
🌹🌹🌹
“Doakan saja yang terbaik untuk Quinsha, tuan.” Suara lembut Kayana dari belakang Sadewa. Suara merdu yang begitu tulus.
Kayana baru saja keluar dari kamar mandi, mendapati pemandangan sedih dari sosok angkuh lelaki yang selama ini dikenalnya sangat sombong.
“Kau..Apa yang kau lakukan di sini?” Bukan senang apa lagi tenang, Sadewa malah kembali ke model angkuhnya versi Kayana, seperti biasa.
“Sa, saya….” Suara gugup Kayana mendengar bentakan Sadewa.
“Kenapa? Aku tidak butuh belas kasihanmu, pergi!” Suara Sadewa kian keras.
“Heh,” dokter Hadi berdiri di samping Sadewa. “Bisa tidak kau bersikap sopan sama dokter Kayana? Dia sudah berjuang keras menyelamatkan Quinsha. Kalau untuk mengucapkan terima kasih saja kau begitu sulit, minimal cobalah untuk bersikap santun padanya!” Hardik keras dokter Hadi.
“Sudah membuat Quinsha celaka, sekarang malah kasar sama penyelamatnya, kau benar-benar tidak tahu diri.” Ejek dokter Hadi.
“Hadi, aku mohon diamlah!” Sadewa tidak mau peduli.
“Kau ini,” dokter Hadi sangat ingin memukul kepala Sadewa. “Terserah kau sajalah Dewa, sekarang aku hanya berharap otakmu bisa fokus pada Quinsha! Dia sangat memerlukan dirimu dan Kayana.”
“Kenapa harus ada wanita itu,” Sadewa masih sempat juga protes.
“Diam!” Bentak dokter Hadi geram. “Aku suruh kau fokus pada Quinsha, bukan menjawab perkataanku. Heran!” Geram.
“Suruh dia keluar!” Sadewa berbicara entah pada siapa.
“Kak, kira-kira kalau bicara!” Martin maju, rasa tidak senang yang ditahannya sekian lama melihat sikap angkuh Sadewa, sibuk marah dan entah kenapa tidak juga bisa bersikap baik pada Kayana, sudah jelas Kayana berusaha keras menyelamatkan Quinsha, bukankah dokter Hadi telah memberi penjelasan tersebut. Tetapi, seorang Sadewa tetap saja berbuat menjengkelkan.
“Bukan urusanmu!” Sadewa membesarkan bola matanya ke arah Martin. "Tutup mulutmu itu."
“Semua salahmu, kak. Dan sekarang gak usah cari sasaran lain untuk kesedihanmu. Kami tidak simpati sama kamu, semua salahmu. Kaulah orang yang menjadi penyebab atas semua ini, kamu kak!” Martin menantang kesal pada Sadewa.
Sadewa terdiam, membelai sayang kening Quinsha. Semua susunan kata-kata Martin langsung memenuhi rongga kepalanya, membuat batinnya merana. Perasaan sedih dengan mendapati gadis kecil kesayangannya begitu tidak berdaya saat ini, cukup memukul hatinya. Dalam diam, Sadewa merutuki diri sendiri, mengakui kebodohannya tentang mempertemukan sang kekasih dengan ibunda tersayang bersama gadis kecilnya. Sekarang, terjawab sudah kenapa hati kecilnya tidak nyaman selama beberapa hari ini. Kenapa ada rasa menganjal tentang apa yang tidak ketahui, tidak bisa dijelaskan?
__ADS_1
Dengan sebentuk perasaan berkecamuk yang sulit disampaikan, ternyata Sadewa saaat ini tanpa ada yang menyadari sedang meneteskan air mata. Sudut matanya mengalir bulir bening sedih, bercampur bersalah dan penuh penyesalan.
“Maafkan ayah sayang, maafkan ayah”. Gumam Sadewa sambil sekali lagi mencium punggung tangan Quinsha. Sayang, Quinsha hanya terpejam dalam tidut tidak sadarnya. Tidak bersuara, tidak bereaksi apa-apa hanya ada hembusan nafas pelan yang telah stabil dengan alat bantu pernafasan di hidung mancung itu.
Pasti sakit sekali ya nak?
Maaf, maafkan ayah sayang..maafkan ayah...
**********
Larut malam, putaran waktu sudah berdentang beberapa kali dari jam ke jam. Membuat malam semakin pasti menyentuh bumi, menghembuskan hawa dingin bagi penikmat minuman hangat. Sudut-sudut jalan ibukota sedang ramai dijelajahi aneka kendaraan, besar kecil dan sibuk lalu lalang ke sana kemari, semua seakan punya kepentingan tersendiri.
Sementara itu, kembali ke ruang rawatan Quinsha. Sadewa masih terduduk di tempat awal dirinya datang. Diam dengan hanya mengelus kening Qunisha, atau sesekali menggenggam tangan mungil Quinsha dan mengecup sayang. Dan itu selalu di ulang-ulang oleh Sadewa meski malam terus beranjak pasti.
Di luar pintu rawatan, Martin duduk bersandar tanpa kata bersama Kayana. Dua anak manusia ini sedang tengelam dalam pikirannya masing-masing, dengan perasaannya masing-masing. Setelah Sadewa dengan lancarnya mengusir Kayana tadi maka, Kayana memilih tengelam dengan segala perasaannya saat ini. Kondisi Quinsha, air mata sang bunda Syania, hingga sikap tidak ramah Sadewa.
Ahhhhh, hela nafas Kayana.
Selalu saja arogan sama aku, heran. Sebenarnya aku tuh sudah menyinggung dia di mana sih, sampe segitu tidak sukanya sama aku? Tanya Kayana dalam hati, dalam sikap lamunannya.
Sedangkan Martin, Martin sedang fokus pada cara terbaiknya untuk membalas si ulat bulu, Melani. Bibi dan Janu sudah menceritakan detai penyebab gadis kecil kesayangan keluarga Britania tertidur dalam keadaan tidak sadar di dalam kamar rawatan. Martin marah, sangat marah dan sangat ingin menghajar habis-habisan kekasih pewaris Sunjaya Company yang sekaligus seorang kakak bagi dirinya. Martin berharap, kejadian ini membuka mata hati Sadewa betapa tidak pantasnya Melani masuk dalam hidup mereka.
Awas saja kalau aku ketemu tuh ulat bulu, aku potong-potong dia biar gak bisa merayap sana sini lagi, biar selesai dia. Upat Martin dalam hati. Biar end.
**********
Sadewa selalu hanya melihat wajah polos kecil yang pucat itu, wajah gadis kecil kesayangannya yang terasa dingin. Berkali-kali Sadewa mengehembuskan nafas dalam, berharap akan segera ada keajaiban, berdoa dalam perasaan bersalahnya. Rasa bersalah yang amat sangat.
“Kak?” Panggil Martin di belakang Sadewa. “Istirahatlah dulu, biar aku yang jaga Quinsha!”
“Tidak.” Tolak Sadewa cepat.
“Kau pasti lelah.” Martin mencoba membujuk Sadewa.
__ADS_1
“Kau istirahat saja sana, Hadi sudah menyiapkan kamar untukmu. Dan bibi serta Janu, suruh mereka pulang. Aku mau di sini!”
“Kak, kamu sudah telepon bunda?”
“Belum,” jawab Sadewa pelan.
“Teleponlah kak! Bi Rihana bilang, bunda masih menangis mengkhawatirkan Quinsha.”
“Nanti saja.”
“Kakkkkkkkkk…..” Protes Martin dengan penolakan Sadewa
“Semua salahku, Martin.” Dengan suara lelahnya Sadewa nampak sangat bersalah.
“Ya, semua memang salahmu, kak.” Jawab Martin lancar. Tanpa segan tanpa pikir panjang.
“Bunda pasti sangat kecewa padaku?” lirih penuh tanya.
“Wajar saja, karena sejak awal bunda memang tidak pernah ingin ulat bulu itu menjadi nona muda Britania.” Martin sengaja mengungkit semuanya. “Dan kamu tahu itu kak!”
“Iya, aku tahu.” Aku Sadewa pasrah.
“Sekarang gimana yang terbaik untu Quinsha, kak! Karena kesehatan Quinsha akan membuat Bunda tidak akan bersedih lagi.” Martin memperhatikan Sadewa, lelaki itu hanya menganggukkan kepalanya saja tanpa menjawab Martin.
“sekarang, kau pergilah istirahat!” ujar Sadewa kemudian.
“Baiklah kak, aku akan istirahat.” Martin nampka patuh. “Kak, dokter Kayana akan aku bawa istirahat bersamaku. Kalau Kakak perlu dia, kakak tahukan harus cari kemana?”
“Kenapa wanita itu belum pergi juga?” Sadewa sangat malas.
“Pertama dia mengkhawatirkan Quinsha, sekedar mengingatkanmu, kak. Quinsha adalah pasien Kayana dan dari cerita panjang kak Hadi, Kayanalah yang berusaha keras menyelamatkan Shasa! Kedua, dia punya perasaan, punya hati nurani. Dan perasaannya mengatakan kalau dia harus di sini!” Martin sengaja bersuara tegas.
“Memang siapa dia?” Sadewa mengacuhkan perkataan Martin, bersikap tidak perdulu.
__ADS_1
“Ah, sudahlah terserah kau saja. Aku tidak mau ribut denganmu!” Mendadak Sadewa bersuara saat Martin bersiap membuka mulutnya untuk bersuara.
“Baiklah, aku pergi istirahat. Kakak juga cobalah untuk istirahat.” Martin mengalah, pamit keluar dari ruang rawatan Quinsha.