Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan

Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan
Sebuah Kenyataan (2)


__ADS_3

🌹🌹🌹


Acuh, Martin memilih turun duluan dari sedan mewah milik Sadewa yang sudah terparkir di depan rumah dinas Kayana. Dengan langah cepat, Martin memutuskan harus berbicara serius dengan Kayana. Keputusan Kayana untuk setuju dengan kontrak pernikahan yang diajukan oleh Sadewa membuat hatinya tidak terima. Seharusnya, Kayana tidak segila Sadewa. Setuju dengan semua ide gila yang dibalut dalam pernikahan kontrak.


Apa yang sudah dilakukan Sadewa hingga membuat Kayana setuju?


Martin perlu tahu, dan sejujurnya dirinya berharap bisa merubah pikiran Kayana. Martin tidak ikhlas, rasa suka yang entah bagaimana telah hadir didalam hatinya terhadap Kayana benar-benar menuntut dirinya untuk membuat Kayana bisa berubah pikiran.


Semoga masih ada kesempatan. Doa Martin dalam hati sambil berjalan memasuki rumah dinas Kayana.


*****


“Tuan.” Sopir setia Sadewa membukakan pintu mobil sang tuan. Menunduk hormat sambil bertanya-tanya dalam hati tentang kelakuan Martin tadi. Berjalan begitu saja tidak seperti biasanya. Selama ini, si sopir sangat tahu bagaimana hormatnya Martin pada sang tuan. Jangankan bersikap acuh, membantah saja Martin tidak pernah melakulannya. Apa lagi meninggalkan sang tuan begitu saja tanpa, membukakan pintu mobil.


“Biarkan saja!” Ucap Sadewa seakan tahu apa isi kepala sopirnya. “Jangan ambil pusing dengan sikapnya!”


“Ohh..iya tuan.” Mengangguk patuh, mengerti arti setiap kata sang tuan. Tetapi, di dalam hatinya masih bertanya-tanya. Ada apa dengan Martin hari ini?


*****


“Dimana Kayana?” tanpa salam, tanpa permisi. Begitu memasuki rumah dinas Kayana, Martin langsung bertanya pada bibi.


“Nona di dalam kamarnya, Pak.” Menunjuk pintu kamar Kayana.


“Kayana…kayana?” memanggil Kayana dari depan pintu kamarnya.


Tidak mendapat respon.


“Tok…tokk…tokkk.” Mulai tidak sabar. Padahal, belum sampai satu menit dari suara panggilannya tadi. Martin pun mengetuk pintu kamar Kayana dengan tidak sabarnya.


“Kayana, aku harus bicara! Kita harus bicara!”

__ADS_1


*****


“Sopanlah sedikit!” Sadewa berdiri di ruang tamu rumah dinas Kayana, menatap lurus pada Martin yang nampak tidak sabaran didepan pintu kamar Kayana.


“Dia itu bakal jadi kakak iparmu!”


“Kakak ipar?” berbicara membelakangi Sadewa. “Hahahaha..” ada tawa getir disana, tawa yang terdengar dipaksakan. “Kakak ipar kontrakkan?”


“Jangan ganggu dia!” memberi perintah tegas.


“Aku hanya ingin bertanya padanya. Aku bukan mau menganggu dia!” menjawab cepat.


“Kayana, keluarlah! Kita harus bicara!”  Sekali lagi Martin memanggil Kayana.


*****


Kayana menatap lekat pintu kamarnya. Kedatangan Martin sudah diketahuinya. Martin yang bertanya keberadaan dirinya pada si bibi bukanlah dengan suara pelan. Jelas, Kayana tahu kalau ada Martin di dalam rumah dinasnya, di depan pintu kamarnya.


Dan suara keras Martin yang memanggilnya, hingga ketukan pintu yang begitu ribut di pintu kamarnya membuat Kayana memilih diam seribu bahasa. Kayana tidak tahu apa yang harus disampaikannya pada Martin. Terlebih lagi, saat Martin menjawab perkataan Sadewa dengan rasa kesal tersendiri tentang pernikahan kontrak mereka nanti. Kayana semakin ingin bungkam seribu bahasa.


Kayana menarik nafas dalam, sekali lagi mematutkan wajahnya di depan cermin.


“Kenapa, kenapa malah jadi seperti ini?” ucap Kayana di depan cermin. Bertanya pada diri sendiri.


Sekali lagi, Kayana menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Jelas, paru-parunya perlu banyak asupan oksigen untuk menghadapi pagi ini.


Krekkkkk..


Pelan, dan pintu kamar dibuka oleh Kayana.


“Kita harus bicara!” tanpa izin, Martin memegang tangan Kayana, menarik dokter cantik itu mengikutinya ke arah meja makan.

__ADS_1


“Kenapa. Kenapa kamu setuju dengan ide gila Kak Dewa?” langsung bertanya tanpa, memberi kesempatan Kayana menghindarinya. “Kenapa Kayana? Kamu tahu, itu sebuah kegilaan besar?”


“Aku..aku?” menunduk, Kayana dibuat terbata-bata oleh pertanyaan Martin.


“Tolong jawab aku!” memohon. “Kenapa?” ucap Martin.


“Kak, ini yang terbaik.” Masih dengan menunduk, Kayana menjawab pertanyaan Martin.


“Ini bukan terbaik. Kamu salah!” menolak tegas.


“ Ini semua akan menghancurkan masa depanmu, kamu sadarkan? Masa depanmu yang jadi taruhannya Kayana! Dan semua ini, kebohongan besar Kayana!”


“Maaf kak.” Tidak tahu harus bica apa.


Tentu saja Kayana tahu apa yang dilakukannya. Semua ucapan Martin memang benar adanya, dan semuanya di awal pernah ditolak mentah-mentah oleh Kayana.


Tetapi, telepon penuh ancaman malam tadi dari nyonya Ratna membuat Kayana harus memilih keputusan ini. Ya, inilah yang terbaik saat untuk dirinya dan keluarganya.


“Apa, apa yang terjadi? Ada apa denganmu?” Martin masih berharap ada kejelasan atas semua ini.


“Bilang aku! Jawab Kayana!”


Kayana hanya tertunduk semakin dalam.


“Kakak mengancam kamu? Iya?” mendesak.


“Hati-hati kalau kau berbicara!” Sadewa mendekati Kayana dan Martin.


“Aku tidak sekejam itu.” Memberi peringatan


“Ooo..ya?” tidak percaya. "Aku sangat mengengenalmu Kak!" Martin terus menatap pada Kayana.

__ADS_1


“Maafkan aku, kak.” Lagi-lagi hanya itu kata yang bisa diucapkan Kayana.


“Ini keputusan Kayana, kau harus hargai itu. Dan kedepan, jaga jarakmu padanya! satu lagi, jaga juga hatimu padanya!”


__ADS_2