Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan

Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan
Persetujuan Bunda


__ADS_3

🌹🌹🌹


“Pagi dokter Hadi “. Sapa Kayana yang baru turun dari mobil dinasnya. Kebetulan sekali, Kayana memarkir mobilnya di samping mobil dinas milik dokter Hadi.


“Ooo, pagi dokter Ana “. Tersenyum melihat semangat berkobar di mata Kayana. Senang.


“Sudah siap memulai tugas perdana hari ini ?”


“Pastinya dokter “. Mengangkat tangan kanan tinggi ke udara. “Ana akan memulai hari pertama Ana dengan setulus jiwa “.


“Bagus !” Mengangguk senang. “Saya harap dokter Kayana akan betah di Rumah Sakit ini “.


“Siyap dokter “. Menunjukkan tekat bersungguh-sungguh.


“Kalau begitu kita ke atas lagi !” Mengajak Kayana berjalan bersama dirinya menuju lobbi Rumah Sakit.


***************


“Kak, hari ini pihak Mersi And Pathon ingin bertemu denganmu, jadwal ini sudah aku sampaikan kemaren “. Martin mulai membacakan urutan daftar harian Sadewa hari ini. “Pihak mereka memilih bertemu di Saron “. Menyebutkan sebuah kafe yang biasa menjadi tempat pertemuan pihak-pihak penting untuk membahas tentang pekerjaan tetapi, tidak dalam suasana yang terlalu formal.


“Jam berapa ?” Tanya Sadewa kemudian.


“Jam sebelas nanti kak “, Martin melihat kolom jam pada daftar harian Sadewa.


“Selanjutnya ?” Sadewa kembali meminta keterangan aktivitasnya.

__ADS_1


“Sebentar lagi ada rapat dengan bagian property kak, mereka ingin menyampaikan perkembangan hotel baru kita di Kota K !” Martin melihat Sadewa hanya menganggukkan kepalanya.


“Dan setelah selesai pertemuan dengan pihak Mersi, aku sudah mengatur waktu buat kakak ketemuan sama Paman Gunta. Sudah seminggu berlalu, Paman sudah sehat kak !” lagi-lagi Martin melihat Sadewa hanya menganggukkan kepalanya, patuh.


“Dan kembali dari sana, ada setumpuk berkas yang harus kakak periksa ! Semua menunggu keputusanmu “.


“Kamu siapkan semua keperluan rapat itu, kabari aku kalau semua sudah siap !” Perintah Sadewa.


“Baiklah, aku tinggal kakak sebentar “. Martin memperhatikan Sadewa, berniat meninggalkan Sadewa untuk memenuhi perintah sang Presdir tersebut. Tetapi, entah kenapa perasaan Martin sedikit ragu.


“Kak.....”.


“Hemmm “, menjawab ala kadarnya.


“Bunda setuju bertemu dengan Melani “. Menjawab sambil memainkan handphone di tangan kanannya. Memutar benda mungil itu, tanpa berniat menatap mata Martin.


“Apahhhhhhhh......?” Kaget.


“Telingamu belum rusakkan ? Jadi, malas aku mengulang kata yang sama !” Sadewa menghentikan gerakan tangan kanannya memutar handphonenya.


“Kau sudah gila ya kak ?” Bertanya penuh ketidak percayaan, Martin menarik kursi di depan meja kerja Sadewa. Terduduk dengan pandangan penuh selidik luar biasa.


“Kenapa kamu paksa bunda, kak ?”


“Heh “. Sadewa marah, membesarkan bola matanya, menatap Martin seakan ingin menghajar sekretarisnya itu.

__ADS_1


“Jaga mulutmu itu !”


“Santai kak “, sama sekali tidak takut pada besarnya bola mata Sadewa. “Gak usah juga matanya dibesar-besarkan !” Bicara tanpa dosa. “Aku cuma memastikan kamu itu sehat apa gak ? Atau kamu malah sedang menghalu “.


“Kau itu bawahanku, jaga bicaramu !” Semakin tidak senang.


“Bodo amat dengan statusku sebagai pegawaimu “. Martin memasang tampang serius. “Tapi, kalau menyangkut masalah bunda Nia, aku tidak akan tinggal diam. Dia bundaku juga, kau jangan menyakiti hatinya kak dengan memaksa keinginanmu !”


“Aku tidak memaksa “. Membentak Martin. “Bunda setuju dan bunda mau “.


“Kenapa sih kak, kenapa kamu melakukan semua itu ?” Menggeleng kesal. “Diantara semua manusia di dunia ini, seharusnya kamu tahu kak, bunda adalah sosok ibu yang rela melakukan apa saja untuk membuat kamu bahagia ! Meskipun itu hanya akan membuat bunda sedih “. Menarik nafas sesaat. “Kak, kenapa kamu tega “.


“Cukup Martin !” Memberi tatapan tidak senang pada Martin, kemarahan Sadewa sudah sampai di puncak kepalanya.


“Keluar !” Usir Sadewa disertai telunjuk kanannya kearah pintu. “Kerjakan pekerjaanmu, kau harus sadar diri ! Masalah percintaanku bukan bagian dari tugas dan fungsimu di perusahaanku ! Jadi, urus saja urusan kantor !”


“Baik “. Martin menjawab dengan menahan amarahnya, dalam hatinya, Martin sedang sibuk merutuki kebodohan Sadewa tentang keinginannya mempertemukan bunda Nia dan si ulat bulu.


“Maaf tuan Sadewa, saya sudah mencampuri urusan pribadi tuan “. Martin berdiri dengan sikap formal, sengaja melakukan semua untuk menjawab kemarahan Sadewa padanya. “Saya permisi tuan “.


Tanpa menunggu Sadewa berbicara, Martin berdiri dan membalikkan badan. Berjalan dengan langkah pasti serta hati yang menggumam marah pada Sadewa. Sepanjang ingatan Martin tentang sosok Sadewa, perasaannya mengatakan baru kali ini Sadewa marah besar padanya. Dan parahnya, bagi Marti kemarahan Sadewa sungguh tanpa alasan.


“Seharusnya yang marah itu aku, kak bukan kamu “. Bergumam pelan sambil berjalan kembali keruang kerjanya. “Kamu itu benar-benar gak mikir perasaan bunda ya, kenapa juga sih bunda harus ke temuan sama manusia sejenis ulat bulu itu ?”


“Aahhhhhh....!” Mengacak rambutnya kesal. “Kau memang sudah gila kak “.

__ADS_1


__ADS_2