
🌹🌹🌹
 
“Akhirnya, selesai juga hari ini”. Kayana merenggangkan kedua tangannya ke atas. Sedikit merilekskan otot-otot di setiap persendian lengannya setelah melayani dan mengobati sepuluh pasien ciliknya pagi ini.
Hampir jam dua belas siang, jam praktek Kayana selesai. Diandra pun masuk ke dalam ruang kerjanya.
“Sudah habis semua pasiennya dok”. Wajah tampan Diandra tersenyum pada Kayana.
“Syukurlah, semua berjalan lancar hari ini”, Kayana nampak senang.
“Aku gak nyangka loh Di, hari ini dokter Hadi bilang aku boleh praktek lagi”.
“Sepertinya kejadian gadis kecil yang dokter tangani semalam, berhasil membawa jam praktek dokter lagi”.
“Aku juga berpikir seperti itu”. Angguk Kayana pelan.
“Jadi?” Diandara duduk di depan meja kerja Kayana.
“Apa?” tanya Kayana tidak mengerti.
 
“Jadi, sudah mau masuk jam makan siang. Kita makan bareng yuk?” ajak Diandra.
“Emm, kamu makan sendiri ya.” Kayana berdiri, melepaskan jas dokternya dan meletakkan dengan rapi pada gantungan baju di belakang kursi kerjanya.
“Loh, memangnya dokter mau kemana?” Diandara heran.
“Aku mau lihat kondisi Quinsha dulu.” Jawab Kayana kemudian.
“Trus makanya kapan?” Diandra masih heran.
“Entar deh, kalau sudah lihat Quinsha.” Berjalan menuju pintu.
“Ya udah, aku tunggu mbak deh.” Berbicara sebelum Kayana menutup pintu ruang kerjanya.
“Gak usah tunggu aku, Di! Untuk kali ini kamu makan aja sendiri ya.” Kayana menutup pintu.
“Ahhh…mbak, aku maunya sekarang dan sama kamu.” Suara renggekan Diandara yang masih bisa di dengar oleh Kayana. Meskipun pintu ruang kerjanya sudah di tutup dengan baik tetapi, Kayana masih bisa mendengar dengan jelas kalau asisten pribadinya itu masih sangat berharap bisa makan siang bersamanya siang ini.
Kayana melangkah tanpa memperdulikan renggekan Diandra, melangkah terus menuju lift terdekat agar bida segera sampai di kamar rawatan Quinsha.
Sudah beberapa jam sejak dirinya meninggalkan kamar si gadis imut itu, Kayana merasa harus tahu bagaimana perkembangan terbaru Quinsha.
__ADS_1
Tok..tok..tokkkkkk
Tiga kali ketukan pintu sengaja dilakukan Kayana di depan pintu kamar rawatan Quinsha.
“Ohhh, hai.” Sapa Martin senang saat membukakan pintu untuk Kayana. “Masuk Ana!”
Ana, siapa? Sapaan Martin buat wanita itu? Sok akrab sekali! Sejak kapan mereka seperti itu?
Dalam sikap acuh tak acuhnya dengan kedatangan Kayana, Sadewa sebenarnya memperhatikan Martin dan Kayana melalui sudut mata.
“Sudah selesai prakteknya?” Tanya Martin sambil memberi ruang bagi Kayana untuk masuk.
“Sudah kak, baru saja.” Seperti biasa, Kayana tidak pernah lupa tersenyum untuk Martin si lelaki tampan versi dirinya itu.
“Baik sekali kamu, Ana. Baru juga selesai praktek langsung ke sini. Kamu pasti lelahkan? Padahal tidurmu malam tadi tidak sempurna. Kamu bahkan yaris tidak tidurkan?” Martin mengajukan banyak pertanyaan pada Kayana.
“Hehehe….” Tertawa dengan canggung. “Aku baik-bak saja kak.” Jawaban singkat untuk semua pertanyaan Martin pada Kayana.
“Jaga kesehatan kamu, Ana!” Nasehat Martin.
“Iya, kakak jangan khawatir.” Ucap Kayana menyakinkan.
Apa-apaan mereka? Sok-sok pamer perhatian di depan aku? Memang mereka pikir aku sudah meninggalkan ruangan ini apa? Cih, membuat aku kesal saja. Oceh Sadewa kesal.
“Kak, aku permisi lihat Shaha dulu ya.” Kayana melihat sekilas ke arah punggung Sadewa yang tidak bergeming di kursinya, di tepi ranjang Quinsha.
Dan…
“Maafkan saya tuan.” Kayana berdiri persis di sebelah Sadewa. “Saya izin melihat kondisi Shaha ya?” Agak ragu dan sebenarnya agak takut, Kayana mencoba bersikap setenang mungkin pada Sadewa. Jelas ingatannya masih menyimpan seberapa kejam lelaki yang nampak tenag duduk di kursi itu. Tetapi, untuk sesaat
Kayana berhasil mengumpulkan semua sisi beraninya, apa lagi ada Martin bersama mereka dalam kamar ini. Jadi, Kayana yakin keselamatannya pasti terjamin.
“Hemm…” singkat dan hanya beberapa hurup saja. Bahkan bibir tipis yang pagi sempat dipandangi Kayana dalam diamnya itu, tidak bergerak.
“I, itu bolehkan artinya tuan?” tanya Kayana ragu.
“Ya, tentu saja boleh Ana.” Jawab Martin segera. Sedang Sadewa kembali diam bagai patung di kursinya.
“Baiklah.” Kayana tersenyum pada Martin. Dan sesaat kemudian bersikap kaku di samping Sadewa. Memeriksa Quinsha dengan cermat, tanpa suara apa lagi berencana melihat ke wajah Sadewa.
“Lihat, lihat…..” spontan saja Sadewa bersuara. Tangganya merasakan ada gerakan dari jemari kecil Quinsha.
“Syukurlah, Shasa benar-benar sudah tidak apa-apa.” Hasil pemeriksaan menyeluruh Kayana, ditambah grakan merespon Quinsha. Gadis kecil ini sudah baik-baik saja.
Dan benar saja. Perlahan Quinsha membuka matanya, mata bulat indah itu sepertinya sedang berusaha menyesuaikan pencahayaan ruangan saat ini.
__ADS_1
“Nak….” Baik Kayana dan Martin, mereka sama-sama melihat Sadewa telah berdiri, sedikit membungkuk dihadapan Quinsha.
“Ini ayah sayang.” Sadewa mencium tangan kecil di dalam gengamannya. “Ini ayah.” Penuh kelembutan dan penuh syukur, Sadewa terus mengajak Quinsha berbicara.
“Bunda…” Quinsha tidak merespon Sadewa. Matanya malah menatap Kayana dengan tatapan penuh permohonan. “Bunda.” Panggil Quinsha penuh harap.
“Hah?” Kayana melihat ke sisi kanan dan kirinya.
“Quinsha kenapa sayang?” Martin tidak mengerti.
“Apa nak?” Sadewa mencium sayang kening Quinsha.
“Bunda, hiks..hiksss…hiksssss…” ada renggekan sedih.
“Loh, kenapa nangis sayang? Ini ayah nak.” Sadewa mulai takut. Jelas dirinya tidak salah dengar. Berkali-kali Quinsha memanggil bunda entah pada siapa? Bayangan kalau panggilan itu dilayangankan Quinsha untuk adik kandungnya, ibu kandung Quinsha yang sudah.
Ahhhh, Sadewa sangat khawatir akan terjadi hal buruk.
“Sayang, sayang.” Bujuk Sadewa agar Quinsha berhenti menatap ke arah sana dan beralih pada dirinya. “Hey, lihat sini! Ini ayah, nak.”
“Bundaaaaaaaaa….hikssss, hiksssssss, hiksssssss.” Pecah sudah suara Quinsha seiring tangisannya. Gaid kecil ini sukses membuat Sadewa dan Martin cemas teramat sangat. Sedang Kayana, yang terus ditatap oleh Quinsha tidak juga mengerti situasi saat ini. “Aku mau bunda, hiksssssssssss.”
“Bolehkah tuan?” Kayana mendekatkan diri pada Quinsha, berusaha menebak mau si gadis kecil yang baru sadar ini.
Tidak yakin, mata Sadewa sibuk memandangi setiap inci wajah Kayana. Menatap dalam mata cokelat itu dengan perasaan ragu. Tetapi, pada akhirnya Sadewa melepaskan diri dari Quinsha. Memberi ruang pada Kayana untuk mendekati Quinsha.
“Apa ada sakit ?” tanya Kayana lembut sambil memeluk Quinsha.
Ajaib, tangisan Quinsha mereda hingga akhirnya menghilang dalam pelukan Kayana.
“Bilang sayang, apa ada yang sakit?” sekali lagi Kayana bertanya sambil terus memeluk Quinsha penuh kasih.
Sadewa terheran dan Martin terdiam, kedua lelaki ini sedang takjub dengan dekapan sayang Kayana pada gadis kecil mereka.
“Jangan tinggalin Shasa.” Agak pelan, tetapi Kayana bisa mendengar kalimat Quinsha barusan.
“Shasa gak mau sama tante itu lagi, Shasa gak mau sama dia. Dia jahat.” Quinsha menyembunyikan wajahnya di dada Kayana.
“Ayah tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kamu, nak.” Sadewa mendekati Quinsha.
“Shasa dengar itu?” Kayana mengecup puncak kepala Quinsha lama. “Ada ayah di sini, tidak akan ada siapapun yang akan ganggu Shasa.”
“Ayah boong bunda, ayah biarin tantre itu bawa Shasa.” Quinsha menatap mata Kayana, emohon perlindungan di sana.
“Dan ada kakak yang akan memastikan Shasa baik-baik saja.” Senyum penuh kesejukan di wajah Kayana membuat Quinsha sedikit tenang.
__ADS_1
“Janji bun?” Quinsha meminta kepastian pada Kayana.
“Janji.” Kayana mencium kening Quinsha dan kembali memeluk gadis kecil yang masih agak pucat itu. Memberi kehangatan yang sangat dibutuhkan Quinsha saat ini, kehangatan dan rasa aman dalam sebuah kata janji.