
🌹🌹🌹
“Quinsha.” Senang melihat gadis kecil yang dirawatnya beberapa hari lalu, Quinsha nampak sangat sehat.
Jelas ekspresi itu terlihat di wajah Kayana, matanya berbinar. Gadis mungil yang imut itu sudah sehat seperti sedia kala.
“Sini sayang.” Memanggil Quinsha. Tapi, yang dipanggil hanya diam, enggan mendekat pada Kayana.
“Loh..kenapa hanya berdiri di pintu? Masuk dong sayang?” Suara khas seorang lelaki yang tidak akan bisa dilupakannya, Kayana menunggu dengan perasaan tak menentu. Sepertinya lelaki itu heran dengan sikap Quinsha yang hanya mematung di depan pintu.
Itu diakan?
Apakah dia kesini mau ngajakin aku rebut lagi?
Kayana menunggu si pemilik suara mendekat ke dalam ruang kerjanya.
“Ada apa? Kok hanya berdiri saja?” Sadewa melihat gadis kecilnya hanya diam.
Dengan penuh kasih, Sadewa mengendong Quinsha dan bertanya sekali lagi. “Kok diam?” Quinsha pun menggeleng.
“Tuan,” sapa Diandra sopan.
Sadewa melihat Diandra, lebih tepatnya melihat bagaimana Dindra memegang tangan Kayana saat ini.
“Ada apa?” Sekali lagi Sadewa menanyakan penyebab diamnya Quinsha. Memberi tatapan malas dan tidak suka pada Diandra.
“Iya, Quinsha kenapa diam?” Kayana ikut bertanya, heran.
“Itu.” Tunjuk Quinsha tidak terima pada tautan tangan Kayana dan Diandra.
Astaga. Kenapa aku bisa tidak sadar seperti ini? Tahu kemana arah telunjuk Quinsha.
Mendadak atmosfir bumi terasa dingin, mata Sadewa tajam menusuk penuh tanda tanya.
Kayana cepat melepaskan genggaman jemari Diandra, membuat Diandra kesal di dalam hati. Merutuk tidak terima.
__ADS_1
Apa-apaan nih anak, kenapa memasang wajah tidak suka gituh sih sama aku? Ini juga tuan Sadewa, kenapa ikut-ikutan tidak senang sih?
“Kemarilah!” Kayana membentangkan tangan untuk Quinsha.
“Ayah, aku mau sama bunda.” Mendadak senang lagi, antusias lagi. Wajah imut penuh bahagia tergambar disana.
Sadewa melepaskan gendongan Quinsha, menurunkan anak kecil yang sangat mengemaskan ini dan membiarkannya berlari menuuju Kayana.
“Ya ampun kesayangan Kakak.” Memeluk Quinsha begitu lekat. “Kakak kanget banget sama kamu, sayang.”
“Shasa juga kangen bunda.” Melingkarkan tangan di leher Kayana. Tidak mau lepas.
“Apa kau ada kepentingan lain disini?” bertanya dengan suara dingin pada Diandra, membuat Diandra yang sedang terheran-heran dengan kedekatan Kayana pada nona kecil Britania membuyar entah kemana. Sadewa secara jelas menunjukkan sikap tidak suka pada Diandra.
“Saya berencana pulang bersama dokter Ana, tuan!” Jawab Diandra.
Kenapa tuan muda seperti tidak suka sama aku ya?
“Sekarang kau lihatkan, dia sedang bersama siapa?” Sadewa mengeraskan rahangnya. Mempertegas ketidak sukaannya.
“Baiklah.” Menurut pada Kayana.
“Tuan, saya mohon diri.” Menunduk hormat dan berjalan menjauh dari sang tuan.
Apa hubungan mereka?
Cih, membuat aku tidak suka saja melihat dia akrab bersama wanita ini.
Apa tadi? Menyebut nama wanita ini dengan Ana? Sok akrab banget deh.
Batin Sadewa tidak senang.
“Tuan, silahkan duduk.” Ucap Kayana masih dengan memeluk Quinsha dalam gendongannya.
“Jadi, si cantik ini sudah sehat ya?” langsung beralih ke Quinsha.
__ADS_1
“Iya dong.” Bangga. “Shasa udah sehat bunda. Shasa maemnya banyak loh bun.”
‘Wah, apa iya?” pura-pura tidak percaya.
“Beneran bunda.” Mengangguk keras untuk menyakinkan Kayana.
“Memang anak pinter.” Mencium pipi kanan Quinsha, menghadiahkan satu ciuman penuh kasih pada gadis kecil yang nampak sangat manja padanya.
“Bunda, siapa Paman tadi?” pertanyaan penasaran.
“Itu Paman Diandra, dia yang nemenin kakak kerja di sini.” Menjelaskan versi anak kecil.
“Kenapa Paman itu pegang tangan bunda?” jelas tidak suka.
“Itu, itu…” bingung mau jawab apa.
“Kau ini jangan sembarangan dipegang-pegang lelaki! Dimana harga dirimu?” Dengan suara datar Sadewa yang ternyata mendengar semua perbincangan Quinsha dan Kayana langsung menyela. Dengan sikap angkuh di atas kursi yang didudukinya, Sadewa memasang tampang marah pada Kayana.
Kenapa dia bersikap seperti itu?
Itu kata-kata kok nusuk banget sih?
Memang dia pikir aku ini apa?
Jangan sembarang di pegang-pegang, sebenarnya apa sih isi otaknya.
Mengerutu di dalam hati, Kayana jelas tidak senang dengan cara bicara Sadewa padanya.
“Dia asisten saya, tuan.” Menjawab seadanya.
“Sekarang kita mau ngapain sayang?” segera beralih ke Quinsha, malas terus berbicara pada Sadewa. Kayana sudah terbayang, ujung-ujungnya pasti merutuk marah pada lelaki yang nampak angkuh. Membuang energinya saja.
“Mau pergi main sama bunda sama ayah, terus mau beli jajanan sama bunda, terus mau semuanya sama bunda.” Jawab Quinsha senang.
“Waduh banyak banget itu maunya.” Kayana tersenyum geli dengan semua keinginan Quinsha.
__ADS_1
“Tapi bolehkan bunda?” Setengah merengek pada Kayana. “Ayah, boleh ya?” beralih pada Sadewa, memelas dengan wajah penuh harap