Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan

Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan
Tamparan Keras


__ADS_3

🌹🌹🌹


“Hadi, apakah Dewa belum juga bisa dihubungi?” Pintu kamar rawatan Quinsha telah di tutup oleh dokter Hadi. Sahabat baik Sadewa ini sedang berjalan mengantarkan bunda Syania ke mobil mewah milik keluarganya di teras Rumah Sakit.


“Belum juga bunda.” Geleng dokter Hadi. “Martin pun tidak bisa dihubungi”.


“Ahhh, kemana mereka Hadi? Kenapa mereka tidak bisa dihubungi?” Syania nampak khawatir. Sudah dua jam semenjak Quinsha di bawa ke Rumah sakit dan selama itu pula, baik anak lelakinya atau pun anak dari sahabat baiknya yang seakan sudah seperti anaknya sendiri itu, tidak bisa dihubungi. Handphone mereka berdua mati.


“Aku kurang mengerti bun tapi, bunda harus yakin baik Dewa ataupun Martin, mereka pasti baik-baik saja. Ini pasti menyangkut pekerjaan jadi, agak sulit dihubungi,” Hadi mencoba berpikir bijak.


“Hadi, tolong kabari bunda ya!” Syania sudah sampai di teras luar Rumah Sakit, Bayu sudah menunggu di dekat pintu mobil bagian belakang. Pintu telah di buka untuk sang nyonya.


“Pasti bunda.” Dokter Hadi memeluk Syania. “Cobalah istirahat ya, karena Quinsha butuh neneknya saat di sudah sadar nanti.”


“Iya, akan bunda coba.” Syania naik ke atas mobil.


“Hadi, penuhi kebutuhan Kayana, jangan sampai dia kelelahan!” perintah Syania sebelum mobil sedan mewahnya dijalankan oleh Bayu.


“Iya, bunda jangan kahwatir.” Jawab Dokter Hadi mengerti.


“Terima kasih nak sudah memilih Kayana sebagai dokter spesialis Anak untuk Rumah Sakit kita.” Syania tersenyum pada Hadi, “Kau selalu tahu apa yang terbaik untuk Rumah Sakit ini.”


Hadi menganggukkan kepalnya pelan, membalas senyum Bunda Syania. Mengantarkannya masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangan hingga, kendaraan mewah Syania berlalu. Pergi jauh meninggalkan Hadi dalam senyuman. Hatinya bergetar, betapa Bunda Syania sangat menyayangi Kayana.


Siapakah Kayana ini sebenarnya? Pertanyaan yang kemudian menghampiri relung jiwanya.


***************

__ADS_1


“Akhirnya..” Sadewa melirik jam tangan mewah yang bertenger penuh keagungan di pergelangan tangan kirinya.


“Aku gak nyangka loh kak bakal selama itu.” Martin seakan mengerti arah kata Sadewa.


“Mereka itu keras kepala sekali.” Rutuk Sadewa.


“Tapi akhirnya mereka mendengarkan kamukan kak?” Ada senyum di sudut bibir Martin.


“Harus! Kalau mau kerja sama dengan Sunjaya Company maka, aturan mainku yang berlaku!” Jawab Sadewa tenang sambil melihat ke arah luar jendela mobilnya. Memperhatikan deretan pohon dan bangunan-bangunan yang dilalui mobil mewahnya.


“Kak, gawat, gawat.” Sesaat suara Martin berubah. Dari pembicaraan santai menjadi mendadak tegang.


“Apa?” Tanya Sadewa biasa saja.


“Kak, begitu banyak telepon masuk dari Janu dan bibi, juga..juga dari bunda dan Bayu. Bahkan, Kak Hadi juga kak.” Martin sangat khawatir.


“Apa lagi kau tunggu, cepat telepon balik!” mulai gelisah sendiri, terlebih saat melihat Martin malah sibuk membaca sesuatu di layar handphonenya.


“Kak, Quinsha, Quinsha di Rumah Sakit sekarang,” Martin memutar kepalanya, bahkan bahunya pun ikut di putar ke sisi belakang. Martin membuat Sadewa sangat cemas.


“Mana handphoneku?” Setengah berteriak Sadewa mengepalkan tangan.


“Astaga, kenapa bunda tidak mengangkat teleponku?” Bergumam kesal.


Kemudian, dengan setengah tidak sabar Sadewa sibuk menekan layar sentuh handphonenya kembali. Mencari nomor lain, menekan dan meletakkan ke telinga.


“Apa-apaan bibi ini? Berani dia tidak mengangkat teleponku?” Bergumam kesal kembali.

__ADS_1


“Hadi, Kak coba telepon kak Hadi!” Martin memberi saran. “Quinsha pasti di bawa kesana.”


“Ahhhh, iya.” Sadewa mengalihkan panggilan di kontak teleponnya, mencari nomor Dokter Hadi.


“Hadi.” Martin yakin kalau sahabat baik Sadewa itu telah menerima panggilan telepon Sadewa. “Quinsha kenapa?”


“Oooo, masih ingat kau sama anak itu?” Hadi malah terdengar tidak senang, sedikit malas merespon.


“Hadi, jaga mulutmu!” Membentak marah. “Ada apa dengan Quinsha, jawab ! atau……” Kalimat Sadewa terputus.


“Atau apa? Atau kau mau membunuhku? Heh, aku tidak takut.” Suara kesal dokter Hadi saat memutus kalimat Sadewa. “Kau tahu dengan pasti kalau aku tidak takut padamu!”


“Ahhhh, tolong, tolong beritahu aku ada apa dengan anak gadisku!” Sadewa melunakkan suaranya.


“Ooo, masih ingat kalau kau punya tanggung jawab besar terhadap Quinsha? Aku pikir kau amnesia!” Mengejek.


“Hadi, tolong.” Menghela nafas. Merasa kalah.


“Kekasih tercintamu itu sudah mencelakai Quinsha. Sekarang kondisinya kurang baik.” Hadi menggalah, memberikan informasi singkat dengan sikap masih kesal.


“Bagaimana bisa? Melani, apa yang sudah dilakukannya pada Quinsha?”


“Wanita itu bukan pacarku, aku mana tahu. Heh”. Jawab Hadi acuh. “Sekarang, segeralah kau ke sini. Quinsha membutuhkanmu!”


Dan setelah itu, tanpa memberikan kesempatan Sadewa berbicara lebih, dengan cepat Hadi mematikan teleponnya secara sepisak. Tidak bisa dibohongi, Hadi sejujurnya marah pada Sadewa. Jelas, beberapa hari yang lalu saat Sadewa menemui dirinya untuk bercerita tentang rencana pertemuan antara kekasihnya itu dengan Bunda Syania dan si imut Quinsha, Hadi menolak rencana tersebut. Dan saat itu Hadi tahu pula kalau tidak hanya dirinya yang berusaha mencegah ide gila Sadewa itu, ternyata Martin juga menolak keras. Dan lihatlah sekarang, Quinsha malah terbaring belum sadarkan diri di ranjang rawatan. Muka pucat dengan alat bantu pernafasan di bagian hidung.


Sedang Sadewa, terduduk lemas dengan rasa khawatir yang luar biasa. Mendadak begitu banyak sesal di hatinya. Ada rasa bersalah yang membuat hatinya mengiba, menyesali sebuah keinginan yang ternyata terbayar mahal dengan kesehatan sang gadis kecil kesayangannya. Sadewa terdiam, serasa tamparan keras dari susunan kata-kata Hadi barusan menyentuh pipinya. Dengan penuh ketidaktahuan, akhirnya Sadewa meminta agar mobil mewahnya segera melaju ke Rumah Sakit milik keluarga Britania.

__ADS_1


__ADS_2