Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan

Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan
Sebuah Kenyataan (3)


__ADS_3

🌹🌹🌹


“Ini keputusan Kayana, kau harus hargai itu. Dan kedepan, jaga jarakmu padanya! satu lagi, jaga juga hatimu padanya!”


Sontak, Kayana menegadah. Entah dapat keberanian dari mana, mendadak dirinya menatap pada Martin. Menatap lurus mata yang nampak ada gurat tidak terima di dalamya.


“Ya..Tuhan.” rasa pedih dihati Kayana melihat mata indah lelaki tampan yang dalam diam selama ini sudah membuat dirinya kagum. Martin sosok lelaki menyenangkan, dalam hari-hari Kayana entah bagaimana caranya, Martin telah memiliki tempat tersendiri. Martin baik, sangat bisa menjadi teman untuk dirinya. Martin ceria, susunan kata-kata yang diucapkannya selama ini selalu berhasil membuat Kayana senang. Berbanding terbalik dengan Sadewa, si tuan arogan yang dingin dan sangat suka memarahinya. Dalam hari-hari mereka, seorang Sadewa hanya tahu untuk memarahinya. Entah kenapa, Sadewa sangat tidak suka padanya.


“Maafkan aku, Kak.” Benar-benar tidak berdaya, Kayana sedih menatap mata indah Martin penuh rasa kecewa.


Martin tersenyum, senyum dipaksakan yang tertarik tipis di kedua sudut bibirnya. Hanya itu yang mampu Martin lakukan, pupus sudah. Hati Martin tidak terima tetapi, kenyataan tetap harus di terima.


“Ayo kita berangkat. Ayah dan Ibu sudah menunggu kita.” Sadewa mengajak Kayana, yang secara tidak langsung memaksa terputusnya kontak mata antara Kayana dan Martin.


Dengan Pasti, Sadewa mengenggam tangan Kayana, menuntun calon isteri kontraknya itu menuju mobil mewah miliknya yang sedang menunggu di depan.


Dan Martin, hanya bisa menahan semua perasan yang entah kenapa terasa cukup menyakitkan bagi hatinya. Tertunduk lesu mengikuti langkah Sadewa dan Kayana, gontay menuju mobil.


*****


“Sudah belajar untuk meyamakan jawaban?” Sadewa membantu Kayana memasangkan sabuk pengaman di dalam pesawat. Dengan tenang, Sadewa mengajak Kayana berbicara.


“Akan saya coba tuan.” Jawab Kayana pelan.


“Kalau memang ragu, biarkan aku yang jawab saat Ayah dan Ibu bertanya!” perintah Sadewa.

__ADS_1


“Iya,” lagi Kayana menjawab pelan.


*****


Lebih dari satu jam pesawat pribadi milik Sadewa mengudara di birunya langit hari ini. Terbang pasti menuju Negara Kayana, ke kampung halaman Kayana.


Dan akhirnya, saat ini Kayana sudah berada di dekat rumahnya. Tinggal hitungan menit, mobil yang dikemudikan oleh sopir kepercayaan Sadewa akan segera sampai di rindangnya halaman rumah orang tua Kayana.


Sadewa nampak sangat tenang, seperti biasa tampilan lelaki tampan ini sangat tenang dan sangat berwibawa. Jas hitam pembalut tubuhnya saat ini, sungguh menyempurnakan segala keindahan Tuhan yang terpatri pada dirinya.


Bagaimana dengan Kayana?


Wajah dokter spesialis anak ini sangat cantik walaupun, hanya dengan pulasan ala kadarnya dari bedak dan pelembab bibir. Sayang, kesenduaan di dalam hatinya tidak tertutupi dengan semua pulasan ala kadar bedak tersebut.


Kayana yang hanya ingin hidup tenang dengan balutan cinta seperti wanita pada umumnya, justru mendapat tekanan luar biasa dari seorang ibu yang tidak lain adalah ibu kandung dari lelaki pujaannya.


Perasaan Kayana tidak enak, sejak semalam hatinya gundah.


“Huffftttttt…..” satu hembusan nafas dihela Kayana.


Dan jangan lupakan Martin!


Martin Jawhari, yang sedari kecil sudah mengikuti kemana pun Sadewa ini juga masih bertahan di dalam mobil mewah Sadewa. Bertahan dengan berbagai rasa yang sangat tidak nyaman dihatinya.


Martin tidak pernah tahu apa kata yang paling tepat untuk mengambarkan isi hatinya saat ini. Yang jelas, dirinya sangat tidak suka dengan keputusan Kayana.

__ADS_1


Martin menyukai Kayana, dan itu memang benar. Suka yang mengarah kecintakah? Martin tidak bisa memberi jawaban untuk itu. Yang Martin tahu, saat ini hatinya sangat tidak terima kalau Kayana akan dinikahi Sadewa, akan menjadi kakak iparnya.


“Lihat.” Tunjuk Sadewa Kearah luar halaman rumah orang tua Kayana.


“Ayah menunggu kita.”


Kayana dan Martin berbarengan melihat pada arah yang di tunjuk Sadewa.


Nampak lelaki paruh baya tersenyum bahagia ditepi jalan, sedang menunggu dengan antusias. Senyum bahagia memenuhi matanya yang sibuk menatap kearah mobil yang dinaiki oleh si anak gadis tertuanya.


Hingga…


“AYAHHHHHHH….” Teriak Kayanan dari dalam mobil.


“Tolong, tolong tepikan mobil! Tolong berhenti…berhentiiiii!”


Mobil berhenti.


Kayana berusaha turun secepat mungkin. Dan akhirnya tidak sabaran, setengah berlari.


“Awas….!” Suara Sadewa.


Dan Buggggghhhhhhhhh…..


“AAAAAAAAAAA……” teriakan keras terdengar pecah di udara.

__ADS_1


__ADS_2