
🌹🌹🌹
“Tidak ada masalah serius nyonya “. Dokter yang dihubungi bi Lita baru saja selesai memeriksa bi Rihana. Dengan sabarnya si dokter ini berusaha menjelaskan kondisi si bibi pada majikannya.
“Sepertinya hanya tensi rendah saja, ini biasa terjadi nyonya. Bisa jadi karena faktor usia. Cukup vitamin dan istirahat saja obatnya nyonya “.
“Syukurlah kalau begitu “. Segurat ras cemas yang jelas terpampang di wajah si nyonya perlahan sirna. Hati Syania kembali tenang, senang dengan penjelasan si dokter
“Saya sudah memberikan vitamin terbaik buat pasien, biarkan saja dia beristirahat barang dua hari ini nyonya ! Dan di hari ketiga, nyonya bisa mendapati si bibi sudah sehat bugar lagi !” Dokter yang sangat ramah itu kembali memberikan penjelasan.
“Oo, baik, baik. Saya yang akan pastikan bi Rihana akan beristirahat dua hari ini !” Ucap Syania sungguh-sungguh.
“Baiklah, karena semua sudah tidak apa-apa, saya mau mohon diri dulu nyonya “. Si dokter ramah ini menunduk sopan.
“Silahkan dokter dan terima kasih banyak “. Senyum Syania.
Dan kemudian, dengan di antar oleh bi Lita, si dokter pun melangkah keluar.
Hingga..
“Kamu dengarkan Rihana apa yang disampaikan dokter tadi ?” Si nyonya Syania mewawancarai bi Rihana.
“Iya nyonya “. Bi Rihana menatap mata majikannya itu. “Maafkan saya, nyonya sudah menyusahkan, membuat nyonya khawatir “.
“Sudahlah, tidak ada yang perlu dimaafkan. Aku harap kedepannya tolong jaga kesehatan kamu sebaik mungkin. Jangan sepelekan masalah kesehatan, itu penting bangat loh “. Nasehat panjang Syania.
“Iya nyonya, saya janji “. Angguk si bibi kemudian.
“Ya sudah, sekarang istirahat dulu kamunya !” Perintah Syania sambil memperbaiki selimut yang menutupi kaki hingga pinggang bi Rihana. “Aku keluar dulu ya “.
“Terima kasih banyak nyonya “. Senyum si bibi melepas sang majikan keluar kamarnya.
“Nya “, bi Lita melihat Syania menutup pintu kamar rekan kerjanya.
“Iya, kenapa Lita ?” Tanya Syania berjalan ke arah Lita.
“Acara nyonya sore ini apakah dibatalkan jadinya ?”
“hemmm, acara ya ?”
Bi Lita memperhatikan kalau sang nyonya sedang berpikir.
__ADS_1
“Astaga Lita, janjian aku sama wanita yang dipacari Sadewa ?” Syania berhasil mengingat rencana perjumpaannya dengan Melani, kekasih anaknya. “Aku benar-benar lupa “.
“Lantad bagaimana nyonya, apa dibatalkan saja ? Ini sudah lumayan lama loh nyah “. Bi Lita melihat kearah jam besar yang terpajang di dinding, di samping dirinya.
“Quinsha “. Sekarang ingatan Syania benar-benar kembali seratus persen.
“Ya Tuhan, Lita, aku lupa mengabari Sadewa. Jangan-jangan bentar lagi Quinsha sampai di Mall tempat janjian itu “. Dengan langkah cepat, Syania mencari keberadaan handphone miliknya.
“Aku harus mengabari Sadewa, biar si bibi membawa pulang Quinsha ! Jangan sampai cucuku itu bertemu wanita tidak pandai berpakaian sopan itu “.
“Aihhh, kenapa gak di angkat sih sama Martin ?” Syania kesal.
“Mungkin sedang ada kegiatan penting nyonya “. Lita hanya bisa menduga-duga.
“Iya, kamu benar Lita. Kata Dewa tadi, dia ada pertemuan penting dengan klien “.
“Jadi, sekarang baiknya gimana nyonya ?”
“Suruh Bayu siapkan mobil ! Aku akan ke Mall itu “. Syania tidak punya pilihan lain, dirinya harus menjemput cucu tersayangnya.
“Baik nyonya “. Dengan patuh dan segera, bi Lita pun menjalankan perintah sang nyonya.
***************
Sudah hampir dua puluh menit Quinsha duduk di sebelah bi Nan, pengasuh dirinya yang sudah mulai memasuki usia empat puluhan. Bi Nan tipe pengasuh penuh kasih, sangat telaten dan penyabar. Dan Quinsha sangat sayang pada pengasuhnya itu. Sejauh ingatan Quinsha, dirinya dan bi Nan selalu bersama. Si bibi tidak pernah meninggalkannya sendirian, terutama saat seisi rumah megah bagai istana milik keluarga besar Britania sepi penghuni, semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
“Nenek lama ya bi ?” keluh Quinsha sambil sibuk memperhatikan sekelilingnya, berusaha mencari tanda-tanda kedatangan sang nenek.
“Sabar ya nona kecil, mungkin nenek kejebak macet “. Bi Nan berusaha menghibur majikan kecilnya.
“Bagaimana kalau Quinsha main sama tante ?” Melani yang merasa begitu lama waktu berjalan selama dua puluh menit terakhir ini, sedang berusaha keras mendekatkan diri pada bocah kecil yang nampak enggan bersahabat dengannya.
“Shasa mau tunggu nenek saja “. Tolak Quinsha tanpa memandang pada Melani.
Sialan nih bocah, belum juga lima tahun tuh umur, tapi sifat gak sopannya ke aku kentara banget. Berani benar nolak aku dari tadi, perlu aku kasih pelajaran juga nih bocah besok.
Rutuk Melani kesal.
Kamu tunggu saja sampe Sadewa nikahi aku, kamu bakal aku sekolahin ke asrama terjauh dari ujung dunia sana. Heh, tahu rasa deh kamu.
“Nenek mungkin telat sayang “. Dengan suara selembut mungkin, Melani masih berusaha membujuk Quinsha.
__ADS_1
“Enggak mau tante “. Tolak Quinsha mulai kesal. “Tante kenapa sih ganggu aja ?”
Ku, kurang ajar kamu.
Ihhh, awas kamu ya, lihat saja nanti ! Aku bakal buang kamu jauh bocah sialan.
Maki Melani sepenuh jiwa.
“Maaf ya Sayang “. Sekali lagi Melani menekan amarahnya, sikap acuh dan tidak suka Quinsha pada dirinya sangatlah mencolok. Gadis kecil itu tidak segan mengumandangkan ketidaksukaannya pada dirinya. Tetapi, Melani tidak punya pilihan lain. Harus terus berpura-pura baik, lembut dan penyayang.
“Tante Cuma takut aja, nanti Quisnha bosan deh nunggu nenek kelamaan “. Senyum secerah mentari pagi terkembang di wajah Melani.
“Atau gini aja, gimana kalau sambil tunggu nenek, Quinsha jajan yuk sama tante ? Quinsha suka maem apa sayang, kita beli yuk ?” Rayu Melani dengan lembutnya.
“Emmm..?” Agak ragu, tetapi agak tergoda.
Quinsha menatap pengasuh setianya seakan meminta solusi.
“Kalau nona mau boleh saja “. Bi Nah membelai rambut Quinsha.
“Benarkah ?” Quinsha masih ragu.
“Iya benar non. Tapi, gak boleh jauh-jauh dan gak boleh nakal “. Bi Nah berusaha menyakinkan.
“Memang kita mau beli jajan apa tante ?” Sekarang Quinsha beralih ke Melani.
“Apa saja yang Quinsha mau “. Suara merdu nan lembut masih dikumandangkan Melani. Meskipun lelah berpura-pura baik di hadapan si gadis kecil. Tetapi, tekad Melani sudah bulat, biarlah sedikit berpayah-payah sekarang. Dan tunggu nanti, saat dirinya sudah menjadi istri Sadewa, maka di saat itu tamatlah keberadaan Quinsha dalam hidupnya. “Bilang saja sama tante, sayang “.
“Boleh es krim vanila sama cokelat tante ?” Ada binar harap di mata Quinsha.
“Tentu saja boleh dong, malah bolehnya pake banget. Boleh beli yang banyak, boleh makan puas-puas, pokoknya boleh “. Melani meyakinkan Quinsha.
“Yeee, asyik “. Suara riang Quinsha. Berlonjak riang dengan kedua tangan bertepuk keras.
“Bi, Bi...Shasa jajan es krim dulu ya sama tante Melani “. Suara penuh semangat. Quinsha mengerak-gerakkan tangan pengusuhnya.
“Iya boleh, tapi gak boleh nakal ya non. Jangan merepotkan tantenya “. Bibi memegang kedua tangan mungil Quinsha. Berusaha mengingatkan kembali majikan kecilnya itu.
“Bibi jangan khawatir, Quinsha kan anak baik, anak cantik. Mana mungkin merepotkan saya “. Senyum kepura-pura Melani kembali terkembang di sudut bibirnya.
“Baiklah nona “. Jawab bibi kepada Melani.
__ADS_1
“Kalau begitu, bibi di sini sebentar ya. Tolong lihat mana tahu sebentar lagi bunda Syania datang !” Melani sudah menggandeng tangan Quinsha. “Saya ke sana dulu bawa Quinsha ya bi “. Tunjuk Melani pada tangga berjalan ke arah lantai dua Mall tersebut.
“Iya nona, silahkan “. Bibi menunduk patuh pada semua perintah Melani.