Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan

Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan
Firasat


__ADS_3

🌹🌹🌹


“Aduh, kenapa semua pada gak angkat telepon aku sih ?”


Bunda Syania, bundanya Sadewa dan sekaligus nenek dari si cantik gadis kecil Quinsha nampak sangat cemas. Tidak bisa dipungkiri, gurat ketakutan tergambar di wajahnya. Entah kenapa, atau karena faktor ketidaksukaan dirinya pada Melani, yang jelas perasaan Syania sangat tidak tenang saat ini.


“Sabar nyonya, bentar lagi kita sampai “. Bayu, pengawal pribadi Syania yang tidak kalah lamanya mengabdi pada dirinya, seperti bi Rihana dan bi Lita, berusaha menenangkan sang nyonya.


“Aneh saja bay, Janu gak angkat telepon, si Nah juga tidak “. Syania memperhatikan layar handphonenya. Ada banyak panggilan keluar ke nomor-nomor kontak telepon milik sopir Sadewa dan pengasuh Quinsha, tetapi nihil. Tidak ada yang merespon.


“Bisa jadi semuanya sedang bermain sama nona kecil, nyonya. Jadi, tidak ada yang tahu handphone mereka berbunyi “. Pendapat Bayu, sebuah analisa kemungkinan darinya.


“Semoga saja Bay, semoga “. Syania hanya bisa berharap.


Sementara itu..


“Nanti belikan es krimnya empat ya tante “. Suara Quinsha penuh semangat.


Ihh, gak tahu diri bocah. Beraninya minta banyak es krim sama aku. Kamu pikir beli es krim gak pake uang apa ? Awas saja kamu besok bocah, saat aku udah nikah sama Sadewa, kamu bakalan aku ajarkan sikap tahu diri.


Dengan deretan gigi mengerutuk, Melani berusaha keras menahan ketidaksukaannya pada Quinsha.

__ADS_1


“Banyak banget sayang beli es krimnya ?” Melani menelan dalam-dalam kemarahannya pada Quinsha, kemudian mengeluarkan suara lembut bagat ibu sambung penuh cinta pada sosok imut Quinsha.


“Iya harus banyak dong tante ! Tante ini gimana sih ?” Quinsha nampak heran. “Kan nanti es krimnya itu buat nenek satu, buat ayah satu, buat bibi satu, dan Shasa satu tante “.


“Terus buat tantenya mana ?” Melani bertanya kemudian.


“Tante gak usah, tante cukup jadi tukang bayar saja !” Tanpa beban sama sekali, Quinsha lancar mengemukakan pendapatnya pada Melani.


Astaga, pengenku remes tuh mulut. Masih kecil udah kurang ajar banget, ****** nih anak.


Melani hampir lepas kendali menghadapi sikap Quinsha padanya.


“Ooo, begitu ya sayang “. Ucap Melani pelan, berusaha mengendalikan amarahnya.


“Ya ampun Quinsha, kamu tuh kok nyusahin aku banget sih ?” Bergumam pada diri sendiri, Melani berusaha mengejar Quinsha.


“Quinshaaaaaa, Quinshaaaaa, tunggu ! Jangan lari !” Teriak Melani di antara keramaian mall sore itu.


***************


“Doyan bi ?” Kayana masih mengunyah pempek panggang ketiganya. Kalah cepat dengan bi Mar yang sudah menghabiskan lima butir si pempek pedas ini, sedang Kayana baru tiga saja.

__ADS_1


“Banget non, enak “. Bibi menjawab pertanyaan Kayana disertai jempol mengacung kedepan.


“Ana seneng kalau bibi suka “. Senyum Kayana memperhatikan mulut penuh bibi.


“Tiap hari juga bibi sangguf non “. Suara bibi dengan mulut berisi.


“Besok-besok Ana bakal buatin tekwan deh untuk bibi “.


“Apa non, tek apa non ?” Kening bibi berkerut.


“Tekwan bi, ini jajanan tradisional yang cukup terkenal di kota Ana. Tekwan buatan ibu sering di pesan sama pelanggannya, terutama buat acara arisan gituh “. Jelas Kayana singkat.


“Makannya seperti apa non ?” Bibi masih belum paham.


“Bahan bakunya sama seperti buat pempek bi, tetapi saat di santap si tekwan ini di guyur kuah kaldu “.


“Mirip sop dong non ?” Tebak bibi.


“Kuahnya mirip sop bi, bening-bening gituh. Tapi, sebelum dinikmati jangan lupa taburkan ebi giling. Jadinya seger banget deh bi “.


“Sepertinya enak non “. Bibi seakan bisa mengimajinasikan penjelasan Kayana barusan.

__ADS_1


“Banget bi “. Kayana mengangguk setuju.


“Aduh, aduh... “, tiba-tiba Kayana berdiri. “Bi, Ana kebelet. Bibi lanjut aja dulu ya “. Tanpa menunggu jawaban si bibi, Kayana segera berlalu. Masuk ke dalam kamarnya meninggalkan si bibi yang tengah mencomot pempek panggang keenamnya.


__ADS_2