
🌹🌹🌹
“Sudah siap semuanya nak ?” Sang ayah masuk ke kamar Kayana. Duduk di tempat tidur sang putri sulung sambil memperhatikan sekeliling kamar bernuansa putih itu. Kayana baru saja menutup tas besar tempat baju-baju dan beberapa barang penting lainnya yang harus di bawa. Di bawa untuk pergi jauh, sesaat kembali menghilang dari Kota ini. Dari keluarga sendiri dan dari kekasih hati sendiri.
Tunggu, mendadak Kayana membatin, teringat pada sesuatu hal yang sangat penting, hal utama yang menjadi pangkal bala dirinya harus pergi dari kehidupan indahnya ini.
“Jangan lupa bawa baju hangat ya ! Yang Ayah dengar, katanya di sana cuacanya sering tidak menentu. Kamu harus jaga kesehatan, jaga diri !” Kayana menatap mata tua sang Ayah.
“Ayah “. Secepatnya Kayana berjalan ke arah sang Ayah. Terduduk di kaki lelaki paruh baya yang sedang berusaha tegar, saat sang anak memutuskan akan pergi ke tempat yang baru, yang jauh dan sangat lama.
Kayana memeluk kedua kaki Ayahnya, meneteskan air mata rasa bersalah. Perasaannya menjadi kacau.
“Hey, hey...... “. Memegang kedua bahu Kayana, membantunya berdiri dan mendudukkan gadis cantik itu di sebelahnya.
__ADS_1
“Ini sudah keputusanmu, jangan sedih ! Kita sudah membahas masalah ini tadi. Dan Ayah mendukungmu “. Kayana merebahkan kepalanya di bahu sang Ayah.
“Ayah hanya minta, jaga dirimu di sana ! Jaga kesehatanmu nak, dan jaga kehormatanmu ! Ayah jauh di sini, tetapi harus kamu ingat. Saat kamu membutuhkan Ayah, sejauh apapun itu jaraknya, Ayah pasti datang menjemputmu !” Membelai rambut Kayana.
“Semangat nak, jangan bersedih “. Satu pelukan hangat di berikan sang Ayah pada gadis sulungnya.
“Maafkan Ana, yah. Maafkan Ana !” Serta merta masuk dalam pelukan sang Ayah.
“Saat semua telah sampai pada masanya, kembalilah nak ! Kembalilah !” Pesan Ayah yang sangat menyentuh kalbu Kayana.
“Sekarang “. Beberapa saat berlalu. Ayah melepaskan pelukannya dari Kayana. “Lanjutkanlah berkemasnya, cek sekali lagi, pastikan semua sudah siap !” Mencium kening Kayana, tersenyum lama, sebelum akhirnya berdiri dan meninggalkan Kayana di atas ranjangnya, di kamar tidurnya.
Sepeninggalan sang Ayah, Kayana memilih berdiam diri. Tidak menjalankan perintah sang Ayah untuk melanjutkan berkemas, atau mengecek barang bawaannya apakah sudah lengkap semua atau belum. Kayana sedang bergulat dengan hatinya, berusaha menghalau jauh wajah Praditio. Mencoba memastikan cara melupakannya, hingga akhirnya semua keinginan nyonya Ratna akan tercapai. Praditio menikah dengan wanita pilihan Mamanya, kepergiannya selesai, lewat enam bulan kemudian, Kayana bisa kembali ke Kota ini.
__ADS_1
Lima tahun menjalin kasih, Kayana selalu berhasil menutupi perlakukan nyonya Ratna padanya dari Praditio. Wanita itu sangat berbahaya, sedikit saja mencium gelagat aneh pada Kayana, langsung membuang Kayana agar jauh dari sang anak.
Lima tahun bersama, hubungan Kayana dan Praditio tidaklah seperti pasangan kekasih pada umumnya. Pola pacaran mereka lebih mirip pacaran jarak jauh. Ada di kota yang sama tetapi, sangat sulit bersua. Semua tidak lain karena sang nyonya Ratna sibuk mengancam Kayana. Mengancamnya melalui keluarganya, hingga membuat Kayana selalu mencari alasan paling masuk akal untuk menolak berjumpa kekasih hati.
Kayana memejamkan mata, ada luka di hatinya.
“Sudah sampai di sini, maka aku harus sanggup ! Ya, aku harus sanggup ! Demi nama baik Ayah, demi keselamatan Ibu dan demi Rana ! Semua demi keluargaku !”
Sebuah keputusan dalam. Sudah sejauh ini, tinggal selangkah lagi dan semua akan baik-baik saja. Biarlah sakit, tidak apa perasaannya terkorbankan, luka dan kehilangan cinta pujaan hati, bahkan mungkin tidak akan bisa memiliki cinta seumur hidup ini. Tetapi, ada nilai mahal yang akan di dapat untuk sakit yang menyayat.
Kayana kembali menarik nafas dalam, membiarkan sesaat memenuhi paru-parunya, kemudian menghembuskannya perlahan.
“Ini takdirku, ini jalanku dan kamu bukanlah untukku ! Seperti kata Mamamu, aku tidak pantas untukmu dan kamu pun mengiyakan itu !”
__ADS_1