Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan

Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan
Calon Suami


__ADS_3

🌹🌹🌹


“Saya ingin menikahi Kayana, Pak. Saya, ingin Kayana menjadi isteri saya.” Sangat mantap, suara Sadewa terdengar tulus.


“Mana Kayana?” tanya Ayah dalam keterkejutannya. Lelaki yang duduk dengan elegan didepannya ini sungguh sangat lantang mengemukakan keinginannya. Begitu yakin dengan ucapannya. Ayah serasa tidak percaya sekaligus bahagia.


“Kayana sedang praktek hari ini tapi, kalau Bapak merestui kami, saya akan membawa Kayana pulang sabtu ini.”


“Sabtu? Kak…jangan bercanda!” Martin malah gundah.


Kayana, gadis cantik yang dalam diam telah berhasil mempesona dirinya. Martin serasa ingin berteriak pada Sadewa. Apa arti semua ini?


“Bisakah kau tutup mulutmu? Aku sedang memperjuangkan kakak iparmu.” Sangat tegas.


“Kau….,” Martin kesal.


Awas kau kak, bergumam dalam hati. Mengeluarkan semua sumpah serapah untuk luapan marahnya.


Sesaat kemudian, Martin pun menutup mulut rapat. Mencoba mendengar penjelasan Sadewa, mencoba menyusun segala kegilaan Sadewa, mencari arti didalam sana.


Kakak ipar, cih…dalam hati merutuki Sadewa.


“Kamu serius?” Ayah meminta kejujuran. Memastikan rasa tidak percaya yang masih memenuhi kepalanya.


“Pak, saya dan Kayana baru kenal kurang dari dua bulan ini. Saya bekerja di kota tempat Kayana bekerja dan tinggal saat ini. Saya adalah anak pertama dari Aisakha Britania dan Zhafira Sujoko. Saya punya seorang adik, perempuan dan seorang keponakan yang sangat mengemaskan, dia baru masuk usia empat tahun lebih.”


“Kayana…” tersenyum. “Entah bagaimana berhasil masuk dalam hidup saya. Perlahan dan kami pun mulai dekat. Saya menggagumi dirinya, wanita tangguh dan mandiri, dia penuh dedikasi dan sangat santun, di begitu lembun dan dia juga sangat cantik.”


“Waktu berlalu, dan saya sangat ingin memiliki dia, saya sangat berharap bisa menjadikan dirinya sebagai isteri saya. Saya tidak mau lelaki lain mendapatkan cintanya!”


Rangkaian kalimat Sadewa didengar dengan seksama oleh ayah Kayana. Manggut-manggut sambil menatap mata biru itu, ayah sedang menilai semua ucapan Sadewa.


Sedang Martin?


Kau sedang bersandiwara apa kak? Kau sedang melakukan kegilaan apa?


“Kamu mencintai anak saya?” Ayah Kayana bertanya dengan sikap menyelidiki, penuh kewaspadaan.


Sadewa diam, ini adalah pertanyaan sulit. Dirinya sangat tahu seperti apa rasa yang dimiliki hatinya pada Kayana. Menyusahkan dan selalu ingin melawan padanya, sangat mudah membuat emosinya tersulut.

__ADS_1


“Iya Bapak.” Berbicara lantang. “Saya sangat mencintai Kayana.”


Sialan kau kak. Martin menyumpahi Sadewa dalam hati. Kau sungguh sialan.


“Dan Kayana?” tanya ayah kemudian.


“Dia juga mencintai saya.” Dengan suara yang tetap lantang, percaya diri.


“Huffft…,” satu hembusan nafas dalam dihembuskan ayah. Dirinya sedang mempertimbangkan segalanya.


Dan akhirnya, waktu terus berlalu. Sadewa berbicara banyak dengan ayah Kayana. Berbagai hal di bahas, berbagai hal diceritakannya. Jujur, Sadewa jujur mengkisahkan tentang dirinya dan keluarga besarnya. Tetapi, tidak untuk maksud pernikahan yang sedang diajukannya pada ayah Kayana.


***********


“Kalau mau pernikahan ini berjalan lancar, tentu saja aku harus bertemu keluargamu.” Alam pikiran Sadewa telah kembali kepada Kayana. Menghilangkan segala kisah pertemuannya dengan lelaki paruh baya di Kota Y kemarin pagi.


“Kapan aku bilang setuju menikah dengan anda, ha?” Marah. “Dan anda, apa hak ada melakukan ini pada saya? Anda tahu, betapa besar dosa anda pada ayah saya?”


“Ya, aku tahu aku salah. Tetapi, aku tidak punya pilihan lain. Aku mau pernikahan kita legal, dan tentu saja ayahmu dan keluargamu harus hadir. Ayahmu  adalah walimu”


“Tuan, anda memang pemilik Rumah  Sakit ini. Meskipun, saya tidak mengenal anda dengan baik, tetapi saya tahu kalau anda pasti orang kaya, anda pasti orang berkuasa. Tetapi, anda bukanlah siapa-siapa bagi saya! Kenapa anda sangat lancang? Apa isi kepala anda?” sangat marah.


“Membantumu dan keluargamu, dan kau..kau membantu aku dan keluargaku.” Tenang, sama sekali tidak terpengaruh dengan kemarahan Kayana.


“Maaf.” Tulus.


“Keluar.” Mengusir marah.


“Baik, aku akan keluar. Tetapi, semua sudah sampai ditahap ini. Aku memang salah padamu, dan aku sangat minta maaf untuk semua ini. Aku hanya ingin membuat semua berjalan benar, agar semua orang percaya pernikahan ini bukan sebuah kontrak belaka. Dan sekalipun ini hanya kontrak buat kita berdua, aku tetap tidak berniat menyembunyikan hal ini pada keluargamu. Orang tuamu berhak tahu kalau kau akan kunikahi.” Menjelaskan.


“Aku tidak pernah bilang setuju, dan aku tidak pernah ingin orang tuaku bersedih karena beberapa bulan kedepan mendapati anaknya adalah seorang janda. Apa kau berpikir sejauh itu, hah?” muak.


“Pergi, aku mohon pergi.” Suara mulai bergetar. “Aku mohon.”


**********


“Ah, padahal aku berniat baik.” Sadewa duduk bersandar di dalam mobil sedan mewah miliknya. Dirinya diusir Kayana, dan sekarang lebih memilih kembali kekantor saja.


“Baik apanya?” Martin kesal.

__ADS_1


“Semua demi bunda, demi Quinsha.” Masih menggulang alasan yang sama.


Martin ingat benar, saat mereka keluar dari rumah orang tua Kayana kemarin pagi, dirinya langsung mencerca Sadewa dengan banyak pertanyaan. Martin marah, Kayana, sosok wanita yang yang disukainya, mau dinikahi Sadewa tanpa penjelasan sebelumnya. Martin sangat ingin meninju muka Sadewa hari itu.


“Bukan dengan melakukan kegilaan ini kak.” Tidak terima. “Pernikahan kak? Ini sangat kelewatan. Kau pikir Kayana itu apa?”


“Hanya enam bulan. Lagi pula selama dia menjadi isteriku, aku akan menjaga dia dan keluarganya. Tidak akan ada yang bisa macam-macam pada mereka. Setalah pernikahan ini berakhir, akupun akan memberikan kompensasi padanya. semua sudah jelas dalam kontrak pernikahan.” Masih kekeh dengan keinginannya. “Dan selama pernikahan berlangsung, aku tidak akan menyentuh dia, simpelkan?”


“Kau bisa melindungi dia dan keluarganya tanpa, membuat dia masuk dalam permainan gilamu!” tetap tidak terima.


“Dan Quinsha? Aku tidak mau dia dibawa oleh Tomi. Kasihan bunda. Lagi pula, kau juga tidak maukan kalau Quinsha di bawa oleh Tomi?”


Martin diam.


“Aku memang tidak mau tetapi, bukan dengan cara ini solusinya. Masih ada cara lain kak, bukan dengan sebuah kegilaan.”


“Ini cara terbaik, percaya atau tidak, ini adalah cara terbaik.”


**********


Martin memilih diam, kemarahannya sudah sampai dipuncak kepalanya. Kalau sekali saja dirinya mengajak Sadewa berdebat, Martin sangat yakin semua akan berakhir dengan saling menyakiti. Sumpah demi apapun, sampai detik ini Martin masih sangat berkeinginan meninju muka Sadewa agar otak lelaki yang sudah dianggapnya seperti kakak sendiri itu bekerja dengan baik.


“Kenapa diam?” Sadewa mendapati Martin tidak berminat lagi berdebat dengannnya.


“Percuma bicara sama kamu, kakak keras kepala.” Acuh.


“Demi kebaikan tidak ada yang salah.” Tidak merasa bersalah.


“Aku tidak suka dan aku tidak rela.” Tegas Martin.


“Kenapa?”


“Karena aku menyukai Kayana, kakak dengar? Aku menyukai Kayana. Sejak awal kami bertemu, Kayana sudah memikat hatiku.” Jujur.


“Kau?” Tidak percaya. “Bagaimana bisa?”


“Aku normal kak! Tentu saja bisa.”


“Itu aku tahu, bodoh! Plakkkkkkk……” menepuk  pungung Martin kesal. “ Tetapi kenapa harus dia? Aneh?”

__ADS_1


“Anak kecil saja suka Kayana, apalagi aku lelaki dewasa. Kakak tuh yang aneh yang bisa-bisanya gak suka sama Kayana tetapi, sama ulat bulu yang gak jelas itu malah suka.” Manjawab kesal.


“Plaakkkkkkk,” mengulang memukul tetapi, sekarang yang kena pukul adalah kepala Martin. “TUTUP MULUTMU!” Marah.


__ADS_2