
🌹🌹🌹
“Kak, Shasa tadi telepon. Katanya dia pengen di belikan pandan cake di swalayan langganan “. Martin melihat ke arah Sadewa yang duduk bersandar penuh lelah di kursi belakang sedan super mewah.
“Kalau begitu kita belikan !” Memberi perintah. “Kita mampir di mini market itu ya Tedi !” Menyebut nama si sopir.
“Siapa tuan !” Tedi, si sopir menyanggupi permintaan sang majikan.
Jadilah, sore hari menjelang senja ini. Saat semua aktivitas para penghuni kantor sedang berbondong-bondong memecah lalu lintas Kota untuk kembali ke rumah masing-masing, atau bergegas ke tujuan masing-masing. Mobil mewah Sadewa pun ikut juga dalam hiruk pikuk Kota, bergegas berjalan menuju sebuah swalayan langganannya.
Sementara mobil mewah milik Sadewa masih semakin berangsur mendekati tujuan, Kayana justru nampak agak panik. Bingung lengkap dengan kecemasan serius.
“Bi, Bi Mar.....”, memanggil sang Bibi dari arah ruang makan.
“Iya non, cari Bibi ya ?” Bi Mar menghampiri dengan senyum tulusnya.
“Biasanya Bibi kalau mau pergi kemana gituh, pake apa ya ?” Segera mengajukan pertanyaan.
“Ooo, pake motor metik non. Ada motor metik yang di khususkan ke sini, buat operasional bibi. Kenapa memangnya non ?”
“Kalau mini market, jauh Bi dari sini ?” Bukan menjawab pertanyaan Bibi, Kayana malah memberikan pertanyaan baru.
“Enggak kok non, dekat. Itu “. Menunjuk ke arah pintu depan. “Dari jalan raya di depan belok kiri, masuk ke jalan utama. Terus lurus, kira-kira dua ratus meter ada simpang tiga, ambil kanan. Nah, seratusan meter dari simpang itu ada swalayan lengkap non !”
“Ooo......”. Mencoba mengulang penjelasan bibi di dalam kepalanya.
“Memang non mau cari apa ? Biar Bibi pergi ke sana belikan !” Memperhatikan wajah Kayana.
“Ana saja bi yang beli “. Menolak sopan. “Boleh Ana pinjam motornya Bi ?”
“Non mau beli apa ?” Ragu. “Bibi saja ya !”
“Emmm, itu bi “. Senyum malu sambil mengaruk kepala sendiri. “Ana lupa kalau sekarang jadwal datang. Jadi Ana gak punya stok “.
“Ooowallah non “. Menggelengkan kepala.
“Hehehehe “. Hanya bisa cengengesan malu.
“Ya udah, non mau merek apa. Biar bibi yang belikan !”
“Gak usah Bi, biar Ana saja. Ya..sekalian Ana belajar mengenal jalan “. Menolak lagi dengan sopan.
“Tapi non, apa gak apa-apa ?” Ragu melepas Ana.
“Percaya sama Ana, bi !” Berusaha memperlihatkan wajah sungguh-sungguh.
“Ya udah, kalau non maunya seperti itu “. Mengalah. “Sebentar ya non “. Masuk ke dalam kamar dan sesaat kemudian keluar lagi menemui Ana.
“Non tunggu di halaman saja, bibi bawakan motornya ke depan !” Memberi arahan pada Kayana.
Kayana menangguk paham. Kemudian masuk ke dalam kamarnya, mengambil sejumlah uang dari dalam tas dan tidak lupa mengapai jaket miliknya. Barulah setelah itu segera berjalan ke halaman rumah.
*****************
“Sudah semua !” Suara kesal Sadewa pada petugas swalayan yang hanya diam memandangi wajahnya.
“Ooo, maaf Kak “. Tersadar dari lamunan menatap wajah tampan Sadewa, petugas swalayan segera menghitung belanjaan Sadewa.
__ADS_1
“Cihhh “, dengus kesal Sadewa dengan mata besar ke arah si kasir.
“Ma, maaf Pak “. Sadewa mendengar suara seorang wanita di belakang punggungnya.
“Pak “.
Sadewa mengacuhkan panggilan itu.
“Pak, maaf “. Suara si wanita agak keras sekarang. Si kasir swalayan berhenti sejenak, mencari tahu suara siapakah gerangan di belakang punggung kekar lelaki tampan di depannya.
“Apa ?” bertanya acuh tanpa membalikkan badan.
“Itu, boleh saya minta tolong “. Bersuara agak ragu.
“Saya bukan aparat keamanan ! Jadi, tidak bisa nolong “. Jawab asal, semakin acuh.
“Astaga “. Bergumam tidak percaya.
“Tuan, saya mohon “. Berusaha menarik nafas dalam dan kembali berbicara.
“Saya bukan majikan kamu “. Jawab Sadewa asal.
Sombong banget sih. Si wanita membatin kesal. Ini orang siapa coba, sombongnya gak kira-kira ?
“Ayooo, hitung lagi !” Sedikit membentak kasir swalayan yang malah sibuk menyimak pembicaraan Sadewa dan wanita di belakang punggungnya.
“Ma, maaf Kak “. Melanjutkan kegiatan menghitung barang dengan wajah ketakutan.
Ooo...mau di panggil kakak ya ? Menduga di dalam hati. Cih, sok imut kamu manusia aneh.
“Kak “. Sekali lagi si wanita di balik badan Sadewa bersuara.
“Hahaha....”, tertawa salah tingkah.
Sial, yang bilang kamu kakakku juga siapa. Ihhhh, ini orang buat kesal ajah deh. Heyy, hallo...aku lagi EM ini, aku butuh pembalut ini segera. Bicara keras, tetapi hanya berani di dalam hati.
“Aku tahu Kakak bukan Kakakku, tapi aku juga tahu, kakak ini lelaki sejati, baik hati dan tidak sombong. Penolong manusia yang lemah ini “. Memuji setulus hati, berbicara pelan penuh rayu.
Tetapi di dalam hati, Preeeeettttttttt. Jijik deh dengar apa yang aku ucapin tadi. Dasar manusia aneh. Aku sampe ikutan aneh gara-gara kamu.
“Jadi, apa maumu ?” Membalikkan badan, Sadewa menatap wanita yang sedari tadi ribut di belakang punggungnya, dari atas sampai ke bawah.
“Hai Kakak yang baik, aku Kayana !” Tersenyum secerah mentari pagi. Tetapi di dalam hati sibuk menyumpahi Sadewa.
“Boleh aku minta tolong Kakak ? Aku izin bayar duluan gimana ?” Berusaha memberi tatapan seimut mungkin. “Aku cuma beli ini saja kak “. Mengangkat barang belanjaannya. Sebuah benda seukuran telapak tangan, dengan bungkus luar berwarna agak keungu-unguan.
“Gak lama kok Kak “. Lagi-lagi berusaha memasang tampang imut, mata digerak-gerakkan menambah efek lucu. Seperti anak kucing yang sedang merayu sang tuan.
“Apa itu ?” Menatap benda yang di angkat Kayana.
“Ooo, ini benda penting Kak. Penyelamat aku !” Bicara sungguh-sungguh. Sedang Sadewa menaikkan sebelah alisnya, masih belum paham sekaligus curiga.
“Memang kamu kenapa ?” Memperhatikan Kayana dan merasa kalau gadis di depannya itu baik-baik saja.
Tetapi....
“Aduh...!!!” Kayana memegang bagian bahan perutnya, ari-ari sebelah kanan. Sensasi datang bulan bagi setiap wanita dewasa sedang menjalar di bagian sana. Sedikit meringis, Sadewa malah menjadi terkejut.
__ADS_1
“Kamu kenapa ?” Memegang bahu Kayana, heran melihat gadis di depannya tiba-tiba mengaduh.
“Gak “. Mengerakkan tangan kanannya pelan. “Aku gak papa “. Dan tangan Kayana berhenti di jemari Sadewa, yang tengah memegang bahunya.
“Aku hanya perlu ini saja “. Sadewa melihat bungkusan keunguan di dalam genggaman Kayana.
“Kamu bisa berdiri ?” Memastikan kondisi Kayana. Dan Kayana hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaan Sadewa.
“Sini !” Mengambil benda di tangan Kayana. Segera berbalik ke kasir.
“Hitung itu duluan !” Memberi perintah tegas pada si kasir. Dan benar saja, kasir patuh menyegerakan permintaan Sadewa.
Sepertinya Kakak ini lelaki baik dan pengertian. Kayana memuji Sadewa di dalam hati. Aku udah salah paham deh tadi. Tersenyum simpul. Hehehe, maaf ya kak udah nyumpahin kamu tadi.
“Sudah ?” Bertanya tanpa menatap wajah kasir. “Sini !” Merebut bungkusan milik Kayana dari tangan kasir, padahal si kasir mau membungkus benda tersebut.
“Ini “. Memberikan secepat yang Sadewa bisa kepada Kayana bungkusan di tangannya.
“Kedepannya jangan menyusahkan aku lagi ! Ingat itu di dalam kepalamu ! Bahkan kalau bisa jangan ketemu lagi, menghindar sejauh mungkin dari aku !” Berbicara dengan sungguh-sungguh.
Astaga, belum lima detik aku puji dia sebagai orang baik. Ternyata.... !!!! Ihhh, nyesal aku muji nih manusia angkuh. Membatin kesal. Sombong amat deh manusia satu ini.
“Ambil !” Setengah membentak. “Kenapa malah diam ?”
Astagaaaa!!!! Ini jenis manusia apaan sih, keangkuhannya sampe ke tulang ya Tuhan.
“Kakak yang baik, makasih banyak ya “. Mencoba tersenyum senang, meski hati bukan main meradang.
“Ya sudah, pergi sana, pergi ! Urus dirimu, jangan sampai masalah bulananmu mengganggu orang lain lagi !” Mengusir dengan acuh.
“Baiklah Kak, sekali lagi makasih ya Kak “. Sedikit tersenyum, kemudian berbalik badan secepat kilat. Melangkah lebar dan berharap bisa segera menghilang dari hadapan sosok lelaki angkuh yang sangat pandai berbicara dengan susunan kata pedih di telinga Kayana.
“Awwww.... “, berjalan terlalu cepat, tidak memperhatikan sekitar. Ternyata di depannya ada sosok lelaki sedang berdiri, sepertinya sedang menunggu seseorang.
“Kamu enggak papa ?” Menatap Kayana dari atas sampai bawah. Agak cemas
“Maaf, maafin saya. Saya terburu-buru, gak lihat ada orang. Maafkan saya !” Penuh penyesalan.
“Santai saja, aku gak kenapa-napa kok “. Memberi senyum menawan pada Kayana sambil memperbaiki rambutnya ke belakang.
Astaga, tampannya. Kayana memberontak penuh kekaguman dalam hati.
“Semua gara-gara orang menakutkan di dalam sana “. Menunjuk ke arah dalam swalayan. “Aku jadi gak konsentrasi jalannya “. Memonyongkan bibir, masih terbawa aura kesal kalau ingat sosok lelaki yang mengomelinya tadi.
“Siapa ? Kamu diapain sama orang itu ?” Bersikap siaga.
“Gak kenal, tapi sombong banget “, memonyongkan bibir. “Tapi orangnya angkuh, gomongnya kasar. Ihhh, aneh deh kok jaman seperti ini ada manusia sesombong itu !” Bergidik malas.
“Mau aku kedalam dan memberi peringatan sama orang itu ?” Tawar lelaki tampan di depan Kayana.
“Jangan “. Spontan berbicara cepat. “Amit-amit deh berurusan sama orang aneh itu “. Mengerakkan tangan kanan cepat. Mencoba melarang.
“Ya udah, kalau gituh kamu hati-hati ya ! Jaga diri “. Tersenyum pada Kayana.
“Iya, makasih banyak Kak “. Membalas senyum si lelaki tampan. “Aku pamit duluan kak !”
“Iya “. Melambaikan tangan melihat Kayana menjauh dengan sepeda motor metiknya.
__ADS_1
Ahhhhhh, bodohnya. Kenapa lupa tanya namanya sih ? Si lelaki tampan versi Kayana ini sedang menepuk pelan keningnya penuh penyesalan.