
🌹🌹🌹
Berkali-kali Sadewa menatap pintu depan istana megah keluarga besarnya. Istana megah tempat dirinya dibesarkan penuh cinta, rumah damai dan berlimpah kasih sayang yang selalu menjadi tujuan dirinya saat lelah telah menekan berat pundaknya. Sadewa akan selalu bergegaspulang dan masuk, menemui sang bunda tercinta dan gadis kecil kesayangannya. Merekalah pelipur laranya, penyemangat hidup dan pengusir penat seketika.
Hanya saja untuk kali ini sedikit berbeda. Sudah hampir melebihi angka dua puluh menit Sadewa memilih berdiam diri di dalam mobil sedan mewahnya. Martin terus membujuk dirinya, hanya saja Sadewa masih bertahan dengan segala keraguan.
Kedatangan Tomi tentu sesuatu hal yang sangat dinantikan Sadewa, senang sudah barang tentu dirasakan lelaki tampan dengan tubuh terjaga massa ototnya ini. Tetapi, bayangan pada masa kejadian memilukan itu terjadi masih saja berputar jelas dalam kepalanya. Tomi marah besar, dibalik hancurnya diri Tomi saat itu, Sadewa tahu kalau Tomi sangat membenci dirinya. Tomi menyalahkan semua pada dirinya, menyalahkan dirinya sebagai penyebab kejadian tragis itu.
“Kak, cobalah berpikir logis! Sudah nyaris dua tahun kak.” Lagi-lagi Martin berusaha membawa Sadewa turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
“Tomi juga bukan anak kecil yang suka menyimpan dendam. Semua murni musibah, ini ketetapan Sang Maha Kuasa kak.”
“Percuma kakak menghindar saat ini, karena cepat atau lambat Tomi pasti datang. Dia pasti pulang kak, di sini rumahnya juga dan di sini ada anak kandungnya.” Berusaha menyadarkan Sadewa.
“Sekarang Tomi sudah datang, ayo kita temui dia. Sambut kepulangannya sebagai saudara, kakak kan masih kakaknya Tomi.”
“Urusan belakangan dia mau marah kek, mau nolak kakak kek, atau mau guling-guling di lantai saat berjumpa kakak nanti. Yang penting kakak sebagai saudara, jalankan tugas kakak untuk menyambut kedatangannya. Di tambah lagi, kakak adalah kepala rumah tangga Britania kan? Jadi, kakak wajib menemuinya saat ini!” Martin melihat perubahan ekspresi di wajah Sadewa.
“Kau benar.” Sadewa menghembuskan nafas dalam. “Kau benar martin.”
“Syukurlah kalau kakak sudah menyadarinya.” Berdiri di depan pintu mobil bagian belakang. Menunggu Sadewa turun.
“Cepat atau lambat semua ini pasti terjadi, setidaknya saat ini Tomi sudah kembali. Aku harus menyambut kedatangannya dengan penuh suka cita!” Sadewa merapikan jas kerja yang masih tersemat sempurna di tubuh atletisnya.
“Tuan muda.” Bi Riana menyambut kedatangan Sadewa di depan pintu. Menunduk sopan dengan senyum khas seorang ibu.
“Dimana Tomi sekarang bi?” Sadewa bertanya langsung saja.
“Tuan Tomi bersama dengan nyonya sedang di ruang tengah tuan.” Memberi informasi sambil menunggu Sadewa berjalan.
“Kalau Quinsha, bi?” kali ini Martin yang bertanya.
“Nona kecil di kamarnya Pak, sepertinya nona kecil agak lelah setelah seharian ini bermain bersama tuan Tomi.” Jawab bibi cepat.
“Apa Quinsha senang dengan kedatangan Tomi?” belum juga masuk ke dalam rumah, Sadewa masih terus bertanya.
“Sangat tuan.” Bibi ingat momen mengharukan saat bagaimana Quinsha memanggil Tomi tadi. “Dan tuan Tomi langsung memeluk nona kecil, lama.”
“Mereka pasti saling merindukan satu sama lain.” Martin tersenyum pada bibi.
__ADS_1
“Bagaimana pun tali kasih antara ayah dan anak tidak akan bisa dihindari, suatu hari Tomi akan kembali untuk anak gadisnya.”
“Pak Martin benar.” Bibi mengangguk setuju. “Dan setelah hampir dua tahun, tuan Tomi akhirnya pulang.”
**********
“Dewa, kamu sudah pulang nak?” Bunda Syania langsung menyadari kedatangan Sadewa. Sosok tubuh tinggi itu belum beberapa detik berdiri di ujung ruang tengah memperhatikan sang bunda bersama Tomi yang duduk di bawah dengan kepala diletakkan pada pangkuan bunda.
Apa yang telah bunda dan Tomi bicarakan tadi?
Apakah Tomi mengatakan pada bunda bahwa dia masih marah padaku?
Tanya Sadewa dalam hati.
“Sudah lama nak?” Bunda Syania berbasa-basi, sejujurnya dirinya bisa membaca raut ragu di wajah Sadewa.
“Tidak bun, aku baru saja tiba.” Menjawab agar bunda percaya padanya.
“Kemarilah nak,” memanggil Sadewa mendekat.
Apakah tidak apa-apa bunda?
Suara hati Sadewa dengan mata menatap penuh harap pada bunda.
“Kemarilah nak,” panggil bunda Syania sekali lagi. “Tomi sudah lama menunggumu.”
Sadewa mengalihkan padangannya, menatap punggung lelaki berbaju kemeja hitam dengan kepala nampak sangat nyaman di pangkuan sang bunda. Sedikit demi sedikit, dengan langkah pelan Sadewa berjalan menuju ke arah sang bunda.
“Tomi,” Sadewa sudah berdiri di belakang punggung Tomi. Menunduk langsung kearah wajah yang hanya menampakkan satu sisi saja.
“Tomi, kakakmu sudah pulang kerja. Dia menyapamu, nak.” Bunda mengusap pelan rambut Tomi.
Dengan perlahan Tomi mengangkat wajahnya dari pangkuan bunda Syania. Menatap mata cokelat tua dengan beberapa garis penanda kerutan tua di sana sini, Tomi sebenarnya ragu untuk berbalik badan dan membalas sapaan Sadewa. Ragu apakah dirinya sudah siap bertemu Sadewa, ragu kalau dirinya bisa mengendalikan diri, tidak marah apa lagi sampai memukuli Sadewa?
Tomi tahu dan bisa dengan jelas mendengar kepulangan Sadewa, dirinya cukup hafal suara langkah Sadewa, dan dirinya belum lupa seperti apa suara Sadewa. Namun, untuk kali ini dirinya ragu, bagaimanakah cara bersikap pada Sadewa setelah kurun waktu yang cukup lama.
“Kakakmu memanggilmu, jangan diam saja!” ucap bunda Syania lembut.
“Sapa kak Dewa!” Bunda Syania memberikan perintah sambil memegang kedua pipi Tomi dengan memberikan senyum khas seorang ibu yang sangat menenangkan hati Tomi.
__ADS_1
Tomi menganggukkan kepalanya patuh, berdiri di hadapan bunda Syania dengan punggung masih belum dibalikkan. Satu tarikan nafas panjang dan di lepas perlahan, Sadewa melihat ada pergerakan naik turun pelan di bahu Tomi. Tanpa ada yang tahu, dalam setiap detik yang sedang berlalu saat ini, sesungguhnya Sadewa sedang berusaha menjaga suasana hatinya. Dirinya takut, takut Tomi akan marah dan menolak dirinya, takut Tomi akan memakinya dan mengatainya dengan aneka kata-kata kebencian, takut Tomi akan memutuskan hubungan diantara mereka. Sadewa tertunduk, menunggu waktu berjalan yang menurutnya sangat lama hingga Tomi mau berbalik badan, menghadap pada dirinya.
Sebenarnya, aku tidak perlu takut kau akan membenci dan marah padaku seumur hidupmu, aku memang bersalah! Aku lah penyebab semuanya, kau pantas menghukumku tetapi, mendapati kenyataan kau benar-benar akan membenciku rasanya membuat aku tidak sanggup. Hanya tinggal kamu yang bisa aku panggil adik setelah………..
Dan Sadewa tidak sanggup melanjutkan suara isi hatinya, terlalu dalam hingga membuat kesedihan dan rasa bersalah bercampur aduk.
“Apa kabar?” Tomi menatap lurus Sadewa.
Lelaki yang dulu di sapanya kakak itu masih terlihat masih sama, gagah dalam balutan pakaian apa saja. Dingin dan angkuh tetapi, kalau kita bisa mengenal dia dengan baik maka, semua orang akan tahu betapa hangatnya lelaki ini. Betapa bertanggung jawabnya dia terhadap keluarga besarnya. Dia kakak yang baik, Tomi berani bersumpah Sadewa adalah kakak yang sangat baik. Empat tahun pernikahan dirinya, empat tahun ada dalam keluarga Britania, Tomi tahu bagaimana kasih sayang Sadewa pada isterinya dan pada dirinya.
“Baik,” menjawab dengan tangan terulur kepada Tomi. “Kamu sendiri bagaimana?” bertanya kembali.
“Aku baik,” menjawab dengan mata memperhatikan telapak tangan Sadewa. Ragu, Tomi bingung harus bagaimana?
Sadewa diam, menyadari keraguan di wajah Tomi untuk menerima jabat tanganya tetapi, tidak berniat menarik tangan itu kembali. Sadewa masih berharap Tomi berkenan bersalaman dengan dirinya.
Bunda Syania masih duduk di sofa, di tempat semula saat Tomi meletakkan kepalanya di pangkuan bunda. Memperhatikan dua orang lelaki muda di depan dirinya, sang anak yang jelas merasa bersalah dan sang menantu yang diam tidak juga bereaksi.Bunda Syania berharap ada sedikit saja kebaikan pada diri Tomi untuk menjabat tangan Sadewa. Bunda Syania sangat ingin mereka kembali bahagia seperti dahulu, jauh sebelum duka menyelimuti keluarga Britania. Namun, kenyataan apakah yang akan terjadi. Bunda menunggu dengan nafas yang rasanya akan berhenti. Waktu bergulir terlalu lama.
“Sudah hampir dua tahun,” ucap Sadewa dengan tangan masih terarah pada Tomi. Tomi tidak bergeming, masih diam menatap uluran tangan Sadewa.
“Ya, ternyata sudah hampir dua tahun saja.” Akhirnya Tomi menerima uluran tangan Sadewa. Setelah perang batin yang cukup lama. Tomo membalas jabat tangan Sadewa.
“Dan kamu terlihat kurus Tom.” Ucap Sadewa menggenggam erat jabat tangan mereka.
Tomi hanya diam, kedua lelaki tampan ini saling bersitatap.
“Kak.” Panggil Tomi pelan. Tetapi, tidak bagi Sadewa. Telinganya dapat mendengar jelas kata kak terucap dari bibir Tomi. Setelah semua hari yang dilaluinya dalam rasa bersalah dan hari ini dirinya kembali mendengar Tomi memanggilnya kakak. Sadewa sangat bahagia.
“Maafkan aku, Tom!” Sadewa menarik Tomi dalam pelukannya. “Aku mohon, maafkan aku.”
“Kak,” lagi, Tomi memanggil Sadewa dengan kata Kakak. Panggilan akrab yang selama dirinya mengenal Sadewa selalu tersemat di sana. Tersemat hormat untuk sosok kakak yang sangat sayang pada adiknya ini.
Bahu Tomi bergetar lagi, air mata menetes lagi. Dan jauh di dalam hatinya, Tomi sadar bahwa dirinya tidak membenci Sadewa, Tomi sadar semua bukanlah salah Sadewa.
Benar, dulu dirinya sangat mengukuti Sadewa atas semua musibah itu. Tetapi, itu dulu di saat bayangan hidup tanpa wanita yang dicintainya hadir di tiap detik harinya. Tomi mencari pelampiasan dan Sadewa lah sasaran tepat, Sadewalah yang patut di salahkan, Sadewa harus bertanggung jawab.
Rasa sakit melepas wanita yang telah memberikannya satu orang anak gadis terbaik di dunia ini, telah membuat dirinya lari dari kenyataan. Pergi meninggalkan keluarga Britania saat prosesi pemakaman selesai. Pergi dengan amarah tiada kira, dirinya sangat membenci Sadewa.
Tetapi, itu dulu.
__ADS_1
Setelah kakinya melangkah masuk ke dalam rumah ini lagi, Tomi menyadari semua salah. Sikapnya mencari pelampiasan kesedihan pada Sadewa salah. Benar kata bunda Syania, ini sudah menjadi ketetapan-Nya, bagaimana pun waktu tidak bisa di putar. Dirinya harus menjalani semuanya.