Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan

Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan
Nyaris Kehilangan Nyawa


__ADS_3

🌹🌹🌹


Satu malam pun terlewatkan dengan sempurna. Pagi baru untuk semua datang di saat yang tepat, kicau burung bersenandung bahagia saat mentari perlahan memamerkan warna cerah penanda bagi sebagian penduduk bumi, ini adalah hari yang cerah. Cerah untuk menjadi awal dalam rutinitas pagi hari ini.


Dan begitu pula dokter cantik Kayana, masih jauh suara ayam jantan di kala subuh hari akan berkokok tetapi, dirinya sudah terbangun. Sebenarnya Kayana tidak bisa tidur dengan sempurna, pikirannya melayang entah kemana. Hatinya penuh dengan kecemasan akan kondisi Quinsha, pikirannya penuh tanda tanya tentang seperti apa sosok Melani. Wanita cantik yang konon menurut cerita Martin berhasil menaklukkan hati si sombong Sadewa. Tetapi, kalau memang wanita itu berhasil menaklukkan hati Sadewa, kenapa dia tidak bisa menjadi bagian dari ibunda Sadewa, bahkan parahnya bagaimana dia bisa membuat Quinsha jadi celaka?


Banyak pertanyaan yang memutari pikiran Kayana sejak begitu lamanya. Kayana perlahan turun dari ranjang yang seharusnya menjadi tempat tidur empuk untuk Martin. Lelaki yang menurut Kayana sangat tampan dan baik itu lebih memilih menggalah, meninggalkan Kayana di kamar yang disiapkan dokter Hadi untuk dirinya, dan pergi beristirahat di ruang kerja dokter Hadi. Sungguh merupakan tipe lelaki idaman dan bertanggung jawab banget bagi seorang Kayana.


Setelah membasuh muka, Kayana akhirnya memilih melihat kondisi Quinsha. Sepanjang malam dirinya menunggu akan kabar kalau pasien imutnya itu sudah sadarkan diri, sayangnya begitu banyak menit berlalu hingga memasuki hari baru, Kayana tidak juga mendapat kabar tersebut.


Dan akhirnya, dengan gerakan tangan perlahan tanpa berniat menimbulkan suara, Kayana sudah berhasil masuk ke dalam kamar rawatan Quinsha.


“Ahhh…”, sebentuk pemandangan penuh kasih menghiasi mata Kayana. Sadewa tertidur dengan posisi duduk. Kepala berada di atas ranjang Quinsha dengan tangan kecil Quinsha persis berada di pipi kiri Sadewa.


Begitu sayang lelaki angkuh ini kepada Shasa, sebuah pengakuan yang tersebut dalam hati kecil Kayana saat ini.


Dengan sangat menjaga gerak langkahnya, Kayana berusaha mendekat pada ranjang Qunsha, dirinya ingin memeriksa kondisi pasien kecilnya itu.


“Bagus!” Gumam Kayana dengan semua hasil pemeriksaannya. Quinsha memeng belum sadar tetapi, bergerakan organ vitalnya sangat baik. Tekanan darah dan laju nadi normal, hanya masalah waktu, Kayana yakin sebentar lagi mata indah Quinsha aakan terbuka.


“Uhh”, terdengar erangan kecil di telinga Kayana. Sadewa sedikit bergerak, hanya sedikit.


Mata Kayana teralihkan dari Quinsha ke sosok Sadewa.


Bulu mata panjang, hidung mancung dan rahang yang tegas berhias rambut-rambut halus. Sepertinya, Sadewa sengaja membiarkan rambut-rambut halus itu membentuk jambang kokoh di bagian bawah wajahnya. Benar-benar mencerminkan keangkuhan Sadewa.


Lanjut, Kayana memperhatikan dengan seksama inci demi inci wajah yang nampak tertidur kurang nyaman dengan posisi seperti saat ini. Agak tampan, hasil akhir penilaian Kayana setelah puas memandangi. Ya, lumayan tampan dan lumayan macho, sekali lagi Kayana menarik kesimpulan.


Tetapi, saat mata itu sudah terbuka dan bibir tipis yang sedang dipandanginya itu sudah berbicara, entah kenapa lelaki itu berubah jadi sosok angkuh, terlalu suka berbicara kasar, sangat membenci dirinya tanpa penyebab jelas. Sengaja meremehkan dirinya, tidak pernah memandang baik padanya. Kayana menghembuskan nafas berat dengan kepala tergeleng sesaat. Bingung dan bercampur heran, dan tetap tidak bisa menemukan jawaban.


“Kita tidak saling kenal, tetapi kamu sangat tidak suka padaku?”


Ucap Kayana pelan sambil menyelimuti tubuh kekar Sadewa. Sangat berhati-hati, Kayana berusaha tidak membuat Sadewa terkejut apalagi terjaga.


“Istirahatlah!” Entah kenapa, di balik rasa kesalnya pada cara Sadewa memperlakukannya, untuk saat ini Kayana cukup merasa tidak tega. Dan konyolnya, dirinya malah berbaik hati mengambilkan selimut di atas ranjang bagi penjaga pasien, dan menyelimuti Sadewa. Memastikan ada sedikit kehangatan bagi tubuh yang jelas lelah itu.


“Aku akan keluar sebentar ya”. Ucap Kayana masih sangat pelan dan entah kepada siapa. Yang jelas, sebagaimana cara dirinya masuk ke kamar rawatan Quinsha, seperti itu pula caranya keluar. Sangat menjaga suara langkah kakinya, berhati-hati setiap gerakan agar tidak menimbulkan derap suara. Tidak menganggu siapapun yang ada dalam ruangan tersebut.


**********

__ADS_1


“Maaf nona, anda di larang ke atas!” Kayana baru saja beberapa langkah dari pintu kamar rawatan Quinsha. Ada suara rebut dari arah anak tangga, suara keras lelaki yang entah karena apa.


“Minggir kau! Pegawai rendahan bodoh”. Suara makian wanitabegitu keras yang membuat Kayana penasaran.


“Apa coba itu, kenapa ya? Di Rumah Sakit malah rebut-ribut”. Kayana berjalan ke sumber keributan. “Mereka sangat tidak sopan, menganggu ketenangan”.


“Aku ini kekasih tuanmu, calon nyonya muda kalian”. Bicara sombong. “Apa kau mau cari mati denganku?”


“Saya tidak mau ambil pusing siapa nona, saya hanya menjalankan perintah! Tolong kerjasamanya nona, jangan buat saya melakukan hal tegas pada anda!”


Kayana berdiri di tangga paling atas, menyaksikan tiga orang pria berbaju hitam dengan badan kekar dan besar menghadang seorang wanita. Seorang wanita cantik, memakai baju terusan hijau yang melekat sempurna ditubuhnya, memperlihatkan lekukan setia jengkal tubuhnya, memamerkan betapa putih warna kulit tersebut.


“Tunggu sampai Sadewa melihat ulah kalian ini, dia pasti akan marah besar!” Mengancam sambil terus berusaha menaiki anak tangga, mendorong para lelaki berbaju hitam.


Sadewa, apa wanita cantik ini mengenal si tuan sombong itu? Kok seperti akrab banget cara wanita ini menyebutkan namanya tadi? Kayana masih memperhatikan empat orang manusia yang saling bertahan dengan pendapatnya masing-masing.


“Berhenti nona, atau kami tidak akan segan-segan panda anda!” Ancam salah satu pengawal dengan tegas.


“Berani menyentuhku, sama dengan berani melawan Sadewa!” Si wanita cantik tidak berkeinginan mengalah.


“Sampai kapan kalian akan membiarkan dia membuat keributan di sini?” Entah sejak kapan, sepertinya tidak ada yang menyadari kalau Sadewa sudah berdiri di aka tangga paling atas, persis di belakang Kayana.


“Henyahkan dia dari sini!”Nada suara tinggi Sadewa.


“Sa..sayang, ini aku”. Melani, si wanita cantik nan seksi bersuara tergagap. Kaget dan tidak percaya kalau Sadewa akan mengusirnya.


“Kalian bertiga bodoh!” Berjalan cepat menuruni anak tangga, mendorong badan kekar berbaju hitam begitu saja. Sadewa terlihat berjalan sangat cepat ke arah Melani.


“A, aku tahu, kamu pasti akan menghampiriku”, senyum memikat terpancar di wajah Melani.


“Ya, aku memang akan menghampiri kamu, khusus untuk membunuhmu!” ucap Sadewa tanpa ragu dengan tangan kanan di leher Melani,mencengkram keras di sana, membuat tubh Melani tersudut ke dinding yang sangat dingin.


“Sa, sa…….”. Sepengal kata yang tidak bisa diucapkan Melani, sakit di bagian lehernya, udara mulai berkurang akibat cengkramat keras Sadewa.


“Setalah apa yang kau lakukan pada Quinsha, kau masih bwerani untuk datang memperlihatkan wajahmu padaku? Sepertinya, kau memang berniat mati di tanganku hari ini”. Marah


“Sa..sa….”, entah apa yang ingin diucapkan Melani.


“Aku menyuruhmu menjaga Bunda dan Quinsha sebaik mungkin! Mengizinkanmu bertemu meraka agar kau bisa bersama mereka! Tapi, apa yang kau lakukan haaa? Kau malah mencelakai Quinsha”. Cengkeraman tangan Sadewa di leher Melani semakin keras. Jika di awal masih terdengar suara terbata-bata Melani, sekarang malah tidak sama sekali. Wajah Melani nampak pias, pucat dan sangat sulit bernafas.

__ADS_1


A, apa dia akan membunuh wanita itu?


Apa dia sudah gila, mau membunuh orang di Rumah Sakit?


Kayana tertegu dengan pemandangan di depannya. Para pengawal pribadi Sadewa hanya diam, tenang membiarkan sang tuan perlahan melepaskan nafas si wanita satu persatu.


A, aku harus bagaimana ini? Kenapa lelaki itu nampak sangat menakutkan? Apa dia berubah menjadi mosnterkah sekarang? Ini juga, kenapa semua pada diam saja, kenapa tidak ada yang berusaha melerai lelaki mengerikan itu?


Kayana terus bertanya-tanya di dalam hati.


“Matilah kau!” Suara dingin Sadewa terdengar memenuhi susunan anak tangga.


Melani mulai berhenti meronta, wajahnya sudah tidak berdarah, dadanya mulai tidak bekerja.


“Berhenti!” Kayana berteriak keras sambil setengah berlari. Tanpa berpikir, refleks begitu saja.


“Menjauhlah!” Perintah Sadewa dengan suara bagai sebilah pedang. Semua takut, Kayana gemetar


“Aku mohon, berhentilah!” Suara Kayana lembut mencoba membujuk, dengan tangan kanan gemetar menyentuh lengan Sadewa. “Aku mohon, berhentilah!”


“Dia pantas mati, dia sudah membuat Quinsha celaka”. Sadewa pantang di bujuk.


“Iya benar, tetapi bukan begini caranya untuk membalas dia”, meski takut, Kayana mencoba terus membujuk.  Jangan tanya seberapa besar usaha kakinya terus bertahan agar tidak tumbang saking takitnya. “Kenapa kamu hatus mengotori tanganmu seperti ini? Apa kamu pikir hal seperti ini yang ingin dilihat oleh Quinsha?”


Sadewa tidak menjawab, menatap mata Kayana, mengalihkan wajahnya sesaat dari Melani yang sudah bersiap menemui ajalnya.


“Aku tahu kamu marah tetapi, aku mohon jangan kotori tanganmu, kamu enggak pantas melakukan ini”. Kayana tersenyum, senyum tulus di antara debaran jantung yang sibuk mengambarkan betapa takutnya dia.


Sadewa mulai sedikit melonggarkan cengkeraman tangannya di leher Melani. Sepertinya, suara dan senyum Kayana berhasil membuat akal sehat Sadewa datang kembali.


“Percayalah, kamu gak pantas menjadi pembunuh untuk membalas dia. Kamu, terlalu berharga untuk itu, Quinsha terlalu berharga untuk melihat semua ini”. Dengan sudut matanya, Kayana melihat dada Melani mulai bergerak perlahan. Melani tidak sadarkan diri.


“Quinsha butuh kamu”. Kayana masih mempertahankan senyum tulusnya pada mata yang sangat awas menatapnya itu. “Lepaskanlah dia, biarkan anak buahmu mengurus dia!”


Dan, bughhhh….


Sadewa melepas cengkeramannya dari leher Melani begitu saja. Tubuh seksi itu jatuh di lantai masih belum sadarkan diri.


Kayana melihat sesaat kesana, Melani memang tidak sadar tetapi, dai batal mati. Dadanya mulai bekerja dengan sangat perlahan, Melani mulai bernafas kembali dengan pelan dan pelan. Wajahnya tidak sepucat awal, sepertinya Melani masih di beri kesempatan untuk hidup oleh Tuhan.

__ADS_1


“Kalian urus dia!” Perintah Sadewa pada para pengawalnya. “Pastikan dia tidak pernah muncul lagi! Kalau dia masih juga tidak memperdulikan nyawanya, maka habisi dia!”


__ADS_2