
🌹🌹🌹
Quinsha memang baru tiga hari di Rumah Sakit, tetapi bagi seisi istana megah Britania terasa sudah sangat lama berada di Rumah Sakit, dan akhirnya hari ini Quinsha sudah diizinkan pulang. Kayana menyatakan Quinsha sudah sagat sehat. Bunda Syania pun yang sengaja menjemput cucu kesayangannya itu. Pelukan dan ucapan terima kasih tidak henti-hentinya disampaikan Bunda Syania pada Kayana. Bahkan, secara khusus mengundang Kayana saat tidak terlalu sibuk untuk bertandang ke rumahnya. Kaya bunda Syania, masih banyak yang ingin dirinya ceritakan pada Kayana, masih banyak pertanyaan yang memenuhi relung hatinya terhadap sosok Kayana.
Kayana yang saat ini sedang rebahan di dalam kamar tidurnya, di dalam rumah dinasnya itu sangat ingat benar bagaimana baiknya bunda Syania memperlakukan dirinya. Awal mereka jumpa, wnaita paruh baya itu telah menjadi penolong dirinya.
Dunia ini luas tetapi, entah kenapa bagi Kayana sangatlah kecil. Segala apa yang tidak mungkin bisa jadi mungkin. Kayana bisa bersua kembali dengan bunda Syania dan bisa merasakan pelukan hangat begitu damai dari wanita itu.
Kayana tahu, bunda Syania adalah orang yang sangat baik.
“Non?” Bibi Mar membuat lamunan Kayana memudar.
Bibi berdiri di pintu kamar Kayana yang di tutup olehnya.
“Iya bi.” Jawab Kayana sambil berjalan dan membukakan pintu kamarnya.
“Hari ini mau bibi masakkan apa?”
“Benar juga bi, tiga hari gak makan masakan bibi, Ana kangen banget.”
“Jadi menurut non apa yang enak nih?” senang melihat sikap Kayana.
“Bi, ayam kecap sama capcai gimana, di tambah sambal matah?” Menjawan sambil berkhayal.
“Gampang non, semua bisa bibi buatkan.” Bersemangat. “Non istirahat saja dulu ya sambil nunggu bibi masak. Nanti kalau semua sudah siap, bibi panggil si nonnya.”
__ADS_1
“Makasih banyak ya bi.” Tersenyum secerah mentari mendengar persetujuan dari bibi.
***********
“Bun…”
Di rumah megah bak istana, Sadewa yang baru saja mengantarkan Quinsha ke dalam kamarnya untuk beristirahat, nampak sedang menuruni anak tangga.
Ada bunda Syania yang sedang duduk dengan sebuah buku bacaan di pangkuannya. Bunda Syania mendengar suara si anak sulung memanggilnya tetapi, bunda Syaniua sengaja tidak ingin menjawab, diam.
“Bunda lagi baca apa?” duduk di sebelah sang bunda.
“Bukan apa-apa?” menjawab tanpa mengalihkan mata tuannya dari buku.
“Bun.” Berusaha memanggil sekali lagi, ada banyak hal yang ingin Sadewa bicarakan bersama sang bunda.
Sadewa tahu, bundanya ini masih marah padanya atas sakitnya Quinsha. Dan sebagai seorang kepala rumah tangga, Sadewa cukup tahu diri atas kesalahan fatalnya itu. Namum, di diamkan oleh ibu kandung sendiri di tengah kondisi yang dihadapinya, Sadewa merasa tidak seperti biasanya. Ada kehangatan kasih bunda yang hilang. Sadewa tidak senang.
“Bun.” Sekali lagi mencoba membuat bundah Syania mau berinteraksi dengan dirinya.
“Apa?” hanya itu kata yang diucapkan sang bunda sebagai respon pada dirinya.
“Bunda masih marah sama aku?” bertanya dengan kepala di sandarkan di bahu sang bunda.
Bunda Syania melihat pada Sadewa, menutup buku bacaanya yang sebenarnya sudah tidak di bacanya lagi saat Sadewa menuruni akan tangga.
__ADS_1
“Kamu tahu pasti apa jawabn bundakan?”
“Iya.” Menjawab cepat.
“Lantas?” Bunda balik bertanya.
“Aku salah bun, benar-benar salah.” Mengakui dengan pasrah. “Aku sangat menyesal.
“Mahal sekali harga penyesalanmu, nak.” Bunda Syania menghela nafas.
“Aku memang bodoh bun, aku terlalu percaya semua akan baik-baik saja.” Menegakkan kepala dan menatap wajah Syania.
“Firasat bunda sejak awal sudah tidak enak, bunda sudah ceritakan semua padamu, dan kamu tetap berkeras juga.” Kesal.
“Syukur Tuhan masih menyayangi kita, masih memberi kesempatan pada kita untuk membesarkan amanah adikmu satu-satunya. Kalau tidak, bunda tidak tahu harus bagaimana? Rasa kehilangan yang dulu belum terobati, apakah bunda harus kehilangan lagi?” suara agak bergetar.
“Ya Tuhannnn.” Sadewa sangat menyesal. “Bunda jagan gomong seperti itu.”
“Dewa, bunda tidak pernah melarangmu mau dekat dan menikahi sosok wanita manapun. Bunda bahkan selalu mengingatkanmu, untuk usia kamu sekarang memang sudah selayaknya kamu memiliki seorang istri nak. Tapi, bisakah wanita yang menjadi menantu bunda nanti adlah wanita baik-baik? Wanita yang tidak hanya akan menjadi istri untukmu tetapi, juga bersedia menyayangi Quinsha.” Mengenggam tangan Sadewa.
“Hanya Quinsha harta berharga yang ditinggalkan adikmu. Janganlah kamu sia-siakan dia hanya untuk memenuhi hasrat sesaatmu, Dewa!”
“Maafkan Dewa, bunda.” Mencium tangan kanan sang bunda dan lama tertunduk di sana. Sungguh besar penyesalan Sadewa, penyesalan yang datang terlambat dan nyaris membuat dirinya tidak akan mampu memperlihatkan wajahnya di depan sang bunda. Sadewa sadar, semua perkataan bunda adalah benar.
“Berhenti menjalin hubungan dengan wanita itu, atau wanita sejenis dia!” tegas. “Carilah sosok wanita santun yang menicntaimu dan menyayangi Quinsha, winitya yang memandangmu penuh rasa kasih, bukan meliahtmu sebagai lelaki penghasil uang! Wanita yang memujamu dan siap menjadi snadaran dirimu saat kamu lelah dan jatuh, bukan wanita yang hanya tahu bersolek dan memamerkan lekuk tubuhnya untuk siapa saja, untuk lelaki mana saja! Carilah wanita yang akan menjadi ibu hebat untuk anak-anakmu kelak dan wanita yang suka cita menerima Quinsha sebagai anak sambungnya!”
__ADS_1
Sore menjelalang senja, Syania akhirnya bisa mencurahkan emua keinginan terdalmnya pada sang anak lelaki satu-satunya. Sebuah pengharapan yang menurut Syaniantidaklah sulit apa lagi berlebihan selama sang anak memang mau membuak diri untuk segala kebaikan yang Tuhan siapkan untuk dirinya. Syania hanya bisa berdoa, semoga setelah semua duka yang menyelimuti keluarga besar Britania maka, aka nada bahagia selanjutnya. Semoga Sadewa segera membawa bahagia di dalam keluarga mereka.