Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan

Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan
Teror (1)


__ADS_3

🌹🌹🌹


“Iya bunda, beritahukanlah padaku! Aku sudah berpikir keras satu minggu ini tetapi, tetap saja tidak berhasil membuat Tomi mengurungkan niatnya.” Mengaku menyerah di hadapan bunda Syania. Dan benar saja, bunda Syania memang melihat ada gurat lelah di kening Sadewa. Pasti anak lelakinya itu telah berusaha dengan berbagai cara untuk membuat Tomi membatalkan keinginannya membawa Quinsha pergi, sayangnya Sadewa belum berhasil.


“Gampang!” bunda memasang wajah serius.


“Beritahukan padaku bunda.” Sadewa memperbaiki cara duduknya, mengeser jauh piring sarapan paginya dan memilih bermohon pada bunda Syania.


“Carilah sosok wanita yang sangat disukai oleh Quinsha dan nikahi wanita itu! Jadikan wanita itu sebagai istrimu sekaligus sebagai bunda buat dia!” bunda Syania masih memasang wajah serius.


“Apa bunda? Ha..ha..ha.” tertawa sangat di buat-buat. “Bunda jangan bercanda.”


“Di sebelah mananya buda bercanda?” tersinggung. “Kamu mau bunda carikan solusi, setelah bunda kasih kenapa bilang bunda bercanda?”


“Karena solusi bunda gak masuk akal.” Menggelengkan kepala.


“Dewa?” bunda Syania nampak mulai malas dengan sikap Sadewa.


“Bunda, bukannya bunda gak setuju aku sama Melani? Lantas bagaimana aku bisa menikahi dia dan menjadikan wanita itu sebagai istriku?” heran.


“Sekalipun bunda sudah berubah pikiran tentang Melani tetapi, maaf bunda, aku tetap tidak berminat sama dia lagi. Wanita itu sudah aku campakkan, dia tidak pantas menjadi menantu bunda!”


“Melani? Heh…jangan coba-coba Sadewa!” bunda mendadak tegas. “Wanita tidak bisa menjaga diri dan auratnya itu, jangan coba-coba masuk dalam keluarga kita. Jangan ada penyesalan untuk kedua kalinya karena wanita rusak itu!”


“Jadi, kalau bukan Melani lantas siapakah bunda? Bunda tahukan aku tidak dekat dengan jenis wanita manapun saat ini? Bagaimana bisa aku menikahi seorang wanita asal-asal saja, terlebih mau dijadikan ibu untuk Quinsha? Mana mungkin bunda.” Nampak putus asa.


“Itu masalahmu, nak.” Bunda Syania santai. “Kalau kamu mau sedikit saja lebih pintar dalam berpikir, sebenarnya solusi tersebut sudah ada! Cobalah untuk lebih peka dengan situasi sekitar mu!”


“Tapi bunda?” masih tidak mengerti.


“Bunda sudah memberikanmu solusi, sekarang tugas kamu mencarinya! Semakin cepat semakin baik, kalau tidak kita semua akan kehilangan Quinsha! Tomi sangat serius ingin membawanya dan bunda akan sangat sedih kalau kamu tidak bisa mencegah hal tersebut terjadi. Bunda harap kamu tridak berencana membuat bunda bersedih lagi!”


Bunda Syania berdiri, berjalan menjauh ke arah taman belakang, meninggalkan Sadewa sendiri di meja makan. Sendiri dalam pikiran yang sedang mencerna setiap detail solusi dari bunda barusan. Aneh, hati kecilnya masih belum bisa menerima semua ini.


**********


Kayana sudah selesai dengan pasien kesepuluhnya. Sepertinya hari ini jam prakteknya tidak akan berlangsung lama. Perawat Diandra memberitahukan pada Kayana kalau setelah pasien di nomor urut nomor sebelas ini maka, semua pasiennya untuk hari ini telah selesai.


Kayana duduk menunggu pasien terakhir masuk, sedikit merapikan rambut panjangnya yang sengaja di jalin kebelakang hari ini.


Dan ada ketukan di pintu praktek terdengar oleh Kayana, perawat Diandra masuk dengan sosok anak lelaki kecil yang baru berusia enam tahun bersama seorang wanita tua mendampinginya.


Pasien Kayana kali ini nampak pucat dan lemah.


“Siapakah nama lelaki kecil yang tampan ini?” tanya Kayana pada pasien kecilnya.


Tetapi, yang di tanya hanya diam, sepertinya benar-benar sedang menahan sakit hingga sangat sulit di ajak komunikasi.


“Mau bu dokter periksa sekarang sayang?” tanya Kayana setelah perawat Diandra membantu pasien kecilnya tidur di ranjang pemeriksaan.


Ajaib, si pasien kecil menganggukkan kepalnya

__ADS_1


“Sebentar ya, kamu istirahat dulu di sana! Bu dokter ambil alat periksanya dulu.” Kayana pun membiarkan Diandra bersama si pasien, sedangkan dirinya mempersilahkan pendamping si sakit untuk duduk di depan meja kerjanya.


“Ibu siapanya si tampan itu?” tanya Kayana dengan senyum terbaiknya.


“Sa, saya..saya bibi pengasuhnya nona.” Menjawab agak gugup.


Pengasuh?


Kayana bertanya dalam hati


“Oooo, iya-iya. Lantas, apa yang terjadi sama si tampan?” Kayana masih memperetahankan senyumnya sambil terus bertanya.


“Namanya Nanda, nona. Nanda baru memasuki usia enam tahun. Kebetulan sudah dua hari ini Nanda mengeluh sakit di tenggorokannya. Dia mulai malas makan dan kesulitan menelan apapun. Tetapi, pagi tadi saat saya melihat ke dalam kamarnya, ternyata nanda sudah sangat panas badannya. Dia bilang sangat sakit.” Jelas si pengasuh terperinci.


“Emmmm, begitu rupanya.” Kayana mengerti. “Lantas dimana orang tua Nandanya bi?”


“Itu, itu..apa nona.” Si bibi pengasuh ragu berbicara.


“Iya, itu kenapa bi?” Kayana bertanya masih dengan senyum terbaiknya. “Bibi cerita saja ! ada apa?”


“Nona,” mulai berbicara tetapi, masih dengan raut wajah ragu. “Sebenarnya Nanda sudah tidak punya ayah lagi. Ayahnya sudah meninggal satu tahun yang lalu.”


“Anak yatim yang tampan.” Ucap Kayana melihat ke arah Nanda. “Ibunya, bagaimana? Apakah sedang bekerja sekarang?”


“Emmm…itu..itu.” bibi pengasuh nampak enggan berucap.


“Iya, itu kenapa bi?” Kayana sangat sabar mengajak si bibi bercerita.


Bagaimana bisa, seorang ibu, ibu kandung dari bocah yang masih kecil meninggalkan darah dagingnya begitu saja pada orang lain. Memilih sosok lelaki baru dan mengikutinya jauh. Meninggalkan buah cintanya pada orang lain untuk dibesarkan. Kayana sedikit kecewa pada siapa pun sosok wanita yang menjadi ibu bagi Nanda. Terlepas dari apapun masalah dalam hidupnya tetapi, menurut Kayana bukanlah meninggalkan sang anak menjadi solusi terbaiknya. Nanda sudah kehilangan ayahnya, lantas kenapa dia juga harus kehilangan ibunya?


Kayana menatap lekat sosok bocah kecil yang terbarik di ranjang periksanya, sedih Kayana merasa tidak sampai hati dengan perjalanan hidup anak itu.


**********


“Baiklah,” pemeriksaan terhadap Nanda sudah selesai. Obat-obatan yang harus dikonsumsi Nanda pun sudah diantarkan Diandra kepada pengasuh Nanda. Nanda, sepengetahuan Kayana sudah meninggalakn Rumah Sakit bersam bibi pengasuhnya.


Sesaat, Kayana membaca ulang rekam medis Nanda. Tenyata, ini bukan kali pertama Nanda datang ke Rumah Sakit tempat dirinya bekerja saat ini. Dan ternyata, setiap Nanda di bawa ke sini anak kecil itu selalu ditemani sang bibi pengasuh.


Ahhhhhhh…perasaan miris di dalalam hati Kayana


Sudah kehilangan sosok Ayah untuk selamanya dan sekarang harus memalui hari dengan tidak mendapatkan kasih seorang ibu. Semua itu terjadi pada Nanda karena sosok suami baru sang ibu. Kayana termenung, bagaimana mungkin ada wanita sekejam ibu kandung Nanda di dunia ini? Kepala Kayana sulit menerima itu.


Dan…….


Nada dering di handphone Kayana berbunyi. Map yang berisi rekam medis Nanda ditutup segera, diletakkan Kayana di meja kerja begitu saja.


“Eh..siapa ini?” Heran menatap handphonenya. Kayana menatap urutan angka yang tampil di layar birunya. “Nomornya gak ada nama, apa ini nomor baru ya?” berpikir. Dan selama Kayana sibuk berpikir tentang nomor tanpa identitas di handphonenya, selama itu pula nada dering selalu bernyanyi keras meminta sang punya untuk segera mengangkat.


“Lah…malah mati.” Menatap layar handphone yang semula biru sekarang sudah hitam karena si pemilik tidak juga menerima panggilan masuk di sana.


Rasanya aku kenal sama nomor tadi tapi…….

__ADS_1


Ragu di dalam hati.


“Sudahlah, biarkan saja kalau memang perlu nanti pasti telepon lagi. Bagus sekarang aku siap-siap lagi deh. Jam kerja aku kan sudah selesai.” Berdiri, merapikan meja dan menyematkan jas dokternya di sandaran kursi.


Pintu kerja prakteknya telah di tutup Kayana, sekarang kaki jenjang gadis cantik ini sedang melangkah ke arah lift. Tugas selesai, Kayana memutuskan untuk pulang.


pintu lift terbuka, dan suara ribut nada dering handphonenya berbunyi dengan semangat dalam tas kerja Kayana. Kayana terkejut, membatalkan diri masuk ke dalam lift, memilih membuka tas yang tersemat di bahu kanannya dan mencari keberadaan benda mungil yang terus bernyanyi.


“Nomor tadi lagi?” gumam Kayana memastikan.


“Ya..hallo.” Akhirnya Kayana segera menerima panggilan masuk dari nomor tanpa identitas itu.


“Sudah berani kau tidak mengangkat teleponku?” suara wanita dengan nada marah.


“Nyon, nyonyah…” Kaget, gugup, Kayana sampai menjauhkan handphonenya dari telinga, memperhatikan layar dengan seksama. “Nyonya.” Bergumam pelan sadar nomor telepon siapa yang terpampang di sana.


“Iya ini aku, memang kamu pikir siapa? Isteri Presiden?” memaki kesal.


“Maaf nyonya, saya kebetulan sedang praktek jadi kurang memperhatikan tadi.” Berbohong.


“Heh, apa yang sudah kau lakukan di sana?” bertanya dengan emosi jiwa.


“Bekerja nyonya, saya praktek seperti biasa.” Menjawab dengan apa adanya.


“Sepertinya kau ingin main-main dengan ku ya? Kau ingin menguji aku ya?” menantang.


“Saya tidak mengerti nyonya? Ada apa ini?” sekarang Kayana malah bingung.


“Aku sudah bilang, kau jangan coba-coba menjalin komunikasi dengan anakku lagi! Hanya enam bulan ini saja sampai anakku menikah dengan wanita sederajat dengan keluarga kaya kami, dan k au…kau bisa kembali ke sini!” Berujar dengan berapi-api.


“Dan itu yang sedang saya lakukan di sini nyonya.” Tidak mengerti ada apa ini.


“Kau berencana membohongi aku? Kau jangan bodoh, aku bisa membuatmu tamat detik ini juga! Keluargamu hancur berkeping-keping dan itu semua sangat mudah bagiku.” Mengancam keras.


“Nyonya, saya sudah mengikuti semua keinginan anda. Saya bahkan sudah mulai menyesuaikian diri di sini, satu bulan ini saya baik-baik saja menjalankan praktek di Rumah Sakit ini. Lantas, nyonya mau apa lagi dari saya?” Masih tidak paham.


“Mau apa, kau bilang mau apa?” berteriak keras di ujung telepon. “Kau benar-benar mau bermain-main ya? Kau mau menantang aku?”


“Nyonya, saya tidak paham. Saya bahkan sudah menghapus nomor nyonya dan anak nyonya dari hidup saya. Jadi, ada apa lagi ini?” mulai frustasi sendiri.


“Jangan bohong kau wanita miskin.” Marah semakin menjadi. “Apa yang sudah kau lakukan di belakangku? Kenapa anakku mulai meragukan semuanya sekarang?”


“Meragukan apa, ada apa?” Mendesak.


“Kalau aku sampai tahu kau di balik semua ini, awas saja!” Mengancam. “Kau siap-siap menyalahkan dirimu sendiri atas kehancuran keluargamu.”


Dan, tut..tut..tut. Panggilan telepon pun dimatikan secara sepihak.


“Ha..hallo, hallo……?” Kayana kaget suara di ujung teleponnya sudah menghilang.


“Ada apa ini?” bergumam dengan jantung bersuara keras, menatap layar handphonenya yang mulai memudar. Panggilan sudah berakhir.

__ADS_1


__ADS_2