
🌹🌹🌹
“Kamu yakin kak ?” Suara penuh kekhawatiran Martin bertanya pada Sadewa. Malam ini Sadewa memilih menginap di rumah cinta, tempat sang bunda berada. Quinsha, si cucu pertama keluarga Britania tidak mau lepas dari nenek kesayangannya. Nampak jelas betapa rindu bocah kecil itu pada sosok Syania yang entah bagaimana masih belum pulih sepenuhnya dari duka besar yang telah terjadi di dalam keluarga Britania. Syania lebih banyak memilih tinggal di rumah cinta, dari pada menghabiskan waktu di istana Britania setelah peristiwa pilu itu terjadi.
Martin dan Sadewa lagi duduk santai di taman belakang, di pendopo yang dulu menurut cerita Syania, merupakan tempat favorit sang ayah bersantai bersama bunda, dan tempat dirinya semasa kecil berlarian senang, bebas bermain bersama sang ayah.
“Hanya sekali ini “. Jawab Sadewa menatap ke arah mawar putih, mawar yang konon menurut cerita sang bunda adalah bunga yang di tanam khusus sang nenek untuk bunda. Menantu kesayangan nenek.
“Lagi pula kalau bunda gak pernah ketemu Melani, bagaimana bunda bisa tahu seperti apa Melani sebenarnya “.
“Kak, kakakkan tahu kalau bunda tidak suka sama ulat bulu itu. Kenapa kakak berkeras sih mempertemukan mereka ?” Meletakkan gelas kopinya di atas meja. “Kenapa kakak tega ?”
“Aku merasa bunda hanya belum kenal saja sama Melani. Nanti kalau sudah kenal pasti akan berubah pikiran “. Menatap gelas kopi Martin. “Kamu tuh persis paman Kristo, kopi, kopi dan selalu kopi !” Kesal. “Cobalah minum jus “.
“Dan kamu, kak. Sama persis seperti ayah Sakha, selalu menasihati saja kerjaannya. Tapi, saat bunda bilang tidak mau, kamu tetap maksa “. Mencibir.
“Hufffttthhhtttt...”, menghembus nafas berat.
“Aku sebenarnya juga ragu “. Mengeluarkan isi hatinya. “Aku berharap dengan bunda bisa berjumpa bersama Melani, mungkin hatiku bisa terbuka. Aku bisa mendapatkan kebenaran atas siapa Melani sebenarnya atas sudut pandang bunda. Sejujurnya, aku berharap agar duniaku segera berubah !“
“Hati-hati dengan permintaanmu, kak ! Dikabulkan Tuhan, kamu akan menemukan sesuatu luar biasa yang mengejutkan duniamu, bagaimana ?” Merubah sikap duduk, duduk dengan sikap serius. “Semua berputar dan berbalik seratus delapan puluh derajat, baru tahu rasa kamu, kak !”
“Heh, apa maksud kata-katamu ?” Jelas tidak paham.
“Sudahlah “. Tidak berniat memperpanjang pendapatnya tadi. “Sudahlah kak, aku terserah kamu saja. Yang jelas, aku gak suka sama ulat bulu itu “. Tegas. “Cobalah kakak cari calon istri itu kayak Kayana !”
“Kayana ?”Menarik alis ke atas. “Apa hubungan dia dengan semua ini ?”
“Kak, Kayana itu gadis baik “. Langsung menjawab.
“Aku tidak habis pikir sama kamu, Martin. Kamu itu kenal yang nama Kayana di mana ? Apa sih yang kamu tahu tentang dia ?” Berbicara sambil mengangkat gelas berisi air putih hangat ke arah mulutnya.
“Aku ketemu dia semalam kak, di swalayan tadi itu. Dia gak sengaja tabrak aku waktu keluar dari swalayan, dia ketakutan banget. Itulah awal aku ketemu dia. Cantik dan santun, aku jatuh hati sama dia kak “. Membuat pengakuan jujur.
“Hanya ketemu sekali itu dan kamu sudah berani menarik kesimpulan kalau dia wanita baik ?” Sulit percaya. “Aneh !”
“Itulah cinta kak “. Santai, lengkap dengan senyum kebahagiaan.
“Norak kamu “. Mengejek Martin.
“Aku sumpahin kamu bucin absurd suatu hari nanti, nyahok deh kamu, kak !” Sengaja memprovokasi Sadewa.
“Apa lagi tuh arti kata-katamu tadi ? Kosa kata baru ya ?” Tidak mengerti arti kata-kata yang diucapkan Martin barusan.
“Ya ampun kak “. Menggeleng penuh ketakjuban. “Kamu gak ngerti arti kata bucin dan absurd ?” Menatap wajah Sadewa, jelas ada raut bingung di sana. “Ckckckck.....Para banget, asli parah!” Hanya bisa menggelengkan kepala.
“Aku tanya baik-baik, apa artinya ? Kau gak perlu mengejek aku juga !” Tidak terima, tidak senang.
“Aku bukan mengejek kak, hanya saja logika ku agak sulit menerimanya. Seorang Sadewa, putra Aisakha dan pewaris kekayaan Britania bisa gak tahu air bucin dan absurd ? Hahahahaha.....konyol kak, konyol !” Tertawa terpingkal-pingkal.
Plakkkk....
__ADS_1
Satu pukulan dari tangan Sadewa mendarat di kepala Martin. “Jangan kurang ajar kau ya !” Membesarkan bola mata.
Sedang Martin?
“Sakit kak, sakit !” Berbicara dengan wajah menahan sakit dan tangan kanan sibuk mengusap-usap kepalanya sendiri, tempat tangan Sadewa tadi mendarat.
Lama tercipta keheningan antara Martin dan Sadewa, hingga kemudian....
“Ehhh, kak “. Tiba-tiba ingat sesuatu. “Kamu sebenarnya cinta gak sih sama ulat bulu tuh ?”
Sadewa diam, berpikir. Sedang Martin, menunggu jawaban dengan tidak sabar.
“Kak ?” Menunggu dan terus menunggu, tetapi belum di jawab.
“Aku.......?” Tidak tahu harus bicara apa.
“Kamu hanya suka fisiknya saja kak, bukan cinta tulus. Kamu itu, hanya tertarik dengan fisiknya yang suka mengumbar lekuk tubuhnya “. Mencibir Sadewa. “Sama persis seperti yang di bilang bunda “.
“Kak...tanya deh hati kecilmu, apa benar kamu mau ibu dari anak-anakmu adalah wanita yang mengabaikan norma kesopanan, hanya dengan alasan dirinya seorang model ? Apa kamu yakin kak, bisa membiarkan anakmu di didik orang seperti itu ?” Memberondong Sadewa dengan banyak pertanyaan.
Sadewa memandang Martin, menatap lama mata lelaki yang hanya terpaut usia dua tahun lebih muda dari dirinya. Martin, anak paman Kristo dan bibi Resya yang sangat dihargainya, sama seperti Sadewa menghormati ayah dan bunda kandungnya. Sosok adik lelaki yang sangat disayanginya, sama besarnya seperti dia menyayangi Sofia Syananda Britania, adik perempuan satu-satunya yang telah.....
“Ahhhh “, Sadewa menundukkan kepalanya.
Dik...aku rindu padamu.
Dan Martin tidak jua kunjung mendapatkan jawaban atas pertanyaannya tadi.
************
“Soalnya bibi sudah kenal Diandra dari tiga tahun yang lalu non. Dari zaman dokter Zami yang bekerja di Rumah Sakit sebagai dokter anak sebelum non, dan Diandra sebagai asistennya “. Memulai penjelasan.
“Waktu itu, dokter Zami masih bujang non. Jadi, Diandra itu sudah seperti sahabat bagi dokter Zami. Diandra sudah biasa lalu lalang di rumah ini non “.
“Kan sudah lama tuh dokter Zami tugas di sini, kenapa akhirnya pindah bi ?” Sedikit penasaran.
“Ooo, itu karena masalah anak non “. Bibi menghela nafas. “Hampir setahun yang lalu, dokter Zami menikah non, tetapi istrinya bertugas di Kota M. Awalnya rumah tangga jarak jauh ini bukanlah masalah. Mereka selalu punya solusi untuk masalah-masalah yang di timbulkan dari dua insan yang sudah sah tetapi, tinggal berjauhan. Hingga 4 bulan lalu, dokter Zami diberitahu kalau istrinya sedang hamil muda dan mengalami sedikit pendarahan. Bisa jadi karena terlalu capek non “. Bibi melihat Kayana mendengarkan dengan saksama isi ceritanya.
“Terus bi ?” Tanya Kayana penasaran.
“Berita itu sungguh membuat dokter Zami takut. Maka, dia meminta izin pindah tugas kepada dokter Hadi. Izin di dapat, bahkan pemilik Rumah sakit pun memberikan izinnya pula. Jadilah, hampir dua minggu yang lalu, dokter Zami akhir ya pindah non “.
“Oooooo...”,mengangguk paham dan kepala Kayana bergerak naik turun.
“Dan setelah itu Kayana sampe di sini, iya kan bi ?”
“Benar non...beruntungnya bibi punya majikan baru sepertin non “. Memuji apa adanya, tulus.
“Bibi bisa saja “. Hanya bisa tersenyum.
“Sungguh non “. Menganggukkan kepala saat Kayana memandang padanya.
__ADS_1
“Kayana juga sangat berterima kasih pada bibi dan Diandra, sudah menerima Kayana dengan baik. Awalnya Ana pikir akan terasa aneh saat harus memulai hidup baru di sini, sendiri. Tetapi, sambutan Diandra dan bibi telah menenangkan hati Ana, Ana punya keluarga baru di sini “. Tersenyum pada bibi.
“Apa non tahu, Diandra itu suka sama non loh ?” Mengerakkan kedua alisnya, tidak lupa senyum menggoda.
“Suka bagaimana maksud bibi ?” Bertanya cepat.
“Ya suka kayak orang jatuh cinta gituh non, sukanya orang dewasa “.
“Mana mungkin bi “, segera membantah. “Ana itu belum dua puluh empat jam kenal sama Diandra. Bagaimana mungkin bi ?” Menggeleng. “Lagi pula, Ana lebih tua dari Diandra. Diandra itu seumur adiknya Ana, bi “.
“Mungkin saja non, dalam urusan cinta semua bisa terjadi, semua bisa masuk akal“.
“Ana kapok sama urusan cinta-cintaan bi ! Ana lelah !” Tertunduk. “Ana lebih baik seperti ini saja, kerja untuk keluarga, sudah !”
“Kenapa non, memang non pernah disakiti ?” Merasa ada yang salah, mendadak tidak tenang.
Dan Kayana, dia hanya menganggukkan kepalanya sebagai wujud jawaban pertanyaan bibi.
“Tega sekali lelaki itu “. Kesal. “Non dikhianatinyakah ?” Sangat ingin tahu. Dan sekarang, kepala Kayana menggeleng sebagai wujud jawaban.
“Lantas ?” Heran.
“Ibunya tidak menyetujui hubungan kami, bi “. Berbicara tanpa mau menatap mata bibi.
“Tapi, anaknyakan cinta sama non ?”
“Iya, hanya saja.....”, ada kabut pedih disuara Kayana.
“Hanya saja, sekarang lelaki itu juga berpihak ke ibunya ? Lelaki itu ikut membenci non ?” menebak berdasarkan raut wajah penuh luka Kayana.
“I...iyaaaa “, jawab Kayana tertunduk dalam.
“Ya Tuhan non....kok ada lelaki bodoh seperti itu ?” Mengapai tangan Kayana, menggenggam jemari di tangan Kayana kuat. Bibi berniat mengurangi beban luka yang jelas nampak di sanubari Kayana.
“Berapa lama non pacaran sama lelaki itu ?” Akhirnya rasa ingin tahu lebih dalam timbul.
“Lima tahun bi “. Menjawab dengan helaan nafas berat.
“Lima tahun non ?” tidak percaya dengan pendengarannya. “Lima tahun pacaran dan lelaki itu menyakiti non begitu saja karena ibunya ?”
Kayana hanya bisa diam.
“Bodoh “. Bergumam pelan, kesal pada sosok lelaki yang sedang diceritakan.
“Dia berasal dari keluarga kaya bi, ibunya merasa Ana dengan kesederhanaan keluarga Ana bukanlah tipe pendamping yang pantas untuk anaknya “. Tanpa tahu sebabnya, Ana bisa memulai cerita duka kisah cintanya pada bibi. Begitu saja, mengalir begitu saja bagai orang yang telah kenal lama.
“Ibunya merasa, Ana bukanlah jenis menantu yang bisa di banggakan di dunia mereka. Jadi, ibunya selalu punya seribu satu cara untuk memisahkan kami. Hanya saja, cara itu tidak pernah berhasil. Anaknya selalu bisa menemukan Kayana, dan hubungan kami berlanjut “. Perlahan Kayana menegangkan kepalanya.
“Hingga, entah dari mana ide cemerlang berhasil di dapatkan oleh ibunya. Nyonya kaya itu berhasil memfitnah Ana dengan sebuah foto yang isinya kurang elok. Anaknya percaya bi, dia memaki Ana dan mengatakan betapa sialnya dia telah jatuh cinta pada Ana, Ana wanita rusak. Itu katanya bi “. Luka yang masih basah tiba-tiba mengangga lebar lagi. Kayana sakit mengingat kebencian Praditio padanya, kebencian hingga sum-sum tulang akibat sebuah foto antah berantah.
“Non “. Berempati, menepuk-nepuk punggung tangan Kayana. Tetapi, bibi tidak tahu harus merangkai kata-kata terbaik apa untuk menghibur Kayana. Jelas bibi bisa melihat, ada mendung duka di mata indah gadis cantik itu.
__ADS_1
Diam-diam bibi marah, marah pada siapapun lelaki yang telah menyakiti hati majikan barunya itu. Bibi tidak senang, sangat ingin menceramahi lelaki yang di dalam benak bibi sangat bodoh. Bisa berpikir sesingkat itu, bahkan tega memaki seorang wanita.
Cih..bibi benar-benar marah.