
🌹🌹🌹
Tidak kurang dari empat puluh menit lagi jam praktek Kayana akan selesai. Pasien-pasien kecilnya hanya tinggal dua orang saja, sementara dua belas pasien kecil sebelumnya sudah ditanggani Kayana dengan sebaik mungkin. Para orang tua pendamping pasien-pasien kecilnya sangat puas. Ada senyum bahagia diwajah mereka selesai Kayana memberikan aneka solusi dan pendekatan terbaik untuk proses kesembuhan sang putra atau putri kesayangan mereka.
Kinerja Kayana sangat baik, mantan pasien-pasiennya sangat menyukai dirinya. Doktel Kayana yang baik, itulah sapaan bocah-bocah kecil yang telah sembuh berkat tangan dinginya. Dan para orang tua dari bocah-bocah kecil itu pun sangat memuja cara Kayana merawat anak-anak mereka. Kayana tidak pernah memandang rendah pada siapapun itu jenis pasiennya, semua sama tiada pembedaan. Semua mendapakan pelayanan prima dari dirinya, sentuhan kasih selalu jelas dalam proses pengobatan yang dilakukannya. Kayana sangat menjiwai tugas sebagai dokter spesialis anak.
Sekarang, diruang prekteknya pada Rumah Sakit megah milik keluarga Britania Kayana duduk dengan tangan memijat lembut keningnya. Ada denyutan tidak nyaman di sana akibat tidurnya yang kurang semalam. Mungkin hampir menjelang pukul tiga dini hari matanya bisa terlelap, dan tepat pukul enam pagi matanya terjaga kembali, hanya empat jam saja dan sekarang, ada pening mendera kepalanya.
Sadewa, lelaki yang terkenal arogan dan selalu berbicara sinis padanya, tetiba saja memberikan dirinya solusi untuk masalah beratnya. Solusi yang memgiurkan dan Kayana, sesungguhnya dalam hatinya percaya dengan semua solusi tersebut, percaya bahwa keselamatan dan keamanan keluarganya akan terjamin.
Tetapi, semua yang ditawarkan Sadewa tidaklah murah, ada kontrak pernikahan yang harus dijalankannya. Kontrak yang mengikat dirinya dihadapan Tuhan, tetapi semua bukanlah kebenaran. Hanya status saja, hanya sebuah kamuflasi untuk dua keuntungan anak manusia.
“Huffffftttt,” helaan nafas dalam Kayana.
“Sudahlah, lebih baik aku fokus dulu pada dua pasien terakhirku. Tentang itu, nanti saja aku pikirkan!” gumam Kayana sambil memperbaiki letak duduknya, menunggu Diandra membawa masuk pasien kecil berikunya.
**********
“Mbak kurang sehat ya?” Diandra sejujurnya sedari pagi sudah memperhatikan Kayana, ada rawut tidak menyenangkan diwajah gadis yang diam-diam dicintai Diandra ini. Ada gurat lelah dan pucat di sana.
“Kepala aku agak pusing Di,” aku Kayana jujur.
“Kurang tidur?” tanya Diandra lagi.
Ehhh…kok bisa tahu? Membatin heran. Dan sebuah anggukan ditunjukkan Kayana pada Diandra.
“Ada masalah?” Menyelidiki.
“Enggak kok, hanya aku tuh lagi kangen sama keluargaku di sana. Jadinya kebawa perasaan deh.” Berbohong.
“Akhir minggu besok pulang aja dulu mbak, lumayan dua hari buat lepas kangen.” Percaya, dan mencoba memberi solusi.
“Tapi, tapi aku masih baru di sini. Segan rasanya buat izin.”
“Sebenarnya mbak itu kenapa?” heran lagi.
“Kenapa apanya?” tidak mengerti.
“Ada masalah apa sebenarnya?” mendesak.
__ADS_1
“Ya…itu, seperti yang aku bilang tadi.”
“Bohong!” Menatap pada wajah cantik yang dalam satu bulan terakhir ini sukses memenuhi relung hatinya.
“Eng, enggak kok,” terbata-bata.
“Kalau gak bohong, mbak gak akan lupa kalau sabtu dan minggu depan adalah jadwal libur mbak.” Sukses membuat Kayana tertunduk.
“Ada apa?” lembut.
“Ohhh..iya, aku libur ya sabtu besok. Hehehehe,” cenggir menutupi kegalauan. “Aku lupa, heheheh.”
“Di, aku balik duluannya.” Mendadak berdiri. Melepas jas dokter dengan cepat, mengantung di belakang kursi kerjanya dan langsung bergegas keluar tanpa, menunggu jawaban Diandra.
“Mbak…..,” berusaha menghentikan Kayana.
“Aku buru-buru, daaaa.” Semakin cepat melangkah.
“Dengar!” berhasil menggapai tangan Kayana, membuat gadis berambut panjang ini menghentikan langkahnya. “Kita temui dokter Hadi dulu ya, kita minta vitamin buat kamu! Setalah itu baru pulang.”
“Gak usah Di, aku hanya perlu tidur saja kok.” Benar-benar ingin cepat pergi.
“Beneran deh, aku tidur bentar juga udah gak papah lagi.”
“Kamu tuh mbak,” menggelengkan kepala. “Ada masalah gak mau jujur. Trus, udah pucet dengan sakit kepala juga gak mau jujur. Kalau begituh, aku anter pulang deh.”
“Makasih ya Di, tapi beneran deh aku gak papah dan akau bisa pulang sendiri. Makasih ya Di.” Segera melangkah ke arah lift.
**********
Benar, yang diperlukan Kayana saat ini adalah tidur. Tidur yang nyenyak yang bisa membuatnya sesaat melupakan Sadewa, melupakan semua ide gila Sadewa.
Tetapi, realita tidaklah sejalan dengan kebenaran yang ada. Kayana telah sampai kerumah dinasnya tepat dipukul tiga sore. Dan lagi-lagi, Kayana hanya membolak-balik tubuhnya di atas ranjang, mata di pejam tetapi, bukan tidur.
“Ayah?” Kayana mengapai handphonenya, nada dering berbunyi, ada nama ayah tertulis di layar handphonenya.
“Ayah…,” suara senang Kayana menerima panggilan masuk tersebut. Sambil bangun dan duduk bersila.
“Apa kabar nak?” Suara senang sang ayah mendengar anak gadisnya menerima panggilan teleponnya.
__ADS_1
“Baik ayah, sangat baik. Ayah, ibu dan adik gimana kabarnya?”
“Baik, kami semua baik di sini. Ibumu sedang di rumah tante Mina, ada hajatan di sana dan ketering ibu yang diminta untuk menyiapkan segala konsumsinya.” Tante Mina adalah salah satu tetangga Kayana di tempat asalnya.
“Adikmu, dia masih belum pulang, jam magangnya itu selesai pukul lima. Nanti sebelum senja dia baru sampai di rumah. Kalau ayah sendiri, ayah baru saja menerima tamu.” Jelas ayah.
“Ana sangat senang mendengarnya ayah.” Senyum.
“Bagaimana praktekmu di sana nak?”
“Berjalan lancar ayah, Ana suka praktek di sini. Banyak pengalaman baru yang Ana dapat di sini.”
“Syukurlah. Ayahpun senang mendengarnya.” Diujung telepon, sang ayah mengangguk-anggukan kepalanya.
“Ana, ada yang ingin ayah tanyakan?”
“Iya ayah?”
“Kamu mencintai lelaki itu?” mendadak ayah merubah nada suaranya menjadi serius.
“Hah? Lelaki mana yah?” tidak mengerti, dan sangat terkejut.
“Lelaki yang baru saja pamit dari rumah kita.”
“Pamit? Maksud ayah?” masih tidak bisa mengerti.
“Lelaki yang baru saja menemui ayah.”
“Si..siapa yah?” mendadak khawatir.
Bukan Praditiokan? Kenapa dia muncul di rumah? Mau apa dia? Bagaimana kalau ibunya sampai tahu? Entah apa lagi yang akan dilakukan nyonya pada keluargaku nanti, entah kemana lagi aku akan di buang nyonya?
Mendadak tangan Kayana terasa dingin, sangat takut.
“Nak, kalau kamu memang mencintai dia, Ayah akan nikahkan kamu padanya.”
Duarrrrrr……serasa ada gelegar petir keras ditelinga Kayana. Tidak mengerti apa-apa, dan mendadak sang ayah membicarakan, tentang pernikahannya.
“Ayah akan ajak ibu untuk membahas ini. Yang penting,” Ayah menarik nafas dan menghembuskan perlahan. “Kamu bahagia.”
__ADS_1
“Yah..tunggu, tunggu dulu. Ana gak ngerti maksud ayah.”