Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan

Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan
Sedan Mewah


__ADS_3

🌹🌹🌹


Sedan mewah keluaran tahun terbaru yang kabar beritanya hanya beberapa unit saja beredar di pelosok bumi ini sudah terparkir dengan elegannya di depan lobbi utama Rumah Sakit Ciraka. Si pemilik sedan mewah dan sekaligus pemilik Rumah Sakit dengan segala kelengkapan fasilitas tercanggih di Kota besar itu, sedang duduk dengan posisi badan bersandar di bagian belakang kursi mobil dan kepala direbahkan sambil mata tetap terpejam. Sadewa, lelaki tampan yang sedang memejamkan mata di dalam kemewahan kendaraannya itu, sedang menunggu kedatangan Martin dari dalam Rumah Sakit miliknya. Sadewa sengaja di minta oleh Martin untuk menunggu di dalam mobil saja, sambil dirinya pergi memastikan kepastian keberadaan dokter Hadi saat ini. Sahabat sekaligus dokter kepercayaan Sadewa untuk mengelola manajemen Rumah Sakit miliknya.


Mungkin sudah hampir tujuh Menit Martin meninggalkan Sadewa di mobil. Pendingin udara terus dihidupkan oleh si sopir kepercayaan Sadewa, sedang si sopir memilih menunggu di luar, bersiaga di luar sekaligus memberikan kesempatan sang majikan untuk beristirahat. Sepertinya di mata sopir, majikan baik hatinya itu terlihat sangat lelah. Entah lelah karena pekerjaan atau hal lain, dirinya tidak mengerti.


“Maaf pak “. Si sopir pribadi Sadewa melihat sisi kiri dirinya, ada suara lelaki menyapanya.


“Iya “. Jawab singkat si sopir sambil memperhatikan lelaki yang berdiri di sampingnya. Seorang lelaki yang mungkin seusia dirinya atau sedikit lebih muda darinya, berseragam putih-putih.


“Maaf pak, saya mau minta tolong. Tolong mobil bapak dipindahkan sebentar ! Saya mau bawa mobil ambulans itu ke sini, ada pasien gawat darurat pak !” Jelas lelaki berseragam putih-putih yang ternyata adalah petugas sopir ambulans.


“Waduh gimana ya ?” Sopir kepercayaan Sadewa agak ragu.


“Sebentar saja pak !” Suara penuh permohonan. “Setelah tugas saya selesai, bapak bisa kembali parkir di sini kok !”


“Aduh “. Benar-benar bingung.


“Anu, itu...”, bicara tidak jelas.

__ADS_1


“Pak, sebentar saja ! Ini darurat “. Masih berusaha membujuk.


Ini siapa sih yang punya mobil ? Mobil semewah ini tapi, parkir di sembarang tempat. Gak mungkinkan yang punya gak bisa baca ? Ini tuh bukan parkiran sembarangan, ini tempat penting untuk usaha penyelamatan tahu ! Si petugas ambulans merutuk kesal dalam hati.


“Saya bukan gak mau pindahkan mobil ini pak “. Nampak tidak tahu harus memberikan penjelasan apa.


“Ayolah pak, ini darurat !” Si petugas ambulans mulai kesal.


“Ini, ini mobil tuan Sadewa, pak dan tuan ada di dalam, sepertinya sedang tertidur “. Memberi penjelasan sambil sesekali melihat ke arah pintu mobil bagian belakang. “Tuan sedang menunggu sekretarisnya yang lagi mencari dokter Hadi. Tuan ada perlu sama dokter Hadi “.


“Ooooo..”, bibir dibulatkan dan kepala refleks melihat ke arah pintu mobil bagian belakang, tempat si sopir Sadewa sibuk melihat saat memberi dirinya penjelasan.


“Wah..saya juga bingung ini “. Saling tatap-tatapan, tidak tahu harus memberi jawaban apa.


“Pak Man, pak...!” Suara teriakan seorang wanita dari dalam mobil ambulans, tidak berapa detik muncul kepala wanita dari jendela belakang ambulans. “Apa juga lagi ? Kok lama, sih. Ini pasien keburu kenapa-kenapa nanti !” Masih berteriak.


“Eh..”, melihat ke sumber suara. Tidak tahu harus menjawab apa. Wajah bingung dengan mata sebentar menatap sopir Sadewa dan sesaat kemudian kembali menatap wajah yang memanggil kesal dirinya di kaca ambulans.


“Ini gimana pak ?” Bertanya pada sopir Sadewa, mengharapkan diberikan pemecahan masalah ataa situasinya saat ini.

__ADS_1


“Saya gak tahu !” menjawab dengan kepala menggeleng dan bahu di angkat.


***************


“Pasien sudah sampai dok “. Diandra berdiri di pintu ruang praktek Kayana.


“Iya, iya, aku akan segera ke bawah “. Segera berdiri dari kursi kerjanya, berjalan ke arah pintu. “Kamu tolong di sini saja ya, mana tahu ada pasien yang juga segera butuh bantuan aku, segera panggil aku !”


“Baik dok !” Mengangguk patuh.


Dan secepat yang Kayana bisa, dirinya segera meninggalkan Diandra. Menuju leaf terdekat dan memilih tombol turun ke lantai satu.


Kayana berhasil sampai di ruangan gawat darurat hanya hitungan menit. Setengah berlari Kayana mendekati para perawat di meja mereka.


“Mana pasiennya sus ?”


“Tuhkan “, jawaban salah satu dokter ke rekan kerja yang berdiri di sampingnya. Bukan menjawabnya pertanyaan Kayana.


“Bu dokter saja sudah di sini, lah pasiennya ?” Para perawat saling bersitatap.

__ADS_1


“Apa, kenapa ini ?” Kayana tidak mengerti arti pembicaraan mereka dan sikap saling tatap para perawat semuanya.


__ADS_2