
🌹🌹🌹
“Non, lelaki bodoh itu memang tidak pantas untuk bersama si non. Non dokter layak di sayangi oleh lelaki terbaik, non layak di puja oleh lelaki sejati, bukan lelaki yang hanya bisa menilai sesuatu sekejap mata. Percaya sama bibi, ini memang sakit, bibi bisa merasakan luka non “. Menatap mata Kayana yang siap menjatuhkan isi awan duka yang telah memenuhi matanya. “Tetapi, Tuhan pasti punya niat sangat baik, punya rencana-Nya sendiri untuk membuat non bahagia “. Tersenyum. “Mungkin Diandra adalah jawabannya ?”
Kayana memejamkan mata sedihnya, membiarkan air mata pertama jatuh dari mata penuh kepedihan itu. Setelah kisah cintanya bersama Praditio, apa iya dirinya bisa membuka hati lagi ? Terlebih untuk sosok lelaki yang lebih muda darinya, lelaki yang seumur dengan adiknya ? Dengan mata masih terpejam, Kayana menemukan jawaban.
“Tujuan Ana ke sini bukan untuk percintaan bi, Ana bukan mau mencoba peruntungan Ana lagi terhadap masalah hati !” Menggeleng tegas. “Ana kesini untuk menyelesaikan semua permintaan nyonya Ratna, demi keluarga Ana, ini yang harus Ana lakukan !”
“Ahhh, non “, menghela nafas. “Pelik benar jalan hidup non “.
“Sudah takdir Ana, bi !”
“Sudahlah “. Menyeka air mata Kayana. “Lupakan semua itu non, sekarang si non sudah di sini. Ada bibi yang akan menjaga non ! Belajarlah untuk menyudahi rasa sakit di sanubari non, cobalah jalani hari sebahagia mungkin di sini ! Karena non tidak akan pernah tahu, apa yang akan non temui nanti, kedepannya !”
“Iya bi “. Menarik kedua ujung bibir, mencoba tersenyum sebiasanya.
“Sekarang istirahatlah non, sudah malam ! Besok non akan mulai bekerja, non harus segeran besok !” Menepuk-nepuk sayang punggung tangan Kayana.
“Hem “. Berdiri.
“Selamat malam bi, terima kasih untuk makan malam enaknya hari ini “.
“Selamat malam non “. Memperhatikan Kayana berjalan menuju kamar tidurnya. Berdiam di kursi tempat duduknya sampai Kayana masuk dan menutup pintu kamar.
“Semoga kebahagiaan sejati akan menghampiri non suatu saat nanti “. Berdoa setulus hati. Dan kemudian bibi pun memilih masuk ke kamarnya, beristirahat untuk menyambut pagi esok. Semua rencana menyenangkan telah di susun wanita tua ini. Dirinya telah bertekad akan memberikan awal pagi indah untuk Kayana. Dalam hatinya, diam-diam bibi sudah menyangyangi Kayana. Si dokter cantik yang berhati baik.
__ADS_1
***************
“Kak...”, suara Martin membuat Sadewa menyudahi pandangannya yang sesaat menerawang entah kemana.
“Hemmm”, hanya suara singkat itu yang terdengar di telinga Martin, dan mata Sadewa tetap tidak menatap kearahnya.
“Sudah hampir jam sebelas malam, istirahatlah lagi !” Menatap wajah Sadewa.
“Aku masih ingin di sini dulu “. Bicara pelan.
“Kak, aku hanya berharap agar kakak mau memikirkan sekali lagi tentang rencana mempertemukan antara bunda dan si ulat bulu itu ! Apa lagi, kakak juga meminta Shasa ikut berjumpa dengan wanita yang hanya tahu cara menempel erat padamu, wanita yang jelas hanya tahu cara merayumu saja “. Berbicara serius, menatap sisi wajah Sadewa meski lelaki itu tidak bergeming sedikitpun. Apalagi berniat menatap pada Martin di sisi kanannya.
“Huuuffffttttt “, satu helaan nafas berat terdengar. Sadewa terlihat sedang berpikir, dirinya boleh tidak bergeming dengan semua tutur kata Martin. Tetapi, telinga lelaki tampan ini jelas mendengar dengan baik semua hal yang telah disampaikan Martin padanya.
“Kak......!!!!” Beberapa detik berlalu dan Martin hanya mendapati kediaman Sadewa.
“Aku rindu Ayah “,
Martin terlonjak, sebuah kalimat yang jauh dari pikirannya akan terucap begitu menusuk hatinya dari seorang Sadewa.
“Aku juga rindu Paman Kristo dan Bibi Raisa !”
Martin terdiam, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Hatinya mengiba, semua kesedihan itu membentang di wajahnya.
Aku juga kak, aku rindu ayah dan ibuku, dan aku rindu segala sisi penyayang ayah Aisakha. Suara hati merindu seorang Martin yang tanpa mau menunjukkan kepada siapapun, betapa besar rasa rindu seorang anak yatim piatu pada kedua orang tuannya, hingga pada sosok Aisakha. Ayah yang memanjakan dirinya sama seperti caranya memanjakan Sadewa, tanpa beda.
__ADS_1
“Maafkan aku Martin !” Permintaan mendalam Sadewa yang membuat Martin mengepalkan tangan kanannya kuat.
Jangan ucapkan itu kak, aku mohon ! Batin Martin serasa teremuk dalam.
“Semua salahku, kau pasti membencikukan ?” Penuh penyesalan dan rasa sakit mendalam, Sadewa memberanikan diri menatap Martin.
“Semua sudah jalan hidup kita kak, dan semua bukan salahmu “. Tanpa ragu menatap wajah Sadewa. “Dulu hingga sekarang, aku tidak pernah menyalahkanmu. Kamu adalah kakakku, aku Menyayangimu dan hormat padamu kak, dan rasa sayang serta hormatku tidak pernah berubah dari aku bisa mengingat bahwa kita adalah saudara, hingga detik ini dan sampai kapanpun ! Jadi, tolong buang pikiran bodoh itu dari kepalamu, kak. Bahkan anak kecil saja tahu musibah tersebut terjadi bukan karena salahmu !”
Sadewa memperhatikan sejauh yang dirinya bisa kejujuran di mata Martin. Sadewa berusaha mencari celah kebohongan dari semua susunan kata-kata Martin barusan. Ini kali pertama Sadewa menanyakan perasaan luka mendalam yang dirasakannya pada Martin, betapa bersalah dirinya, Martin dan dirinya sama kehilangan. Tetapi, Martin pasti lebih terluka. Dirinya kehilangan kedua orang tuanya sekaligus. Dan semua, karena dirinya.
Maafkan aku, Martin. Mengalihkan pandangan matanya dari kejujuran Martin, membatin penuh rasa bersalah. Maafkan aku.
***************
“Ayahhhhh.....!!!!!”
“Ayahhhhhh.......!!!!”
“Tidak, tidak.....Ya Tuhah, bunda.....oooo, bunda. Maafkan aku “.
Syania, sang ibu paruh baya, ibu dengan hati sebaik malaikat ini hanya bisa memejamkan mata dengan hati penuh irisan kesedihan tidak terkira, saat lagi dan lagi, dirinya harus mendengar suara rintihan penuh rasa bersalah Sadewa, anak lelaki tersayangnya di dalam tidurnya. Syania tahu, hingga saat ini Sadewa masih merasa dirinya penyebab semua musibah itu terjadi.
“Kapan kamu akan bahagia nak ? Ini semua bukan salahmu sayang ! Ikhlaskan nak, ikhlaskanlah semuanya !” Dengan mata terpejam, tangan kanan di pintu kamar Sadewa, bulir bening di sudut mata Syania pun jatuh.
Suara rintihan Sadewa masih terdengar, Sadewa masih mengigau di dalam tidurnya.
__ADS_1