Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan

Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan
Rumah Dinas


__ADS_3

🌹🌹🌹


“Kita sudah sampai Bu dokter “. Mobil telah berhenti, Pak Jomi si sopir yang bertugas menjemput Kayana baru saja mematikan mesin mobil dan menarik rem tangan.


“Silahkan Bu “. Membukakan pintu bagian belakang mobil untuk Kayana.


“Selamat datang ya Bu “. Membentangkan tangan kanan sambil menunjuk ke arah teras rumah.


Kayana melangkah mendekati teras rumah, berjalan dengan mata yang sibuk mempelajari sekelilingnya. Memandangi bagian depan rumah, dengan taman bunga yang tidak terlalu luas. Mungkin hanya seukuran empat meteran, tetapi cukup banyak bunga beraneka warna di sana.


Kayana tersenyum, ingatannya langsung terbang pada sang Ibu tercinta. Di halaman rumah mereka di negeri nun jauh di sana, sang Ibu tercinta juga memiliki aneka tanaman bunga. Indah, segar dan ada yang beraroma wangi.


Semoga suatu hari nanti aku bisa bawa Ayah, Ibu dan Rana ke sini. Membatin dengan pipi yang masih tersenyum senang.


Kemudian, perlahan mengalihkan mata ke bagian bangunan rumah. Kagum, perasaan pertama yang muncul.


Beneran ini rumah dinas ? Takjub dalam hati. Bagus banget, hampir sama besar seperti rumah Ayah dan Ibu, dan sepertinya rumah ini cukup nyaman.


“Sebentar ya Bu “. Pak Jomi berdiri di depan pintu rumah.


Tok, tok, tokkkk......


Pintu di ketuk Pak Jomi, sementara Kayana masih sibuk memperhatikan sekeliling, mengamati lingkungan baru yang menjadi tempat tinggalnya beberapa bulan ke depan.


Cukup asri dan semoga bisa membuat aku belajar melupakan Kak tio selamanya. Hahhhhhh, ayolah Kayana !!!!!!! Pradito dan kamu bagai langit dan bumi, sampai kapanpun tidak mungkin bersatu. Sudahilah semua ini ! Lupakan dia dan lupakan cinta yang hanya membuat kamu sakit seperti ini. Hidup hanya untuk di hina, menjalin hubungan hanya untuk membuat Ibunya bebas menghancurkan keluargamu, buat apa ? Membatin, berusaha menyemangati diri sendiri.


“Eh, Pak Jomi “. Muncul sosok wanita yang cukup berumur dengan senyum tulus di wajah yang mulai berkerut.


“Bi, ini Bu dokternya sudah sampai “. Menunjuk pada Kayana.


Kayana berbalik badan, menyudahi mengamati sekitar. Menyelesaikan kalimat penghibur untuk diri sendiri dan berusaha sekuat tenaga melupakan sejenak rasa sakit yang menghuni hatinya.


“Selamat datang non “. Sapa si bibi ramah. “Perkenalkan, nama saya Marini. Biasanya saya di panggil Bi Mar “. Tersenyum ramah pada Kayana. Mengulurkan tangan dengan senangnya.


“Perkenalkan Bi, saya Kanaya Zhafira“. Menerima uluran tangan si bibi dan menjabat erat. Kayana membalas senyum ramah bibi dengan sikap lembut dirinya.


“Ayo non, masuk, masuk !” Tanpa melepaskan tangan Kayana yang tadi dalam jabat tangannya, bibi membawa Kayana masuk ke rumah dinas barunya.

__ADS_1


“Nah non, di sini non sama bibi tinggal berdua “. Berucap sambil memperlihatkan ruang tamu.


“Rumah ini sederhana non, tetapi bibi akan selalu menjaga kebersihannya. Non jangan ragukan kemampuan bibi di bidang bersih-bersih ya ! Dan bibi jamin, non dokter pasti suka di sini “.


“Terima kasih banyak ya bi “. Tersenyum. “Rumah ini sangat bagus. Dan Mohon maaf kalau kedepannya Kayanan banyak merepotkan bibi “. Menunduk hormat.


“Non jangan khawatir “. Memegang tangan Kayana. “Non sama sekali tidak merepotkan bibi, pokoknya non jangan ragu ya ! Ada apa-apa bilang sama bibi !” Menepuk tangan Kayana pelan.


“Ayo non, bibi tunjukkan kamar non. Jadi non bisa istirahat !” Mempersilahkan Kayana mengikutinya ke arah kamar di dekat ruang makan.


“Rumah ini terbagi tiga ruang non “. Berjalan sambil memberi penjelasan.


“Ruang tamu, yang tadi kita lewati. Kemudian ruang makan “. Menunjuk ke lokasi mereka sekarang. “Dan dapur “. Menunjuk ke arah belakang.


“Di sini ada tiga kamar tidur non “. Sudah berhenti di depan pintu kamar.


“Ini kamar non dokter ya “. Membukakan pintu kamar tersebut. “Ayo non, silahkan “. Masuk terlebih dahulu, kemudian memberikan jalan agar Kayana mengikutinya.


Kayana pun masuk ke dalam kamar barunya itu, lingkungan baru dan kamar baru. Sederhana, ranjang beralas seprai putih dan selimut tebal senada, di sisi kanan kamar. Tidak lupa, ada 2 jendela yang masih tertutup gorden berwarna hijau tua. Sedang di sisi kiri kamar, Kayana menemukan meja rias dengan bangku kecil di depannya, lemari dua pintu sedikit berjauhan jaraknya dan sebuah pintu lagi yang terbuat dari alumunium.


“Semoga non suka ya “. Bibi berjalan ke arah jendela, membuka gordennya, mempersilahkan sinar mentari masuk, memberi warna terang di dalam kamar itu.


“Ini sangat menyenangkan Bi, Kayana suka kok “. Jujur. “Makasih ya Bi, sudah siapin buat Kayana “. Senyum penuh rasa terima kasih.


“Sama-sama non “. Membalas senyum tulus Kayana. “Pokoknya non dokter tidak perlu ragu bilang apa saja sama Bibi ya !”.


“Pasti Bi !” mengedipkan mata kanan.


“Di sebelah kamar non dokter, adalah kamar kedua “. Melanjutkan penjelasan tentang rumah dinas tersebut. “Bisa di pakai sebagai kamar tamu, atau kamar kegiatan non untuk hal-hal lainnya ! Sedangkan kamar bibi di belakang non, sebelum pintu ke dapur “.


“Ooo, baiklah bi “. Mengangguk mengerti.


“Di belakang ada pohon rambutan, cukup rindang non. Jadi di bawahnya, sama dokter yang sebelumnya tinggal di sini, di buatkan bangku-bangku sederhana untuk duduk santai “. Kayana menyimak.


“Memang di belakang ada halamannya juga bi ?”


“Bukan halaman non !” Menggelengkan kepala. “Di belakang itu sebenarnya hanya untuk jemur cucian saja non. Tetapi, dokter yang lama merasa sayang kalau kerindangan pohon rambutan tidak di manfaatkan. Jadilah non, kalau udara sejuk, angin segar berembus pelan, duduk di bawah pohon itu memang menyenangkan “.

__ADS_1


“Begitu ya bi “. Tersenyum kecil. “Sepertinya memang menyenangkan “.


“Permisi “. Pak Jomi sudah berdiri di depan pintu kamar Kayana. Membuat Kayana dan Bibi menghentikan cerita mereka dan beralih padanya.


“Maaf Bu dokter, saya ganggu ini “. Membawa barang-barang Kayana. “Ini semua tasnya Ibu, saya taruh di mana ya ?”


“Wah, jadi buat Pak Jomi repot “. Berjalan ke arah pintu.


“Minta tolong di dekat ranjang saja Pak “.


“Baiklah Bu, tugas saya sudah selesai semua “. Tiga tas milik Kayana sudah di letakkan di tempat yang Kayana mau. “Kalau begitu saya permisi dulu “. Menunduk hormat.


“Ini kunci mobil Ibu “. Merogok saku baju, menemukan sebuah kunci dan menyerahkannya pada Kayana.


“Terima kasih banyak Pak Jomi, sudah jemput saya dan sudah repot nolong bawa tas-tas saya “. Berucap sopan.


“Tapi, kalau boleh, saya mau minta bantuan Bapak ?”


“Ooh, tentu Bu dokter, apa itu ? Kalau saya bisa, dengan senang hati akan saya bantu “.


“Karena saya baru di sini, saya tidak tahu arah ke Rumah Sakit atau tempat-tempat penting lainnya di Kota ini “. Mengerutkan kening. “Jadi kalau boleh, mobilnya Bapak bawa saja dulu. Besok tolong Bapak jemput saya, sekalian ajarkan saya rute-rute yang harus saya lalui “. Nampak sangat berharap.


“Astaga, saya gak kepikiran ke arah sana Bu “. Mengaruk bagian belakang kepala sambil senyum simpul. “Tentu saja Bu, Bu dokter jangan khawatir. Saya akan bantu ! Besok pagi saya jemput Ibu ya. Dan juga, kalau ada apa-apa atau Ibu mau kemana saja, Ibu jangan ragu hubungi saya “. Memberikan kartu nama.


“Saya pasti akan bantu Ibu “. Menunduk hormat


“Terima kasih banyak ya Pak. Saya benar-benar terbantu jadinya “. Membalas menunduk hormat.


“Jangan sungkan ya Bu. Keberadaan Ibu di Rumah Sakit sangat kami syukuri, jadi Ibu jangan sungkan ya “.


“Iya Pak, sekali lagi terima kasih”.


“Baiklah, kalau memang tidak ada lagi, saya izin dulu Bu dokter “. Menunduk kembali dengan hormat, dan berjalan ke pintu depan.


Sepeninggalan Pak Jomi, Kayana memilih merebahkan diri sesaat di atas ranjang barunya. Sedikit lelah, dan tentu saja sedang berusaha menata hatinya. Setelah itu, Kayana berencana menelepon Ayah dan Ibunya, mengabari tentang dirinya yang sudah sampai di Kota yang belum pernah di jelajahinya ini. Barulah kemudian, dirinya akan menyusun semua barang bawaannya, menyesuaikan tempat-tempat mereka sambil menunggu jam makan siang tiba.


Bi Mar pun sudah kembali ke dapur, menjanjikan pada Kayana akan memasak menu makan siang spesial, khusus untuk menyambut majikan barunya itu.

__ADS_1


__ADS_2