
🌹🌹🌹
Warna indah mentari pagi sedang memamerkan kecerahannya di pagi ini. Saat separuh penduduk bumi sedang sibuk dengan aktivitas paginya, maka di saat yang sama Kayana pun sedang sibuk mempersiapkan dirinya sendiri. Pagi baru, awal baru, dan Kayana akan menyambut dunia kerja barunya.
Seperti biasa, Kayana tadi menyempatkan diri berolah raga pagi. Lari memutari lingkungan tempat tinggal barunya. Bertemu beberapa ibu-ibu yang sedang asyik bersenda gurau sambil menunggu tukang sayur langganan lewat. Kayana menyapa wanita-wanita paruh baya itu dengan ramahnya, membuat kehebohan bagi sekumpulan orang yang di sapa.
“Anak cantik ini siapa ?”
“Sudah ada yang punya belum ?”
“Ibu punya anak lelaki masih sendiri loh !”
“Cucu ibu kemaren sempat demam dengan gejala.....”,
Dan itulah segelintir pertanyaan yang diberikan oleh para ibu-ibu yang di sapa Kayana, penasaran dengan sosok Kayana dan sibuk menarik perhatian Kayana. Kayana berusaha seramah mungkin meladeni semua pertanyaan pada dirinya.
“Sudah siap non ?” Bi Mar membuyarkan lamunan Kayana di meja riasnya seputar kejadian lari paginya tadi.
“Sudah bi “, tersenyum dan berdiri menghadap ke arah bibi. “Gimana pendapat bibi ?” Membentangkan kedua tangan, meminta bibi menilai dandannya pagi ini.
“Cantik dan........?” Sedang berpikir. “Dan cantik “. Tersenyum bangga.
“Bibi bisa saja “. Kayana tersipu malu.
“Serius non “. Mengangguk cepat. “cantik banget “. Memuji tulus. “Non dengan baju dokternya, di tambah dandanan yang sederhana, menjadi padu padan sempurna “. Mengangkat ibu jari ke depan.
“Hahahaha......bibi bisa banget deh “. Tertawa dengan sikap bibi.
“Kalau gitu sarapan lagi non ?” Ajak bibi kemudian. “Bibi masakin Sandwich gandum dengan isi putih telor buat non “.
“Wah..itu kesukaan Ana, bi “. Nampak senang. “Kok bibi bisa tahu sih ?” Berjalan ke arah pintu kamarnya, tempat dimana si bibi berdiri saat ini.
__ADS_1
“Bibi gituh loh non “. Membusungkan dada, penuh percaya diri. “Hanya dengan menatap mata non, bibi bisa tahu apa kesukaan non “.
“Hahahaha “, Kayana hanya bisa tertawa, tingkah laku dan gaya bicara si bibi sukses membuat tawa Kayana berderai senang.
“Eh...iya non “. Ingat sesuatu tepat di saat menu sarapan Kayana sudah dihidangkan.
“Iya bi, kenapa ?” Mendekatkan gelas jeruk peras ke arah bibir mungilnya, Kayana meneguk isi gelasnya.
“Tadi non digodain ibu-ibu tetangga ya saat lari pagi ?” Tanya bibi penuh selidik. “Non di wawancari mereka ya ?”
Kayana tersenyum, tidak menjawab pertanyaan bibi dan lebih memilih menggigit hidangan yang cukup menggoda di depan dirinya.
“Bibi tuh heran deh sama ibu-ibu komplek, lihat non itu sudah kayak lihat makanan lezat, dikerumuni mereka kan non tadi ?” Bertanya sambil terus memperhatikan Kayana yang jelas nampak menikmati menu sarapan buatan dirinya. “Sudah kayak semut mengerumuni gula saja “. Menggeleng tidak terima. Seperti seorang ibu yang tidak terima anak gadis kesayangannya diganggu orang tidak jelas.
“Ibu-ibu itu hanya mengajukan beberapa pertanyaan saja bi sama Ana !” Bermaksud menyudahi aksi kesal si bibi pada tetangga sekitar.
“Iya, mereka itu bertanya ini itu sama non yang intinya mereka pengen non jadi menantu mereka “. Mendengus kesal. “Begitukan non ?”
“Bibi antar ya non menu makan siang ke Rumah Sakit “. Berhasil, perhatian bibi benar-benar teralihkah. Bibi langsung lupa topik kekesalannya pada ibu-ibu tetangga sekitar.
“Enggak usah bi, Ana nanti makan siang di Rumah Sakit saja. Sekalian Ana mau gabung sama yang lainnya bi “. Menolak halus.
“Ya sudah, bibi gimana baiknya non saja. Tapi, kalau berubah pikiran hubungi bibi ya non “. Berbicara dengan hati yang senang, sarapan buatannya telah habis di santap Kayana.
“Siyap bi “. Mengangguk patuh.
“Bi “, merasa diri sudah siap. “Ana berangkat sekarang ya “. Berdiri dari meja makan.
“Iya non “. Ikut berdiri dan mengantar Kayana ke halaman rumah tempat mobil dinas Kayana terparkir. “Hati-hati ya bawa mobilnya dan nanti yang semangat ya non “. Gaya bicara khas seorang ibu yang melepas anaknya bekerja.
“Siyap bos “. Kayana meletakkan tangan kanannya di sudut kanan pelipisnya, membuat gerakan sedang memberi hormat.
__ADS_1
“Daaaaaa....bibi “, melambaikan tangan sesaat sebelum Kayana memastikan mobil yang disetirnya meninggalkan bibi di teras rumah.
***************
“Nak... “, Syania berdiri di samping Sadewa. Anak lelaki kesayangannya itu sedang memakai dasi yang senada dengan warna celana kerjanya.
Sama halnya dengan separuh penduduk bumi lainnya yang sedang bergelut dengan rutinitas pagi ini. Sadewa pun juga tengah bersiap untuk aktivitas paginya. Pewaris utama Sunjaya Company ini sedang bersiap dengan sentuhan terakhir pada kemeja kerjanya.
“Pagi bunda “, menghentikan aktivitas di kerah kemejanya, Sadewa memeluk sang bunda dan menghadiahkan kecupan selamat pagi di pipi bunda yang mulai dihiasi keriput di sana sini.
“Bunda bantu ?” Berbicara saat Sadewa melepaskan pelukan pada dirinya. Dan Sadewa tersenyum dengan disertai anggukan kepalanya.
“Kamu persis ayahmu, nak “. Dengan gerakan penuh kasih Syania memasangkan dasi anak lelakinya itu.
Sadewa tersenyum, membiarkan sang bunda menyelesaikan tahap akhir dasi di kemeja kerjanya.
“Carilah istri yang bisa membahagiakanmu, nak. Kamu layak untuk bahagia “. Pemasangan dasi selesai, Syania meletakkan kedua telapak tangannya di pipi Sadewa.
“Jalanilah kehidupan berumah tangga, sudah waktunya kamu mengikhlaskan semua dan menjalani hari-hari bahagia bersama istri dan anakmu !”
“Aku bahagia bunda, aku punya bunda dan Quinsha. Itu sudah lebih dari cukup !” Sadewa menatap mata sang bunda dalam. Ada harapan di mata cokelat itu dan Sadewa sangat tahu akan hal itu.
“Dewa, Ayah dan adikmu pasti ingin yang terbaik untukmu ! Dan juga, Shasa butuh seorang ibu, nak !”
“Kalau begitu, apa bunda mau bertemu dengan Melani ?” Menggandeng tangan sang bunda, membawa bunda ke arah meja makan. “Mungkin bunda butuh waktu untuk berbicara bersama Melani, agar bunda bisa mengenal seperti apa dirinya ?” Memanfaatkan kesempatan untuk membujuk sang bunda sekali lagi, agar berkenan bertemu kekasih hatinya.
“Dewa “, Syania menghentikan langkahnya. Mereka baru saja melewati pintu kamar Sadewa. “Apa kamu memang mencintai wanita itu ? Bukan hanya sekedar tertarik fisik saja ?”
Sadewa diam, berpikir sesaat. Kembali lagi Sadewa mendengar pertanyaan yang sama dari bundanya.
“Haruskah wanita itu yang menghabiskan seluruh hidupmu sebagai nyonya muda Britania ? Haruskah wanita itu yang menjadi menantu bunda ? Dan haruskan wanita itu yang menjadi ibu sambung bagi Shasa ?” Syania mencerca Sadewa dengan banyak pertanyaan. “Kamu yakin nak, semua itu yang kamu mau ?”
__ADS_1