
🌹🌹🌹
 
Pagi yang cerah, pagi yang sudah dinantikan separuh penduduk bumi, semua sedang bersiap untuk kembali ke rutinitas awal, seperti biasa seperti hari dan hari sebelumnya.
Dan pagi ini, saat udara diluaran sana masih terasa dingin setelah hujan lebat beberapa jam yang lalu. Tetapi hal itu tidak mempengaruhi Kayana, mata indah itu telah terbuka semenjak bermenit-menit yang lalu.
Seperti tiga hari yang lalu, semenjak gadis kecil bernama Quinsha di rawat maka, semenjak itu pula seorang Kayana menjalankan aktivitas hariannya diawali di dalam kamar rawat super mewah di Rumah Sakit ini.
Kayana tidur di ranjang Quinsha, tidur dengan memeluk gadis kecil yang kian hari kian sehat, dan siapa yang menduga kian hari Quinsha kian melekat padanya, sangat manja, semua hanya mau dirinya. Apapun itu hanya mau sama bunda.
Kayana tersenyum, meletakkan kepala mungil Quinsha ke atas bantal, perlahan dan hati-hati, sangat tidak ingin membuat Quinsha sampai terganggu apalagi sampai terbangun.
__ADS_1
Satu kecupan sayang sudah menjadi hadian rutin Kayana di kening Quinsha seperti biasa, rutinitas yang entah kenapa selama tiga hari ini terasa menyenangkan bagi Kayana untuk melakukannya.
Kayana turun ranjang, memperbaiki selimut tebal yang menghangatkan Quinsha. Berjalan ke arah Sadewa yang nampak masih tertidur, bulu mata panjang bersatu dengan tenang saat kelopak mata itu masih tertutup. Kayana tersenyum dengan pemandangan di depannya. Sungguh beberapa hari ini hidup satau atap bahkan, satu ruangan dengan sosok Sadewa agak terasa beda olehnya. Tiga hari iniSadewa membawa pekerjaanya kekamar rawatan Quinsha. Kamar rawatan yang sangat nyaman ini di sulap juga nyaman untuk Sadewa bekerja. Dan selama Sadewa sibuk dengan aktivitas kantornya, selam itu pula antara Kayana dan Sadewa nyaris tidak bertegur sapa.
Dunia yang sangat tenang bagi Kayana, tidak ada kata-kata pedas penuh sindiran ataupun kekesalan dilontarkan kepada dirinya. Mereka hanya bicara seperlunya saja, atau lebih tepatnya tidak saling berbicara. Kayana masih ingat bagaimana Sadewa dapat berubah bagai iblis kejam yang dengan gampangnya mencekik leher wanita tanpa ampun, semua itu masih segar dalam ingatannya, masih mengalirkan rasa takut pada dirinya. Itupula yang menjadi dasar Kayana cukup ciut untuk menerima permohonan dari Quinsha kala itu, sebuah permohonan dengan linangan air mata agar Kayana mau menemaninya, tidur di Rumah Sakit bersamanya.
Kayana memperbaiki letak selimut penutup tubuh dengan masa otot terjaga itu secara perlahan, seperti pagi-pagi sebelumnya, sebelum dirinya beranjak ke kamar mandi.
Sadewa membuka matanya, mata biru yang diwariskan sang ayah tercinta itu sedang memandang ke arah pelapon di atas sana. Sejujurnya, sejak hari pertama Kayana memperbaiki selimut yang menutupi tubuhnya di pagi hari, sejak saat itu juga dirinya telah terjaga. Sadewa berpura-pura tidur, memejamkan mata dan berusaha tenang saat tahu jemari lentik yang selama tiga hari ini begitu telaten merawat gadis kecilnya, hadir di tepi ranjangnya.
Sadewa agak kaget, kenapa Kayana mau repot-repot memperbaiki selimutnya. Bahkan, Sadewa bisa tahu kalau Kayana melakukan semua itu dengan amat sangat perlahan demi menjaga dirinya tidak terganggu.
Dan yang lebih membuat Sadewa kaget, sikap dan kasih sayang Kayana pada Quinsha memang tulus, dari hati dan tiada kobohongan di sana. Pagi, setelah membersihkan diri setahu Sadewa, Kayana akan meninggalkan kamar ini. Awalnya dirinya tidak tahu kemana tujuan Kayana, karena saat kembali ke dalam kamar, Kayana sudah rapi dengan ramput panjangnya tergerai wangi. Hingga akhirnya Sadewa pun tahu, saat pagi hari Kayana jogging di sekitar Rumah Sakit, kemudian kembali setelah hampir satu jam dan mandi. Bibi yang bekerja pasa Kayana selalu rutin membawakan baju ganti Kayana.
__ADS_1
Kemudian, Kayana akan duduk tenang saran pagi sambil menunggu Quinsha bangun. Dan saat gadis kesayangannya sudah bangun tanpa ragu apa lagi jijik, Kayana akan mengelap bersih tubuh Quinsha, memastikan Quinsha yang masih di pasang selang infuse di tanganya merasa segar.
Tanpa berbicara pada dirinya, Kayana akan terus melanjutkan aktivitas paginya. Menyuapi Quinsha sarapan dengan sabar, tidak memaksakan Quinsha, hanya menunggu sampai bibir kecil itu selesai menggunyah dan menelan, lalu menyuapi lagi. Hebatnya, Quinsha sangat patuh, ada tawa bahagia setiap kali Kayana bersamanya.
Setelah selesai dengan Quinsha, memastikan Quinsha sudah bisa di tinggal maka, Kayana akan pamit untuk praktek di lantai dua. Tidak terlalu lama, hanya beberapa jam saja dan tepat sebelum jam dua belas siang Kayana sudah selesai. Dan seperti hari-hari sebelumnya, Sadewa memperhatikan dalam diamnya kalau Kayana akan kembali ke dalam kamar ini. Menanyai Quinsha tentang perasaanya selama beberapa jam di tinggal, apa yang sakit dan apa yang Quinsha inginkan.
Hebat, lagi-lagi kata ini terucap di dalam hatinya. Entah kenapa, Sadewa selalu merasakan hal tersebut melihat Kayana dan Quinsha tiga hari ini.
Dan pagi ini, dalam hatinya Sadewa bisa menebak kalau Kayana sedang berlari pagi seperti biasa. Meninggalkan kamar dalam gerakan pelan dan meninggalkannya dirinya dalam pikiran yang entah melayang kemana. Sadewa mengenal Kayana sebagai gadis yang tidak pandai menjaga diri, merepotkan dan menyusahkan. Jauh dari masuk akal kalau Kayana adalah seorang dokter spesialis anak. Bahkan, jauh dari bisa di terima akalnya kalau Kayana bisa dekat dengan Quinsha, hingga sang bunda. Entah kenapa? Lagi pertanyaan itu menyerang kepalanya. Entah kenapa Kayana bisa membuat bunda dan gadis kecilnya suka padanya? jauh dari ekspektasi Sadewa sejujurnya.
Tiga hari hanya mendimkan Kayana, nelihat semua yang dilakukannya tanpa mau bersuara, Sadewa tetap merasa aneh, atau apapun padanan kata lain yang mungkin bisa mewakili hatinya sat ini. Yang jelas, Sadewa merasa Kayana berbeda. Berbeda dari gadis pada umumnya yang selalu berusaha mendekatinya, berbeda dari gadis-gadis kaya yang selalu berusaha menjerat dirinya, bahkan berbeda dari Melani yang sudah dua tahun ini di pacarinya.
Hebat, sekali lagi Sadewa mengulang kata itu di dalam hatinya.
__ADS_1