Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan

Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan
Janji Kelingking


__ADS_3

🌹🌹🌹


“Shasa mau di sini saja bobokmya, gak mau pulang bunda”. Quinsha sedang merenggek manja pada Kayana. Semua hasil pemeriksaan labor, hingga perkembangan kesehatan Quinsha menunjukkan kalau gadis yang dalam tiga hari ini begitu lancer memanggil Kayana dengan kata bunda, sudah sehat seperti sedia kala.


Tentu saja, sebagai dokternya Quinsha dengan suka cita Kayana memberitahukan kabar ini pada pasiennya, pada Martin dan pada Sadewa pastinya. Quinsha sudah bisa pulang, sudah bisa meninggalkan Rumah Sakit dan kembali ke rumah.


Ternyata, si pasien kecil Kayana tidaklah senang dengan kabar kesehatannya sudah pulih. Alasannya kenapa? Jelas karena Kayana.


Quinsha keberatan kalau berjauhan dengan Kayana, si anak kecil yang belum genap berusia 5 tahun ini terlanjur bahagia hidup bersama Kayana. Apapun yang dilakukannya da Kayana, dari bangun tidur hingga tidur lagi bersma Kayana. Jelas Quinsha merasakan damai bisa memiliki Kayana dalam hari-harinya, Quinsha merasakan perasaan kasih sayang seorang ibu yang telah lama tidak dirasakannya, sangat lama hingga Quinsha lupa seperti apa ranya disayangi oleh seorang ibu.


“Sha, kalau sudah sehat mana boleh bobok di sini lagi”. Sadewa mencoba mengajak Quinsha berbicara.


“Kalau begitu, Shasa masih sakit aja deh ayah”. Jawab Quinsha seenaknya.


“Ya mana bisa dong sayang, orang sehat di paksa sakit lagi! Itu boong namanya, dan Shasa tahukan kalau boong itu dosa? Tuhan bakalan marah sama kita kalau kita boong”. Nasehat Sadewa.


“Tapi yah, kalau Shasa pulang bunda gimana?” cepat-cepat memegang tangan Kayana.


“Bunda akan bekerja seperti biasa dong, kan banyak orang-orang yang harus diselamatkan sama bunda!” kali ini Martin yang mencoba berbicara. Martin bisa melihat kalau Sadewa tidak menemukan jawban bagus untuk pertanyaan Quinsha barusan.


“Iya paman, Shasa tahu.” Mata Quinsha menatap pada Martin.

__ADS_1


“Loh, kalau sudah tahu kenapa bertanya juga?” Sadewa mulai tidak sabaran.


“Karena Shasa gak mau pisah sama bunda, shasa gak mau sama ayah, ayah gak sayang sama Shasa. Nanti ayah pasti bawa tante yang jahat itu lagi.” Qiunsha memeluk Kayana.


“Sa….gak boleh seperti itu sama ayah!” Kayana tersenyum pada Quinsha. “Ayah itu sangat sayang sama kamu, Shasa lihat kan selama tiga hari ini ayahnya mana pernah ninggalin Shasa? Ayah selalu ada sama Shasa.”


“Tapi bun…..” uasaha membantah Quinsha.


“Anak baik gak boleh seperti itu. Mana ada anak baik yang gomong seperti tadi.” Kayana mencoel hidung mancung Quinsha. “Shasa sudah sehat, harus disyukuri sayang. Gak ada yang sakit lagi seperti kemaren. Jadi, Shasa sudah bisa pulang, bermain lagi di rumah, bermain lagi sama nenek dan sama bibi. Shasa pasti kangen kan sama nenek?”


Quinsha mengangguk pelan, Kayana bisa merasakan itu.


“Ya sudah, bunda ikut pulang sama Shasa saja.” Bicara tanpa dosa. “tinggal di rumah ayah saja dan jadi bunda Shasa beneran saja!”


“Gimana?” Tanya Quinsha pada Sadewa setelah beberapa saat berlalu dan semua yang ada di dalam kamar itu hanya diam.


“Ayah tidak bisa melakukan itu.” Jawab datar Sadewa terdengar. Begitu datarnya sehingga membuat Kayana masih bertahan diam. Kayana tidak tahu apa sesungguhnya jawaban yang diharapkan akan keluar dari mulut Sadewa. Tetapi, tahu bahwa Sadewa masihlah sosok Sadewa yang di kenalnya selam ini, Kayan pun hanya bisa diam.


“Kenapa tidak bisa, kenapa? Tuhkan Ayah gak sayang sama Shasa. Hiksssss.” Mulai menangis.


“Sa….” Tanpa sadar membentak.

__ADS_1


“Bundaaaaaa, ayah marahin Shasa. Hikssssssss.” Pecah sudah tangisan Quinsha.


“Ayah gak masuk marah Sha, jangan sedih ya.” Kayana memeluk erat Quinsha.


“Benar Sa, ayah gak marah kok sma Shasa.” Kali ini Martin ikut mengiyakan kata-kata Kayana.


“Paman, Shasa mau bunda. Kalau Ayah gak mau baw apulang bunda, Paman saja yang bawa bunda, hiksssss.” Mencoba mengalihkan keinginan pada Martin.


“Paman mau saja sayang tetapi, bundanyakan harus kerja. Apa Shasa gak kasihan kalau ada pasien yang perlu pertolongan bunda, kayak Shasa kemaren itu, dan bundanya gak ada di sini?” mencoba mengelak dengan bahasa paling mudah.


“Nanti kalau bundanya gak banyak pasien, bunda pasti ke rumah lihat Shasa.” Mencoba memberi janji. “Atau mungkin kita bisa ke sini lihat bunda, saat bunda gak sibuk? Iya kan bun?”


“Hah..?” masih belum nyambung dengan situasi sekitar. Keinginan Quinsha yang diungkapkan tanpa ragu pada Martin, sampai jawaban Martin yang jelas sangat mau memenuhi permintaan Quinsha membuat degub jantung Kayana berdebar keras. Kayana sangat senang.


“Iyakan bun, kalau tidak banyak pasien, bundanya pasti main ke rumah Quinsha? Atau Quinshanya boleh kesini main sama bunda?” ulang Martin yang menyadari ada rona merah di pipi Kayana saat ini.


“Ooo, iya dong, pasti seperti paman. Bunda kalau gak banyak pasien pasti akan sering main kerumah Shasa!” mengangguk-angguk untuk mendukung ucapannya barusan.


“Beneran? Janji?” Quinsha sudah berhenti menangis.


“Buat kesayangan bunda, janji!” menangkat kelingking kanannya dan menautkannya pada kelingking kanan Quinsha. Membuat simpul berjanji.

__ADS_1


“Ayah dengar itu?” membanggakan diri pada Sadewa. “Bunda sudah janji sama Shasa.”


Sadewa hanya acuh, tidak menjawab apa lagi melihat pada sosok Kayana dan Quinsha yang sedang tertawa senang. Hanya saja, saat Maftin berjalan mendekat pada gadis kecilnya dan dokter penyelamat anaknya, Sadewa sejujurnya tidak suka. Tidak suka pada apa? Entahlah, yang Sadewa tahu dia tidak suka.


__ADS_2