Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan

Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan
Kenyataan


__ADS_3

🌹🌹🌹


“Dan setelah bunda setuju, kau mulai ragu !” Kesekian kalinya dokter Hadi menebak situasi Sadewa saat ini.


“Hadi, aku melihat betapa terpaksanya bunda memenuhi keinginanku “. Ucap Sadewa tanpa merubah posisi tubuh dan arah pandangan matanya.


“Aku merasa bersalah, tapi aku sangat ingin bunda bertemu Melani. Kalau tidak pernah berjumpa, bagaimana bunda bisa mengenal sosok Melani “. Jujur Sadewa.


“Dan rasa bersalahmu, sengaja kau luapkan pada Kayana. Dokter baru itu sengaja kau jadikan tempat menyalurkan perasaan tidak menentumukan ?” Hadi melihat Sadewa masih diam di posisi duduknya, badan masih bersandar di sandaran empuk sofa, dan kepala masih menatap lurus ke langit-langit ruang prakteknya.


“Kau gila Dewa “. Satu kata kalimat yang sedari tadi di tahan Hadi untuk disampaikan pada sahabatnya itu.


“Seharusnya sebagai seorang anak, kau orang pertama yang paling tahu perasaan bunda !” Menggeleng kecewa. “Jauh sebelum musibah terjadi, tentang “. Hadi mendadak ragu melanjutkan kalimatnya. Sadewa mengerakkan kepalanya menatap Hadi, ada sorot mata sedih di sana. Hadi merasa sangat bersalah.


Ah, kenapa aku malah mengungkit musibah itu. Batin Hadi benar-benar tidak enak.


“Martin juga bilang aku gila, apa kau tahu itu ?” Sadewa segera mengalihkan kedua bola matanya ke arah langit-langit ruang kerja dokter Hadi lagi. “Martin juga bilang aku tidak punya perasaan “.


“Dewa, maaf. Aku tidak bermaksud mengungkit tentang musibah itu, sungguh ! Maafkan aku “. Merasa canggung sendiri.


“Ya, aku memang bersalah !” Bergumam pelan, tetapi dokter Hadi jelas bisa mendengar itu.


“Dewa, maksudku. Maksud perkataanku sebelumnya adalah, kenapa kau memaksa bunda untuk menuruti maumu. Padahal tanpa kau paksapun, bunda akan melakukan apa saja untukmu, demi kebahagiaanmu “. Dokter Hadi menarik nafas sesaat.


“Dewa, lagi pula jauh di dalam hatimu, sebenarnya kau membenarkan semua alasan bunda yang menolak Melani menjadi istrimukan ?” Pertanyaan telak, Sadewa mendadak menghela nafas berat.


“Dewa, pahit manis kehidupan percintaan di dunia ini, bundamu telah melaluinya. Asam garam tentang ketulusan, pengkhianatan dan cinta suci telah bunda lalui, bahkan jauh sebelum dirimu lahir. Lantas, apakah terlalu berat bagimu untuk mengakui kebenaran semua perkataan bunda ?”


Dan lagi-lagi, Hadi melihat Sadewa menghela nafas berat.


“Aku hanya berharap akan terjadi sesuatu yang luar biasa dalam hidupku dan bisa membuka mata hatiku tentang Melani, dan aku pikir dengan mempertemukan bunda bersama Melani, maka sebuah kebenaran akan nyata. Nyata untukku atau untuk bunda “. Sadewa menegakkan kepalanya, memperbaiki duduknya, badannya tidak di sandarkan lagi di sofa.


“Hati-hatilah dengan ucapanmu Dewa, Tuhan Maha mendengar. Dan saat keinginanmu di kabulkan, kamu tidak akan punya pilihan lagi, kamu harus menjalankan semuanya !” Hadi berusaha menasihati Sadewa.


“Dan percayakah kau, Hadi, Martin juga menasehatiku dengan kata yang sama ?” Ada senyum sinis di sudut bibir Sadewa.


“Itu artinya kami sangat mengenalmu, dan kami selalu bisa berpikir waras untuk mencegahmu masuk ke jurang penyesalan “. Lagi-lagi, senyum sinis Sadewa tergurat di sudut bibirnya. Hadi hanya menggelengkan kepala, membiarkan Sadewa dengan segala isi kepalanya.


Setidaknya, aku telah menasehatimu, Dewa. Ucap Hadi pelan di dalam hati.

__ADS_1


**************


“Di mana wanita yang mau cari mati itu ?” Teriakan keras Sadewa memenuhi ruang gawat darurat. Sadewa dengan segala kemarahannya berusaha mencari sosok dokter cantik yang sedang melakukan pertolongan untuk pasien yang akhirnya sukses diturunkan dari ambulans, setelah beberapa saat tadi terkatung-katung karena terhalang sedan mewah milik si tuan muda Britania.


Sadewa masuk ke lobbi Rumah Sakit miliknya, berjalan cepat menuju sayap kiri lobbi, tujuan Sadewa hanya satu. Dirinya ingin menghajar sosok dokter yang menurut cerita sopir pribadinya adalah pelaku dari kejadian dirinya beserta mobil mewah miliknya bisa ada di parkiran Rumah Sakit.


“Tu, tuan mohon tenang, sedang ada pasien gawat di dalam “. Seorang perawat lelaki dengan tingkat kegugupan luar biasa mencoba menghentikan Sadewa.


“Kau sudah bosan bekerja di sini ?” Sadewa mencengkeram kemeja perawat lelaki itu. Mencengkeram kuat hingga si lelaki itu terpaksa bergantung di tangan Sadewa. Sadewa jauh tinggi dari postur badannya, dan Sadewa jelas sedang sangat marah. Si perawat ini hanya serangga kecil di depan Sadewa. Bisa di hempaskan dengan mudahnya.


“Sa, saya mohon tuan. Maafkan saya “. Wajah si perawat mulai memutih, tingkat ketakutannya semakin bertambah.


“Kau bawa kemari dokter sialan itu ! Atau aku akan membuat tamat riwayatmu !” Ancam Sadewa. Semua mata sedang memperhatikannya, semua jelas sangat takut pada lelaki berkuasa ini.


“Ta, tapi tuan “, serba salah. Takut pada Sadewa tetapi, jelas tidak mungkin membawa dokter Kayana keluar ruang gawat darurat saat ini.


Tuhan..tolong aku, aku mohon. Aku masih bujangan, belum mau mati. Apa lagi mati karena kemarahan si tuan muda ini. Oo, aku tidak mau. Bermohon sepenuh jiwa di dalam hati.


Dan..


“Kak, lepaskan perawat itu!” Sosok Martin muncul, si perawat lelaki seketika merasakan kelegaan luar biasa. Penyelamatnya telah tiba. “Kalau kau mau menghancurkan Rumah Sakit ini, jangan coba-coba menyakiti siapapun ! Lepaskan dia !”


“Ahhhhrggg..”, dengan sekuat tenaga Sadewa melemparkan tubuh mengigil si perawat begitu saja ke lantai.


“Ya Tuhan, kau ini kenapa kak ? Benar-benar tidak tahu malu. Lihat, lihat semua orang memandangimu “. Martin menunjuk sekeliling mereka.


“Apa kau mau menjadi tontonan semua orang, apa kau mau mempermalukan keluarga Britania dengan sikap aroganmu ini ?” Hadi bersuara, dirinya baru saja sampai di ruang gawat darurat. Tidak mengerti apa penyebab Sadewa mengamuk, tetapi cukup tahu kalau Sadewa harus segera dihentikan. “Jangan lupa Dewa, kau ini pewaris Sunjaya Company !”


“Ayo, ikut aku !” Perintah Hadi sambil menarik Sadewa menjauh dari depan ruang gawat darurat.


“Jangan coba-coba menghentikanku, Hadi ! Aku tidak akan segan-segan menyakitimu “. Sadewa melepaskan tangan Hadi.


Kemudian, dengan secepatnya Sadewa menerobos masuk ke balik tirai hijau tempat di mana sosok dokter yang menurut laporan Tedi adalah orang yang sangat berani memindahkan mobil mewahnya, meskipun ada dirinya di dalam mobil tersebut.


Brakkk..


Sadewa membuka tirai yang tertutup.


“Ada apa ini ? Tolong keluar, pasien sedang tidak boleh di ganggu !” Kayana si dokter yang sedang merawat pasien di balik tirai hijau itu berbicara. Tanpa melihat ke arah belakang punggungnya, Kayana memberitahukan situasi si pasien pada tamu tidak di undang itu.

__ADS_1


“Kau berani memindahkan mobilku, dan sekarang berani mengusirku ? Sialan kau !” Maki Sadewa marah.


“Astaga, jaga bahasa anda tuan, ini di Rumah Sakit bukan kebun binatang “. Kayana membukan sarung tangan medis di kedua tangannya secepat yang dirinya bisa, berbalik badan dan sangat ingin menghajar si manusia tidak sopan di belakangnya itu.


“Kamu ?” Kayana cukup terperanjat. Jelas dirinya bisa mengenali siapakah lelaki yang sedang berkobar amarahnya itu.


“Kau mengenaliku ?” Sadewa heran, masker di wajah Kayana membuatnya tidak bisa melihat jelas siapa gerangan dokter di depannya sekarang. Tetapi, kenyataan kalau dokter wanita itu mengenali dirinya, Sadewa semakin penasaran.


“Tentu saja saya mengenali anda tuan yang angkuh “. Kayana melepas maskernya. “Dan jangan bilang kalau anda mendadak amnesia hingga lupa pada saya ?”


“Ooo, ternyata kau si wanita merepotkan dan kau wanita yang berniat menculik anakku semalam “. Sadewa membesarkan bola matanya. Berhasil mengenali sosok Kayana malah membuat dirinya semakin murka.


“Ini Rumah Sakit, pasien saya butuh ketenangan. Silahkan Anda keluar !” Kayana merasa semua mata di dalam ruangan itu sedang memperhatikan mereka, tidak hanya itu. Kayana pun menyadari kalau pasiennya sedikit gelisah. Sepertinya di bawah alam sadarnya, sesungguhnya si pasien cukup terganggu dengan suara besar Sadewa.


“Heh, kau “. Tunjuk Sadewa pada Kayana. “Ini Rumah Sakit milikku, dan kau. Kau dengar baik-baik, kau di pecat !”


Kayana menatap kedua bola mata Sadewa bergantian, kaget dan bingung. Kayana tidak menyangka siang harinya akan sesial ini.


“Atas dasar apa anda memecat saya ?” Kayana nampak sangat geram.


“Ooo, dasar ya, kau mau tahu alasannya ?” Senyum meremehkan Sadewa terkembang. “Pasang telingamu dan dengar bain-baik !”


“Pertama, Rumah Sakitku tidak butuh kau sebagai dokter ! Aku bisa meminta Hadi mencarikan sepuluh orang dokter terbaik di bandingkan dirimu !” Sadewa memberi tatapan meremehkan saat memandang Kayana dari atas hingga bawah.


“Kedua, kau itu sumber masalah dalam hari-hariku. Merepotkan, mau menculik anakku dan tadi, tadi kau lancang sekali memindahkan mobilku. Mobil pemilik Rumah Sakit ini ke parkiran dengan aku yang masih ada di dalamnya. Terakhir, aku meragukan kemampuanmu sebagai dokter, jangan-jangan kau ini hanya dokter gadungan “. Sadewa sengaja merangkai kata-kata terbaiknya untuk menyudutkan Kayana, sengaja untuk meremehkan Kayana dan membuat dokter cantik itu tertekan.


“Tuan pemilik Rumah Sakit yang terhormat “. Sadewa telah diam, Kayana mengambil kesempatan ini untuk berbicara. “Saya tidak pernah tahu kalau Rumah Sakit ini milik anda dan saya tidak pernah mengemis untuk bisa bekerja di sini. Saya di terima dengan baik oleh dokter Hadi, jadi catatan buat anda, silahkan mencari puluhan bahkan ratusan dokter yang lebih baik dari saya diluaran sana, itu bukan masalah bagi saya “.


“Kedua, saat pertama bertemu anda, saya akui saya sudah merepotkan anda dengan masalah tamu bulanan saya. Tetapi, anda berkenan membantu saya tanpa saya paksa. Dan tentang anak anda, jangan pura-pura lupa kalau anak anda sendiri membela saya di depan anda, gadis kecil itu sudah menjelaskan pada anda siapa saya dan bagaimana saya menolongnya “. Kayana mulai frustasi, ternyata ribut dengan Sadewa itu sangat menguras energinya.


“Dan buat anda ketahui tuan kaya raya yang sombong, yang angkuh “. Kayana meletakkan kedua tanganya di pinggang. “Saya lulusan terbaik untuk disiplin ilmu spesialis ini, tidak hanya itu, saya juga mendapat rekomdasi khusus atas kinerja saya selama di Klinik tempay saya bekerja dulu. Jangan coba meremehkan saya ! Anda dengar ? Jangan coba meremehkan saya !”


“Baru lulusan terbaik saja. Cih, memalukan sekali. Baru itu saja dan kau sudah sebegitu bangganya. Kampungan !” Bentak Sadewa.


“Terserah anda mau bilang apa, saya tidak akan ambil pusing !” Kayana kembali membalikkan badanya, menatap si pasien yang masih tertidur di bawah pengaruh obat yang diberikannya tadi.


“Jangan coba-coba menyentuh apapun lagi !” Sadewa menarik tangan Kayana, memaksa dokter cantik itu berbalik badan. “Kau lupa ha, kau sudahku pecat !”


“Baik, baik “. Kayana menghempaskan tangan Sadewa. “Dengan senang hati tuan pemilik Rumah Sakit “. Kayana mengucapkan setiap katanya dengan wajah tidak senang pada Sadewa. “Dengan senang hati saya akan angkat kaki !” Kayana berjalan melalui Sadewa, membuat para perawat di ruangan itu yang sedari awal sibuk menonton pertengkarannya dengan Sadewa memberi tatapan iba padanya.

__ADS_1


“Sebelum saya pergi “. Tanpa membalikkan badan, Kayana berhenti. “Saya memindahkan mobil mewah milik anda demi menyelamatkan pasien yang sekarang ada dihadapan anda. Mobil milik tuan super angkuh telah menghalangi ambulans masuk. Dan untung saja, untung saja saya tidak terlambat. Kalau tidak, entah apa yang akan media massa beritakan tentang Rumah Sakit anda yang lamban menolong pasien “. Semua yang ingin Kayana utarakan telah disampaikannya.


Tanpa berniat mendengar sepatah katapun dari Sadewa, Kayana segera pergi. Keluar dari ruangan yang mendadak terasa menyesakkan baginya.


__ADS_2