
🌹🌹🌹
“Apa, kenapa ini ?” Kayana tidak mengerti arti pembicaraan mereka dan sikap saling tatap para perawat semuanya.
“Sudahlah !” Mengibaskan tangan kanan pelan, Kayana membuat para perawat hanya bisa terdiam dengan mulut mengangga.
“Biar saya langsung keluar “. Berjalan cepat, berlalu tanpa memberi kesempatan para perawat berbicara.
“Aneh, katanya pasien gawat tapi, pasiennya entah di mana ?” Bergumam pelan sambil terus berjalan.
Loh, ini mobil siapa coba ?
Memperhatikan mobil sedan mewah terparkir nyaman di depan teras lobby, Kayana sudah sampai di teras lobby, memperhatikan kanan kiri bingung mencari di mana keberadaan mobil ambulans yang membawa pasien yang tengah di tunggunya.
Nih mobil ngapain coba parkir di sini sih ?
Menggerutu dalam hati saat menemukan keberadaan si mobil ambulans yang tengah terparkir di sisi halaman.
“Kenapa parkir di situ ?” Gumama Kayana sambil mendekat ke arah ambulans. “Ini sopirnya mana ?”
__ADS_1
“Bu dokter, bu dokter..saya di sini “. Si sopir ambulans melambaikan tangan saat menyadari Kayana berjalan semakin mendekat ke arah mobil yang dikemudikannya.
“Loh, ngapain coba di sana ? Bukannya keselamatan pasien di utamakan, ini malah asyik di sana !” Kayana bersuara tegas dalam menghadapi si sopir ambulans yang nampak terunduk diam.
“Kenapa malah diam saja ? Ayo cepat pak, di bawa mobilnya ke sini !” Heran dengan diam seribu bahasanya si sopir ambulans.
“Itu bu, gimana kalau mobilnya tetap di sana, tetapi pasiennya saya dan para perawat dorong ke dalam ?” Berbicara sambil sesekali menatap pada sopir pribadi Sadewa.
“Loh ?” Tidak mengerti. “Sudah tidak udah banyak ini itu ! Ini mobil siapa ? Punya bapak bukan ?” Bertanya pada sopir Sadewa.
“Bukan bu, saya hanya sopir saja. Ini mobil majikan, saya “. Berbicara pelan, takut kehebohan yang mendadak tercipta ini, akan menganggu sang majikan di dalam mobil.
Kayana melangkah dengan cepat, berjalan kembali ke ruang gawat darurat.
“Loh, kok gak ada yang mengikuti aku ya ?” Bergumam. Berhenti berjalan dan memperhatikan koridor kosong di belakangnya.
“Ya Tuhan..ini ada apa sebenarnya ? Kok banyak banget ulah para sopir dan perawat itu ? Mereka itu pengen lihat aku marah kali ya ?” Dongkol bukan kepalang.
“Awas mereka !” Kembali berjalan ke arah teras lobbi. Amarah sudah sampai ke ubun-ubun kepala, siap menghajar si sopir dan perawat yang di nilai melalaikan tugas penting.
__ADS_1
“Boleh jelaskan pada saya alasan Anda tidak mematuhi perintah saya !” Aura amarah di wajah cantik Kayana. Si sopir ambulans mendadak ciut, Kayana nampak menakutkan.
“Ma, maaf bu dokter “. Tergagap takut. Hanya mampu menundukkan kepala karena perasaan bersalah.
“Minggir !” Mendorong si sopir ambulans yang hanya berdiri tertunduk di depannya.
“Bu, ja, jangan bu “. Sopir pribadi Sadewa maju. Seakan mengerti ke arah mana langkah kaki Kayana selanjutnya. Lelaki yang sudah sangat lama mengabdi pada Sadewa ini, berusaha menghalangi Kayana. “Maaf bu dokter, tuan sedang tertidur. Tolong jangan di ganggu “.
“Di sini bukan tempat untuk tidur, kalau mau tidur pergi ke rumah sana atau ke hotel !” Mendorong si sopir yang menghadang Kayana di tepi pintu sedan mewah ini, melebarkan tangannya. Merentangkan tangan selebar mungkin, berusaha menghalangi Kayana.
“Maaf nona, maafkan saya “. Berkeras menahan Kayana lebih keras lagi.
Kayana diam, tidak mau ambil pusing dengan kata-kata permohonan si sopir. Tetap mendorong si sopir, memposisikan lelaki kepercayaan Sadewa ini tergeser dari pintu mobil.
Tanpa permisi, apa lagi melihat siapa gerangan si tuan yang sedang tertidur di kursi bagian belakang mobil. Kayana segera duduk di bagian kemudi, menghidupkan mobil dan mengerakkan mobil ke arah parkiran.
Habislah aku, wafat sudah nyawa ku hari ini.
Mendadak, sopir pribadi Sadewa gemetar ketakutan. Keberanian Kayana membawa sang tuan begitu saja, membuat nyawanya si sopir seakan ingin terbang menjauh dari pada menghadapi amukan sang majikan.
__ADS_1