
🌹🌹🌹
Mobil mewah pengusaha ternama, Sadewa sedang melaju pasti memecah lalu lintas jalan raya kota. Hari sabtu menjelas jam dua belas siang, Sadewa libur dari aktivitas kantornya dan memilih meluangkan waktu sepenuhnya untuk gadis kecil kesayangannya.
Setelah menjemput Kayana ke Rumah Sakit bersama si kecil nan mengemaskan, Quinsha. Sekarang mereka telah duduk menikmati perjalanan menuju taman rekreasi. Tempat bermain yang sangat ingin didatangi oleh Quinsha bersama Sadewa dan Kayana.
Sadewa duduk tenang di sebelah kiri mobil sambil sesekali mencuri dengar pembicaraan antara Kayana yang duduk di sisi kanan bagian belakang mobil dan Quinsha di bagian tengah mobil.
Jelas dua wanita di sampingnya itu sedang berbicara sambil sesekali tertawa bahagia. Quinsha bergelayut manja pada Kayana, tertawa dengan derai lucunya saat Kayana berhasil membuat lelucon untuknya. Sadewa tersenyum, dalam diam hatinya merasa ada yang beda pada wanita yang diawal perjumpaan mereka, sempat membuat dia tidak suka.
Hari ini Sadewa khusus meluangkan semua waktunya untuk membahagiakan gadis kecilnya. Memberi perintah pada Martin untuk mengantikan dirinya melakukan aktivitas perusahaan. Sepertinya, penuturan Tomi yang ingin membawa Quinsha pergi bersama dengannya berhasil membuat Sadewa sangat takut kehilangan gadis kecil yang sudah menjadi bagian hidupnya itu
Sadewa belum menemukan solusi terbaik atas kegundahan hatinya akan kehilangan Quinsha, walaupun bunda Syania sudah memberikannya pemecahan untuk membuat Quinsha tetap dalam asuhan keluarga Britania. Namun, bagi Sadewa itu masih teka-teki yang belum terjawab.
Siapa wanita yang harus dinikahinya?
Siapakah wanita yang benar-benar bisa mencintai dirinya tulus?
Siapakah wanita yang bisa menjadi menatu terbaik untuk ibundanya?
Dan, siapakah wanita yang akan menyayangi Quinsha seperti anak kandungnya sendiri?
Sungguh sebuah teka-teki rumit baginya.
**********
“Ayah, bundaaaaaa.” Teriak Quinsha sambil berlari menghampiri Sadewa dan Kayana yang sedang berdiri di ujung komedi putar. Quinsha baru saja selesai menikmati komedi putar.
“Bunda.” Quinsha memeluk Kayana yang telah menunggunya sambil berjongkok.
__ADS_1
“Seneng?” tanya Kayana sambil merapikan rambut Quinsha. Ada keringat di kening gadis kecil itu.
“Iya, seneng banget.” Menjawab dengan tawa bahagia. Kayana mengelap lembut keringat di kening Quinsha, Sadewa memperhatikan semua.
Melihat betapa manjanya Quinsha pada Kayana, melihat bagaimana baiknya Kayana pada Quinsha. Mata Sadewa terus mengamati.
“Sampe keringatan gini.” Kayana menowel hidung mancung Quinsha.
“Hahahahaha,” Quinsha tertawa lepas.
“Terus mau main apa lagi?” Tanya Kayana.
“Bunda, kita naik itu yuk!” menunjuk kearah biang lala besar.
“Memang si cantik ini gak takut naik itu? Itu tinggi loh?” melihat kearah permainan berbentuk roda besar dengan deretan kotak-kotak transparan berisi tempat duduk.
“Tidak dong, kan ada bunda sama ayah.” Melihat pada Kayana dan Sadewa.
Kayana menolehkan kepalanya kepada Sadewa, memberi tatapan penuh tanya pada lelaki yang dikenalnya sangat mudah marah itu.
“Boleh saja.” Sadewa mengiyakan.
“Yeeeeeeeeee,” sorak Quinsha senang.
“Tapi…?” Sadewa nampak serius.
“Ayahhhhh…kok pake tapi sih.” Cemberut.
“Tapi, kamu turun! Kamu itu berat Sha, malah digendong terus. Ayo jalan sini!” perintah Sadewa.
__ADS_1
“Iyakah bunda?” merasa bersalah pada Kayana. “Shasa berat ya bunda?”
“Enggak kok, Quinsha gak berat kok sayang.” Mencium pipi Quinsha.
“Quinsha gak berat kok tuan.” Menyakinkan Sadewa.
“Bunda, Shasa turun.” Meminta diturunkan. “Shasa mau jalan sama bunda sama ayah aja deh.”
“Ayah, bunda.” Berjalan bersama. Quinsha di tengah mengandeng tangan Sadewa dan Kayana, mengandeng erat Sadewa di sisi kanannya dan Kayana di sisi kirinya. “Kita kayak keluarga di sana ya.”
Serta merta Sadewa dan Kayana melihat pada objek yang di maksud Quinsha. Ada satu lelaki paruh baya dan seorang wanita muda berjalan berdampingan dengan anak kecil yang mungkin usianya berkisar enak atau tujuh tahun berjalan dalam gandengan tangan si lelaki dan wanita tersebut. Berjalan beiringan dengan wajah bahagia yang setiap orang bisa melihat dengan jelas. Sebuah keluarga harmonis, ada ayah, ibu dan anak yang saling menyayangi.
“Shasa punya ayah,” mengangkat tangan kanan yang sedang bergandengan dalam genggaman Sadewa ke udara. “Dan ada bunda,” mengangkat tangan kiri yang sedang bergandengan dalam genggaman Kayana ke udara.
“Kita sama seperti merekakan ayah, bunda?” menatap Sadewa dan Kayana bergantian. “Senengnya.” Senyum-senyum sendiri.
*********
“Terima kasih.” Kata yang diucapkan dengan pasti oleh Sadewa. Tidak ada mimic jelas diwajahnya saat mengucapkan kata terima kasih itu pada Kayana tetapi, Kayana tidak bisa menebak seberapa tulus makna kata tersebut bagi Sadewa.
Jalan-jalan selesai, waktu sudah menunjukkan senja yang segera mencapai peraduannya. Warna jingga mempesona dari senja mulai larut perlahan dalam kelabunya malam.
Sadewa mengantarkan Kayana kembali ke rumah dinasnya, dan sopir pribadi Sadewa bersiap di luar pintu tempat Kayana duduk untuk membukakan pintu bagi dokter cantik ini.
“Maaf tuan?” Kayana ragu dengan kata yang diucapkan Sadewa barusan.
“Kau jelas mendengar apa yangaku bilang tadi.” Kesal
“Iya sih dengar.” Jujur
__ADS_1
“Nah, apa juga lagi.” Masih kesal.
“Ya sudah,” mengalah dan tidak tahu arus bicara apalagi. Padahal jelas-jelas Kayana tadi merasa tidak yakin seorang Sadewa mampu mengucapkan kata terima kasih, di tambah mimik wajahnya yang datar. Entah tulus, entah basa-basi. Kayana ragu.