
🌹🌹🌹
 
“Loh...kok gak masuk Di ?” Mobil dinas milik Kayana telah terparkir di tempat seharusnya di samping teras rumah dinasnya. Kayana turun, menyapa perawat Diandra yang terduduk menunggu di teras rumah.
“Tuan rumahnya saja entah kemana ? Gimana aku mau masuk mbak ?” Mendengus memandangi Kayana yang berjalan ke arahnya.
“Hehehehehe....”, cekikikan pelan. “Maaf “. Tidak lupa menyertai senyum penuh penyesalan.
“Tadi aku mampir dulu ke swalayan, ehhh...selesai belanja malah ketiban sial “. Menghembuskan nafas berat. “Jadi lama deh “.
“Kamu kenapa mbak ?” Berdiri cepat, memperhatikan setiap jengkal tubuh Kayana dengan sesama. “Kamu baik-baik ajakan ?”
“Iya..aku baik-baik aja kok “. Menyertai ucapan dengan gerakan menganggukkan kepala. “Hanya saja tadi aku sial banget, ketemu orang sombong gituh “. Berdiri di depan pintu rumah. Ada jedah sesaat untuk penjelasan Kayana pada Diandra. Kayana mengetuk pintu.
“Trus ?” Diandra tidak sabar menunggu lanjutan cerita Kayana.
“Aku dimarahin tuh orang “. Kesal.
“Kenapa ? Kamu salah apa mbak ?” Berdiri di samping Kayana.
“Aku nolong anaknya, Di. Gadis kecil yang imut banget. Tebakan aku mungkin gadis kecil itu belum genap berusia lima tahun “. Masih berdiri di depan pintu.
“Ehhh...bapaknya mikir aku mau niat jahat sama anaknya. Aku dimarahin, di tuduh mau nyulik gadis kecil itu “. Ekspresi kesal.
“Lah ?” Membesarkan bola mata, kaget.
“Trus, kamu diam ajah digituin mbak ? Gak sopan banget sih tuh orang !” Ikut terbawa kesal.
“Ya enggaklah “. Menggeleng tegas. “Aku balik marah dong sama manusia sombong itu, mana mau aku di tuduh seperti itu “. Menepukkan tangan kanannya di atas tangan kiri. “Sudah nuduh sembarangan, pake marah lagi. Angkuh banget deh, banget sampe ke ubun-ubun “.
“Lain kali kalau mau ke swalayan aku temenin ya mbak !” Menatap Kayana.
“Kenapa harus di temanin kamu, Di ?”
“Ya dari pada kamu di gituin orang lagi, aku kan gak terima mbak “. Serius.
“Kamu ini, kamu pikir aku gak bisa apa menghadapi manusia sejenis itu “. Menyipitkan mata. “Kamu ragu sama kemampuan aku ?”
“Bukan mbakkkkk !” Menggeleng. “Aku bukan ragu, hanya saja aku tuh gak sampai hati kalau atasan cantik aku di gituin orang. Jiwa sebagai lelaki pembela wanita cantikku meronta mbak “. Senyam-senyum tidak jelas.
“Kamu ini, apaan coba ?” Memukul pelan bahu Diandra.
“Eh, bibi kok lama ya bukain pintu ?” Sadar kalau si bibi tidak juga membukakan pintu, padahal mereka sudah cukup lama berbicara di luar.
__ADS_1
“Mungkin bibi lagi ada urusan mendesak mbak “. Mengangkat alisnya ke atas. “Biarin aja mbak, kan bagus kita bisa berduaan “.
“Berduaan sama kamu ?” merapatkan bibir dan menariknya ke kiri. “Perawat Diandra, mulai besok kita itu bakal lama berduaannya. Besok aku mulai tugas tahu !”
“Besok sama sekarang beda loh mbak “. Bersedekap. “Besok itu, kita tugas negara. Tapi, kalau saat ini....?” Mengantungkan kata-kata.
“Kalai sekarang apa ?” Sedikit penasaran.
“Ya, kalau sekarang itu kita berduaan sebagai seorang wanita cantik dan lelaki tampan “. Penuh percaya diri.
“Ampun aku sama kamu, Di “. Tersenyum dengan tingkat kepercayaan diri Diandra.
“Mu.....”, kata yang ingin diucapkan Diandra tidak di lanjutkannya.
Baik Diandra dan Kayana, mereka sama mendengar suara kunci pintu di buka.
Krekkkk....
“Aduh non, maaf bibi lama bukanya “. Bi Mar nampak sangat segan. “Sudah lama ya non ? Maaf non, maaf “.
“Nggak bi..gak sama sekali “. Mengelus bahu bi Mar, sambil tersenyum.
“Ayo non masuk “. Mempersilahkan Kayana masuk, membuka pintu lebar. “Bibi sudah masak masakan yang enak banget non. Mudah-mudahan si non suka “.
“Sup ayam, balado terong teri, sama lalapan non “. Menjawab juga dengan bersemangat.
“Widihhhh, enak semua tuh bi menunya, menu kesukaanku “. Bukan Kayana, tetapi Diandra malah yang menyahut senang dengan aneka menu masakan bibi dari pintu depan.
“Loh, ada perawat Diandra rupanya “. Bibi berhenti melangkah, mencari tahu suara barusan.
“Kapan kamu datang nak ?”
“Aku sudah dari tadi bi, tapi sama tuan rumahnya, aku di cuekin “. Mengerakkan bibir ke arah Kayana.
“Hehehehe, maaf aku lupa sama kamu “. Cenggir Kayana merasa bersalah.
“Kamu tuh mbak, tega melupakan aku demi masakan terenak buatan bibi “. Bersedekap tidak terima.
“Iya, iya...maaf “. Menundukkan kepala. Sedang bi Mar, orang tua itu tersenyum melihat keakraban majikan barunya dengan asisten pribadinya.
Dasar Diandra, paling pinter deh berulah kalau sama wanita cantik. Ckckckc..
Menggeleng di dalam hati.
“Sudah non, sudah “. Suara bibi membuat Kayana kembali fokus pada bibi. “Biarkan saja Diandra itu “. Menarik Kayana ke depan pintu kamar gadis berambut panjang itu.
__ADS_1
“Non mau mandi dulu atau gimana ?” Berhenti di depan kamar Kayana.
“Iya bi, Ana mau mandi dulu, gerah “.
“Siyap “. Bibi mengacungkan ibu jari kanannya pada Kayana. “Non mandi dan bibi akan siapain menu makan malam “.
Kayana pun mengangguk setuju.
“Mbak “. Suara Diandra berhasil menghentikan langkah Kayana yang hendak masuk ke dalam kamar.
“Owallah “. Menepuk keningnya. “Maaf Di, aku lupa lagi sama kamu “. Tersenyum malu.
“Kamu tuh mbak, amnesia kok di usia muda ?” Memasang wajah heran.
“Maaf “. Suara pelan Kayana.
Duh ngemes aku sama kamu mbak. Lihat wajahmu itu, mengemaskan banget. Diandra menatap wajah Kayana lama.
“Ini “. Mengeluarkan buket bunga ke depan Kayana.
“Mawar putih “. Kaget, sekaligus senang.
“Iya “. Mengangguk membenarkan. “Janji aku sama kamu tadi mbak “.
“Cantik “. Jelas menunjukkan rasa senang. “Kok kamu bisa tahu bunga kesukaanku ?” Sibuk mencium aroma wangi buket bunga di genggaman tangannya.
“Jelas aku tahu dong mbak “. Nampak ponggah. “Kamu itu tipe wanita mawar putih “.
“Hah ?” Tidak mengerti, gagal paham.
“Wanita cantik, dengan kelembutan dan hati yang baik seperti kamu itu, ya sudah pasti adalah penyuka mawar putih “. Menaikkan kedua alis penuh percaya diri.
“Aku bisa dengan mudah tahu hal itu mbak “.
“Kamu ini...ketahuan boongnya “. Membalikkan badan, berniat berlalu dari hadapan Diandra.
“Sejujur ini mbak ?” Bersuara penuh keyakinan.
“Sudah ah, aku mau mandi “. Mengerakkan tangan kirinya sekilas. “Tapi, terima kasih banyak buat bunganya. Aku sangat suka “. Memberi senyum tulus pada Diandra.
Ya Tuhan, manis banget tuh senyum. Diandra terteguh, menelan ludah terpesona.
“Sama-sama mbak “. Sadar kalau Kayana telah melangkah pergi meninggalkannya. Masuk ke dalam kamarnya. Membuat sosok Diandra yang lama terteguh menjadi sadar, dia telah di tinggal Kayana.
“Mandi yang wangi ya mbak “. Berteriak sambil berjalan menuju ruang makan.
__ADS_1