Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan

Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan
Urusan Penting


__ADS_3

🌹🌹🌹


Sinar matahari malu-malu menyentuh ujung dedaunan pagi ini. Pohon-pohon nan rindang sedang bersuka ria, pagi ini cuaca cerah, semua dapat beraktivitas seperti biasanya.


Kayana baru selesai mandi dan baru saja selesai menyisir rambut panjangnya. Baju kaos navy sederhana di padukan dengan rok sedikit di bawah lutut dengan warna cokelat tua. Kayana cantik dalam polesan bedak dan lipstick standarnya, anggun dengan pesona menyejukkan mata.


“Cantiknya non.” Sapa bibi yang melihat Kayana berjalan kearahnya, bibi sedang asyik merawat aneka bunga di halaman depan rumah dinas Kayana.


“Bibi bisa saja.” Tersipu malu.


“Beruntung sekali yang jadi suami sinon kelak, nona lembut dan penyayang, nona santun dan anggun, dan yang pasti nona cantik banget.” Memuji dengan segala ketulusan. Kagum pada sosok dokter muda yang sudah masuk bulan kedua dilayaninya.


“Bibi apa coba.” Semakin malu.


“Loh..jujur kok non.” Tersenyum melihat gurat malu di wajah majikannya itu.


“Sudah ah, bibi pagi-pagi sudah ngasal.” Berusasha menutupi perasaan malu dengan mendekati tanaman anggrek bulan yang sedang mekar. Menyentuh dan menghirup aroma wanginya.


Ahhhh, segernya. Batin Kayana senang.


“Hari ini mau bibi masakin apa non menu makan siang dan malamnya?” bibi lanjut dengan bunga berikutnya. Berbicara dengan tangan yang kembali sibuk.


“Bi, ada stok ikan laut gak kitanya?” bertanya sambil ikut mengumpulkan dedaunan kering yang gugur menutupi pot bunga mawar.


“Kayaknya masih ada ikan tenggiri deh non. Nona mau bibi masakin apa ikannya?”


“Boleh gak bi kalau ikannya Ana olah jadi bakso?”


“Gimana non, gimana?” tidak paham.


“Kita buat bakso ikan yuk bi! Ana kangen bakso ikan. Di sini Ana tanya temen-temen di Rumah Sakit kayaknya gak ada deh yang jual. Gimana?”


“Ikan tenggiri dia buat bakso non?” masih tidak paham.


“Iy bi, bakso. Pentol bakso dari ikan bukan dari daging.” Menyakinkan.


“Wah, nona memang unik banget.” Kagum.


“Kok unik bi?” malah sekarang Kayana yang tidak paham.


“Seumur-umur bibi ya non, baru kali ini diusia bibi nyaris masuk tujuh puluh tahun bibi denger kalau ikan tenggiri itu bisa diolah jadi pentol bakso.” Jujur.


“Bibi..bibi…” tersenyum. “Kalau di kota kelahiran Ana itu hal biasa bi, ikan tenggiri itu enak banget diolah apa saja. Jadi lauk makan, atau dibuat jadi jenis menu lainnya tidak kalah enak.”


“Penasaran bibi non.” Aku bibi.


“Nanti kita buat sama-sama ya bi.”


“Iya non..bibi selesaikan satu pot lagi. Habis itu kita buat ya.” Semangat.

__ADS_1


Kayana mengangguk setuju dan berlalu meninggalkan bibi dengan pot bunga terakhirnya. Kayana memilih masuk ke dalam rumah duluan untuk mengecek semua bahan yang dia perlukan sekalian mengeluarkan si ikan tenggirinya dari lemari pendingin.


Dan…


Handphone milik Kayana berbunyi nyaring. Ada nada dering yang meminta sang tuan mengangkatnya.


Adik..batin Kayana membaca nama peneleponnya.


“Ya Rana.” Kayana menekan lambang telepon berwarna hijau dilayar sentuh handphonenya.


“Kakak lagi ngapain?” suara sang adik terdengar.


“Gak ada, kakak lagi libur jadi di rumah aja.” Kayana memilih duduk di sofa ruang tamu, duduk membelakangi pintu dan lanjut berbicara dengan adiknya.


“Bagaimana kabarmu, ayah dan ibu gimana?”


“Kami baik semua kak, kami sehat.” Jawab sang adik singkat.


“Ada apa dik?” merasa ada yang tidak beres.


“Ti..tidak ada kak.” Ragu.


“Jujurlah pada kakak! Ada apa?”


“Kak, aku benar-benar bingung.” Akhirnya memilih untuk bercerita.


“Tentang magangmu itu?” Kayana menebak.


Kayana menarik nafas dalam. Diam dan kemudian menghembuskannya perlahan.


Semua karena nyonya. Sebenarnya apa yang membuat dia begitu tidak puasnya menyakiti keluargaku? Apa dengan aku diam dan mencoba menikmati hari di sini lantas aku salah juga lagi? Batin Kayana, mencoba mencari penyebab si Nyonya kaya, ibu dari mantan kesihnya terus menganggu keluarganya.


Semua sudah kuikuti. Pindah kesini, berpisah dengan ayah, ibu dan adikku. Jangan komunikasi dengan Praditio, bahkan melupakan Praditio. Semua sudah Nyonya! Lantas apa lagi salahku? Kenapa masih mengganggu keluargaku, adikku?


Kayana tidak berdaya.


“Kak?” Suara Ranaya membuyarkan keterdiaman Kayana.


“Aku harus gimana kak? Ayah dan ibu belum tahu. Aku takut bilang, takut buat mereka kecewa.” Mulai mengiba.


“Kak, apa ya kira-kira salah aku?”


“Semua bukan salahmu.”


“Lantas, kenapa jadi seperti ini?” tidak percaya.


“Beri kakak waktu ya! Kakak pasti selesaikan masalah ini.” Menyakinkan.


“Gimana kak, gimana caranya?” tetap tidak percaya.

__ADS_1


“Kakak pasti bisa!” menyakinkan lagi.


Karena memang kakak awal masalahmu ini, kakak akan menghubungi nyonya kaya itu dan bertanya apa lagi mau dia. Membatin.


“Baiklah kak.” Akhinya memilih pasrah.


“Jaga ayah dan ibu, jangan sampai mereka tahu. Semuanya serahkan pada kakak.”


Dan panggilan telepon pun terputus.


**********


Sadewa sudah nyaris lima menit berdiri di pintu ruang tamu Kayana, sudah nyaris lima menit mendengarkan Kayana yang sedang gundah berbicara dengan seseorang diujung teleponnya. Begitu gundahnya sampai Kayana tidak menyadari kedatangannnya.  Kayana menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sadewa terus memperhatikan


Pagi sekali, Quinsha bangun dengan semangat luar biasa. Meminta si bibi pengasuhnya membantu dirinya mandi. Meminta dipakaikan baju keluar terbaik dan meminta sarapan dengan cepat. Anak kecil yang memiliki wajah imut itu sedang bahagia, dirinya sangat ingat janji Sadewa yang akan membawanya ke rumah Kayana pagi ini. Quinsha akan bertemu Kayana hari ini.


Jadilah sekarang, Sadewa sudah berada di rumah dinas Kayana mengantarkan gadis kecil kesayangannya untuk bertemu wanita cantik yang dengan begitu percaya dirinya dipanggilnya bunda.


Quinsha di halaman depan, sekarang sedang mengekori bibi yang masih menyelesaikan pot bunga terakhirnya untuk dibersihkan. Dan Sadewa, dirinya memilh berjalan duluan ke dalam, ada hal penting yang ingin dibicarakannya dengan Kayana.


Sejujurnya, diawal keberangkatannya tadi Sadewa sedikit gelisah. Jelas tujuannya mengantarkan Quinsha kerumah Kayana hari ini tidak semata untuk memenuhi janjinya pada gadis kecil itu. Tetapi, sejujurnya ada urusan penting yang perlu dimintanya pada Kayana. Hal yang menjadi solusi dari permasalahannya, permasalahan keluarga besar Britania. Solusi yang telah disampaikan sang bunda sebelumnya, dan telah ditegaskan pula oleh Tomi, adik iparnya semalam.


Aku memang harus berbicara empat mata padanya. Sadewa berusaha keras menyemangati dirinya.


Namun, saat melihat dan mendengar pembicaraan Kayana barusan. Sadewa agak ragu. Bisa ditebak kalau saat ini Kayana sedang ada masalah.


Adik, batin Sadewa. Kayana ada masalah denganya adiknya. Itu pendapat dirinya.


“Selamat pagi.” Akhinya Sadewa memilih bersuara. Ingin membuat Kayana tahu kedatangan dirinya.


“Tu..tuan…” berdiri cepat saat tahu siapa yang baru mengucapkan selamat pagi padanya. agak kaget, tetapi sebisa mungkin mengatur nafas cepat agak tidak terlalu kentara rasa tidak percayanya. “Maaf..maaf tuan, saya gak tahu tuan datang.”


“Tidak masalah.” Jawab Sadewa cepat.


“Boleh aku masuk?”


Ehhh…tumben gak marah? Kayana malah bingung mendapati sikap biasa Sadewa. Tidak berbicara ketus, tidak menampilkan sisi arogannya seperti biasa.


“Tentu saja tuan.” Tersenyum. “Silahkan tuan, silahkan duduk.” Mempersilahkan dengan sopan.


“Tuan sudah lama? Mana Quinsha?” tanya Kayana kemudian.


“Kau sedang ada masalah?” Bukan menjawab pertanyaan Kayana, Sadewa malah bertanya pertanyaan lain padanya.


“Bu..bukan apa-apa.” Gugup karena tahu kalau Sadewa mungkin saja mendengar pembicaraannya barusan dengan Ranaya, adiknya.


“Ceritakanlah!” Duduk santai didepan Kayana. “Aku pasti bisa membantumu.” Yakin.


Benar, tuan Sadewa pasti mendengar pembicaraanku barusan. Ya Tuhan…aku harus gimana ya? Apa iya aku jujur cerita saja? Tapi, apa iya gituh tuan ini bisa bantu?

__ADS_1


Duh…kepalaku jadi pusing.


Batin Kayana yang mulai memainkan jemarinya di atas pahanya.


__ADS_2