. Dia mengaku tidak kenal keluargamu.”


“Ahhh…entahlah.” Suara lelah Kayana.


“Kau tenang saja. Kalau sampai dia bebas itu akan sangat bagus. Karena aku bisa bebas mengintrogasi dia.” Ada ancaman mengerikan terdengar oleh Kayana atas penuturan Sadewa barusan.


Benar-benar lelaki kejam, batin Kayana.


“Kayana…?” panggil Sadewa sesaat kemudian pada Kayana.


“Iya.”

__ADS_1


“Apakah kau masih mencintainya?” Tanya Sadewa. Entah kenapa, pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutnya.


__ADS_2