Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan

Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan
Hanya Mau Bunda


__ADS_3

🌹🌹🌹


“Kesayangan ayah.”


Ini sudah kali kesekian dan entah sudah berapa banyaknya Sadewa mencoba membujuk Quinsha agar mau bersamanya. Mau dipeluk olehnya.


Senang, tentu itu yang sangat dirasakan oleh Sadewa saat ada pergerakan jemari kecil Quinsha di telapak tangannya. Dan rasa syukur tak terkira saat gadis kecil kebanggaanya itu membuka mata, bersuara dan memberi tanda kalau dia sudah siauman dari situasi buruk berjam-jam sebelumnya.


Tetapi, saat ini situasi tidak seperti harapannya. Jauh dari dugaannya akan tersusun sedemikian rupa. Quinsha sadar dari kondisi tidak baiknya, hanya saja kenapa sekarang malah tidak mau berbicara padanya? Tidak mau didekati oleh Sadewa apa lagi sampai di sentuh olehnya. Hanya mau bunda, hanya ingin sama bunda. Dan anehnya lagi, sosok bunda yang diinginkan oleh Quinsha ini adalah Kayana.


Kenapa harus wanita yang bisanya membuat aku jengkel ini yang diinginkan Quinsha? Sadewa mencoba berpikir.


“Biarkan saja kak.” Martin mencoba membuat Sadewa tidak terlalu memikirkan sitausi yang sebenarnya juga agak aneh bagi dirinya itu.


Mendadak Quinsha sangat lengket pada Kayana, bahkan dengan begitu pastinya memanggil Kayana dengan kata bunda. Tidak ingin bersama Sadewa yang jelas-jelas selama ini sangat dekat dengan Quinsha. Tetapi, tidak ada penolakan pada dirinya. Martin selalu di sambut baik oleh Quinsha.


“Apa yang dilakukan wanita itu pada anakku?” berbicara pelan dengan mata yang terus mengawasi Kayana. Kayana yang sedang menyuapi Quinsha makan.


“Aku rasa bukan apa yang dilakukan Kayana pada Shasa, kak. Tapi, apa yang kakak lakukan pada anak kecil itu?” Martin balik bertanya.


“Apa maksdumu?”


“Kakak tahu, sepertinya saat ini yang dirasakan oleh Shasa bisa memberi perlindungan padanya adalah Kayana. Kayana berhasil membuat dia merasa aman.”


“Aman? Perlindungan? Dari apa, dari siapa?” Sadewa menatap Martin.


“Apa lagi kalau bukan dari kekasihmu itu? Wanita yang pada akhirnya berhasil mecelakai Quinsha. Apa menurut kakak, Shasa tidak akan trauma?” Martin balik bertanya.

__ADS_1


“Kita, kakak dan aku sama-sama tidak ada di lokasi saat seranggan alergi Shasa datang. Meskipun, tanpa kita ada di dekatnya, kita sama-sama tahu bagaimana sakitnya Shasa saat itu? Shasa memang masih kecil kak tetapi, dia bisa membedakan mana orang yang tulus dan mana orang yang tidak perduli padanya. Ada di situasi hidup dan mati, wajar kalau saat ini dia meragukan kamu dan lebih percaya pada Kayana.” Jelas Martin panjang lebar. “Bisa jadi, dalam alam bawah sadarnya, Shasa bisa merasakan bagaimana usaha Kayana menyelamatkannya, bagaimana khawatirnya Kayana padanya, dan bagaimana Melani berhasil membuat dia kesakitan.”


Benarkah?


Benarkah?


Benarkah?


Tanya Sadewa berulang-ulang dalam hati.


“Aku memang salah tentang Melani tetapi, aku mana mungkin mau mencelaki Quinsha! Kau tahu persis kalau aku akan mengorbankan apa saja untuk dia? Aku sangat sayang padanya.” Sadewa melihat Kayana sedang mengelap bibir Quinsha. Ada sedikit lepotan bubur di bawah bibir gadis kecilnya itu.


“Kak, karena Shasa baik-baik saja. Jadi, tolong biarkan dirinya senang dengan jalan pikirannya terhadap Kayana! Toh Kayana juga sangat telaten merawat Shasa. Dia sangat sayang pada anak gadismu.” Ucap Martin kemudian.


“Kakak juga lihat, setiap ada kesempatan Kayana selalu berusaha membuat Shasa percaya kalau kakak akan menjaga dia. Kakak adalah ayah terbaik untuknya. Kayana gak pernah menghasut Quinsha supaya gak suka sama kakak.”


“Baiklah.” Akhirnya Sadewa mengalah. Berusaha duduk tanpa banyak menduga-duga terhadap situasi saat ini. “Demi kebaikan Shasa aku akan mencoba menerima semua ini.”


Quinsha sudah tertidur dengan pulas dalam pelukan Kayana. Perlahan, seiring suara nafas Quinsha yang terdengar teratur itu, Kayana berusaha meletakkan kepala gadis kecil itu ke atas bantal. Turun dari ranjang perlahan dan menyelimuti tubuh yang sudah sangat baik itu.


“Shasa sudah tidur tuan, kak.” Meskipun tahu bahwa segala apa yang dilakukannya telah dipantau secara seksama oleh Sadewa dan Martin tetapi, Kayana tetap merasa harus menyampaikan itu semua.


“Terima kasih Ana.” Martin berdiri, mempersilahkan Kayana duduk di sofa dekat mereka.


“Untung ada kamu. Shasa jadi anteng dan cepat pulihnya. Senang melihat Ahasa sudah baik-baik saja.” Martin lanjut berbicara, sedang Sadewa memilih diam.


Dan sebuah peristiwa pun terjadi, krukkk…krukkkk….krukkkkkk….

__ADS_1


Suara perut keroncongan Kayana kemudian.


Ihhhh, memalukannya. Kayana tertunduk sambil memegang perutnya.


“Ma, maaf kak.” Ucap Kayana sangat malu.


“Astaga, kamu pasti belum makan siangkan?” Martin melihat putaran jarum pendek dan panjang jam dipergelangan tangannya.


Dan Kayana berusaha tersenyum.


“Atau jangan-jangan malah dari pagi kamu belum makan juga?”


“Hehehehehe…”cenggiran Kayana yang tidak tahu harus bicara apa.


“Ya ampun Ana, ini tuh sudah hampir jam setengah empat sore, kamu mau sakit apa?” tanya Martin tidak percaya dengan kebenaran tebakannya.


“Cepat minta pantry bawakan makanan ke sini!” kali ini Sadewa yang bersuara. “Jangan yang pedas-pedas, nanti lambungnya bisa sakit karena dia sudah terlalu telat makan!”


Ehhhh, Kayana takjub dengan perintah Sadewa pada Martin barusan, lebih mirip tidak percaya.


“Ya kak.” Martin mengeluarkan handphonenya. “Sebentar ya Ana.” Ucap Martin pada Kayana


“Makan yang baik, jangan menyusahkan orang saja bisanya! Mengurus diri sendiri saja tidak bisa, benar-benar hanya menyusahkan. Cih, merepotkan sekali." Sadewa mengeluarkan kalimat rutukan pada Kayana.


Kayana tidak percaya tetapi, jelas dirinya bisa mendengar suara kesal Sadewa. Ya, jelas susunan kata-kata barusan memang dilayangkan Sadewa untuknya, kepadanya.


Ihhh, nih orang. Baru saja aku berencana berpikir dia punya sisi baik karena memerintahkan kakak Martin agar mencarikan makanan untukkku. Sayangnya, rencana belum aku terealisasikan sifat aslinya langsung muncul lagi. Itu mulut, kalau enggak bicara yang buat aku gondok gimana sih kira-kira?

__ADS_1


Rutuk Kayana dalam hati sambil mencuri lihat Sadewa yang berjalan ke arah Quinsha.


Berjalan dengan sikap angkuh khas dirinya, sikap yang sudah sangat di hafal oleh Kayana.


__ADS_2