
🌹🌹🌹
 
Di waktu yang sama dengan tempat berbeda.
Matahari sudah tenggelam diperaduan, membiarkan malam hadir untuk mengantarkan bulan menjadi penerang bagi sebagian penduduk belahan bumi ini.
 
Sejenak kita tinggalkan sosok gadis, yang merupakan model terkenal masih menangis pilu di apartemennya, karena perasaan marah dan tidak terima selalu menjadi nomor dua dalam kehidupan sang kekasih, Sadewa Putra Britania pewaris kekayaan keluarga Britania, yang entah berapa jumlah triliunnya andai di hitung dalam nominal mata uang negara ini.
 
Kita beralih sejenak ke Kayana Zhafira, si dokter spesialis anak yang cantik dan lembut, pada sebuah rumah mini malis yang berlimpah kasih sayang, di sebuah Kota yang jaraknya sangat jauh di seberang sana. Dokter muda ini baru saja selesai mandi, terduduk di atas ranjangnya dengan memeluk lutut. Udara dingin, di luar hujan badai, Kayana memilih memakai baju hangat hasil rajutan sang ibu tersayang. Baju hangat berwarna biru muda dengan topi berjambul di bagian kepala. Kayana termenung mengingat rangkaian peristiwa tadi sore.
 
***************
“Maaf saya terlambat datang nyonya “. Kayana berdiri di depan nyonya Ratna Bram Kurnia, yang duduk dengan gelas teh didepannya.
 
“Ooo, tidak masalah “. Melihat ke arah jam tangan mewah yang melingkar indah di pergelangan tangan kirinya. “Kau belum terlambat. Saya yang memang sengaja datang cepat. Saya ingin menikmati matcha “. Bertutur kata dengan sikap angkuh, memamerkan teh hijau di depannya.
 
Ah, kenapa setiap bertemu nyonya harus selalu diawali dengan usaha menyombongkan dirinya dan berakhir dengan merendahkan aku. Membatin lelah.
Belum apa-apa Kayana sudah merasa lelah lahir dan batin dalam berhadapan dengan wanita paruh baya yang merupakan ibu kandung kekasihnya itu.
 
Di dalam amplop itu ada tiket pesawat, uang lima juta dan rekomendasi dari Rumah Sakit milik almarhum suami saya. Kau ambil itu, dan pergi ke alamat yang sudah saya siapkan. Kau akan mulai bekerja di sana dua hari lagi !”
 
“Apa dasar nyonya memindahkan saya dari Kota ini ?” Menatap langsung sang nyonya sombong. “Ini Kota kelahiran saya dan di sini kehidupan saya. Kenapa nyonya selalu saja berhak mengatur jalan hidup saya ?” Geram.
 
“Sepele saja !” Berbicara acuh sambil menyeruput teh hijau pelan, kemudian meletakkan gelas kembali ke tatakannya dan membalas tatapan Kayana dengan sikap biasa, merendahkan. “Pertama, supaya kau menjauh dari anak tunggalku. Kedua, agar saya mudah menikahkan Tio dengan jodoh pilihan saya, saat kau sudah menyingkir jauh. Dan ketiga, saya selalu terserang diare saat mendengar Tio menyebut namamu di dalam rumah megah kami. Kau itu kuman, tidak sehat bagi kehidupan keluarga kami yang kaya. Jadi, menyingkirkanmu sejauh mungkin adalah hal terbaik, tahu !”
__ADS_1
 
“Nyonya Ratna, saya tidak pernah berharap masuk ke dalam kehidupan keluarga nyonya yang kaya itu ! Justru anak nyonyalah yang selama ini mengejar-ngejar saya “. Membicarakan suatu fakta dengan lantang.
 
“Nah, karena itu, itu “. Masih berbicara dengan sikap malas, sangat senang merendahkan Kayana. “Kau harus pergi jauh dari hidup anakku !” Berbicara dengan santai, bahkan sempat memberikan Kayana senyuman dengan maksud semakin memojokkan Kayana. Nyonya Ratna tidak berniat memikirkan bagaimana perasaan Kayana saat ini.
 
“Kenapa, kenapa harus saya yang pergi ? Dulu, saat saya khoas nyonya membuat saya pergi jauh, nyonya dengan tidak berperasaan mengatur semua itu terhadap diri saya. Kemudian, saat saya intersif, nyonya juga mencampakkan saya ke daerah antah barantah. Sekarang apa lagi, masih kurang kurangkah nyonya membuat hidup saya susah ? Nyonya sudah berkali-kali mencampuri kehidupan saya “. Setengah berteriak, amarah di dalam hatinya sudah penuh. Wanita paruh baya yang duduk anggun di depannya itu sanggatlah kejam pada dirinya. “Asal nyonya tahu, saya berusaha keras untuk menjadi seorang dokter semua demi membahagiakan kedua orang tua saya. Lantas, apa gunanya kalau saya jauh dari mereka ?”
 
“Hey “. Menunjuk wajah Kayana dengan telunjuk kirinya.
 
“Tentu saja kau yang harus pergi jauh ! Masa iya anak tunggalku yang pergi ? Lagi pula, kalau kau masih di sini, Praditio akan selalu mengejarmu, akibatnya Praditio akan mengabaikan perintah saya “. Berbicara dengan bibir dimiringkan ke kiri, sengaja meremehkan Kayana. “Lagi pula status sosia kita jauh berbeda, jadi saya bebas mau berbuat apa saja pada rakyat menengah kebawah seperti kamu! Dan kau, tentu saja wajib patuh pada perintah saya !”
 
“Sekarang terserah padamu, mau patuh pada perintah saya atau mencoba melawan kehendak saya ? Yang jelas, saya tidak pernah ragu untuk menghancurkan keluarga miskinmu itu satu persatu, hingga dikemudian hari kau akan menyesal seumur hidupmu karena sudah berani membantah dan melawan saya !” Memberi ancaman.
 
 
“Hahaha...”, tertawa bangga. “Syukurlah kalau kau tahu aku bukan manusia, hahaha...!” masih sempat-sempatnya berbicara dengan tawa senangnya. “Ternyata otak kecilmu itu ada manfaatnya juga ya, bisa di pakai berpikir rupanya ? Kalau kau berani melawan saya, maka kau sudah siap menangguh segalanya ! Kau dan keluargamu akan saya buat hancur !” Lalu, nyonya Ratna mengambil selembar tisu, meremasnya dengan sekuat tenaga, membuat Kayana semakin geram.
 
“Lagi pula, untuk kepergianmu kali ini tidak akan selama sebelumnya, hanya enam bulan saja ! Di sana juga kau tidak akan hidup di kolong jembatan. Saya sudah pastikan kau akan mendapatkan rumah dan mobil dinas. Setelah itu, setelah lewat enam bulan kau boleh kembali ke sini. Dan, saya akan memberi rekomendasi bagimu untuk menjadi dokter di Rumah Sakit manapun. Saya bisa atur itu !” Kembali bersikap serius. Sedang Kayana, memandangi si nyonya dengan penuh tanda tanya.
 
“Heh, dengarkan dengan otak kecilmu itu ! Enam bulan lagi, Praditio akan menikah dengan wanita yang telah saya siapkan untuknya. Menantuku itu, cantik, anggun, lulusan luar negeri. Dan yang paling penting berasal dari keluarga selevel dengan kami. Orang kaya ya cocoknya bersama orang kaya !” Memberi tatapan merendahkan lagi. “Saat ini, jodoh Praditio sedang menyelesaikan urusan bisnisnya di negara sakura sana, dan kembali enam bulan lagi. Saya ingin, kau pergi jauh dari kehidupan Tio sampai dia menikahi wanita itu ! Setelah itu, saya izinkan kau kembali ke sini !”
 
Kayana terdiam, air mukanya berubah tampak sedih.
 
__ADS_1
“Biasa saja wajah jelekmu itu “. Mencibir Kayana. “Saya ini orang baik, saat kau kembali ke sini enam bulan nanti, saya akan membersihkan nama ayahmu dari fitnah yang saya karang dulu ! Saya pastikan semua masalah akan selesai selamanya. Ibumu akan aman dan satu lagi, masa depan adikmu tidak akan saya ganggu. Dia akan baik-baik saja !” Tersenyum bangga. “Serta sebagai bonusnya, kau boleh menyebutkan nama Rumah Sakit terbaik di sini, saya jamin kau akan memiliki jabatan bagus di Rumah Sakit itu !”
 
“Nyonya yang terhormat “. Kekesalan Kayana kembali ke ubun-ubun kepalanya. “ Saya sama sekali tidak butuh semua itu, saya sudah memiliki pekerjaan di sini !” Berusaha menahan diri untuk tidak mengapai jemari tangan kiri sang nyonya sombong dan memukulnya keras.
 
“Pekerjaan di Klinik kecil ? Cih, dasar jiwa miskin ya, payah. Itu saja sudah bangga “. Semakin senang menghina.
“Terserah nyonya mau bilang apa, saya tidak peduli “. Menarik nafas dalam dan menghembuskan nafas perlahan. Sungguh lelah perasaannya saat ini, Kayana sangat ingin menjauh dari si wanita sombong dihadapannya. “Saya permisi nyonya “. Berdiri dan berbalik badan.
 
“Hey, kau gadis kumuh “. Sengaja bersuara keras, memancing mata pengunjung lain di ruangan itu agar memandangi Kayana.
 
“Kau dengar baik-baik ya ! Saya tidak mau ambil pusing kau peduli atau tidak. Tetapi, sekedar kau ingat saja, saya bisa menghancurkan hidup ayah dan ibu tercintamu, serta adik kecilmu itu dalam sekejap !” Berbicara penuh ancaman.
 
“Kenapa, kenapa nyonya sejahat itu pada saya ? Apa salah saya ?” Kemarahan Kayana sudah sampai di ambang batas, berbagai rasa muak dan benci sedemikian rupa terhadap si nyonya sudah tidak bisa di bendung lagi.
 
Lima tahun berpacaran bersama Praditio Bram Kurnia, tidak sehari pun dilalui Kayana dengan sikap manis si nyonya kaya itu. Ibu Ratna Bram Kurnia selalu pandai berbicara, menyusun sandiwara terbaik saat Kayana sedang bersama Praditio. Maka, si nyonya kaya ini langsung bersikap bagai ibu yang mencintai anaknya. Kayana diperlakukan seperti anak sendiri, baik, dan begitu banyak cinta untuknya. Dan tentu saja, Kayana akan memanggil si nyonya dengan panggilan mama, sama seperti cara Tio memanggil ibunya.
 
Setelah itu, sedetik saja Praditio melangkah, berbalik badan meninggalkan Kayana. Si nyonya langsung berubah, sombong dan memandang rendah Kayana. Jijik dengan tampilan Kayana yang biasa saja, hingga tidak sudi mendengar kata Mama keluar dari bibir mungil gadis berambut panjang ini.
 
“Nyonya, kau harus memanggil saya nyonya. Kita itu beda level, mana pantas mulutmu itu memanggil saya mama. Bisa alergi saya mendengarnya. Ihhh, menjijikkan banget “. Kayana masih ingat benar setiap susunan kata tersebut. Perdana dirinya berjumpa wanita yang melahirkan dan membesarkan kekasih hatinya itu. Kayana sangat tahu, kalau wanita yang mulai memasuki usia senja ini amat pandai bersandiwara. Bagai bunglon dengan berbagai sisi warna, satu sisi begitu lemah lembut memperlakukannya, dan sisi satunya lagi jahat dengan jiwa sombong akan harta kekayaan keluarga besar Bram Kurnia.
 
Betapa di sayangkan, Praditio hanya tahu satu sisi mamanya saja, hanya sisi baik yang penuh kepura-puraan saja. Bahwa sang mama setuju pada hubungan Kayana dengan Praditio, tanpa pernah tahu di belakang Praditio, sang mama sangat bahagia bisa merendahkan sosok Kayana sesuka hatinya. Bukan sekali, tetapi berkali-kali hingga membuat Kayana mulai lelah. Selalu menahan hinaan dengan intonasi merendahkan. Kayana mulai lelah dengan percintaan yang terasa menyakitkan.
 
“Gadis miskin “. Nyonya Ratna sedang menyusun kata-kata baru untuk menghinakan Kayana. “Kau mau tahu kenapa saya bisa sejahat ini terhadap kamu ?” Tersenyum penuh niat melecehkan. “Semua tidak lain karena kau bukan pasangan serasi buat anakku, kau tidak pantas jadi menantuku, dan keluargamu berasal dari kalangan menengah ke bawah, miskin “.
__ADS_1