Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan

Aku, Kamu Dan Kontrak Pernikahan
Pembicaraan Dua Lelaki


__ADS_3

🌹🌹🌹


“Aku mohon kamu jangan menangis.” Memeluk Tomi erat, bahu Tomi masih bergetar.


“Kamu boleh marah padaku, tidak usah memaafkan aku. Tetapi, tolong..tolong jangan menangis.” Sadewa merasa berat menerima kenyataan air mata Tomi masih juga jatuh.


“Kamu boleh memukulku, iya…kamu boleh memukul aku!” Sadewa melepaskan pelukan antara dirinya dan Tomi, mengangkat tangan kanan Tomi dan memukulkannya ke wajahnya sendiri.


“Pukul aku sepuas dirimu.”


Bunda Syania terkejut, wajahnya panik. Spontan dirinya berdiri dari sofa empuk tempat bunda bersama Tomi berbicara tadi. Sementara itu, Martin dengan cepat berjalan maju. Tidak kuasa melihat adegan di depan mata, tidak tega dengan dengan sikap Sadewa yang menuntun gerakan tangan Tomi agar memukul dirinya sendiri. Martin tidak bisa menerima semua itu, hati kecilnya berontak, semua bukan salah Sadewa.


“Kak, cukup!” Martin menghentikan tangan Sadewa yang siap menghantarkan tangan kanan Tomi kembali kedirinya. “Sudah kak, sudah!”


“Martin, tolong jangan ikut campur.” Sadewa berusaha menghalau Martin.


“Tom, aku mohon, sudah Tom! Sudah!” Meminta pada Tomi, memohon dengan sepenuh jiwa.


“Lihat bunda, Tomi lihat bunda!” merentangkan tangan kanan ke arah Bunda Syania. “Tomi, bunda sudah sangat hancur atas semua ini, tolonglah Tom jangan biarkan bunda lebih hancur lagi dengan melihat adegan pukul-memukul antara kamu dan kakak!”


Sadewa melihat ke arah tangan Martin, bunda tercintanya sedang menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Bahu bunda gemetar, bunda sepertinya sangat kaget dengan kejadian ini. Tetapi, Sadewa tidak punya pilihan lain. Dia salah, dan dirinya siap membiarkan Tomi menghukumnya, memukulinya.


Tomi tidak berusara, tidak merespon, menunduk dengan air mata yang ternyata belum juga habis. Dilema tetapi, tidak tahu harus bagaimana.


Seketika Tomi terjatuh, dengan kedua lutut yang menopang badan ,Tomi memegang betis Sadewa. Kepalanya tertunduk, hatinya sangat kacau.


“Kak, maafkan aku!” Ucap Tomi sambil memeluk kaki jenjang Sadewa.


“Tomi,” Sadewa segera menunduk, membungkuk berusaha mengangkat tubuh Tomi. “Berdiri dek, berdiri! Jangan seperti ini!”


Tomi mengeraskan rangkulan tangannya di kaki Sadewa. Bukannya berdiri, Tomi malah memeluk kaki Sadewa erat.


“Aku salah, aku salah selama nyaris dua tahun ini pada kakak. Maafkan aku, kak!”


“Tomi, ya..Tuhan, adikku,”Sadewa memilih duduk. Mensejajarkan diri di hadapan Tomi, memeluk Tomi dan terduduk berdua di lantai.


Lama kedua lelaki tampan ini saling berpelukan, saling melepas duka dan lara, saling melepas rindu antar saudara yang terhimpit kesedihan mendalam. Semua melebur hari ini, semua lepas dalam air mata yang jatuh di masing-masing jiwa yang telah terpisah sekian lama. Sekarang waktunya mengikhlaskan, meniti awal baru untuk masa depan baru.


Baik Sadewa ataupun Tomi, mereka sama hancur tetapi, mereka sama memiliki tanggung jawab untuk masa depan keluarga besar Britania. Masih ada Bunda Syania, sosok ibu yang selalu merangkul mereka dalam cinta, seorang istri yang sendiri saat ini mendampingi anak-anaknya, ibu yang melapangan sanubari saat menguburkan anak keduanya, dan ibu yang sekarang bertanggung jawab pada cucu yang di titipkan anak keduanya.


Dan jangan lupakan nona kecil keluarga Britania, Quinsha. Gadis kecil yang baru pulih dari serangan alergi beratnya itu juga memerlukan kasih sayang yang sempurna untuk tumbuh kembangnya. Ibu sudah tiada, tidak mungkin dirinya harus jauh dari ayah dan papanya juga. Tidak akan bisa gadis kecil ini hidup dalam kesedihan karena masa kelam itu.


Sadewa dan Tomi larut begitu lama, menyisakan Martin yang menuntun bunda kembali ke kamarnya, bunda Syania yang sedang menyapu pelan pipinya karena butir bening yang jatuh di sana. Semua tahu, dua lelaki tampan ini sudah baik-baik saja, mereka tinggal membuka diri bicara dari hati ke hati ala lelaki baik-baik ala lelaki dewasa, dan setelah itu semua solusi akan tercapai. Semua akan baik-baik saja.


**********


“Bagaimana kabarmu selama nyaris dua tahun ini?” Sadewa memulai pembicaraan antara dirinya dan Tomi. Malam ini mereka memilih duduk bersama di ruang baca milik Sadewa. Mereka harus berbicara panjang antar lelaki dewasa yang telah saling memaafkan untuk duka masing-masing.

__ADS_1


“Tidak baik kak, aku selalu berpikir untuk menyusul Sofhia. Aku sangat terpuruk hidup tanpa Sofhia, kak.” Tomi nampak sedih.


“Kalau seperti itu, kenapa kamu baru pulang sekarang? Kenapa kamu tidak kembali lebih awal? Kitakan bisa saling menguatkan, kita bisa saling mengobati atas masa itu.” Sadewa berujar pelan. Jujur, rasa bersalah masih saja memenuhi hati kecilnya. Ditambah lagi pengakuan Tomi barusan, Sadewa sadar, betapa berat masa yang di lalui Tomi dalam kesendiriannya kala itu.


“Karena aku masih belum bisa mengikhlaskan semuanya. Dan saat ini pun, aku pulang karena mendapat kabar kalau Quinsha sakit. Aku sangat cemas kak.” Tomi dan Sadewa duduk saling berhadapan.


“Bayangan kalau tangan ini akan kembali mengangkat tanah basah untuk menutupi liang lahat kembali muncul. Padahal, tangan ini masih basah kak, hingga sekarang aku masih merasakan dinginya tanah merah yang harus aku angkat untuk menutupi liang lahat Sofhia dulu. Aku takut kak, saking takutnya aku langsung memilih terbang ke sini. Secepat yang aku bisa.” Tomi menarik kasar rambut hitam di kepalnya ke arah belakang sambil memejamkan mata.


“Itu terjadi karena salahku.” Sadewa mengaku dengan suara pelan.


“Ya, bunda sudah cerita semua padaku.” Tomi membuka matanya tetapi, kedua tangannya masih di atas kepala.


“Aku pun tidak kalah cemasnya denganmu.” Sadewa menarik nafas dalam.


“Saat itu aku sangat ingin membunuhmu, kak!” Tomi menurunkan kedua tangannya. “Sebesar itulah kemarahanku padamu.”


“Aku memang salah Tom, aku tidak akan berkilah sedikitpun. Dan, andai sampai saat ini kau masih tetap ingin membunuhku pun, aku sangat ikhlas. Semua memang salahku, tidak dulu tidak sekarang, semua memang salahku.” Sadewa menegadah menatap langit-langit ruang baca.


“Hahahaha…,” Tertawa miris. “Sayangnya saat melihat dirimu sama hancurnya seperti aku, semua keinginanku itu langsung menguap kak.”


“Aku berjanji Tom, kemarin adalah kali pertama dan terakhir Quinsha ada dalam kondisi tidak baik. Kedepannya, akulah penjamin utama kalau anak itu akan hidup sangat baik, dia akan bahagia dan tumbuh menjadi gadis Britania yang tangguh. Aku janji!” Sadewa menatap Tomi.


“Aku percaya kak.” Tomi menghela nafas dalam. “Hanya saja, semua itu akan terwujud dibawah pengawasanku.”


“Apa maksudmu?” Sadewa merasa ada yang janggal.


“Aku datang tidak hanya untuk berjumpa bunda dan kakak tetapi, aku juga akan membawa Quinsha bersamaku.” Tomi sangat bersungguh-sungguh.


“Kenapa tidak bisa kak? Kenapa hah?” Tomi tetap dalam mode sungguh-sungguhnya.


“Tomi, Quinsha adalah sumber kebahagiaan rumah ini. Dia lahir dan besar dalam kasih sayang kita semua di sini. Kalau kau membawanya, bagaimana dengan rumah ini? Bagaimana dengan kami semua?” Sadewa mulai gusar.


“Dan aku, kak? Bagaimana dengan aku? Quinsha anakku, kak. Dia sumber kebahagiaanku juga. Aku sudah lama tidak melihat tumbuh kembangnya. Dua tahun itu sangat lama kak.” Tomi tidak mau mengalah.


“Tom, kita sudah sepakat saat kau memutuskan pergi. Jangan bilang kalau kau lupa saat itu?” Sadewa mengeraskan rahangnya, kegusarannya bertambah.


“Aku tidak akan bisa melupakan semua hal di masa itu kak. Kakak sendiri tahu saat itu aku nyaris gila hingga, harus meninggalkan rumah ini, meninggalkan Quinsha pada bunda, kakak dan Martin. Tetapi, itu dulu kak!” Tomi tahu kalau rahang Sadewa mengeras. Tomi nampak tidak gentar.


“Itu dulu kak, dan sekarang berbeda. Andai saja kakak tidak melakukan kesalahan dengan menyia-yiakan Quinsaha dengan wanita model sialan itu. Aku mungkin akan tetap memilih tengelam dalam duniaku, aku tetap akan memilih memperhatikan tumbuh kembang anakku dari jauh. Aku yakin, kalian semua tidak akan akan membiarkan Quinsha bersedih apa lagi menderita.” Tomi melanjutkan ucapannya, luapan isi hatinya selama nyaris dua tahun ini.


“Sayangnya, semua tidak seperti yang aku harapkan. Anakku, kak…anak kandungku, satu-satunya peninggalan sangat berharga dari istriku, yaitu adikmu, kak! Hampir saja meregang nyawa karena wanita sialan yang kau jadikan sebagai kekasih.” Suara Tomi meninggi, Tomi tersulut emosi.


“Lantas, aku harus diam saja? Membiarkan semua ini terjadi? Tidak kak! Jangan harap! Sialan kau kak.”


“Aku tidak mau kehilangan untuk kedua kalinya.” Nada suara Tomi masih tinggi.


“Aku salah dan aku pun sudah memutuskan wanita itu Tom. Aku bersumpah, aku bersumpah demi bunda, Quinsha tidak akan pernah celaka lagi! Aku bersumpah Tom!” kegetiran Sadewa sudah mencapai puncaknya.

__ADS_1


“Maaf kak. Keputusanku sudah bulat. Aku akan membawa Quinsha pergi!” Dan Tomi tetap bersikukuh dengan semua keputusannya. Bertahan dengan segala rencana yang telah disiapkannya sebelum sampai ke rumah megah ini lagi.


Mentari Baru Di Satu Bulan Pertama


Kayana bangun pagi di jam yang sama tetapi, untuk pagi ini ada senyum indah terkembang di wajah cantinya. Dengan senandung kecil, Kayana melakukan rutinitas paginya seperti biasa. Hati Kayana sedang berbunga-bunga.


“Pagi bi.” Kayana menyapa bibi yang sedang asyik menyapu halaman rumah dinas Kayana. Bibi nampak serius di sana sambil sesekali memperbaiki letak bunga-bunga segar penghuni taman. Kayana baru saja kembali dari olah raga lari pagi mengelilingi kompleks tempat tinggalnya.


Ehhh, tumben pagi ini wajah non Kayana lebih berseri-seri dari biasanya? Bibi bergumam dalam hati.


“Orang pulang olah raga itu capek non tapi, kok sinon nampak semangat? Senang amat non, habis digodaain apa tadi sama ibu-ibu kompleks?” menuduh dengan asumsi sendiri.


“Hahahaha…” tertawa riang. “Bibi salah, Ana gak digodaiin kok justru Ana itu senang karena tenyata hari ini adalah hari genap satu bulan Ana ada di sini bi.”


“Loh, sudah satu bulan saja ya non? Bibi kok merasa kayak baru kemaren pagi saja nona dokter datang ke sini.” Berpikir. “Cepat sekali waktu berlalu ya non.”


“Tinggal lima bulan lagi bi,” Kayana bergumam pelan.


“Iya non, gimana?” bibi tidak mendengar jelas perkataan Kayana.


“Hahahaha..” lagi-lagi tertawa riang. “Enggak bi, bukan apa-apa kok.” Kayana melangkah dengan langkah ringan, berjalan masuk kedalam rumah dinasnya, meninggalkan bibi yang hanya menggelengkan kepala masih tidak mengerti dengan sikap Kayana pagi ini.


“Yang penting si non senang dan betah di sini, jadi bisa selamanya sama bibi dan itu yang utama.” Senyum bibi sebelum melanjutkan pekerjaannya pagi ini.


**********


Saat Kayana melangkah dengan ringanya, diiringi sendang dan senyum bahagia, justru di saat itu pula seorang lelaki tampan dengan tubuh tinggi dan atletis sedang gundah di kamar tidurnya. Sadewa, lelaki tampan ini sedang memakai dasi kerjanya sebelum menyematkan jas kerja bermerek untuk menutupi kemeja navy yang di pakainya hari ini. Tangan Sadewa bekerja membuat simpul dasi berwarna biru muda terpasang sempurna tetapi, pikirannya sedang melayang jauh.


Satu minggu ini Tomi memang telah kembali ke dalam keluarga Britania, Tomi nampak sangat dekat dengan Quinsha. Si gadis keci Sadewa ini sangat nyaman bersama Tomi, tenang dan selalu mengekori Tomi kemana saja, seakan tidak mau berpisah.


Ah, bagaimana pun mereka adalah ayah dan anak kandung, wajar kalau ikatan diantara mereka begitu kuat.


Sadewa menatap hasil akhir pemasangan dasinya dengan hati selalu sibuk menerka-nerka.


Tomi hingga detik ini masih bertahan dengan pendatanya sendiri, dengan keinginannya sendiri. Tomi akan membawa Quinsha pergi bersama dirinya saat nanti dirinya akan pergi kembali. Tomi ingin membesarkan Quinsha, ingin menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah. Ingin membesarkan anak tunggal yang memiliki paras sangat mirip dengan adik kandung Sadewa.


“ Kapan ya Tomi akan pergi membawa Quinsha?” bergumam sambil menggenakan jas kerjanya. “Bagaimana cara menyakinkan Tomi agar tidak membawa Quinsha pergi? Apa yang harus aku lakukan?”


Gagal menemukan solusi, padahal sudah satu minggu ini Sadewaberusaha membujuk Tomi, meluluhkan hati lelaki yang telah menikahi adik kandungnya itu, yang tidak bisa dipungkiri telah dianggap Sadewa sama seperti adik sendiri. Sadewa sudah siap, pakaian kerjanya sudah rapi, sepatu dengan nominal sangat banyak digitnya telah terpasang. Dirinya siap pergi untuk berkerja.


“Kenapa Tomi dan Quinsha tidak ikut sarapan bareng kita bun?” Sampai di meja makan, Sadewa tidak menemukan Tomi dan Quinsha, padahal sarapan bersama adalah rutinitas wajib keluarga mereka, Sadewa selalu memastikan pagi hari mereka akan berkumpul bersama di meja makan. Bercerita bersama, berbagi kisah pagi hari bersama, hal yang selalu diajarkan sang ayah sejak lama. Dan Sadewa mempertahankan itu hingga saat ini.


“Tomi lagi nyuapin anak gadismu di taman belakang, lagi manja-manjanya tuh anak sama bapaknya. Makan saja minta ayahnya yang suapin dan harus ketaman pula.” Bunda tersenyum.


“Aku akan melihat mereka sebentar bunda.” Sadewa batal duduk di kursi makan.


“Dewa, biarkan saja mereka.” Bunda mencegah langkah kaki Sadewa.

__ADS_1


“Bunda, apa yang harus kita lakukan agar Tomi mau berubah pikiran?” Sadewa akhirnya duduk di kursi makannya. Mengamati sepiring pecal dengan aneka sayur segar di dalamnya.


“Kamu yakin mau dengar solusi bunda, nak?” Bunda menyudahi gerakan sendok dan garpunya. Meneguk air putih dan beralih pada Sadewa.


__ADS_2