
🌹🌹🌹
Kayana diam, berdiri di depan kaca besar di belakang meja kerjanya. Melihat jauh ke arah deretan gedung tinggi di sebarang Rumah Sakit. Pikirannya melayang jauh, hatinya mulai ketakutan. Baru satu bulan, setelah pergolakan batin luar biasa, sekarang Kayana mulai bisa membiasakan diri dengan lingkungan barunya. Sudah mulai bisa menerima segala sikap ibu dari lelaki yang dicintainya. Kayana perlahan menerima semua ini, tabah di buang dan tabah membiarkan diri menjauh dari keluarga yang sangat di sayanginya. Berusaha bangkit dari rasa sakit atas sikap Pradatio padanya, Kayana berhasil menegakkan kepalanya dan melangkah maju, tinggal lima bulan lagi, hatinya sudah kuat.
Tetapi, semua itu berbanding terbalik dalam hitungan detik. Nyonya yang telah membuang dirinya ke sini baru saja marah padanya, menelepon dengan segala ancaman yang diteriakkan keras ketelinganya.
Kayana tidak paham, dalam ingatannya dia sangat patuh pada semua perintah nyonya. Jangankan menghubungi Praditio, memikirkan lelaki itu saja sudah tidak dilakukannya lagi dalam kurun waktu dua minggu ini.
Lantas, apa salah dia?
Kayana cemas, ancaman nyonya bukanlah isapan jempol saja. Semua pasti akan dilaksakannya, Kayana sudah sangat kenal dengan wanita kejam itu. Namun, tetap saja Kayana belum bisa menemukan apa yang telah terjadi.
“Kak, kakak sibukkah?”
Lamunan Kayana membuyar, ada notifikasi pesan masuk di handphonya. Kayana membaca sebuah pesan singkat dari adik kecil kesayangannya.
Mayang, ada apa?
Tumben menchat aku. Kenapa gak nelepon langsung?
Dalam hati bertanya setelah membaca pesan singkat sang adik semata wayang.
Kayana segera menekan nomor telepon sang adik, menunggu panggilannya di terima.
“Kak.” Terdengar suara Mayang di sana.
“Kenapa dek? Apa kabar kamu dan Ayah, bunda di sana?” menjawab cepat.
“Ayah dan bunda sehat kak, dan mereka gak tahu aku telepon kakak.”
“Kenapa, kamu ada apa?”
“Kak, aku..aku..” ragu berbicara.
“Iya, kamu kenapa?” mulai merasa ada yang tidak beres.
“Aku, tadi. Tadi aku di panggil pihak perusahaan tempat aku magang.” Berbicara masih belum jelas.
“Terus?”
“Mereka bilang, aku cari tempat lain saja buat magang. Mereka kasih waktu aku dua hari.” Suara pelan, sedih.
“Kak, hiksss.” Ada isakan di ujung telepon.
__ADS_1
“Gimana, maksudnya gimana Mayang? Coba jelaskan sama kakak!” hati Kayana sangat yakin sesuatu telah terjadi sesuatu pada adiknya.
“Aku juga gak tahu kak, tahu-tahu di panggil dan di berikan surat oleh bagian personalianya. Aku hanya di kasih waktu dua hari kak.” Tidak berdaya.
“Dasarnya apa, kamu sudah berbuat apa di sana?”
“Aku gak tahu kak, hiksss.” Sedih karena merasa tidak melakukan kesalahan. “Aku benar-benar gak tahu, kak……kakak…hikssss.”
“Jadi, kalau gak ada masalah kenapa bisa seperti ini?” bingung.
“Pihak perusahaan hanya bilang, Mayang silahkan kamu cari tempat magang baru. kamu tidak cocok di sini! Dalam waktu dua hari kamu harus keluar dari perusahaan!” menjelaskan situasi yang dihadapinya tadi.
“Aku, aku kaget kak. Aku tanya apa dasarnya, dan jawaban mereka hanya, aku gak cocok di perusahaan mereka.”
“Kak, bagaimana ini? Padahal sudah satu bulan berjalan. Kalau aku di keluarkan dengan cara seperti ini gimana nilai aku? Kemana aku harus cari perusahaan baru buat magang? Mereka mana mau terima aku, kak. Mereka pasti baca sejarah magang aku. Kak? Hiksss, hiksss…” menangis, panik, sedih, semua bercampur satu.
Ada apa ini?
Ini terlalu kebetulan sekali! Apa lagi setelah satu bulan berlalu. Apa jangan-jangan ini ulah nyonya? Ini isi ancamannya tadi?
Kayana berpikir lama.
“Kak.” Mayang masih belum mendengar suara sang kakak. “Gimana nasib aku?”
“Tapi..tapi….hikssssss”
“Kakak akan cari tahu tentang semua ini. Kamu tenang saja di sana! Gak boleh nangis, apa lagi di depan ayah dan bunda.!
“Caranya? Kakak mau gimana, kakak saja jauh di sana.”
Iya, benar.
Hati Kayana mengiba, rasa tidak berdaya dan tidak berguna menghinggapi dirinya. Sang adik memerlukannya dan dirinya sedang tidak di sana, di dekatnya.
“Masalah itu kamu jangan pikirkan, pokoknya jaga sikap di depan ayah dan bunda, gak boleh buat mereka khawatir!”
Janji Kayana yang dia sendiri tidak tahu apakah bisa terlaksana apa tidak. Yang jelas sekarang menenangkan adiknya dulu, dan dirinya pun juga harus berpikir tenang, Kayana harus berusaha mencari solusinya.
**********
“Mbak, pulang yuk.” Diandra, si perawat asisten Kayana mengajak wanita cantik ini untuk pulang.
“Kamu duluan aja Di, aku masih ada yang harus dikerjakan.” Tolak Kayana.
__ADS_1
“Apaan mbak?” duduk memeperhatikan Kayana yang terlihat sedang memikirkan sesuatu. Wajahnya nampak lelah tetapi, bukan lelah karena pekerjaan. Ada guratan sedih terlukis di wajah cantik itu, Diandra bisa menebaknya.
“Bukan apa-apa Di. Hanya ada sesuatu saja.” Menolak jujur.
“Ya udah, aku bantu kamu dech.” Tidak berniat meninggalkan Kayana.
“Gak usah Di.” Tetap menolak.
“Tenang mbak, aku maksa.” Tersenyum tanpa dosa.
“Astaga Di.” Kesal, nada suara tinggi
Apa, apa yang sudah aku lakukan? Aku kenapa malah kesal sama Diandra.
“Maaf Di.” Sadar tidak selayaknya mengarahkan kekesalannya pada Diandra.
Sementara itu, Diandra yang sesaat tadi terpelongoh heran dengan sikap Kayana padanya, segera tersenyum kembali. Menghilangkan ekspresi kagetnya dan mencoba santai lagi.
“Sini!” tunjuk Diandra agar Kayana mendekat padanya.
Kayana patuh, berjalan ke arah Diandra. “Maaf ya aku malah gomong dengan nada tinggi sama kamu.” Ucap Kayana setelah berdiri di depan Diandra.
“Boleh aku tahu, mbak kenapa?” memegang jemari Kayana dengan senyum terbaiknya.
“Aku ada sedikit masalah.” Tertunduk
“Sama siapa?” mencari tahu.
“Bukan masalah aku persisnya tetapi adik aku.”
“Boleh aku tahu mbak lengkapnya?” masih berusaha mencaritahu.
“Bukan apa-apa kok.” Tidak mau jujur.
“Ya udah, kalau memang tidak bisa cerita ti….”
“Bun……”
Suara teriakan anak kecil dengan penuh keriangan mengalihkan mata Kayana, mencari tahu siapa gerangan yang begitu semangat di depan pintu kerjanya. Dan suara teriakan itu pun membuat Diandra berhenti bicara. Kalimatnya gagal diselesaikan. Dan Diandra pun melihat ke arah Kayana memandang di sana.
“ Bunda.” Suara pelan yang terdengar saat ini. Hilang sudah semangat membara dengan penuh keriagan tadi, saat melihat wanita yang di panggilnya bunda sedang berdiri di sana. Saat melihat tangan Kayana berada dalam genggaman tangan seorang pria.
“Quinsha.” Senang melihat gadis kecil yang dirawatnya beberapa hari lalu, Quinsha nampak sangat sehat.
__ADS_1