
🌹🌹🌹
 
Kayana duduk di meja kerjanya, memperhatikan sekali lagi ruang praktek barunya. Masih seperti mimpi, putaran roda hidupnya benar-benar telah membawa Kayana sampai ke ruang kerjanya pagi ini dalam sekejap. Rasanya baru saja memejamkan mata dan saat dirinya kembali membuka mata, dunianya sudah porak poranda.
Ahhhh........
 
 
Perlahan Kayana meletakkan tas sandangnya dengan tali berwarna merah di salah satu sisi meja, Kayana sedang menunggu kedatangan Diandra. Asisten pribadinya itu akan mendampingi Kayana memulai jadwal praktek pertamanya dengan pasien barunya di Rumah Sakit ini.
Tok..tokk..tokkk.....
Beberapa detik berlalu, Kayana melihat Diandra masuk ke ruang praktik barunya setelah mengetuk pintu.
“Pagi dok “. Diandra tersenyum secerah mentari di luar sana sambil menatap wajah cantik Kayana. Sesuai perjanjian, selama jam kerja Diandra akan bersikap profesional pada Kayana, akan menyapa dokter cantik itu dengan sapaan dokter, sebagaimana harusnya.
Baju putih lengan panjang bertemu rambut hitam Kayana, kemudian polesan makeup tipis dengan lipstik merah muda tipis pula, Diandra sedang terpesona. Kayana sangat sempurna di matanya.
Deg....
Cantik amat sih kamu, Kayana. Sederhana dalam polesan kosmetik. Tapi, aura yang keluar luar biasa. Sampe-sampe jantung aku mau loncat keluar, mau ikut-ikut menyapa kamu. Suara hati Diandra penuh kekaguman.
“Pagi Di “. Kayana memberi senyuman terbaiknya kepada Diandra.
“Gimana, sudah siap bertugas hari ini ?” Dengan cepat Diandra menetralkan perasaan dag dig dugnya barusan. Berusaha mengembalikan sikap profesionalnya pada Kayana.
“Pastinya dong “. Mengacungkan ibu jari kanannya penuh semangat. “Aku sangat siap malah “.
“Bagus “. Ikut terbawa suasana semangat Kayana. “Kalau begitu aku akan menjelaskan profil pasien-pasien dokter dulu, masih ada waktu sepuluh menit sebelum jam praktek dokter kita mulai !”
“Baiklah !” Nampak patuh. Kayana menganggukkan kepala setuju.
***************
__ADS_1
“Nek, kenapa Shasa juga harus ikut ketemu sama teman ayah itu sih ?” Quinsha bertanya dengan tatapan polosnya, wajah imut gadis kecil itu nampak bingung dengan ajakan sang nenek padanya.
“Karena temannya ayah juga mau kenal sama Shasa “. Dengan sabar Syania mencoba menjelaskan pada Quinsha. Menjelaskan tentang rencana Sadewa yang akan mempertemukan antara dirinya dan Quinsha dengan Melani, si kekasih sang anak. Si kekasih yang sejujurnya sangat tidak disukai oleh Syania, wanita yang menurut Syania tidak memiliki keelokan budi untuk mendampingi buah hatinya.
“Tapi nek...”, berniat mencari kosa kata untuk menolak. “Shasa gak suka sama teman ayah itu “.
“Kenapa sayang, apa salahnya sama teman ayahmu itu ?” Syania mengendong cucu kesayangannya itu dan membawanya duduk dalam pangkuannya di taman belakang rumah cinta.
“Nek “, menatap Syania. Sepertinya Quinsha punya cerita serius untuk diungkapkan dengan sang nenek. “Dulu, Shasa pernah ketemu sama tante itu. Ayah sama tante itu dan juga Paman gak sengaja ketemu di tempat mainan yang banyak itu loh nek. Tapi, dia gak suka sama Shasa “. Mulut kecil Quinsha bergerak cepat, membuat pipi cabinya ikut bergerak. (Ooo...iya, tempat mainan banyak versi Quinsha itu adalah pusat permainan anak di Mall ya. Hehehe).
“Tante itu cuma sibuk sama ayah saja, sampe ayah lupa sama Shasa, nek “. Mengadu iba.
“Benarkah sayang ?” Syania berbicara sambil mencium puncak kepala Quinsha.
“Iya nek, tante itu gak sayang sama Shasa “. Mengangguk cepat. “Tante itu peluk-peluk ayah saja kerjaanya. Untung waktu itu ada Paman Martin, Shasa akhirnya main sama paman, nek sambil nungguin ayah main sama tante itu “. Mengadukan perasaan tidak sukanya, mengeluarkan isi hati versi bahasa anak kecilnya.
Ahhh..benar dugaanku. Tapi, kenapa Dewa masih saja memaksa ? Sebenarnya, seberapa besar wanita itu sudah mengendalikan hidup anak lelakiku ? Masih dengan memangku Quinsha, Syania sedang berpikir tentang sang anak. Agak aneh, itu terbersit di benak sang bunda, aneh kalau seorang Sadewa bisa menduakan cucu kesayangannya, Quinsha hanya demi seorang wanita yang sekarang menyandang status sebagai kekasih sang anak.
Sungguh bukan seorang Sadewa, itu kata-kata yang berputar-putar di kepala Syania.
***************
“Aku Jedi, bu doktel “. Jawab si pasien kecil Kayana dengan logat cadelnya.
“Jedi umurnya berapa ?” Kayana masih memeriksa si pasien kecilnya sambil terus mengajak Jedi berbicara.
“Jedi balu mau empat tahun “, Jawab Jedi disertai gerakan memencet hidung mancungnya yang terasa penuh.
Kayana tersenyum, pasien pertamanya itu sangat lucu.
“Sekarang, maukah Jedi cerita sama Bu dokter apa yang Jedi rasakan ?” Kayana memegang jemari kecil Jedi dan meletakkannya di tangan kanannya.
“Bu doktel, boleh gak Jedi panggilnya Kakak doktel aja ?” Memasang wajah imut penuh permohonan. “Soalnya bu dokter cantik banget, Jedi suka “. Bicara tanpa dosa.
Gaya si pasien kecil ini, bukannya menceritakan semua keluhannya, yang ada malah mengajukan sebuah permintaan pada Kayana.
Kayana tersenyum cerah, nyaris ingin tertawa. Lucu dan mengemaskan, pasien pertamanya itu benar-benar membuat kayana merasa senang. Alih-alih takut pada citra seorang dokter yang ada malah si anak kecil ini mengajukan permintaan yang terasa konyol bagi telinga Kayana.
__ADS_1
Bagaimana dengan Diandra ? Si asisten pribadi Kayana itu ?
Diandra hanya bisa menggeleng di dalam hatinya. Pasien pertama sang atasan sukses membuat hatinya meronta, nyaris tidak terima.
Masih kecil, masih bocah banget lagi tuh tapi, sudah memiliki bakat perayu ulung. Bisa masuk kategori berbahaya nih bocah gedenya besok. Huffffftttttt.....
Diandra hanya bisa mendengus tidak percaya dengan pemandangan di depan matanya saat ini.
**************
“Kak, setelah ini kita langsung berangkat !” Martin sudah berdiri di sisi kanan Sadewa, bersiap membawa semua berkas-berkas yang diperlukan Sadewa dalam rapat barusan.
“Masih berapa lama waktuku sebelum pertemuan dengan pihak Mersi dilaksanakan ?” Tanya Sadewa sambil berjalan meninggalkan ruang rapat kembali ke ruang kerjanya.
“Masih cukup banyak waktu, hampir satu jam “. Melirik jam tangan yang melingkar mewah di pergelangan tangannya. “Tenang kak, gak bakalan telat kok !”
“Kalau begitu kita ke Rumah Sakit dulu ! Aku mau ketemu Hadi “. Sadewa sudah duduk di sofa besar tempat biasa dirinya menerima tamu, persis di depan meja kerjanya.
“Loh, kenapa kak ?” Memilih duduk di hadapan Sadewa. “Kakak sakit ?” Mengamati Sadewa dengan sesama, dari rambut hingga kaki.
Perasaan tadi dari Bunda sehat-sehat deh ? Martin membatin bingung.
“Aku sehat kok, gak kenapa -napa !” Menjawab seakan tahu arti wajah heran Martin yang memandanginya. “Aku hanya ada perlu saja sama Hadi “.
Martin sekali lagi memperdalam pengamatannya pada sosok Sadewa, melihat Sadewa dari ujung sambut sampai ujung kaki. Dan lagi-lagi, menarik kesimpulan tidak ada yang salah dengan fisik si majikan.
“Heyyyy....!” Bersuara keras membuyarkan pengamatan Martin padanya.
“Mau ketemu kak Hadi ngapain ?” Penasaran.
“Itu urusan pribadiku, kau jangan banyak tanya !” Menjawab malas pada Martin.
“Tapi serius loh ya, ketemuan dokter Hadi bukan karena Sakit ?” Sekedar ingin mendapat kepastian dari Sadewa.
“Cerewet amat kamu !” Bangun dari posisi duduk. “Pokkkkkkkk.....!” Mendaratkan tangan kanannya di bahu kiri Martin. “Ayo berangkat sekarang !” Sedikit melirik kearah Martin, mata di besarkan tampang terlihat masam, bibir mengerucut tidak senang.
Martin berjalan dengan tangan kanan sibuk mengelus perlahan bahu kanannya, yang sesaat tadi menjadi tempat mendaratkan tangan Sadewa tanpa permisi.
__ADS_1
Sakit tahu, suara hati kekesalan Martin pada Sadewa. Tapi, hanya suara hati saja loh.
Tetapi, sekesal apa pun Martin pada perlakuan Sadewa padanya. Martin tetap berjalan patuh mengikuti Sadewa dari belakang yang telah berjalan duluan menuju lift pribadinya di gedung super megah Sunjaya Company.