
🌹🌹🌹
Sudah hampir pukul dua belas malam, percaya atau tidak kalau saat ini sebagian besar penduduk bumi sedang terlelap dengan segala rasa dan asa masing-masing. Ada yang tertidur dengan setumpuk masalah dan pastinya berharap saat esok pagi menjelang, akan ada secercah pencerahaan untuk masalah mereka. Dan tidak menutup kemungkinan, ada yang berhasil memejamkan mata malam ini dalam perasaan suka cita tiada tara, hingga bermimpi indah dan berharap pagi mejelang dengan segala kebahagiaan yang sama. Begitulah rasa dan asa yang meliputi bumi ini di malam ini.
Sayang, seorang gadis cantik dengan mata cokelat indahnya masih terjaga sampai saat ini. Dentingan detik demi detik jarum yang bergerak santai namun, pasti tidak pernah luput dari pendengarannya. Kayana masih terjaga, meringkuk di atas tempat tidurnya. Kasur empuk yang sudah sebulan ini menjadi pelabuhan malamnya, tetiba untuk sekarang, saat ini tidak terasa nyaman sebagaimana biasanya.
Kayana masih terjaga, masih sibuk berpikir tentang permintaan Sadewa padanya. isi kepalanya masih berpikir keras. Pernikahan! Permintaan Sadewa bukanlah hal yang sederhana, sebuah ikatan suci yang dilandasi cinta, yang dilakukan di depan Tuhan, dan itu sehidup semati, dalam suka dan duka. Tetapi, tidak dengan permintaan Sadewa, kesucian pernikahan ini hanyalah formalitas saja, saja sebuah kontrak pernikahan. Jangankan cinta, rasa simpati saja tidak ada di dalam diri Kayana pada Sadewa, dan Kayana yakin begitu pula sebaliknya Sadewa padanya.
Bisakah dirinya melakukan semua itu, sebuah janji yang dilakukan dihadapan Tuhan dengan segala kesadaranya akan dinodainya setelah enam bulan kedepan. Iya, hanya enam bulan saja usia pernikahannya, itulah yang diminta Sadewa padanya. Hanya sampai Tomi bisa mempercayai kalau Sadewa memang layak menjaga Quinsha, gadis kecil keluarga Britania.
Berarti, enam bulan kedepan aku akan menodai sumpahku kepada Tuhan? Aku menipu Tuhan dengan sesadar-sadarnya.
Ya…Tuhan, manusia seperti apakah aku ini? Astagaaaaa, gila..semua ide itu gila.
__ADS_1
Kayana menutup wajahnya dengan kedua tangan. Menggeleng dalam kebinggungannya.
Lantas, kenapa Kayana tidak menolak langsung saja ide gila Sadewa?
Sore, saat Sadewa telah meninggalkan rumah dinasnya. Sang adik, Yana menelepon. Dengan suara ria gembira, Yana menggabarkan kalau pihak perusahaan tempatnya magang meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi. Dengan begitu gampangnya, seakan hanya membalikkan telapak tangan dan, ting….
Semua selesai, adik kesayangannya akan kembali magang, pihak perusahaan meminta maaf. Hebat bukan? Sadewa itu hebat bukan?
Janji Sadewa akan melindungi keluarganya, Kayana sejujurnya bisa percaya pada semua itu. Meskipun, dirinya tidak mengenal baik siapakan lelaki yang arogan dan gemar berbicara ketus padanya itu. Tetapi, satu kejadian di hari ini bisa membuat Kayana yakin kalau Sadewa bukanlah orang sembarangan, punya pengaruh luar biasa.
Sebuah perusahaan yang Kayana sendiri tidak tahu di Kota kelahirannya, bisa mendengarkan apa yang diminta Sadewa.
Kayana membalikkan badannya menghadap kesebelah kanan, dengan memeluk guling dirinya masih diliputi keraguan.
__ADS_1
Terima permintaan Sadewa, jadi isteri kontrak dan enam bulan kemudian berpisah. Menjalankan peran sebagai ibu sambung untuk Quinsha, menjadi isteri pajangan pada beberapa acara Sadewa, serta menjadi menantu yang baik untuk sang ibu mertua. Imbalannya?
Keluarganya akan hidup dalam kedamaian dibawah perlindungan Sadewa. Ya, itu adalah janji Sadewa padanya. “Jangankan untuk mengusik keluargamu, untuk berbicara dengan mereka saja kalau aku tidak mengizinkan maka, tidak akan bisa berjumpa!”
Kayana sedang mengingat kata-kata Sadewa padanya siang tadi. Bayangan betapa seriusnya Sadewa dengan semua ucapannya masih tergambar jelas didalam otaknya.
“Astaga,” Kayana bergumam sambil mempererat pelukannya pada bantal guling bersarung hijau botol. “Menjadi Ibu sambung buat Quinsha? Aku sangat mau, ya..Tuhan, siapa yang tidak akan jatuh hati pada gadis kecil yang sangat imut itu. Bahkan, dengan sangat ikhlas aku mau membesarkannya tanpa, keluarga tuan Sadewa pun aku sangat mau.”
“Menjadi memantu untuk Ibu sebaik ibunya tuan Sadewa? Ahhhhh…” ada helaan nafas. “Ibunya tuan sangat baik, wanita lembut yang menabjubkan. Aku sayang padanya, aku merasakan tangan lembutnya saat mencurahkan kasih sayang padaku, sama dengan cara Ibuku menyayangiku. Beliau adalah sosok ibu yang tulus. Aku kagum padanya. Tapi, menjadi menantu kontraknya, apakah aku bisa? Itu bukan termasuk membohongi diakah? Dan keluargaku, ayah dan ibuku, bagaimana perasaan mereka saat tahu setelah enam bulan kedepan, aku anak pertama mereka akan menjadi janda? Hati mereka pasti hancurkan?”
“Terlebih lagi, mendampingi tuan pada saat-saat tertentu kegiatan perusahaannya. Menjadi isteri manis dan bertalenta, pendamping yang penuh cinta? Astaga…..itu kebohongan yang sangat sulit! Isteri? Hahahahaha…,” ada tawa sisnis terdengar. “Isteri kontrak, ya..hanya kontrak saja!”
“Gila..semua ini gila.”
__ADS_1