Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan

Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan
Kenyataan Yang Menyakitkan


__ADS_3

🌹🌹🌹


“Awas….!” Suara Sadewa.


Dan Buggggghhhhhhhhh…..


“AAAAAAAAAAA……” teriakan keras terdengar di udara.


“Kakak, Kayana.” Secepat kilat, Martin sudah sampai di tepian aspal tempat Sadewa dan Kayana terguling. Sadewa memeluk Kayana erat.


“Kak?” Martin panik bukan kepalang.


“A..ayah.” terbata-bata, Kayana mengangkat wajahnya menatap Sadewa. Wajah cantik Kayana memutih, pucat sekali.


“Cepat Kau lihat!” perintah Sadewa pada Martin.


“Tapi, bagaimana dengan Kakak dan Kayana?” masih khawatir.


“Kami baik-baik saja.” Menjawab cepat.


Dan Martin pun segera berlari ke arah Ayah Kayana.


“Kamu bagaimana?” Sadewa membantu Kayana berdiri. Kayana masih diam ketakutan di dalam pelukannya.


“Kayana, heyyy..Kayana?” setengah menguncang tubuh Kayana yang menatap takut pada sang ayah.


“Sa..saya gak apa-apa.” Padahal lutut gemetar dan tubuh mendingin.


“Tapi ayah?” suara pelan penuh ketakutan.


“Tenanglah!” tidak tahu harus mengatakan apa.


“Da…darah?” melihat pada lengan baju ayah yang penuh darah. Ayah Kayana sudah di bantu Martin berdiri.


Cepat, Sadewa mengandeng Kayana untuk mendekati sang Ayah.


“Ayahhhhh…” Kayana memeluk sang Ayah dalam ketakutannya.


“Ayah tidak apa-apa nak.” Memeluk Kayana erat. Membelai rambut putri sulungnya. “Ayah tidak apa-apa.” Terus mengulang kata yang sama untuk menenangkan Kayana yang masih gemetar ketakutan.


“Tapi..tapi..darah ini?” Kayana memeriksa lengah sang Ayah persis di tempat darah yang masih basah mengenang di sana.


“Itu bukan darah Ayah, itu darah pengawal yang melindungi Ayah.” Martin memberi penjelasan sambil membopong seorang pengawal yang terluka di sudut keningnya. Ada tetesan darah menuruni wajahnya.


“Astaga.” Kayana segera memperhatikan luka menggangga tersebut.


“Bawa ke Rumah Sakit!”


“Cepat kau bawa dia bersama yang lain. Dan sisinya tinggal di sini, semua harus berjaga!” perintah Sadewa pada Martin dan entah pada siapa lagi.


“Siap tuan.” Jawaban serantak dari tiga orang lelaki berbaju kemeja hitam. Entah dari mana asalnya mendadak muncul, Kayana hanya memperhatikan tanpa paham. Heran.


“Bapak, kita harus ke Rumah Sakit juga, Bapak harus di periksa juga!” Sadewa membuat Kayana tersentak.

__ADS_1


“Iya, Ayah harus ke Rumah Sakit!”


“Ayah tidak apa-apa nak Sadewa.” Ucap Ayah tenang. “Ayah baik-baik saja.”


“Untung memastikan saja Yah! Kita cek sebentar saja ya.” Pinta Kayana.


“Baiklah-baiklah, Ayah ikuti maunya kamu dan nak Sadewa. Tapi, kita bilang Ibu dulu!”


*****


“Semua baik-baik saja. Hanya luka lecet dan selebihnya.” Dokter yang sedang memeriksa ayah tersenyum pada Ibu yang nampak khawatir. “Sebihnya tidak ada masalah apa-apa. Bapak baik-baik saja bu.”


“Nah, Ibu percayakan Ayah baik-baik saja?” Ayah mengenggam jemari Ibu. “ Sudah, berhenti mencemaskan Ayah.” Senyum kasih Ayah terpancar pada Ibu.


“Iya..syukur pada Tuhan, Yah.” Ucap Ibu. “Ayah benar-benar membuat Ibu takut tadi.”


“Maaf ya.” Ucap Ayah sambil mengangkat jemari Ibu mendekat ke bibirnya. Mengecup lembut dan dalam di sana. Berusaha menyerap semua ketakutan wanita yang sangat dicintainya itu.


“Apa perlu observasi dulu dok?” Tanya Kayana saat dokter yang baru saja selesai memeriksa Ayah mendatangi dirinya dan Sadewa.


“Iya, biarkan Bapak Sulaiman di sini dulu!” Sadewa ikut berbicara.


“Secara medis, saya rasa tidak perlu. Semua sudah kita periksa dengan menyeluruh. Dokter Kayana juga sudah lihat rekam medis Bapak Sulaimankan?” tanya dokter pada Kayana.


“Tetapi, kalau memang mau di rawat dulu satu hari ini boleh saja. Semua kami serahkan pada keluarga.”


“Rawat saja!” Sadewa memutuskan.


“Baik, kami akan menyiapkan kamar rawatan untuk Bapak Sulaiman. Mohon tunggu sebentar.” Ucap dokter sopan.


Dokter bergumam dalam hati.


Sudahlah, sepertinya lelaki yang bersama dokter Kayana ini bukan orang sembarangan. Auranya sangat kuat. Sejenak berpikir sebelum melangkah pergi.


“Astaga.” Si dokter menyadari sesuatu. Kembali berjalan mendekati Sadewa dan Kayana.


“Maaf tuan, dokter Kayana, saya melupakan ini.” Memberi secarik kertas.


“Resep untuk luka gores dan untuk obat penghilang rasa sakit di tambah vitamin.”


“Ya,” jawab Sadewa datar sambil menerima lembaran kertas kecil itu.


“Pergilah temui Ayah dan Ibu dulu! Setelah itu, ada hal yang harus kita bicarakan!” Sadewa berbicara sambil memperhatikan Ibu yang sedang duduk menemani Ayah.


Hanya anggukan kecil, Kayana menatap Sadewa dan kemudian, berjalan ke arah tempat tidur Ayah.


*****


“Bagaimana kondisi pengawal itu?” Sadewa berdiri diujung lorong, bertanya pada Martin.


“Dia baik Kak, hanya ada retakan di pergelangan kaki kanan dan luka sobek di kening sebelah kanan. Sudah dalam penanganan dokter.” Jelas Martin.


“Dia punya keluarga?” Tanya Sadewa lebih lanjut.

__ADS_1


“Ada Kak, ada dua orang adik dan seorang Ibu yang menjadi tanggungjawabnya.”


‘Kau pergi kerumahnya, sampaikan berita tentang dia yang sedang di rawat di sini! Kemudian, kau berikan santunan pada keluarganya sebagai kompensasi karena dia tidak bisa bekerja beberapa saat kedapan pada keluarganya!”


“Baik Kak.”


“Apa hasil penyelidikan mu?” Sadewa memasukkan tangan kanan kedalam saku celananya.


“Pelaku tertangkap. Dia mengaku tidak sengaja, semua terjadi karena kerusakan rem kendaraanya yang terjadi secara mendadak, dan tidak mengenal keluarga Kayana.”


“Dan kau percaya?”


“Tidak kak.” Tegas. “Suatu kebetulan yang mencurigakan. Hanya saja, pelaku sudah diamankan pihak Kepolisian di sini. Jadi akses kita agak terhambat. Tetapi, Kakak tunggu saja beberapa hari ini. Kalau dia sampai bebas bukankah itu bagus? Aku bisa menyelidiki dengan baik.” Wajah dingin dan nampak menakutkan. Seakan siap untuk mengajar habis seseorang.


“Kau jangan sampai lepaskan dia! Aku tidak perduli cara apa yang akan kau pakai untuk membuat dia buku mulut!” Suara Sadewa terdengar penuh ancaman.


*****


“Terima kasih nak, kamu sudah menyelamatkan Ayah.” Dengan mata berkaca-kaca, Ibu menatap Sadewa. Sekarang Sadewa sudah berada di dalam kamar rawatan Ayah. Kamar terbaik di Rumah Sakit tersebut, bahkan atas perintah Sadewa kamar rawatan ini berhasil memiliki fasilitas diluar seharusnya.


Dokter yang merawat Ayah Kayana bukanlah tidak mengenal siapa Kayana. Meskipun, Kayana belumlah memiliki jam terbang praktek dalam hitungan puluhan Tahun tetapi, karena spesialisasi ilmu kedokteran yang Kayana sandang, cukup membuat dirinya dikenal. Apalagi saat Kayana memutuskan keluar dari Klinik tempat dirinya bekerja sebelumnya, semua dokter menyayangkan hal tersebut. Hasil kerja Kayana sangat bagus, profesionalisme Kayana membuat dirinya sangat dicintai para pasiennya. Namun, tidak untuk Sadewa. Si dokter yang merawat Ayah Kayana sama sekali tidak mengenal lelaki tampan dengan aura dingin bahkan, terkadang menakutkan menurutnya. Lelaki yang bisa meminta fasilitas diluar seharusnya untuk sebuah kamar rawatan. Luar biasa, itu isi kepala si dokter.


“Sudah kewajiban saya, bu.” Jawab Sadewa tenang.


“Dan kamar ini,” Ibu memutar kepalanya melihat semua isi kamar rawatan Ayah. “Terima kasih.”


“Untuk Ayah harus yang terbaik pastinya.” Lagi-lagi Sadewa menjawab tenang.


“Tapi, siapa lelaki yang menolong Ayah tadi nak Dewa?” Tanya Ayah setelah mengingat sesuatu. Ingat lelaki berbaju kemeja hitam yang entah muncul dari mana, tahu-tahu sudah memeluk dirinya dan menjadi tameng atas kejadian mengerikan tadi.


“Dia pengawal Saya. Yah.” Jawab Sadewa.


“Loh, bukannya kalian baru saja sampai? Bagaimana bisa ada pengawalmu di rumah?” Ayah tidak paham.


“Ada empat orang pengawal saya yang saya standbykan di rumah Ayah.”


“Hah, empat orang?” Ayah menatap heran. Sedang Ibu, Ibu malah terbelalak sangat-sangat heran.


“Kenapa?” Ibu bertanya cepat. “Ada apa nak?”


“Tidak ada apa-apa Ibu, Ayah. Jangan khawatir ya. Ini hanya bentuk penghormatan saya pada Keluarga calon isteri saya.” Melirik pada Kayana.


“Saya tidak bisa selalu menjaga Ayah dan Ibu seperti baiknya Ayah dan Ibu menjaga Kayana selama ini. Tetapi, melalui orang suruhan saya, saya berharap bisa menjaga Ayah dan Ibu dari jauh.”


Astaga….Kayana menatap Sadewa tidak percaya. Sadewa yang berbicara dengan begitu lancarnya, seakan kata-kata itu tulus dari sanubari terdalamnya. Lancar keluar tanpa jeda sedikitpun.


Sangat pandai berbicara dan mengambil hati orang.


Kata hati Kayana kemudian.


Padahal, aslinya semua ini hanya bohongan. Dan kamu juga aslinya galak banget.


“Baik sekali kamu nak. Baik sekali.” Ibu sangat terharu.

__ADS_1


“Terima kasih nak Dewa. Ayah merasa tenang karena tahu Kayana ada ditangan yang tepat.” Ayah tidak kalah terharunya.


Sadewa tersenyum mendengarkan perkataan Ayah yang begitu baiknya jujur tentang apa yang dirasakan pada sosok Sadewa. Sedangkan Kayana, dia malah tertunduk diam. Kayana merasa bersalah, sangat bersalah atas kebohongan yang akan semakin dalam diikutinya dan dimainkannya bersama Sadewa. Sungguh sebuah kenyataan yang menyakitkan bagi Kayana melihat kebahagiaan Ayah dan Ibu saat ini.


__ADS_2