
🌹🌹🌹
“Nyonya, apakah kita langsung ke Mall atau berhenti dulu ?” Bayu sengaja melambatkan laju kemudi mobil yang dikendarainya.
“ Bagaimana ini bagusnya ya ?” Tanya Syania kepada Bayu, bingung sendiri.
“Kalau memang nyonya mau kita berhenti dulu, kita bisa berhenti nyonya “. Bayu masih berusaha bertanya apa keinginan sang majikan yang sudah diikutinya sejak Syania belum menikah dengan sang Tuan, Aisakha Elang Britania.
“Perasaan aku benar-benar tidak enak Bay, tetapi aku juga merasa sangat sayang kalau tidak berhenti. Aku rindu suamiku “. Mata Syania menatap keluar jendela, sebentar lagi mobil mewah yang dikendarainya akan melewati tempat sang suami berada.
“Bagaimana kalau kita berhenti sebentar nyonya, toh lokasi mall tempat janjian nyonya sudah dekat ?” Suara sopan Bayu.
“Benar juga ya Bay “. Syania berpikir sesaat. Kemudian menganggukkan kepala, sepertinya Syania sudah membuat keputusan.
“Bayu, kita berhenti di tempat tuan sebentar ya ! Aku rindu padanya.” Keputusan Syania sudah bulat.
**************
“Kerupuk tempe “, gumam Kayana sambil melihat dengan baik etalase makanan ringan yang berada di depannya.
“Mana ya, emmmm…?” Memperhatikan dengan seksama.
“Ini deh sepertinya “, mengambil satu bungkus, membaca dengan teliti keterangan di belakang kemasan, memperhatikan keterangan komposisi bahan-bahan yang tertulis.
__ADS_1
“Iyap, ini dia “. Senang. Ambil, beberapa bungkus dan memasukkan ke dalam keranjang belanjaannya.
“Apa lagi ya?” Berpikir sejenak dan mencoba mencari jenis makanan lain yang kira-kira enak untuk dijadikan cemilan.
“Kayaknya ini enak juga buat tambahan cemilannya “. Kayana mengambil kerupuk apel hijau yang terkemas rapi dalam plastik kedap udara warna perak.
“Kalau di tambah kue kering seru juga nih “, serasa mendapat ide cemerlang, Kayana tersenyum sendiri, berjalan ke bagian etalase kue kering, mencari sesuatu yang menurut criteria dirinya enak.
“Apa perlu pake minuman gituh ?” Sedikit ragu. “Aku lupa tadi Tanya sama bibi pengen apa buat minumannya ‘. Mencoba mengira-gira.
“Bagus telepon bibi saja deh, dari pada aku ragu sendiri “. Ucap Kayana sambil menganggukkan kepalanya, menyetujui apa yang baru diucapkannya barusan.
****************
“Sudah habis ya es krimnya ?” Tanya si penjaga gerai es krim. Lelaki bertopi kuning yang tadi mendapat pesan dari Melani untuk memenuhi semua keinginan Quinsha terhadap es krim.
“Udah “. Jawab Quinsha senang.
“Oke, karena sudah habis gadis cantik boleh tambah lagi “, si lelaki bertopi kuning sedikit berjongkok di depan Quinsha, berusaha berbicara sambil mensejajarkan tinggi mereka.
“Yeeee….yeeeeee”. Sorak Quinsha kesenangan.
“Mau yang mana gadis cantik ?” Tanya si lelaki topi kuning sambil tersenyum melihat kelucuaan Quinsha.
__ADS_1
“Itu, itu Paman ‘. Menunjuk pada gambar es krim di sisi kanan atas gerai. “Sama itu juga, campur !” Menunjuk gambar es krim yang lain lagi, yang agam ke tengah dari susunan di gambar besar tersebut.
“Baik gadis cantik, Paman buatkan dulu ya “, dengan sigap si penjual es krim meracik dua rasa pilihan Quinsha, rasa vanilla dengan taburan kacang mete, serta es krim rasa jagung dengan potongan buah anggur segar.
“Sudah jadi “. Dengan rasa senang plus bangga bisa memenuhi permintaan pelanggan, si penjual ini pun tersenyum pada Quinsha. Memamerkan hasil racikan terbaiknya.
“Wihhh, sepertinya enak “ Quinsha kegirangan.
“Selamat menikmati ya gadis kecil yang cantik “. Es krim sudah berpindah tangan ke gengaman kecil tangan Quinsha. Dengan sangat hati-hati Quinsha berjalan kembali ke posisi meja dan kursi yang didudukinya tadi. Masih kosong, Quinsha Nampak bersemangat untuk segera menyantap es krim yang nampak sangat mengoda itu.
“Enyakkk “. Ucap Quinsha dengan mulut penuh. “Emmm, enyakkknya, sukaaaa “. Memegang pipinya dengan rasa senang. Membiarkan tiap lumeran es krim memenuhi mulut mungilnya.
Dengan kaki kecil yang bergoyang senang, mulut tidak juga berhenti mengunyah, Quinsha terlihat bahagia. Bahagia versi sederhana seorang bocah kecil, sederhana dan tidak butuh kemewahan dunia. Hanya satu mangkok es krim dua rasa dengan toping kacang mete original dan potongan segar buah. Quinsha tersenyum dalam tiap suapannya.
Melani entah dimana keberadaanya, Quinsha masih berpikir kalau si tante yang membelikan dirinya es krim itu, masih sibuk menerima telepon. Sepertinya, Quinsha mencoba berpikir positif, berpikir semakin lama dirinya di tinggal sendiri maka, semakin besar kemungkinan dirinya untuk makan es krim lagi dan lagi. Diam-diam dalam hatinya Quinsha sangat senang dibiarkan sendiri seperti ini tanpa pengawasan, tanpa larangan.
Tinggal beberapa suap saja lagi, es krim lezat di dalam mangkok saji Quinsh akan habis. Tetapi, entah kenapa sekarang Quinsha sibuk berdehem ria. Sedikit membuat suara batuk sambil sesekali berdehem kembali. Seakan ada yang membuat dirinya tidak nyaman, Quinsha terus mengulang hal yang sama. Terasa ada yang salah dengan tengorokannya.
***************
“Terima kasih “, dengan senyum tulusnya Kayana membalas senyuman dari si kasir. Semua belanja Kayana sudah di total, Kayana pun sudah membayarnya. Sekarang waktunya untuk pulang, merapikan semua cemilan dan minuman pendukung, Kayana akan bersenang-senang bersama bibi di taman belakang nanti malam.
Sekilas Kayana melihat jam di handphonenya, masih agak lama menjelang malam, masih tiga jaman lagi. Tetapi, tidak masalah Kayana bisa mandi dan sedikit bersantai dengan membaca novel kesayangan sambil menunggu putaran waktu. Dan setelah itu, dirinya memang sangat ingin bersantai, ingin sekedar menenangkan gundah hati dari ketidakjelasan nasibnya di Rumah Sakit miliki si tuan pemarah, tuan angkuh yang sangat hobi membentak dirinya.
__ADS_1
Sepertinya, rencana menikmati aneka cemilan di taman belakang cukup menarik. Kayana menghidupkan motor matik dan segera melajukan sepeda motor itu di lalu lintas sore. Kembali ke rumah dinas yang sudah hampir dua minggu ini menjadi rumah tempat dirinya tinggal di Kota yang masih sangat baru baginya.