
🌹🌹🌹
“Yah..tunggu, tunggu dulu. Ana gak ngerti maksud ayah.”
“Hahahaha…jangan malu nak, Ana kan sudah dewasa.”
“Tapi, tapi Ana memang gak ngerti yah.” Panik.
“Persis yang dibilang sama calon suamimu tadi, katanya kamu pasti akan berkelit karena malu ketahuan sama ayah.” Tanpa terlihat oleh Kayana ada senyum di bibir ayah saat ini. “Tidak masalah kalau ayah tahu dari dia, Ayah malah sangat menghargai dia, nak. Lelaki sejati sekali, karena berani jujur pada ayah dan langsung meminta kamu pada ayah. Berarti, dia sangat mencintai kamu, dia mau serius sama kamu.”
Kayana diam, jantungnya berpacu cepat. Panik dan tidak mengerti, tangan terasa dingin.
“Yakinkan hatimu padanya! ayah memang baru pertama bertemu padanya tetapi, ayah bisa menilai kalau dia lelaki baik, ayah lihat ada ketulusan di matanya.”
Ritme jantung Kayana semakin keras, kecemasan menyusup dalam hatinya. Semua diluar kemampuannya, tidak mengerti.
“Dia berjanji akan membawamu sabtu depan, dan saat itu, Ayah sudah memiliki jawaban untuk hubungan kalian.”
**********
Perasaan tidak menentu, bekerja tetap professional seperti biasa, tetapi hatinya benar-benar sedang gundah gulana. Kayana sudah menyelesaikan jam prakteknya lebih dari satu jam tadi, hanya saja dirinya belum berniat keluar atau meninggalkan Rumah Sakit. Pikiranya bagai rollescoster, terbang dalam zona jalur yang penuh ketidakpastian, melambung ke awan gelap melayang tanpa kendali. Terombang-ambing, membuat mual dan pusing.
Memilih berdiri dan menatap ke arah luar jendelanya sungguh, Kayana sedang gelisah.
“Kau melamun?” suara khas seorang lelaki yang sangat dikenalnya membuat Kayana menatap sumber suara.
“Apakah keluarga lelaki itu menganggumu lagi, atau keluargamu?”
Lelaki bermata biru tengah berjalan masuk ke dalam ruang prakteknya, dengan jas hitam nan elegan, Kayana tersadar kalau dirinya tidak mendengar lelaki itu berjalan hingga telah ada di ruang kerjanya saja.
Sadewa duduk santai, sangat tampan dengan lekukan garis rahang yang tegas.
“Ayah, ayah menelepon semalam.” Kayana bersuara dengan wajah yang kembali fokus pada pemandangan gedung-gedung di seberang sana.
“Bagus.” Jawab Sadewa santai.
“Ayah membicarakan tentang pernikahan.”
“Bagus,” Lagi jawaban yang terdengar santai.
“Bagus apanya?” kesal
“Berarti ayahmu menyukai aku.” Senang.
“Hah?’ kaget. “Tunggu..tunggu dulu! Apa maksud anda?” berjalan ke arah Sadewa, berdiri penuh tanda tanya.
__ADS_1
“Jangan bilang anda yang mendatangi ayah?”
Sadewa diam atas pertanyaan Kayana tetapi, ada senyum yang penuh keyakinan di suduh bibir tipisnya.
“Anda sudah gila?” Frustasi.
“Loh, akukan hanya menjalankan tugasku.” Tanpa dosa.
“Tugas?” setengah berteriak. “Anda mau apa sebenarnya, hah? Anda…..,” menghembuskan nafas kesal. Terduduk di kursinya, menutup wajah dengan kedua tangan dan menggeleng pelan. “Ada keterlaluan.” Berusara pelan.
Sadewa menatap Kayana, entah kenapa ada perasaan tidak suka di dalam hatinya melihat Kayana menutup wajah. Kayana marah, atau lebih tepatnya kecewa, dan Sadewa tahu, kekecewaan Kayana itu ditujan padanya.
Ah…kenapa malah seperti ini? Ada rasa bersalah dalam hatinya.
Mungkin Sadewa memang salah. Atau mungkin Sadewa memang sedikit keterlaluan.
**********
“Besok temani aku ke Kota Y! Perintah Sadewa pada Martin.
“Kota Y di Negara N maksud kakak?” Martin yang sedang menutup file terakhir di atas meja kerja Sadewa langsung menghentikan aktifitasnya.
“Ya,” jawab Sadewa singkat.
“Urusan penting!”
“Apa?” Penasaran.
“Sudah, kau akan tahu juga besok! Siapkan segalanya, jangan lupa bawa buah tangan dan juga beberapa macam hadiah untuk sorang lelaki berusia lima puluhan, perempuan juga berusia lima puluhan dan seorang gadis muda yang masih berusia dua puluhan!” memberi perintah.
“Kakak mau ngapain sih?” semakin penasaran.
“Pagi-pagi sekali kita berangkat! Aku ingin kembali ke sini disiang hari.” Bukan menjawab, Sadewa malah memberikan perintah baru.
**********
Satu jam empat puluh tujuh menit penerbangan, akhirnya pesawat yang dinaiki Sadewa mendarat mulus di Kota Y. Dan perjalanan Sadewa pun dilanjutkan, bersama Martin dan seorang supir, Sadewa akhirnya sampai di sebuah rumah. Rumah dengan halaman sangat luas, ada pohon mangga serta jambu air di sana, sedang berbunga. Ada pekarangan dengan aneka bunga, menenangkan sekali, sangat asri.
Sadewa turun dari mobil mewahnya, memandangi rumah yang bukanlah kategori mewah seperti istana Britanianya tetapi, rumah itu bukan juga rumah sederhana. Elegan dan nyaman, Sadewa tersenyum dengan pemandangan di depannya.
Dari posisinya berdiri, Sadewa melihat seorang lelaki separuh baya dengan rambut yang mulai bercampur putih dan hitam. Lelaki itu sedang mengelap sebuah motor matik, sedang fokus dengan kegiatannya.
“Permisi Bapak.” Sadewa menyapa ramah.
“Ohhh..iya,” seketika menyudahi kegiatannya dan beralih pada Sadewa. Ada tatapan penuh tanda tanya, lelaki itu terlihat menilai Sadewa lama.
__ADS_1
“Iya, tuan?” kembali bersuara, gagal mengenali Sadewa.
“Maaf saya menganggu Bapak,” senyum tidak lupa disematkan disudut bibirnya. “Apa benar ini rumah Bapak Sulaiman Dipraja?”
“Iya benar tuan, itu saya.” Masih belum bisa mengenali si tamu. “Maafkan saya, tetapi saya sungguh tudak kenal pada tuan.”
“Saya Dewa, Sadewa.” Sopan Sadewa mengulurkan tangan, dengan penuh kesopanan Sadewa pun mencium punggung tangan lelaki paruh baya itu.
“Ehhh…,” tidak menyangka kalau si tamu akan begitu sopan, takjub. “Tuan ini siapa?”
“Dewa, Bapak panggil saya, Dewa saja.” Tersenyum. “Saya calon suami putri sulung Bapak.”
“Hah?” semakin kaget. “kamu dan……?” sulit berbicara, lebih banyak tidak percaya.
Dan Sadewa, menganggukkan kepalanya tenang.
“Masuk nak…ayo kita masuk.” Mengajak Sadewa dengan hati yang penuh tanda tanya. Tidak percaya.
“Duduk nak Dewa, silahkan duduk,” mempersilahkan. “Anak yang ini,” melihat pada Martin. Melihat sosok lelaki yang mungkin usianya tidak terlalu jauh dengan Sadewa, yang tadi memasang ekspresi sama terkaget-kagetnya dengan dirinya saat Sadea menyebutkan kata calon suami.
Sadewa duduk, diikuti Martin. Sungguh, Martin sangat berharap bisa mengguncang keras tubuh Sadewa sambil mengajukan banyak pertanyaan. Calon suami? Martin tidak percaya. Dalam hatinya bertanya-tanya, apakah ini rumah keluarga Melani?
“ini Martin, adik sekaligus juga pegawai saya.” Memperkenalkan Martin.
“Maaf kedatangan saya tidak pada waktu yang tepat. Tanpa memberi kabar dan tanpa mengajak calon isteri saya.” Merasa situasi cukup tenang, Sadewa mulai berbicara. Padahal, Sadewa sangat tahu tidak ada kata tenang di dalam diri lelaki paruh baya yang sedang duduk persis didepanya itu.
“Sejujurnya, bukan masalah kedatanganmu yang tanpa kabar yang membuat Bapak terlalu kaget.” Merasa yakin kalau lelaki dihadapannya itu jujur, Bapak mulai merubah cara bicaranya. “Bapak tidak pernah mendengar tentang namamu di sebut oleh anak Bapak. Tidak dulu, tidak pula nyaris dua bulan dia di rantau. Inilah yang sangat membuat Bapak kaget.”
“Mungkin karena usia kebersamaan kami yang tergolong masih sangat cepat, jadi Kayana memutuskan belum mau bercerita pada Bapak dan Ibu.”
“Apa… Kayana?” Spontan Martin berucap.
“Kak, kau sidah gila ya?”
“Tutup mulutmu,” setengah berbisik dengan mata melebar, Sadewa mencoba membuat Martin diam.
“Jadi, anak ini juga tidak tahu?’ Ayah Kayana, Bapak Sulaiman yang sedang duduk didepan Sadewa bertanya heran pada Martin. “Tapi, anak ini, nak Martin ini adik nak Dewakan?”
“Iya Pak, saya Martin, Bapak. Saya Sekretarisnya kak Dewa.” Memperkenalkan diri kembali.
“Dan sebagai adik, saya tidak tahu kalau hari ini kak Dewa akan membawa saya kesini.” Memberi tatapan tidak suka.
“Ada apa ini sebenarnya nak?” kembali ayah Kayana mengajak Sadewa berbicara.
“Iya benar, ada apa ini kak?” Martin pun menuntut penjelasan.
__ADS_1