
🌹🌹🌹
Dua kali panggilan dilayangkan si bibi ke nomor lelaki kepercayaan sang tuan muda, Martin, sayang tidak ada orang yang menerima telepon darinya. Masih dengan tetesan air mata, bibi mencari nomor Rumah Sakit milik keluarga besar sang majikan, ada nomor dokter Hadi di sana.
“Dok, Dokter…,” bibi Nan mencoba menarik nafas dalam, air mata masih saja menghiasi sudut mata tuanya.
“Iya, ada apa Bi?” Dokter Hadi mengenali nomor yang meneleponnya. Selain sebagai sahabat dan pengelola Manajemen Rumah Sakit keluarga Britania, dokter Hadi juga sebagai dokter keluarga Britania, jadi beliau cukup akrab dengan semua kontak telepon penting sahabatnya itu.
“Nona kecil sakit.” Tanpa menunggu lama, dengan setengah berteriak bi Nan bebicara.
“Sakit seperti apa, dan di mana Quinsha sekarang?” Dokter Hadi sangat serius. Si dokter yang awalnya sedang duduk di meja kerjanya, mendadak langsung berdiri.
“Kami di Mall XXX, tadi nona kecil di bawa sama nona Melani buat beli es krim. Tetapi, beberapa saat tadi pengeras suara Mall bilang kalau nona kecil sakit.”
‘Bibi di dekat Quinshakah saat ini?”
“Tidak dokter, saya di suruh Janu menunggu di bawah. Janu yang menjemput si non dan kami akan segera membawa si non ke Rumah Sakit.”
“Bagus, sekarang tenangkan diri bibi ! Percayalah, Quinsha pasti tidak apa-apa!” Dengan lembut dokter Hadi mencoba menenangkan si bibi. “Saat Quinsha sudah bersama bibi, segera telepon saya ! Saya harus tahu kondisi Quinsha agar bisa segera melakukan pertolongan saat dia sampai di sini!”
“Iya, Iya doter, akan saya lakukan.” Tanpa diketahui dokter Hadi, bibi Nan sedang mengganggukkan kepalanya begitu keras di ujung telepon.
__ADS_1
***************
“Mbak, dimana kamu?”
Kayana baru saja memarkirkan motor metik yang tadi di pakainya untu belanja cemilan ke swalayan di teras rumah, stang motor telah di kunci tepat di saat handphone Kayana berbunyi. Ternyata sudah tiga panggilan tidak terjawab dari nomor telepon Diandra.
“Hai Di, ini aku baru saja sampe rumah.” Suara Kayana senang. “Maaf aku gak dengar panggilan kamu tadi.”
“Mbak, aku mendapat perintah dari dokter Hadi, untuk menghubungin kamu! Ada pasien gawat yang sedang dalam perjalanan ke Rumah Sakit.”
“Siapa dan kenapa?” Langkah kaki Kayana terhenti. Padahal dirinya tinggal mengetuk pintu saja lagi untuk masuk ke dalam rumah.
“Anak perempuan dengan usia empat tahun delapan bulan. Dan dugaan awal terserang alergi mbak.” Diandra mengulang semua keterangan dokter Hadi padanya.
“Tidak berapa lama mbak, aku rasa tiga puluh menitan,” jawab Diandra sambil memperhatikan putaran jarum jam dinding dihadapannya.
“Aku langsung berangkat!” Kayana meletakkan begitu saja belanjaanya di atas kursi santai di teras rumah dinasnya. Kemudian, segera berbalik badan dan kembali menyalakan motor metik yang tadi dipakainya. Handphone di selipkan Kayana di dalam helm. Bukan hal yang bagus ya, dan tolog jangandi tiru! Tetapi, karena situasi yang sangat mendesak Kayana tidak punya pilihan.
‘Di, aku akan sampai tiga puluh menitan lagi, atau sedikit lebih. Jadi tolong kabari aku situasi pasien agar aku bisa memberikan pertolongan segera!”
“Baik mbak,” perawat Diandra nampak patuh. ‘Kamu hati-hati berkendaraan ya mbak! Ingat harus hati-hati!”
**********
__ADS_1
“Dok, nona kecil tidak bisa bernafas. Wajahnya sangat pucat.” Bi Nan memeluk tubuh kecil Quinsha. Wajah imut dan mengemaskan itu nampak tidak berdaya. Quinsha memejamkan mata, air mata mengalir begitu saja dari kelopak mata yang tertutup. Quinsha sangat kesakitan.
“Apa yang dimakan oleh Quinsha tadi bi?” Dokter Hadi bertanya kemudian.
“Kata penjaga gerai es krim, si non memakan satu mangkok es krim dengan taburan kacang mete.” Bi nan membelai rambut yang berada di kening Quinsha, gadis kecil itu sangat sulit bernafas.
“Quinsha alergi olahan kacang-kacangankan?” Dokter Hadi seakan ingat sesuatu.
“Benar dok.” Bibi bersuara dengan tumpukan rasa bersalah.
“Tenanglah bi, kita semua akan memastikan Quinsha akan baik-baik saja. Kami semua menunggu kalian, tolong lebih cepat lagi!”
Dan setelah itu, Janu semakin mempercepat laju mobil milik sang tuan muda. Mengemudi dengan memastikan penumpangnya aman tetapi, juga akan segera sampai tujuan. Janu saat ini tidak kalah takutnya dari si bibi. Diam dalam hatinya, ada rasa bersalah karena tidak mengawal si nona kecil selama di Mall tadi.
***************
“Mbak, di mana kamu?” panggilan ketiga Diandra pada Kayana, dengan suara agak dikeraskan pengaruh pergerakan angin di sekitar Kayana, Diandra bertanya.
“Kurang sepuluh menit lagi aku sampe!” Jawab Kayana singkat.
“Mbak, pasien memiliki riwayat alergi kacang-kacangan. Dan terakhir, anak tersebut mengkonsumsi kacang mete,” singkat dan padat, lagi-lagi Diandra menggulang penjelasan dokter Hadi pada Kayana.
“Baik, aku mengerti. Di, siapkan oksigen! Besar kemungkinan saat ini pasien kesulitan bernafas, batuk dan suara serak. Kita harus mencegah terjadinya reaksi analflaksis!” Suara Kayana tidak kalah keras, diriya ingin memastikan Diandra mendengar semua perintahnya.
__ADS_1
“Aku mengeti mbak,” Diandra langsung mematikan teleponnya, berkoordinasi dengan dokter Hadi dan para perawat di unit layanan gawat darurat.