Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan

Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan
Kedatangan Tomi (1)


__ADS_3

🌹🌹🌹


“Duduk sini nak!” Bunda Syania menepuk sofa besar yang sangat lapang di sebelah kanannya, saat mengetahui Tomi telah berdiri di depan dirinya.


Berjam-jam di habiskan Tomi dan Quinsha di kamar sang cucunya itu, berjam-jam pula bunda Syania membayangkan bagaimana kacaunya perasaan Tomi saat ini.


“Bunda,” Tomi terduduk di depan kaki bunda Syania dengan kepala yang langsung jatuh di pangkuan bunda. Ada air mata di sana, bunda Syania tahu kalau Tomi sedang menangis.


“Menangislah nak, menangislah!” ucap bunda Syania dengan segala ketegarannya sambil mengusap-usap rambut Tomi dengan lembut.


“Quinsha sangat mirip dengannya bunda, mereka sangat sama.” Berbicara dengan getar suara mendalam. Bunda Syania tahu seberapa campur aduknya perasaan Tomi sekarang.


“Iya nak,” hanya itu kata yang bisa diucapkan bunda Syania, mendadak wanita bijaksana ini kehilangan kata.


“Aku pikir, Quinsha akan melupakanku.” Ucap Tomi pelan.


“Bagaimana mungkin nak, kamu ayah kandungnya. Darahmu mengallir kental di dalam dirinya, samapai kapanpun Quinsha tidak akan melupakanmu, Tom!” Bunda Syania masih mengusap rambut Tomi.


“Bunda, sebenarnya aku juga berpikir bahwa, aku tidak akan sanggup memasuki rumah ini lagi,” Tomi berbicara tanpa mengangkat wajahnya dari pangkuan Syania.


“Dan ternyata kamu bisa, tidak ada yang dapat menghalangi kamu untuk memasuki rumah ini! Ini rumahmu juga nak, disinilah kamu dan isterimu melalui masa-masa indah pernikahan kalian dulu.” Bunda Syania menarik nafas dalam.


“Dan semua hancur saat dia pergi bunda, aku hancur bunda.” Meratapi diri.


“Nak, semua sudah jalan dari-Nya. Kamu, bunda, kita semua hanya umat-Nya yang harus siap dengan segala ketetapan dari-Nya. Kita harus ikhlas nak!” mencoba menasehati. “Semua memang tidak mudah, semua tidak segampang membalikkan telapak tangan tetapi, semua harus kita hadapi! Inilah kenyataannya Tomi!”


“Maafkan aku, bunda. Aku mohon maafkan aku yang memilih pergi. Semua sangat meyakitkan bagiku.” Tomi mengangkat wajahnya menatap mata cokelat bunda Syania, ada bekas tetesan air mata di sana, juga ada luka yang sama dalam seperti dirinya jauh tersimpan di sudut yang tidak bisa dijelajah oleh siapapun juga.


“Bunda tidak pernah menyalahkanmu, nak.” Bunda Syania memegang kedua pipi Tomi, dan dengan ibu jarinya bunda Syania mencoba menghapus air mata yang masih juga jatuh di sudut mata Tomi. Duka itu masih sama, luka itu masih basah, bunda Syania tahu Tomi masih sangat kehilangan atas semua kejadian masa itu.


“Saat kamu ingin pulang maka, pulanglah nak! Kami semua menunggumu di sini, kami semua selalu di sini. Kamu, sampai kapanpun kamu akan diterima di sini! Ini rumahmu, nak…ini rumahmu.” Bunda Syania mendekatkan puncak kepala Tomi ke arah bibirnya, mengecup sayang Tomi dengan penuh pengharapan dapat meringankan sedikit saja kesedihan Tomi.


**********


“Kak, Tomi pulang.”


Tanpa banya basa-basi, begitu Martin membuka pintu ruang kerja Sadewa, dirinya langsung berbicara. Memberitahukan sebuah informasi berharga kepada Sadewa.


“Kau jangan bercanda!” Sadewa tidak percaya dengan ucapan Martin, padahal jelas Martin sedang tidak bercanda. Wajah lelaki itu nampak serius, raut wajahnya sangat serius malah.


“Bibi Nan yang memberitahu aku, kak. Tomi sampai di rumah menjelang siang tadi, sepertinya dia sudah menghabiskan berjam-jam di rumah.” Menyampaikan asal sumbar berita penting itu.


“Apakah ada kegiatan yang sangat mendesak sore ini?” Sadewa bangkit dari kursi kerjanya.


“Tidak kak, semua bisa diundur di hari lain.” Sangat yakin.


“Bagus, kalau begitu kita pulang sekarang!” Sadewa berjalan cepat, membiarkan Martin berjalan beberapa langkah di belakangnya. Menyusulnya.


**********


“Kak.”


Sudah lebih sepuluh menit sedan mewah milik Sadewaa terparkir nyaman di halaman istana megahnya. Dan sudah selama sepuluh menit itu pula Martin sibuk menyakinkan Sadewa untuk turun.


Ada keraguan yang jelas terlukis di wajah Sadewa, Martin berusaha keras membuat Sadewa mau melangkah masuk ke dalam rumah.


“Kak, ayolah.” Bujuk Martin.


“Aku ragu.” Aku Sadewa jujur. Kata yang sama yang selama sepuluh menit ini selalu diulang-ulangnya saat Martin membujuknya masuk ke dalam rumah.


“Sudah hampir dua tahun kak, ayolah….!” Bujuk Martin dengan setenang mungkin.

__ADS_1


“Dan kalau ekspresi Tomi masih sama seperti dua tahun lalu bagaimana?” Ragu sekaligus takut, Sadewa seakan mengingat suatu kejadian buruk yang berhubungan dengan lelaki bernama Tomi ini.


“Kak, saat itu semua sedang dalam situasi kacau. Masing-masing kita ada dalam duka yang teramat sangat, kita sedang kalut, jadi wajar saja semua hal yang dulu itu terjadi. semua orang bisa saja memberikan berbagai ekspresi wajah yang memang tidak bisa dihindari. Tapi kak, itu sudah hampir dua tahun lalu.” Tetap berusaha tenang, Martin mencoba mengajak Sadewa berpikir logis.


“Aku penyebab semua ini,” dan Martin tahu ada penyesalan sangat-sangat luar biasa yang tidak dapat di ukur saat kata-kata barusan terucap dari bibir Sadewa.


“Cukup kak!” Martin mulai kehilangan sikap tenangnya. “Sekarang kita masuk, Tomi sudah pulang dan kita sudah ada di halaman rumah. Kakak mau membuat Ayah Sakha, kedua orang tuaku, hingga..hingga..” terdengar ada keraguan di akhir ucapan Martin. “Sedih melihat sikap kakak ini?” tanpa melanjutkan bagian akhir ucapannya, Martin langsung beralih kekata-kata berikutnya.


“Bunda Syania juga akan sangat sedih dengan sikap kakak ini. Jadi, ayolah kakak. Kita masuk, kita sambut kepulangan Tomi!”


**********


Makan Bersama


Menjelang senja yang indah, menjelang aneka warna jingga yang begitu merekah kembali keperaduannya, Kayana bersama Diandra telah tiba di sebuah warung makan sederhana.


Hari ini Kayana berniat membayar hutang janjinya pada Diandra, si perawat asisten pribadinya itu, yang sekaligus teman barunya di kota ini, di Rumah Sakit tempat dirinya bekerja saat ini.


Saat Kayana fokus pada kesehatan Quinsha maka, di saat itu semua ajakan ramah Diandra padanya untuk makan bersama selalu di tolaknya. Dokter Kayana benar-benar mencurahkan perhatian dan waktunya untuk gadis kecil keturunan Britania itu.


Diandra berpikir, semua itu merupakan bentuk dedikasi sang dokter cantik terhadap pasiennya. Karena memang, di mata Diandra, Kayana sangatlah setulus hati menjalankan profesinya sebagai Dokter Spesialis Anak, Kayana sepenuh jiwa membaktikan diri demi memastikan pasien-pasien kecilnya sehat kembali.


Pribadi unik dan pekerja keras, Diandra sangat kagum pada wanita cantik berambut panjang yang sedang sibuk memperhatikan sekeliling warung makan itu.


“Gimana?” tanya Diandra yang tahu kalau sebenarnya Kayana suka di bawa ke tempat makan ini. Wajah cantik dengan polesan makeup sederhana itu jelas memberikan keceriaan dalam setiap gerakannya. Diandra bisa menebak itu.


“Tempat makannya sederhana banget,” Kayana sedang memperhatikan atap rumbio di atas kepalanya. “Tapi konsep sederhananya ini yang buat suasana di sini asyik.” Puji Kayana.


“Apa aku bilang, mbak pasti suka aku bawa ke sini.” Senyum senang.


“Kamu pinter Di, tahu aja kalau aku bakalan suka.” Kayana membalas senyum Diandra. Senyum seindah senja di langit sore ini.


Detak jantung Diandra ribut tidak menentu, satu senyuman Kayana sukses membuat kacau ritme jantungnya.


Astaga Kayana, kamu benar-benar membuat aku terpesona.


“Hey….Di, Diandra?” Kayana mengoyangkan tangan kanannya di depan wajah Diandra. “Kamu kenapa?” Heran.


“Hah?” Kaget, ketahuan melamuan di depan Kayana. “Enggak mbak, hanya seneng aja lihat kamu tersenyum. Cantik banget.” Jujur.


“Wah, wah…kamu udah lapar berat ya? Sampe mendadak jadi aneh gituh?” ucap Kayana sambil menahan tawa.


“Mbak, aku tuh serius!” tidak terima dianggap berbohong.


Aku nyatakan cintaku padamu nih! ucap Diandra dalam hati. Jelas-jelas aku terpesona sama kamu, kamu malah gak percaya. Pake nahan ketawa lagi tuh.


“Udah ah,” Kayana menggelengkan kepalanya. “Kamu itu kalau mau belajar merayu jangan aku dijadikan sampelnya! Cari wanita ganggur lain di luar sana!”


“Aku jujur salah,” menghela nafas kecewa.


“Lagian, bagian mana coba yang membuat mbak gak percayaan sama aku?”


“Semuanya Di, semuanya!” Jawab Kayana dengan tangan terlipat di dada.


“Yaitu?” Diandra duduk santai, kaki kiri di silang di atas kaki kanan, bahu berototnya di sandarkan pada bagian belakang kursi.


“Kamu sok tahu semua tentang apa yang aku suka.” Kayana pun memperbaiki posisi duduknya. Tangan kanan Kayana sekarang di atas meja, di pakai oleh dokter cantik ini sebagai penopang pipi kanannya.


“Buktinya, mbak sukakan aku bawa ke tempat makan ini?” bertanya dengan kedua alis naik ke atas.


“Emmmm….” Sedang berpikir. “Iya sih.” Mengakui.

__ADS_1


“Terus kamu bilang aku cantik, dasar tukang boong.” Merasa menemukan kesalahan Diandra.


“Mbak memang cantik kok. Dan itu adalah pendapatku, jadi masalahnya di mana?” balik bertanya pada Kayana. “Kalau di kemudian hari ada yang bilang mbak gak cantik maka, orang itu yang disalahkan. Kenapa matanya bisa bermasalah saat lihat wajah mbak, dan bukan aku!”


“Dan pendapat kamu itu bukan dari hati, kamu hanya pengen nyenengin aku saja kan?” Masih tidak percaya pada Diandra.


“Mbak, buat nyenengin kamu itu gampang banget, gak perlu bawa kamu ke tempat makan ini.” Tersenyum lucu ke arah Kayana. “Mbak itu di bawa main kepantai saja, cuma duduk sambil menonton ombak pecah di kilaunya pasir, sudah senang bukan kepalang. Iya kan?”


Ehhh…kok Diandra benar-benar tahu tentang aku ya?


Kayana bingung dengan kenyataan ini.


“Bagaimana, masih mau bilang aku boong? Masih gak percaya?” Diandra sadar kalau Kayana terdiam, sedang berpikir.


“Kamu anak peramal ya Di?” bertanya dengan mata menatap lurus pada mata Diandra.


“Huaaaa..haa..haaaa.” tertawa terpingkal-pingkal. “Mbak, mbak…kamu itu memang hebat untuk membuat orang tertawa sampai sakit perut.”


“Oooo, aku tahu.” Mendadak menemukan sebuah kesimpulan baru. “Kamu itu playboy ya? Jadi sudah punya banyak pengalaman dengan berbagai jenis cewek.”


“Enak saja.” Seketika hilang tawa di wajah tampan Diandra. “Aku itu single mbak, masih suci dan belum ternoda sama cinta-cintaan seperti gituh. Apa lagi sampe jadi playboy, ya enggaklah mbak!”


Kayana menyipitkan matanya, memandang Diandra lama. Mencoba mencari kebenaran di sana.


“Mbak bisa jadi pacar aku untuk membuktikan kalau aku itu adalah lelaki baik-baik yang hanya cinta pada satu wanita dan akan setia selamanya sama dia!” Diandra tersenyum pada Kayana. “Hanya mbak seorang.”


“ Ya mana mungkinlah Di,” tolak Kayana cepat. “Kamu ini sembarangan banget.”


“Alasannya?” sangat ingin tahu.


“Kamu itu seusia dengan adik aku, kamu itu lebih muda dari aku. Aku ini cocoknya jadi kakak buat kamu!” Seketika Kayana melepaskan tangan kanan yang dipakainya menopang pipi tadi.


“Tapi……”


Lanjutan kata-kata yang telah di susun Diandra terhenti, seorang pelayan lelaki datang membawa menu mereka.


“Silahkan kakak dan mbaknya menikmati.” Suara ramah si pelayan setelah selesai menata hidangan di meja Kayana dan Diandra. Kemudian permisi, izin berlalu kembali ke belakang, melanjutkan pekerjaannya.


“Di, aku udah gak sabar pengen mencicipi.” Kayana menelan ludahnya, jelas dirinya sudah sangat ingin menikmati ikan bakar kecap dengan tahu tempe bacem dan lalapan segar, di tambah aneka sambal pedas mengoda jiwa.


Ah, padahal aku masih ingin kita lanjut membahas tentang perasaanku padamu. Tetapi…..


Baiklah untuk kali ini kita sudahi dulu, aku yakin aku masih punya banyak waktu untuk membuat kamu mengenalku dan percaya bahwa, lelaki yang usianya lebih muda darimu juga bisa serius bicara tentang cinta, tentang aku yang sejujurnya sudah jatuh cinta sama kamu, Kayana.


“Kalau begitu mari, di santap lagi mbak! Coba deh, mbak pake sambal mangga ini,” mendekatkan piring kecil berisi sambal mangga ke depan Kayana. “Enak, unik dan seger. Mbak pasti suka.”


Kayana mengiyakan tawaran Diandra, mengambil sedikit sambal mangga dan menaruh ke dalam piring makannya yang telah di isi nasi putih hangat. Dengan lalapan segar, Kayana menambahkan si sambal yang mendekati warna orange itu ke dalam mulutnya.


Kayana mengunyah pelan, sedang menimbang rasa yang memenuhi mulut kecilnya.


“Bagaimana?” Diandra melihat kalau Kayana sudah menelan semua isi di dalam mulutnya.


“Enak.” Anggukan kepala Kayana mendukung ucapannya.


“Benar apa yang kamu bilang Di, rasanya enak, unik dan segar. Rasa mangga yang manis dipadukan dengan pedasnya cabai dan di beri garam sebagai penyedapnya. Duh, komplit banget deh! Aku suka Di.” Hasil penilaian Kayana.


“Dan lagi-lagi aku benarkan mbak?” bangga.


“Iya-iya, Diandra hebat banget deh.” Tersenyum dengan tangan yang siap menambahkan si sambal mangga ke dalam piring makannya.


Gawat, sepertinya aku memang sudah jatuh cinta sama kamu, Kayana. Gumam hati kecil Diandra sambil terus menatap seulas senyum manis Kayana.

__ADS_1


__ADS_2