Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan

Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan
Rumah Cinta Milik Nenek


__ADS_3

🌹🌹🌹


Di saat Kayana menikmati acara mandi malamnya sebelum menyantap menu masakan bibi yang terdengar sangat mengoda, maka di waktu yang sama, tetapi di tempat berbeda, mobil sedan mewah milik Sadewa sudah sampai di halaman rumah cinta. Sadewa menatap lama rumah cinta itu. Rumah tua milik sang bunda, rumah yang di jadikan sang ayah, Aisakha Elang Britania sebagai hadiah pernikahan untuk Bunda tercinta, wanita yang begitu di puja oleh sang ayah. Wanita yang di kejarnya selama tiga tahun penuh, begitu sabar dan setia untuk membuka hati sang pujaan yang kala itu telah tersakiti lelaki lain, sakit begitu parah hingga membuat Syania Fira Sujoko, nama bundanya tidak pernah berani menerima cinta dari lelaki manapun.


Rumah cinta, rumah yang konon adalah tempat pertama kakeknya Sadewa membawa istrinya, sang nenek sebagai pasangan suami istri. Dan ayahnya, Aisakha juga melakukan hal yang sama pada bunda. Manis dan penuh cinta. Sadewa terdiam, dia sangat merindukan sang ayah.


Quinsha berlari heboh, begitu dirinya bisa lepas dari tangan Sadewa.


“Nenekkkkkk “. Teriakan Quinsha yang diiringi galengan kepala Sadewa.


“Sha, jalan yang baik ! Jangan lari-lari !” Suara Sadewa yang berhasil membuat Quinsha patuh.


“Biar saja kak “. Martin menimpali dari belakang Sadewa. Langkah kaki Martin persisi di bekang Sadewa.


“Martin, kau jangan memanjakan dia. Nanti dia tumbuh menjadi gadis lemah !” Bicara tetapi, dengan mata terus mengawasi Quinsha.


Bagaimana mungkin Quinsha akan menjadi gadis lemah kak, ada kamu, ada bunda, dan ada aku ! Kita akan memastikan dia tumbuh bahagia kak, meskipun dia berbeda dari yang lain.


Suara hati Martin sambil terus mengikuti langkah Sadewa. Hanya di dalam hati dan Martin tidak berniat menjawabnya perkataan Sadewa tadi.


“Nenekkkkkk “.


Pintu di buka, Quinsha sangat berharap yang menyambut kedatangannya adalah sang nenek yang sangat di rindukan.


“Nona kecil “. Wanita paruh baya yang umurnya sedikit lebih muda dari sang nenek keluar, menyambut kedatangan Quinsha. Riana, pelayan wanita Syania semenjak dirinya menjadi nyonya muda keluarga Britania.


“Bi Riana, nenek mana ?” Bertanya sambil menerima uluran tangan Riana. Bibi ini menganjak Quinsha masuk.


“Nenek ada sedang di kamar, nona kecil. Mungkin sedang istirahat “. Tersenyum pada Quinsha. “Nona kecil bisa panggil kok “.


“Benarkah boleh bi ?” Ragu.


“Tentu saja “. Mengangguk, menyakinkan.


“Horeeee....”, senang bukan kepalang.


“Sha, gak boleh ganggu nenek kalo nenek sedang istirahat !” Mengerakkan jari telunjuk kanan. Membuat gerakan tidak boleh


“Tapi, yah “. Mencoba menyangkal. “Tadi bilang bibi gak papah kok “. Menatap bibi yang masih berdiri di sampingnya. Memberi tatapan permohonan untuk di bantu bicara pada Sadewa.


“Benar tuan, tadi nyonya sudah bilang, kalau ada tuan datang panggil nyonya “. Menunduk patuh.


“Bagaimana bunda bisa tahu aku mau datang bi ?” Heran. “Padahal kami gak ada yang bilang kok “.


“Mungkin perasaan seorang ibu, tuan. Begitu besar sayangnya beliau pada tuan, hingga bisa memiliki bahasa batin yang dalam “. Memberi penjelasan versi dirinya.


“Bibi ada-ada saja “. Hanya bisa tersenyum.


“Ya sudah, Shasa boleh panggil bunda, tapi pelan-pelan saja ya “. Memberi gerakan pelan kepala.

__ADS_1


Sesaat kemudian.....


Dan yang terjadi ? “Nenekkkkk...... Shasa datang !” berteriak kuat di depan pintu kamar Syania, sang nenek.


Sadewa hanya bisa menggeleng percuma, jelas apa yang di katakannya barusan tidak di dengar Quinsha.


“Nek, nenekkkkk “. Sekali lagi berteriak. Dan Sadewa menyingkir, memilih duduk di kursi ruang tengah.


“Quinsha ?” Syania, sosok nenek yang dirindukan keluar juga dari kamar. Suara ribut Quinsha memanggil neneknya berhasil. “Kesayangan nenek “. Mengendong Quinsha, memeluk sayang cucu pertamanya itu dengan penuh kerinduan. “Nenek kangen banget “.


“Iya, Shasa juga “. Meletakkan kedua tangan di leher Syania. Membalas pelukan wanita paruh baya itu.


“Nenek kenapa gak pulang ke rumah kita ?” Berbicara dengan kepala di bahu Syania.


“Maaf ya sayang, nenek masih ada yang harus dikerjakan. Karena itu, nenek di sini dulu ya “. Mengelus punggung Quinsha.


“Tapi nek, nenek sudah lama urus kerjaannya “. Protes, melepaskan pelukan Syania, memberi ruang pada dirinya dan sang nenek. “Nenek sudah lama gak main sama Shasa “.


“Besok ya sayang, besok “. Mencium kening Quinsha.


“Nek, Shasa beliin kue enak buat nenek “. Tiba-tiba ingat oleh-oleh dirinya tadi.


“Oyaaa, pasti enak tu “. Nampak antusias.


“Sana yuk nek, kuenya di bawa paman meja makan “. Tunjuk Quinsha arah tengah ruangan.


Ahhh, perasaan iba Syania saat melihat wajah lelah Sadewa yang tengah memejamkan mata sambil merebahkan diri di sandaran sofa ruang tengah.


“Shasa cari paman dulu ya, nenek mau bicara sama ayah dulu “. Ucap Syania yang disertai ciuman di pipi imut Quinsha.


“Jangan lama-lama ya nek, kita makan kuenya lagi “. Berharap.


“Iya sayang “. Mencoel hidung mancung Quinsha


Sadewa membuka matanya, sedari tadi dirinya bisa mendengar suara bincang-bincang orang di sekitarnya. Ada langkah kaki mendekat, Sadewa melihat ke arah sumber suara.


“Bunda “. Berdiri, mengambil tangan kanan wanita yang di mata Sadewa itu masih sangat cantik, mencium tangan kanan bunda lama dan dalam, penuh hormat.


“Dewa “. Mengusap kepala Sadewa penuh kasih sayang. “Sehat kamu nak ?” Masih mengusap kepala Sadewa.


“Sehat bunda “. Berdiri tegak, memeluk sang bunda. “Dewa kangen bunda “. Berpelukan lama.


“Bunda sehatkan ?” Bertanya sesaat setelah melepas pelukan.


“Sehat nak “. Syania mengajak Sadewa duduk sofa ukuran besar.


“Kamu kelihatan lelah “. Tanya Syania saat Sadewa merebahkan diri di pahanya. Menjadikan paha sang bunda sebagai bantal kepalanya.


“Kebetulan belakangan ini banyak kerjaan bun “. Berbicara dengan mata terpejam.

__ADS_1


“Seandainya kamu sudah punya istri, pasti ada yang menghapus lelahmu, nak “. Bicara dengan terus mengusap kepala Sadewa.


“Iya, besok aku cari istri “. Menjawab sesuka hati.


“Kamu ini “. Menarik hidung mancung Sadewa.


“Bunda.... “, protes. Membuka mata, nampak sang bunda sedang tertawa kecil.


“Bunda cantik benar “. Ikut tersenyum saat melihat wajah Syania. “Pasti karena itu, Ayah jatuh cinta luar biasa sama bunda “.


Tidak menjawab, Syania malah menarik hidung mancung Sadewa kembali.


“Sakit bun “. Protes, muka di manyunkan.


“Sosok wanita seperti apa juga lagi yang mau kamu cari nak ?” Menatap mata Sadewa, meletakkan tangan kanan di pipi kanan Sadewa. “Umur juga suduh cukup, perusahaan berjalan dengan sangat baik, berkembang luar biasa. Apa lagi alasannya ?”


“Kan aku sudah punya Melani “. Bicara tanpa beban.


“Wanita yang hanya pandai bersolek, hanya tahu memamerkan lekuk tubuh. Apa yang seperti itu yang mau kamu jadikan istri ? Apa wanita seperti itu bisa menjadi ibu untuk anak-anakmu nanti ?” Berbicara serius.


Sadewa hanya bisa diam.


“Mungkin, kamu tidak akan mempermasalahkan cara bersolek dan berpakaiannya. Bisa jadi, kamu akan bilang bunda kolot, gak ngerti mode. Tapi, bagaimana dengan anakmu nanti kalau memiliki ibu seperti itu ?”


Lagi, lagi Sadewa hanya bisa diam.


“Sama Quinsha saja dia gak bisa mengayomi apa lagi jadi ibu sambungnya ! Gimana kalau anak kandungmu dengan dia ?”


Terdengar helaan nafas Sadewa.


“Ingat nak, Quinsha amanah besar pada kita, pada keluarga Britania. Harta berharga yang di tinggalkan adikmu untuk kita. Apa kamu yakin dia bisa menuntun Quinsha menjadi anak baik ?”


Raut wajah sang bunda sangat serius.


“Huuffftttttt......”, sekali lagi Sadewa menghela nafas dalam. Membalas tatapan mata sang bunda juga dengan tatapan serius.


“Bunda, bagaimana kalau bunda coba kenal sama Melani dulu. Mungkin, bunda akan berubah pikiran kalau sudah kenal “. Berbicara pelan.


“Ya Tuhan, Dewa.....!!!! Sepanjang ini bunda gomong dan kamu masih berkeras untuk tetap bersama dia “. Menggeleng pelan. Jelas ada sorot mata kecewa di sana.


“Bun, Dewa mohon. Sekali ini saja !” Menarik tangan sang bunda, menggenggam kuat di jemarinya dan meletakkan di depan bibir. Mengecup jemari Syania. “Bunda belum pernah bertemu sama Lani, selama ini bunda-kan hanya dengar kata orang sajakan ? Cobalah dulu bun, bunda bertemu dengannya. Berbincang dengannya, pasti penilaian bunda akan berubah “.


“Haruskah nak ?” Pancaran kecewa semakin besar di mata Syania, Sadewa sebenarnya merasa tidak sampai hati. Tapi..........?


“Dewa, bunda ini seorang wanita, bunda juga seorang ibu, dan selama ayahmu masih....”. Syania mengantung kata-katanya. Sadewa segera duduk, menggenggam tangan sang bunda lebih erat lagi.


“Bunda.....”,


“Nak, bunda sangat tahu tipe seperti apa wanita itu. Percayalah nak, bukan dia yang terbaik untuk kamu !” Memberi keyakinan penuh pada Sadewa.

__ADS_1


__ADS_2