
🌹🌹🌹
“Memalukan !” Dokter Hadi duduk persis di depan sofa lebar tempat Sadewa yang sedang sibuk mengacak rambutnya. Jelas aura kemarahan masih memenuhi kepalanya.
Kayana, sialan kau.
Susunana kata makian memenuhi relung jiwa Sadewa.
“Kau ini kenapa sebenarnya Dewa ?” Dokter Hadi memberi tatapan kesalnya pada sosok sahabatnya itu.
“Iya, kakak sangat memalukan !” Martin ikut menimpali, berbicara dengan posisi tangan di lioat di depan dada. “Kakak sudah menjadi bahan gosip tidak penting seisi Rumah Sakit ini “.
“Wanita itu, bagaimana kau bisa memberi izin padanya untuk menjadi dokter di Rumah Sakitku ?” Sadewa menatap lurus pada Hadi. “Kenapa bisa dia bekerja di sini ?”
“Sejak kapan kau mempermasalahkan siapa yang aku pilih untuk menjadi dokter di sini ? Dan sejak kapan aku harus izin padamu tentang boleh tidaknya dokter paraktek di sini ?” Dokter Hadi bukan menjawab, malah balik bertanya pada Sadewa.
__ADS_1
“Pecat dia !” Dengan semangat permusuhan yang kentara, Sadewa memberi perintah pada Dokter Hadi.
“Kau ini kenapa Dewa ? Aku akui ini adalah Rumah Sakit milikmu, tetapi kau jangan semena-mena di sini ! Kayana sangat potensial, keberadaannya di sini atas rekomendasi. Dan dia, dia termasuk dokter spesialis anak terbaik di Kotanya “. Dokter Hadi berbicara serius.
“Iya..Kayana layak kok di sini. Kenapa kakak malah ingin di di pecat ?” Suara penolakan Martin.
“Martin, tutup mulutmu !” Perintah Sadewa dengan disertai lirikan mata tidak senang pada Martin.
“Tapi kak..”, bermaksud membantah.
Hadi memberi mengerakkan tangannya perlahan, Sadewa tidak menyadarinya tetapi, Martin mengerti artinya. Martin memilih diam, berjalan tanpa membantah sepatah kata pun ke arah meja kerja Hadi. Duduk di sana, berusaha menjadi pengamat pertengkaran lanjutan Hadi dan Sadewa. Intinya, bagi Martin, Sadewa sangat menjengkelkan hari ini.
Entah kenapa dengan kak Dewa hari ini, pengen ketemu sama kak Hadi. Dikirain sakit ternyata enggak. Sampe sini malah menendang Tedi, dan terakhir ngamuk gak jelas di lobbi. Teriak penuh kebencian pada Kayana lagi. Apa kak Dewa udah kesambet ya ? Aneh..
Membatin dengan berbagai spekulasi yang sulit diartikan. Martin menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan. Dirinya mencoba untuk tenang.
__ADS_1
***************
“Ada masalah apa antara bu dokter Kayana dengan tuan Sadewa ?” Seorang perawat yang usianya jauh di atas Kayana sedang mengajukan pertanyaan pada rekan kerjanya yang sedang sibuk mencuci tangan di ruang basuh. Dua orang perawat ini adalah saksi betapa marahnya Sadewa pada sosok dokter baru mereka.
“Aku juga tidak mengerti. Tapi, melihat kemarahan tuan Sadewa, pasti urusan di antara mereka bukan hal mudah “. Perawat satu lagi mencoba menerka-nerka.
“Bagaimana bisa dokter Kayana kenal dengan pemilik Rumah Sakit ini, padahal ini hari pertama dirinya bekerja di sini ?” Kening berkerut, sibuk berpikir.
“Entahlah “. Hanya mampu menggelengkan kepala. Sangat tidak tahu apa hubungan antara Kayana dan Sadewa.
“Tapi kau dengarkan teriakan tuan Sadewa tadi ? Meminta dokter Hadi memecat dokter Kayana “. Mencoba meminta kepastian.
“Iya..aku dengar “. Menjawab dengan kepala mengangguk membenarkan. “Ahh, kalau iya sayang sekali. Jujur, aku sudah mulai menyukai dokter cantik itu. Kau lihat bagaimana dia bekerja menangani pasien tadi. Jiwa murninya untuk menyelamatkan membuat aku tersentuh, dokter Kayana tulus sekali “.
“Iya sayang sekali “.
__ADS_1
“Iya, iya kau benar. Aku pun merasakan hal yang sama “. Mengerakkan kepala, mengangguk-angguk setuju. “Semoga saja, apapun permasalahan diantara mereka, dokter Kayana tetap bekerja di sini ! Semua selesai dengan baik “.