Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan

Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan
Sangat Menakutkan


__ADS_3

🌹🌹🌹


“Minumlah dulu!” Kayana menyodorkan segelas air putih hangat pada Sadewa.


Sadewa duduk mematung, menerima gelas dari tangan Kayana, meneguk isinya perlahan tanpa suara.


“Sudah?” Isi gelas di tangan Sadewa sudah habis.


Sadewa hanya menganggukkan kepala, tidak bermaksud bersuara sepatah katapun untuk jawaban pertanyaan Kayana barusan.


“Quinsha sudah lebih baik”. Kayana melihat Sadewa yang saat ini terduduk dalam diamnya di sofa besar hanya menatap ke arah ranjang tempat Quinsha terbaring, hanya lurus ke sana.


"Quinsha gadis kecil yang kuat, sebentar lagi dia pasti sadar”. Sekali lagi, seulas senyum tulus menghiasi wajah Kayana. Dan sekali lagi, dalam kediamannya, Sadewa melihat senyum indah itu.


Deg...ada yang lain di dalam hati Sadewa.


“Sebentar lagi jam praktekku”, Kayana terus berbicara meski Sadewa hanya mendiamkannya. “terima kasih sudah memberi izin padaku untuk kembali praktek.” Sesaat Sadewa beralih pada dirinya. “Tadi dokter Hadi bilang aku sudah boleh bertugas seperti biasa.” Senang, mengerakkan kepala kekiri dan kekanan lengkap dengan intonasi suara penuh semangat.


“Aku izin tinggalin tuan dan Quinsha dulu ya, ada apa-apa cepat panggil aku!”


Dan yang diajak bicara hanya diam saja, saat ini segala pikiran Sadewa sedang bercampur tanpa jelas arah dan akhirnya, kacau tetapi, galau. Ooo, tidak ada sebentuk hal baru pula yang dia rasakanya. Hingga Sadewa memilih tetap duduk di sofa itersebu, diam terus diam.


**********


Sudah dua orang pasien yang ditangani Kayana, sekarang dirinya terduduk sesaat di meja kerjanya sambil menunggu Diandra membawa masuk pasien berikutnya.


Kayana melamun, alam bawah sadarnya mengembalikan dirinya pada situasi di anak tangga tadi. Sadewa sangat menakutkan.


Selama ini Kayana hanya tahu kalau lelaki yang tidak pernah bersikap baik padanya itu memiliki temperamen pemarah, lelaki angkuh yang sangat sombong dan sangat gemar berbicara kasar padanya. Ya, walaupun dirinya tetap tidak tahu apa geranggan penyebab semua itu terjadi antara dirinya dan Sadewa.


Tetapi, kemarahan Sadewa tadi sangat menakutkan. Kayana berani bersumpah kalau dirinya sebenarnya terlalu bodoh. Nekad mendekati lelaki yang seakan mirip iblis pencabut nyawa, dan begitu berani meminta lelaki itu melepaskan Melani. Benar-benar kebodohan yang mungkin saja bisa mengakhiri nyawanya sendiri.

__ADS_1


Kayana yang dibesarkan dalam keluarga penuh kasih, sangat menyayanginya dan menjaga baik dirinya, hidup dalam sikap menghormati dan bekerja sama, tentu saja tidak habis pikir. Bagaimana bisa lelak isombong nan angkuh itu bisa sangat gampang bermaksud membuat seorang wanita berhenti bernafas. Parahnya lagi, tiga orang pengawal Sadewa hanya menonton adegan itu dengan sangat tenang. Tidak bersuara apa lagi berencana menyudahai aksi gila sang majikan.


“Ya…Tuhan. Kenapa bisa lelaki itu berubah bagai sosok iblis pencabut nyawa tanpa ampun? Dia sangat mengerikan. Apa dia masih lelaki sombong yang sama, kok kali ini dia nyaris membuat aku kehilangan lutut saking takutnya. Aku sampai gemetaran lihat dia, sepertinya dia itu bukan manusia saja, main cekek orang dengan tenang dan niat banget”. Bergumam dalam pikirannya sendiri.


“Aku harus hati-hati kedepannya. Buat masalah sama dia sama dengan nyawa melayang rupanya”. Memegang lehernnya, Kayana merasai di sana.


“Aku ogah cari masalah sama dia, dia orangnya rada gak beres. Ihhhhhhhhhhh…….”. bergidik sendiri.


**********


“Kakak makanlah dulu!” Martin sudah selesai menghidangkan menu sarapan pagi untuk Sadewa. Empat iris sandwith daging dengan tambahan putih telor dan salada segar. Tidak lupa, tomat merah nan mengoda juga dan didalamnya. “Bibi sudah membuat ini untuk kakak”.


“Sampai jam berapa wanita itu praktek?” Sadewa beranjak dari kursi di samping ranjang Quinsha. Berjalan menuju sofa tempat Martin menunggu dirinya.


“Kayana?” Tanya Martin agak ragu. Sedang Sadewa, dirinya hanya memilih diam sambil mengambil satu irisan roti sandwithnya.


“Sepertinya gak lama lagi selesai”, Martin sedikit ragu kalau yang di maksud pertanyaan Sadewa adalah Kayana. Tetapi, dengan laporan para pengawal Sadewa pada dirinya beberapa waktu tadi, Martin saat ini dapat menyimpulkan kalau yang di maksud Sadewa jelas bukan Melani. Si ulat bulu yang disesalkan Martin tidak jadi mati di cekik oleh Sadewa.


Ahh, kenapa juga Kayana menghentikan kak Dewa tadi? Kalau tidak selelai sudah riwayat si ylat bulu. Dunia ini pasti langsung aman dan tentram, dan wanita gatal itu langsung dapat balasan karena telah mencelakai Quinsha. Rutuk Martin sesaat.


“Dimana dia tidur malam tadi?” Kali ini Sadewa terlihat meneguk jus jeruk dari buah perasan buah segar dalam gelas berukuran sedang.


“Dikamar yang kak Hadi siapkan untukku”. Sampai sejauh ini, Martin sangat yakin kalau Kayanalah yang menjadi topik pertanyaan Sadewa.


“Bersamamu?” Tanya Sadewa penuh selidik.


“Maunya sih”, jawab Martin santai. “Tetapi aku masih punya akhlak kak. Kayana yang tidur di sana, sedang aku tidur di ruang kerja kak Hadi”.


Ehhh, tunggu! Martin seakan sadar sesuatu.


Ini kenapa ya kak Dewa tanya-tanya Kayana? Apa dia mau mencelakai Kayana karena sudah mencegah dirinya mengakhiri riwayat si wanita penyebar gatal itu, si ulat bulu itu?

__ADS_1


Praduga Martin dalam hati. Wah, gak bisa dibiarin ini, kak Dewa kalau sudah marah suka hilang kendali. Kalau si ulat bulu sih bagus-bagus aja kalau mau disudahi perjalanan hidupnya di dunia ini. Tapi, kalau Kayana mana aku ikhlas, mana aku bisa biarkan itu terjadi.


“Apa dia sudah sarapan sebelum paraktek?”


Martin menyipitkan matanya, awas pada gerak-gerik Sadewa. Lelaki yang sudah bagai saudara kandung baginya itu sangat aneh. Model siaga Martin segera bangkit.


“Kamu kenapa kak?” Asli, Martin sangat curiga kalau Sadewa sebenarnya marah pada Kayana.


“Apanya?” Tanya Sadewa yang telah menyelesaikan sarapan paginya.


“Kenapa kamu terus bertanya tentang Kayana? Kamu mau celakai dia ya?” Bertanya langsung pada ini masalah.


“Bukan urusanmu!” Sadewa berdiri, berjalan kembali ke arah kamar mandi. Martin sudah menyiapkan baju gantinya. Dirinya sangat ingin mandi sekarang.


“Kak, kamu jangan macam-macam sama Kayana! Dia gak salah, dia hanya gak mau kamu berbuat bodaoh dengan mencekik si ulat bulu itu. Ya, walalaupun aku agak kecewa sih”, menarik sudut bibir kiri. “Ngapain coba Kayana harus ada saat si ulat bulu nerobos ke atas lewat tangga. Tapi, kak”, sekarang kembali ke situasi untuk melindungi Kayana. “Kayana itu hanya gadis biasa yang pikirannya jauh dari segala hal yang berbau kekejaman. Dia tahu, sangat bodoh rasanya kalau kamu berakhir menjadi pembunuh untuk menyudahi riwayat si ulat bulu itu”.


“Bukan urusanmu!” Sekali lagi Sadewa menjawab semua kalimat Martin yang begitu panjangnya.


**********


EPILOG


Diantara sekian banyak manusia di dunia ini, hanya ayah dan bunda saja yang bisa menenangkanku. Bahkan, Melani saja tidak pernah berhasil merdakan amarahku. Tetapi, bagaiman bisa gadis yang sangat menyebalkan dan hanya bisa membuat aku kesal padanya, bisa membuat aku melepaskan nyawa orang yang yaris mencelakai Quinsha.


Aku benar-benar melepaskan cengkeramanku dari leher Melani. Padahal jelas-jelas aku sangat menunggu kesempatan untuk bisa membalas semua yang dilakukannya pada gadis kesayanganku.


Namun, suara lembutnya dan, dan senyum di wajahnya itu. Kenapa bisa membuat aku melemah? Aku merasa ada hal aneh di dalam hati ini dengan menatap matanya.


Dia jelas takut, aku tebak pasti sangat ketakutan padaku tadi. Aku bukan tidak bisa merasakan kalau tangannya gemetaran di lenganku. Tetapi, dia berusaha setenang mungkin menghadapiku. Dia berusaha sebisa mungkin mempertahankan senyumnya.


Wanita aneh…….

__ADS_1


Sadewa membiarkan air hangat dari shower membahasi kepalanya, memberikan tetes demi tetes rasa hangat hingga ujung mata kakinya.


Dalam setiap aliran hangat itu, Sadewa terus mengingat kejadian di anak tangga. Ingat pada Kayana di sana. Terus mengingat wajah penuh senyum tulus dalam balutan rasa takut.


__ADS_2