Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan

Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan
Sadewa Putra Britania


__ADS_3

🌹🌹🌹


Martin Jawhari berjalan kembali ke ruang kerja sang Presdir. Lelaki tampan yang tanpa dosa, beberapa saat tadi telah melempar map tebal ke arah Paman Gunta. Membuat luka mengangga di pelipis tua lelaki yang terlihat tidak cuma merasa sakit di bagian mengangga lukanya, tetapi juga sakit di dalam sanubarinya. Sebuah tuduhan telah dilontarkan pada dirinya, sebuah ketidakpercayaan yang begitu merendahkan dirinya.


Martin menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. Kenapa sang tuan mudanya, lelaki pewaris Sunjaya Company ini begitu kejam pada sosok renta seperti Paman Gunta ?


KREKKKK....


Tanpa mengetuk pintu, Martin masuk ke dalam ruang kerja lelaki tampan yang mengamuk tadi. Menatap punggung si pemarah itu yang sedang berdiri di jendela besar, di belakang kursi kerjanya.


Martin terdiam, sama diamnya dengan sosok lelaki tampan yang sepertinya sedang larut dalam pikirannya sendiri, hingga tidak menyadari ada orang lain di sana.


Perkenalkan, sosok lelaki tampan itu adalah putra pertama dari Aisakha Elang Britania dengan Syania Fira Sujoko. Sadewa Putra Britania namanya, Lelaki tampan dengan kulit bersih bagai tembaga dan postur tubuh atletis tinggi, rambut berpotongan rapi dan mata tajam, yang beberapa bulan lagi akan memasuki usia 30 tahun, merupakan pewaris tunggal Perusahaan Sunjaya Company. Sebuah perusahaan yang memiliki cabang di setiap Provinsi di Negara ini, bahkan di Asia pun kepakkan sayap Sunjaya Company telah melebar luar biasa. Perusahaan yang bergerak di segala bidang, penguasa bisnis dan properti, semua tahu itu. Sebagai pewaris Sunjaya Company, kendali Dewa, nama panggilan akrab lelaki tampan ini, sungguh tiada terkira. Dalam kurun waktu lima tahun masa kepemimpinannya Sebagai Presiden Direktur Utama, laba bersih perusahaan mungkin sudah bertriliun jumlahnya, kalau di Rupiahkan. Angka yang sangat fantastis.


Sadewa bukan orang sembarangan, usia muda, cerdas dan berpendidikan. Semua sangat hormat padanya.


Hanya saja, sikap arogan dan dingin, bahkan terkesan angkuh yang melekat pada Sadewa sering membuat orang salah paham padanya. Kadang malah berakhir takut pada dirinya. Gampang marah, tidak ragu melakukan kekerasan fisik sebagai bentuk ketidak senangannya, semua orang di sekitar Sadewa merasa kalau lelaki bertubuh dengan masa otot atletis ini sangat menakutkan.


Tetapi, itu semua tidak berlaku bagi Martin jawhari. Putra tunggal Kristo Jawhari bersama Resya Maytini ini sangat tahu siapa Sadewa sebenarnya. Lelaki yang usianya dua tahun di bawah Sadewa ini bahkan sudah kenal Sadewa saat dirinya masih bayi. Martin tahu bagaimana baiknya Sadewa, bagaimana cara Sadewa menjaga dan melindungi Quinsha adik kandung Sadewa dan dirinya, yang bagi Sadewa juga sudah seperti adik kandungnya.


Hubungan baik dan penuh rasa kekeluargaan kedua orang tua Martin dan kedua orang tua Sadewa, membuat mereka tumbuh dan berkembang bersama, selalu bersama. Jadi, Martin tahu benar seperti apa aslinya Sadewa dan apa penyebab Sadewa bisa berubah sedemikian rupa. Martin tahu benar, kenapa sikap ramah, hangat dan penuh keperdulian bisa pergi begitu saja dari diri Sadewa.

__ADS_1


Martin saksi hidup untuk semua itu, dan Martin juga korban dari semua itu. Apa yang dialami Sadewa juga menimpa dirinya.


“Sudah berapa lama kau berdiri di sana ?” Sadewa berbalik badan, menatap Martin yang diam mematung di dekat pintu.


“Baru saja “. Hilang semua lamunan Martin barusan. Martin berusaha mengendalikan semua isi pikirannya tadi, berganti pada masalah Paman Gunta. Martin harus kembali fokus.


“Kak “. Martin berjalan mendekat ke arah meja kerja Sadewa. Saat mereka sedang tidak di kelilingi orang lain, Martin selalu memanggil Sadewa dengan panggilan Kakak. “Apa kau berencana ikut Olimpiade tahun ini ?” Sadewa nampak sedang duduk di kursinya. “Kau terlihat selalu latihan melempar benda saat punya kesempatan “.


“Jaga bicaramu !” Kesal, Sadewa tidak senang dengan ucapan Martin. Jelas lelaki yang semasa kecilnya ini selalu bermain bersama dirinya, sekarang sedang menyindir dirinya.


“Kalau begitu, Kakak tolong jaga tangan dan mulut Kakak itu “. Menarik kursi, duduk di hadapan Sadewa.


“Kakak tahu apa yang Kakak lakukan tadi pada Paman Gunta sangat tidak pantas “.


“Lantas, kalau bukan aku siapa yang menasehati kamu ?” Bersidekap. “Kau tahu Kak ? Paman Gunta bukanlah penghianat ! Aku yakin, hati kecilmu tidak percaya seorang Paman Gunta bisa korupsi “. Sadewa diam.


“Kak, kalau memang dia mau korupsi, kenapa hanya recehan saja yang di ambilnya ? Dan kenapa sekarang pula waktunya ? Padahal, dari masa Paman Aisakha memimpin perusahaan ini, dia punya banyak kesempatan “. Martin menarik nafas dalam. “Atau di masa peralihan, saat perusahaan kau ambil alih, saat kita semua berduka. Dan kita semua tahu, Paman Gunta salah satu yang setia padamu saat itu “.


“Selidiki masalah ini !” Dalam diam, Sadewa mendengarkan semua penuturan Martin, berpikir jauh tentang sosok Paman Gunta. Lelaki setia yang di kenalnya sejak masa kanak-kanak.


“Baik, akan aku lakukan “. Tersenyum senang.

__ADS_1


“Aku permisi dulu, kalau ada apa-apa Kakak panggil saja aku !” Berdiri.


“Apa jadwalku sore ini ?” Memperhatikan Martin yang sudah berdiri di depannya.


“Sore ini tidak ada, jadwal kegiatan Kakak sudah berakhir siang tadi. Kita tinggal menunggu waktu pulang saja “. Memberi penjelasan. “Tetapi, Melina tadi menelepon, dia berharap kakak mau bertemu dengannya, dia baru kembali dari luar negeri. Mungkin dalam dua mingguan ini akan tinggal di sini “.


“Kau hubungi dia, katakan sepulang kantor aku akan ke apartemennya !”


“Kakak yakin ?” Memasang tampang ogah-ogahan menjalankan perintah Sadewa.


“Tentu saja “. Menjawab santai.


“Meskipun Kakak tahu kalau Bunda Nia tidak suka pada wanita genit itu ?” Bertanya setengah mencibir.


“Martin, jaga bicaramu !” Marah. “Aku tidak segan memukul mulut lancangmu itu, aku tidak takut pada Ibu Resya untuk membuat kau babak belur “.


“Kak, aku bicara fakta. Terserah kau suka atau tidak “. Mengangkat kedua bahunya. “Dan kenyataannya, Bunda Nia memang tidak suka pada kekasihmu itu “.


“Cukup “. Menggebrak meja saking marahnya. “Kau urus saja urusan yang aku perintahkan, dan urusan percintaanku, tidak perlu kau urus “.


“Iya, iya “. Sama sekali tidak takut. Martin sudah terbiasa dengan sikap temperamen Sadewa.

__ADS_1


“Gak usah juga pakai menggebrak meja segala. Apa kakak pikir aku ini tidak mendengar suara kerasmu itu “. Berbalik badan dan melangkah pergi. Membuka pintu ruang kerja Sadewa dan menutupnya kembali.


“Ahh, aku rindu sisi baikmu, Kak. Sisi penyayangmu padaku seperti sebelum kejadian memilukan itu terjadi “. Martin bergumam pelan, tangan masih di gagang pintu dan kepala tersandar di bagian pintu.


__ADS_2