
🌹🌹🌹
 
Pagi yang cerah, udara terasa hangat, sungguh besar kuasa Sang Maha Pencipta. Jelas-jelas semalam hujan badai menemani Kayana tidur di antara kegelisahan hatinya, memejamkan mata dengan pikiran melayang untuk menemukan solusi hidupnya, cintanya, dan yang terpenting, nasib keluarganya.
 
Dan pagi ini, Kayana berlari kecil, olah raga santai yang selalu di lakukannya di saat fajar telah memamerkan udara sejuk dan embun mulai beranjak pergi. Dua putaran mengelilingi Desa kecil nan asri, tempat tinggalnya, Kayana selesai, kembali ke rumah.
 
“Jam berapa masuk hari ini nak ?” Ibu datang menghampiri Kayana yang baru sampai di teras rumah, duduk manis sambil membuka sepatu larinya beserta jaket olah raga.
 
“Jam sepuluh Bu, tapi Ana mungkin agak cepat berangkat ke Klinik ya Bu. Ana ada sedikit pekerjaan yang harus di selesaikan “. Jawab Kayana dengan tangan fokus ke kancing jaketnya.
 
“Banyak pasiennya “. Menunggu Kayana dan akhirnya berjalan beriringan masuk ke dalam rumah.
 
“Enggak kok Bu, hanya beberapa kerja rutin saja “. Merangkul sang Ibu.
 
“Bu, Ayah ke mana ?” Mengambil minum dari ceret air dan membawanya ke meja makan. Duduk di sana dengan Ibu yang berdiri di sebelahnya.
 
“Ayah ke kebun belakang, panen ubi buat bahan kue Ibu besok “.
 
“Ada pesanan ya Bu ?”
 
“Ada sedikit pesanan dari Kantor Statistik, mereka pesan kue buat acara apa gituh. Ibu kurang paham “.
 
“Kapan Ibu masaknya ?”
 
“Nanti sore rencana Ibu nak, kenapa ?” Heran dengan sikap Kayana yang banyak bertanya. Tidak biasanya.
 
“Ana gak bisa bantu Ibu, Ana mungkin akan sampai malam hari ini di Klinik “. Memutar gelas di atas meja, di hadapannya.
 
“Ana, ada apa ?” Membelai rambut putri sulungnya.
 
Kayana menghembuskan nafas dalam, hanya menatap gelas kosong di depannya.
Bu, apa yang harus Ana lakukan ? Berusaha menahan air mata yang mulai mengenangi matanya. Sakit banget Ya Tuhanku, merintih dalam hati
 
“Ana ?” Suara lembut yang begitu menenangkan. Kayana memegang erat jemari sang Ibu yang ada di bahu kanannya.
 
__ADS_1
Kayana menggeleng pelan. Sungguh dirinya tidak sanggup bersuara saat ini, sekali saja mulutnya terbuka, dapat di pastikan suara isak tangisnya akan keluar. Akan terdengar.
 
“Nak, kamu bisa menutupi apapun yang kamu rasakan pada semua orang di muka bumi ini, tetapi, itu tidak berlaku bagi Ibu “. Tersenyum sambil terus membelai rambut panjang Kayana.
 
“Bu “. Suara bergetar, tangan kanan Kayana bergerak ke tangan sang Ibu yang sedang membelai rambutnya. Menarik tangan itu ke bawah pipi kirinya, berdiam di sana. Menikmati kehangatan kasih sayang Ibu tercinta.
 
“Ceritakanlah nak, ada Ibu di sini ! Ana jangan ragu “. Mencium kepala Kayana.
 
“Bu “, si Ibu bisa merasakan ada air mata yang jatuh di pipi sang anak. “Ana, mendapat tawaran bekerja di Rumah Sakit ternama. Mereka sangat membutuhkan Ana, sehingga pihak Rumah Sakit berani memberikan Ana rumah dinas, berserta mobil dinas kalau Ana terima tawaran mereka “. Berbohong dengan air mata rasa bersalah yang luar biasa menyakitkan hati.
 
“Lantas, apa yang kamu ragukan. Itu bagus bukan ?” Tersenyum di belakang kepala Kayana.
 
Karena semua bohong Bu, aku bohong demi kebaikan keluarga kita, karena nyonya kejam itu yang memposisikan aku sesulit ini. Menangis semakin menjadi. Tetesan air mata penuh rasa sakit, sedih tiada tara.
 
“Ana “. Ibu memeluk Kayana dari belakang, “Ibu dan Ayah akan mendukung apa pun keputusan kamu. Karena, kami tahu keputusanmu itu pasti sudah kamu pikirkan baik-baik “.
 
“Tapi, itu jauh Bu, dan lama, hiksssss “. Hilang sudah pertahan diri Kayana. Air mata yang tadi jatuh, akhirnya diiringi suara isaknya.
 
“Nak, terkadang demi sebuah kebaikan. Harus ada sebuah pengorbanan. Harus ada skala prioritas untuk dikedepankan. Apa pun keputusan kamu, percayalah ! Ayah dan Ibu akan setuju “. Sekali lagi mencium kepala Kayana. “Toh sejauh-jauhnya kamu pergi, suatu hari kamu akan kembali juga. Di sini Rumahmu, di sini keluargamu, dan ke sini juga kamu akan pulang ! Dalam pelukan Ayah dan Ibu “.
 
 
Benar, nyonya sudah berjanji, kali ini hanya enam bulan saja ! Dan setelah itu, akan boleh kembali lagi ke sini. Mengingat semua urutan kata-kata nyonya Ratna Bram Kurnia, Ibu dari kekasih hatinya.
 
“Sekarang bersiaplah !” Ibu melepas pelukannya dari Kayana. Membuat Kayana menggeser duduknya agar mereka bisa saling berhadapan. “Selesaikan apapun itu persiapan berangkat ke sana ! Nanti malam, sepulang dari Klinik baru cerita sama Ayah !”
 
“Terima kasih Bu “. Menghapus air matanya, dan memeluk Ibu erat.
Maafkan aku Bu, aku terpaksa berbohong tentang semua ini. Tetapi Ibu benar, memilih memenuhi keinginan nyonya adalah skala prioritasku saat ini.
Hati kecil berbicara dengan tangan masih memeluk sang Ibu.
 
***************
 
Perkerjaan Kayana sudah selesai, pasien terakhirnya pun sudah pulang hampir satu jam tadi. Sekarang Kayana sedang terduduk di ruang kerja Kepala Klinik, ada sedikit perdebatan antara dirinya dengan wanita yang mungkin usianya sama dengan sang Ibu tersayangnya di rumah.
 
“Jadi, apa alasan kamu ingin keluar dari Klinik ini ?” Tanya dokter Meri, Kepala Klinik tempat Kayana mengabdikan diri sebagai dokter spesialis anak sudah satu tahun ini. Sejak awal Kayana menyelesaikan semua jenjang spesialisnya, dokter Meri memang sudah secara terang-terangan mengutarakan keinginannya untuk meminta Kayana bekerja di Klinik bersama miliknya. Sebuah Klinik yang cukup terkenal di Kota tempat Kayana tinggal. Dan sebuah Klinik yang memberi dirinya kesenangan dan kepuasan dalam mengabdikan diri sebagai dokter spesialis anak.
 
__ADS_1
“Alasan pribadi Bu “. Tertunduk penuh sesal. Tidak mampu menceritakan masalah percintaannya yang rumit dan hanya membuat dirinya sakit. “Maafkan Kayana, Bu “.
“Kayana “. Menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. “Kamu tahu kenapa saya sangat bersemangat merekrut kamu dulu ?” Kayana memilih diam, tidak menjawab pertanyaan dokter Meri.
 
“Itu karena saya tahu, kamu memiliki ketulusan hati seorang dokter sejati. Bukan mudah menjadi dokter spesialis anak. Pasien kamu adalah anak-anak yang, kadang untuk memberitahukan bagaimana perasaannya saja tidak bisa. Dan itu, kamu harus tahu apa dan harus bantu memberi solusi untuk apa yang mereka rasa “. Kayana masih tertunduk.
 
“Saya lihat ketulusan pada diri kamu, jiwa dokter kamu memang nampak di pancaran wajahmu. Sama seperti namamu yang berarti kebaikan. Dan itu memang melekat pada kamu. Karena itu, saya sangat ingin kamu bergabung di sini “.
 
“Maafkan Kayana, Bu “. Sungguh Kayana tidak tahu harus berkata apa.
 
“Jelaskan alasan kamu, dan saya akan mempertimbangkan untuk memaafkan kamu atau tidak !” Dokter Meri berbicara tegas.
 
“Ini semua karena urusan pribadi Bu “. Tetap tidak sanggup untuk jujur.
 
“Apa karena gaji di Klinik ini terlalu kecil ?”
Kayana menggelengkan kepalanya cepat.
 
“Apa karena fasilitas di Klinik ini tidak secanggih Rumah Sakit besar ?”
Kayana semakin kencang menggelengkan kepalanya.
 
“Atau karena kamu mendapat tawaran kerja di Rumah Sakit lain ?”
Dan Kayana tetap masih bersikukuh menggelengkan kepalanya.
 
“Lantas karena apa nak ?” Bahasa yang selalu di ucapkan dokter Meri, saat dirinya memposisikan diri sebagai orang tua pada diri Kayana. Bukan sebagai dokter senior, apa lagi atasan.
 
“Maafkan Kayana, Bu. Kayana tidak bisa menjelaskan apa alasannya sekarang. Tetapi, sungguh bukan masalah gaji, atau apapun itu Bu, ini semua murni masalah pribadi “. Kayana menautkan jemarinya, berbicara penuh rasa bersalah.
 
“Kalau begitu, beri saya waktu satu minggu ini untuk mencari penganti dirimu !” Mengalah, merasa tidak memiliki kesempatan membujuk Kayana.
 
“Masalahnya..... “, bingung untuk menceritakan kondisi batas waktu yang di milikinya untuk meninggalkan Kota ini, atas perintah nyonya Ratna.
 
“Apa ? Jangan bilang kamu mau pergi dari sini hari ini juga ?” Nada suara agak tinggi.
 
“Bu, sungguh ini bukan keputusan mudah bagi Kayana. Maafkan Kayana, Bu “. Semakin mempererat tautan jemarinya.
 
“Dokter Kayana, kamu sungguh membuat saya kecewa !!!! Kamu tahukan berapa banyak orang tua pasien yang sangat menyukai kamu ?” Menatap Kayana sangat kecewa, perpaduan marah dan kesal bercampur. “Mereka percayakan anak-anak mereka padamu untuk pemulihan kesehatan mereka. Dan kamu, kamu akan pergi begitu saja ? Meninggalkan mereka semua, bahkan tanpa memberi saya kesempatan mencari pengantimu ?”
__ADS_1
 
Bu Meri, aku sungguh tidak punya pilihan lain. Aku mohon, maafkan aku. Maafkan aku !!!! Air mata membasahi batin Kayana. Pekerjaannya sebagai dokter spesialis anak di Klinik ini sungguh membahagiakan sanubarinya. Pengabdiannya, semua anak yang di rawatnya. Kayana ingin berteriak dan memaki nyonya kaya raya yang tega menjungkir balikkan hidupnya ini. Mempertaruhkan keluarganya, menghancurkan masa depan, aaaaaaa....kenapa kau sangat kejam nyonya Ratna ? Hilang sudah kesabarannya, berteriak sekuatnya di dalam hati. Menyusun kata makian untuk wanita yang tidak pernah mau menerima dirinya sebagai menantu, yang selalu berusaha menjauhkan dirinya dari kekasih hatinya, wanita yang sangat gemar menghina keluarganya. Sakitttttttt, Kayana meletakkan kedua tangannya di atas celana kerjanya, menekan kuat di sana untuk mengurangi efek tersakiti oleh cinta di dalam hatinya.