
🌹🌹🌹
“Dokter, ada panggilan darurat dari ruangan gawat darurat !” Perawat Diandra setengah berlari masuk ke ruang praktek Kayana. “Dokter di minta bersiap, pasien akan segera tiba !” Diandra sukses membuat Kayana yang sedang serius membaca rekam kesehatan pasien berikutnya terlonjak kaget.
“Kenapa, apa kamu dapat informasi ?” Menutup tumpukan kertas di depannya, mengeser ke sudut meja, beralih memberi tatapan penuh ingin tahu pada Diandra.
“Korban kekerasan dok, dari informasi yang aku dapat anak ini korban kekerasan dari kekasih sang ibu “. Kayana terdiam, miris. Hatinya merasa sangat miris mendengar informasi yang baru saja disampaikan Diandra padanya. Bagaimana mungkin seorang kekasih yang katanya mencintai si wanita tega menyakiti anak bawaan dari wanita tersebut ?
Kayana merasa tragis dengan kenyataan yang ada.
“Tega sekali “. Hanya bergumam pelan. Kayana tidak habis pikir, bagaimana bisa si ibu dari anak tersebut bisa memilih seorang lelaki kejam, terlebih terhadap anak kecil hingga sanggup melakukan kekerasan fisik sebagai kekasihnya.
“Apakah aku harus ke ruangan gawat darurat sekarang ?” Kayana segera tersadar kembali dari perasaan hatinya.
“Belum dokter, sepertinya dokter masih bisa menerima satu pasien lagi sebelum ke ruangan gawat darurat “. Melihat jarum jam di pergelangan tangannya.
__ADS_1
“Baiklah, tolong bantu aku untuk menerima pasien berikutnya !” Kayana kembali membuka lembar kertas putih di dalam map kuning di atas mejanya, lembar kertas yang sesaat tadi sempat di singkirkannya ke tepian meja.
“Baik dok “. Penuh kepatuhan dan sikap hormat, Diandra melanjutkan tugas utamanya sebagai asisten pribadi Kayana.
***************
“Kak..apa kak Hadi tahu kalau kamu mau ketemuan sama dia ?” Beberapa menit lagi mobil sedan mewah yang menjadi transportasi Sadewa menuju Rumah Sakit miliknya, tempat dokter Hadi sang sahabat berada akan segera tiba.
“Aku tidak memberitahu dia “. Menjawab singkat.
“Bagaimana kalau kita sampai kak Hadi sedang menerima pasien ?” Martin sedikit mengerutkan keningnya.
“Tapi kak..”, menolehkan wajah ke sisi kanan bahunya. Martin berusaha berbicara dengan langsung menatap wajah Sadewa. “Bagaimana kalau kak Hadi sedang di ruang operasi ? Itukan lama kak ! Sementara, kita kejar tayang janjian sama pihak Mersi “.
“Lihat saja nanti “. Sama sekali tidak berniat mencari tahu jawaban untuk semua andai-andai Martin terhadap Hadi.
__ADS_1
“Memang kenapa sih kak mendadak banget mau ketemu kak Hadi ? Bukannya kamu sehat-sehat saja ?” Rasa penasarannya kembali lagi.
“Itu urusanku !” Jawaban tegas di sertai mata yang dipejamkan. Sadewa merebahkan kepalanya di sandaran kursi mobil.
“Pelit amat sih “. Bergumam penuh kekesalan. Lagi-lagi rasa penasarannya tidak terjawab.
“Bukan urusanmu !” Dan lagi-lagi, dengan acuhnya Sadewa membalas semua perkataan Martin dengan sesuka hatinya.
“Iya, iya..aku tahu “, Martin akhirnya menyerah. Pasrah dalam rasa penasarannya sendiri.
***************
“Dok, sudah aku sampaikan kebagian resepsionis kalau dokter akan berhenti sesaat menerima pasien karena ada hal gawat darurat di lantai satu “. Diandra kembali masuk ke ruang praktek Kayana, setelah beberapa saat tadi dirinya mengantarkan bocah lelaki usia sepuluh tahun, bersama kedua orang tuanya ke apotek untuk mengantri obat.
Pasien Kayana yang satu ini dideteksi mengalami gejala demam berdarah. Jadi, untuk observasi awal Kayana memberikan beberapa obat sambil menunggu perkembangan terbaru. Awalnya, orang tua pasien tersebut tidak mau pergi begitu saja dari ruang praktek si dokter cantik ini, mereka terlalu khawatir, di tambah hasil laboratorium tentang darah si anak yang menyatakan jumlah trombositnya turun. Tetapi, untuk pengetahuan kita bersama bahwa nilai trombosit dapat juga turun di bawah ambang normal pada penyakit yang di sebabkan infeksi virus atau bakteri.
__ADS_1
Sementara, penyakit demam berdarah tidak semata-mata pada trombosit saja. Deman yang berlangsung sekurang-kurangnya sudah tiga hari, tanpa ada keluhan batuk dan pilek bisa dicurigai sebagai gejala demam berdarah. Terlebih, jika disertai mual, muntah, diare, nyeri perut, hingga muncul bintik-bintik kemerahan kecil di beberapa bagian tubuh atau dalam bahasa kedokterannya di sebut peterkie. Maka, orang tua harus sangat waspada.
Sedangkan, si pasien ini diriwayatkan baru demam memasuki hari kedua, dan membuat Kayana belum bisa mengambil kesimpulan pasti, tetapi dengan segala ketenangan dan sisi lembutnya Kayana berhasil menenangkan orang tua si pasien. Itu bukanlah hal sulit, Kayana sudah terbiasa menghadapi begitu banyak jenis pasien atau orang tua pasien dengan segala kekhawatiran mereka. Dua tahun bekerja di Klinik dokter bersama di kampung halamannya, Kayana sudah memiliki bekal terbaik sebagai dokter terbaik untuk melayani pasien semaksimal mungkin.