Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan

Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan
Kondisi Terbaru Quinsha


__ADS_3

🌹🌹🌹


 


Putaran waktu sudah menyentuh malam hari, mentari yang sedari pagi gagah bersinar dan menerangi bumi tercinta ini telah beranjak pergi. Sudah jam delapan malam waktu kota besar tempat Kayana sedang menatap penuh kasih pada gadis kecil yang masih menutup matanya itu. Sesekali, Kayana mengusap lembut kening si imut Quinsha, memegang tangan kecil itu dan mendekatkan pada bibirnya. Mencup penuh kasih dan megelus penuh sayang, entah kenapa ada rasa sedih mendalam pada diri Kayana saat melihat gadis kecil yang baru sekali ditemuinya itu terbaring lemah.


“Sayang.” Panggil Kayana dengan bibir mengecup punggung tangan Quinsha.


Sementara itu, di salah satu sofa nyaman di ruang rawatan Quinsha, dokter Hadi terduduk dengan mata sibuk memperhatikan gerak-gerik Kayana. Cara Kayana membelai Quinsha menimbulkan rasa sejuk di hatinya. Ada rasa kasihan melihat sosok Kayana yang memandangi wajah Quinsha, walaupun kondisi Quinsha belum membaik.


Di dalam ruangan rawatan Quinsha ini tidak hanya dokter Hadi yang nampak kasihan pada Kayana dengan segala kesedihannya dengan Quinsha yang belum tersadar.


Ah..kenapa jadi seperti ini Dewa? Tanya dokter Hadi di hati kecilnya.


Bi Nun pun sampai mengela dada, tersentuh dengan rasa sayang Kayana pada anak asuhnya. Mata tua si bibi berhias kaca, ada bulir-bulir bening tersusun di sana, siap jatuh dan siap memenuhi sudut matanya. Terhenyuh, bibi terus mengelus dadanya.


Nona ini baik sekali, apakah dia dewi yang di kirim oleh Tuhan untuk keluarga besar ini?

__ADS_1


Dan di luar kamar rawatan Quinsha, Sopir pribadi yang sekaligus menjadi pendamping bibi Nun dalam merawat dan mengasuh Quinsha sedang terduduk sendiri. Penuh sudah isi hatinya, ada rasa sesal mendalam karena tidak berkeras dengan mendampingi nona kecil mereka di Mall tadi. Membiarkan saja bibi Nun sendiri bersama kekasih sang tuan muda, bersama wanita yang dirinya sendiri tidak kenal. Dan akhirnya, inilah yang terjadi.


Dengan punggung lelah bersandar di sandaran kursi, Janu memijat pelan kepalanya berkali-kali. Sambil menghembuskan nafas dalam dan terus menyesali diri.


Hingga……..


“Tuan,” Janu mendadak berdiri dari posisi duduknya. Menyapa hormat pada lelaki muda yang sangat tampan yang merupakan tuan mudanya.


“Siapa yang menemani Quinsha?” tanya Sadewa pada Janu.


Sadewa hanya mengangguk pelan, dan mendekati pintu kamar rawatan Quinsha. Janu pun bergegas membukakan pintu tersebut, dan mempersilahkan sang tuan masuk.


Pintu kamar rawatan terbuka, menghadirkan Sadewa dengan sibuk memandang sekitarnya. Membuat semua mata di dalam kamar tersebut memandang pada sosok tingginya.


Sadewa berjalan lebih kedalam, langsung mengarah ke ranjang Quinsha. Matanya tidak lepas dari wajah pucat Quinsha, pucat dengan alat bantu nafas di hidungnya.


“Nak?” Panggil Sadewa di tepi ranjang Quinsha, mata sedih dengan ekspresi yang sulit di tebak oleh siapa saja yang ada di dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


Kayana sedang di kamar mandi, tidak mengetahui sosok lelaki angkuh yang gemar memarihnya itu sedang memegang tangan Quinsha. Hilang wajah angkuh Sadewa, tidak ada sedikitpun ekspresi sombong yang selama ini ditunjukkandari seorang lelaki penguasa. sekarang hanya ada kesedihan, Sadewa saat ini pasti sedang sangat berduka.


“Nak, ini ayah. Buka matanya sayang.” Bujuk Sadewa pada tubuh pucat Quinsha.


“Maaf, maafkan ayah sayang.” Sekarang Sadewa mengenggam jemari kecil Quinsha, meletakkan dipipinya, Sadewa sadar tangan kecil itu terasa dingin.


“Masih ingat rupanya kau sama anak itu?” Dokter Hadi mendekati Sadewa, ada suara kesal di sana.


“Hadi, kenapa bisa seperti ini?” Tanya Sadewa tidak berdaya.


“Kenapa tanya aku? Inikah semua berkat keegoisanmu!” Jawab dokter Hadi sesukanya. “Bunda sudah bilang dari awal, acara pertemuan itu bukanlah hal yang bagus. Martin sudah melarangmu dan kau, saat kau bertanya padaku, akupun sudah melarangmu. Tetapi kau terlalu angkuh untuk membuktikan perasaanmu sendiri. Sekarang, silahkan kau nikmati hasil perbuatanmu!” Cerca Hadi marah.


“Aku menyesal, aku menyesal.” Sadewa semakin melekatkan jemari dingin nan kecil itu di pipinya.


“Harus, kalau kau tidak menyesal juga. Bersiaplah untuk kehilangan Quinsha!” Dokter Hadi terus saja berbicara sesuka hatinya. Menluapkan kekesalannya pada Sadewa atas apa yang menimpa Quinsha.


Dan Sadewa terduduk lemas, duduk di kursi yang lama di pakai Kayana, hanya fokus pada Quinsha dan selalu ke arah Quinsha.

__ADS_1


__ADS_2