
Sekilas Cerita Lalu
🌹🌹🌹
Kayana Zhafira, dokter Spesialis Anak yang menjalankan praktek di Rumah Sakit ternama di sebuah kota besar di negara tetangga. Siapa sangka gadis cantik dengan rambut panjang ini bisa sampai kesana. Semua karena kisah cinta yang dijalaninya, kisah cinta yang ditentang keras oleh ibu dari kekasih hatinya.
Mungkin bagi sebagian orang, keberadaaan Kayana di negara tetangga ini adalah anugrah. Sayang, hal tersebut tidak berlaku baginya. Kayana saat ini justru menjalankan masa pembuangan dari sang nyonya, wanita kaya raya yang tidak pernah sudi Kayana menjadi menantu keluarga terpandangnya.
Ancaman demi ancaman diterima Kayana, keluarga sederhananya mulai diusik sang nyonya. Ayah Kayana yang merupakan seorang Kepala Sekolah Dasar di Kota kelahirannya, dibuat menderita dengan fitnah sang nyonya kaya, adik kecil kesayangan Kayana di persulit proses magangnya dan usaha rumahan katering sang Ibu pun dicekal. Semua demi memastikan Kayana tidak akan membantah keinginan sang nyonya.
Dan Kayana tiba di Negara ini, di sebuah Rumah Sakit ternama milik keluarga besar Britania. Walaupun sangat sulit, Kayana berusaha menjalankan masa pembuangannya, masa dirinya dijauhkan dari keluarga tercinta dan bertugas seperti biasa, sangat profesional sebagai dokter spesialis anak.
Kehidupan Kayana yang biasa pun mengalami warna berbeda di sini. Tanpa sengaja bertemu lelaki muda yang sebenarnya sangat tampan, tetapi sayang. Lelaki ini ternyata memiliki temperamen pemarah yang diluar akal sehat Kayana. Lelaki dingin yang sangat suka berkata ketus padanya, lelaki arogan menurut Kayana. Kayana selalu harus menyiapkan energi ekstra saat berrhadapan dengan lelaki muda yang dikemudian hari diketahui Kayana bernama Sadewa Putra Britania.
Bergulir waktu, Kayana menemukan ada sisi lain dibalik sikap arogan si pewaris Britania ini, seorang gadis kecil yang baru memasuki usia 4 tahun telah memikat hatinya. Quinsha, bocah cilik cantik dengan pipi montok dan mata bulat, selalu bergelayut manja pada Sadewa dan begitu semangat memanggilnya dengan sebutan bunda.
***********
Cerita Ala Cucu Pada Sang Nenek
Sudah hampir jam istirahat siang, Quinsha yang baru dua hari keluar dari Rumah Sakit ini mengaku kepada sang nenek kalau matanya belum mengantuk, matanya masih bersih dan cerah, masih sibuk dengan buku mewarnainya di dalam kamar tidur.
“Sudah jam istirahat Sha, Shasakan baru sehat.” Suara sang nenek sambil membelai kepala cucu kesayangannya.
“Lum gantuk nek,” menjawab sambil terus mewarnai, tanpa melihat ke arah si nenek.
“Nek, kenapa bunda belum juga datang lihat Shasa?” bertanya dengan tangan yang masih sibuk mewarnai buku gambarnya, mata tetap tidak beralih kepada nenek Syania.
“Bunda? Bunda siapa ya sayang?” pura-pura tidak tahu siapa yang di maksud oleh cucu semata wayangnya.
“Bunda dokter, nek. Bunda Kayana.” Berhenti sesaat, melihat pada sang nenek beradu tatap dan kemudian melanjutkan mewarnai.
“Loh, kok panggil bunda sama kakak dokter?” masih berusaha bersikap tidak tahu apa-apa.
“Nenek, dulu kakak cantik itu adalah kakak buat Shasa. Tetapi, sekarang kakak cantik adalah bundanya Shaha.” Bicara penuh percaya diri.
“Wah..bagaimana bisa? Nenek kok gak tahu?” diam-diam tersenyum simpul. Di dalam hati sangat senang.
__ADS_1
“Nenek sih gak ada waktu itu, jadinya gak tahukan.” Memasang wajah cemberut. “ Nek, saat Shasa sakit, kakak cantik tolong Shasa, nenek. Obatin Shasa dan juga jaga Shaha. Kakak itu sayang banget sama Shasa, bahkan kakak cantik menjaga Shasa dari tante jahat yang suka nempel-nempel sama ayah.” Polos.
“Bukankah itu sama dengan seorang bunda sama anaknya nek? Iyakan nek?” meminta kepastian.
“Berarti kakak cantik adalah bundanya Shasa, nek.” Mengangkat tangan kanan ke udara, senang dengan jalan pikiran polosnya.
Bunda Syania nyaris tertawa melihat betapa sederhananya pola pikir sang cucu. Perasaan yang merasa damai dan terlindungi saat bersama Kayana membuat anak kecil itu percaya seperti itulah rasanya disayangin oleh seorang ibu. Sederhana sekali bukan?
Andai saja ya nak, bundamu sebenarnya masih di sini. Pasti kehidupan masa kecilmu sempurna, ada Papa dan bunda yang melimpahkan kasih sayangnya padamu.
“Shasa, apa kakak cantik tidak marah saat dirinya Shasa panggil bunda?” masih terus mengali informasi.
“Tidak nek, kakak cantik kan memang bundanya Shasa.” Terlalu percaya diri.
“Ayah bagaimana?” mengajukan pertanyaan baru.
“Ayah sepertinya tidak juga nek,” menebak sesuka hati. “Tapi nek, kalau ayah tidak suka kakak cantik jadi bunda Shasa kan masih ada paman. Paman bersedia loh nek, menjadikan kakak cantik bibinya Shasa. Dan nanti, kalau kakak cantik jadi bibi Shasa, Shasa tinggal sama paman saja nek? Shasa pindah ke rumah di mana ada paman dan kakak cantik, Supaya Shasa bisa sama kakak cantik terus.”
Sampai di sini, bunda Syania cukup kaget. Bocah kecil yang tidak lain adalah cucu pertamanya itu ternyata sudah memiliki kesimpulan dan solusi untuk keberadaan Kayana bagi hidupnya. Sangat dramatis tetapi, Syania bisa menerima itu. Pasti kasih sayang yang tulusnya yang telah menautkan hati cucu kesayangannya ini pada sosok dokter cantik, yang menurut sudut pandang seorang ibu memanglah wanita yang baik.
Tiga hari mengamati kebersamaan Quinsha dan Kayana, Syania tahu seberapa berharganya gadis cantik itu dalam hidup sang cucu kedepannya.
Syania mengusap kepala Quinsha, membelai lama di sama dengan senyum terkembang sempurna.
“Berdoa dan berusahalah Sa maka, semua keinginanmu akan terkabul sayang!”
Hingga beberapa saat kemudian…
“Bunda.”
Bunda Syania melihat ke arah pintu kamar sang cucu, nampak lelaki muda dengan pakaian kemeja hitam lengan panjang dan celana bahan warna cream sedang berdiri di sana. Lelaki yang sangat di kenalnya.
“Tomi.” Bunda Syania tersenyum, senyum khas seorang ibu menyambut kedatangan anak yang sudah lama tidak terlihat di kediaman megah mereka. “Oh…anakku.” Ada rasa haru berbalut bahagia. “Kamu pulang nak?”
Tomi melangkah cepat ke dalam, mengapai tangan kanan bunda Syania dan mencium penuh hormat punggung tangan sang bunda, lama.
Bunda Syania tahu, ada kegetiran di sana. Setelah apa yang terjadi nyaris dua tahun ini, inilah kali pertama Tomi pulang. Kembali menginjakkan kaki di kediaman Britania.
__ADS_1
Pelan dan penuh kasih, bunda Syania membelai rambut hitam Tomi. Mengusap berkali-kali dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
“Kamu pulang nak.” Akhirnya kata itu diucapkan lagi dari bibir tua bunda Syania. “Bunda merindukanmu.”
“Bunda,” Tomi melepaskan tangan kanan bunda Syania dan memilih memeluk bunda Syania. Meletakkan kepalanya di bahu bunda Syania, ada rasa lelah dan duka di sana. Jelas, Tomi sedang berharap pelukan hangat bunda Syania bisa menenangkan sanubarinya.
Quinsha meletakkan krayon warna biru di dalam genggaman tangannya. Memilih memperhatikan wajah lelaki yang sejujurnya sangat tidak asing dalam hidupnya itu, sedang memeluk sang nenek. Quinsha berjalan perlahan, hingga akhirnya sampai di belakang tubuh yang sedang bertopang lutut di harap bunda Syania.
“Papa,” ucap Quinsha sambil menarik bagian belakang kemeja Tomi.
Tomi melepaskan pelukannya dari bunda Syania, beralih melihat sosok gadis kecil yang berdiri di belakangnya. Gadis kecil dengan warna mata dan bentuk hidung serta bibir sama persis dengan sang isteri. Ada getar kerinduan teramat sangat di sana.
“Quinsha papa.” Tomi membawa Quinsha dalam dekapannya. “Ya Tuhan, sayang..kamu sudah besar nak.” Berkali-kali Tomi mengecup puncak kepala Quinsha penuh kerinduan. Penuh cinta dan kasih sayang, kasih sayang seorang ayah pada anaknya.
“Quinsha, papa kanget banget sama kamu, sayang.” Ucap Tomi lirih dengan suara bergetar.
Bunda Syania tidak kuasa menahan laju kaca-kaca yang telah menebal di mata cokelatnya, kaca-kaca tebal itu telah berganti bulir-bulir bening yang menetes tanpa diperintahkannya di ke dua sudut matanya. Satu tetes, satu tetes lagi dan lagi, sesekali bunda Syania menyeka air mata itu dengan tangan kanannya.
Sungguh pemandangan yang mengharukan, menyayat hati sekaligus penuh rasa bahagia. Ada dilema, ada duka dan ada suka, bunda Syania masih menyeka air matanya beberapa kali sambil terus memperhatikan bagaimana besarnya kerinduan seorang ayah pada sang anak yang tidak pernah bersua selama dua tahun terakhir ini.
**********
“Bagus, tidak pa?” Quinsha duduk di pangkuan Tomi sambil memperlihatkan hasil mewarnainya seharian ini.
Bunda Syania sudah meninggalkan Tomi dan Quinsha sedari tadi, bunda Syania ingin memberi ruang sebanyak-banyaknya bagi ayah dan anak itu untuk bersama, melepas kerinduan dan kembali bercerita, hanya berdua saja.
“Bagus.” Ucap Tomi sambil mencium sayang puncak kepala Quinsha. “Tapi ini gambar siapa sayang?” menunjuk gambar yang dalam tebakan Tomi adalah sosok wanita. Dengan segala kesederhaan dan kemampuannya, Quinsha memperlihatkan hasil mengambarnya berupa tiga sosok manusia. Di sebelah kiri kertas gambar adalah wanita, kemudian di bagian tengah nampak sosok manusia yang lebih rendah tetapi, juga wanita, dan paling akhir bagian kanan sekali ada sosok gambar lelaki. Seperti gambaran sebuah keluarga.
“Ooohhh..iya! hehehehehe….” Quinsha cekikikan sendiri. “Shasa belum cerita sama papa ya.” Sadar telah melupakan sesuatu.
“Ini gambar kita pa!” bicara dengan sangat senang. “Ada Papa, ada bunda dan ada Shasa.”
Deg…
Ada rasa menohok sakit di dalam hati Tomi mendengar kata kita diucapkan penuh keyakinan oleh Quinsha.
Setelah sekian lama, setelah nyaris dua tahun lamanya dan kali ini Tomi kembali mendengar kata kita. Seakan sebuah keluarga utuh yang masih ada, seakan masih sama sebelum peristiwa memilukan itu terjadi. Tomi mengepal tangan kanannya lama, sangat lama untuk menekan rasa sakit yang ternyata masih juga ada di hati terdalamnya. Rasa kehilangan yang selama ini di kuburnya bersama dengan rasa cinta pada wanita yang telah memberikannya gadis kecil luar biasa yang sedang ada dalam pangkuannya saat ini.
__ADS_1
Mendadak, Tomi ingin berteriak, mengeluarkan semua kesakitan yang hanya dia yang tahu, kesakitan yang dilaluinya setiap detik, setiap malam. Kesakitan akan cinta yang telah pergi jauhnya darinya, menutup mata selamanya, meninggalkan dirinya dalam kerinduan yang tiada berujung.